
Sudah hampir satu minggu Elang membiarkan Nada larut dalam rasa bersalah dan kesedihan. Elang bersikap dingin dan nampak tidak peduli. Ia masih kecewa akan sikap Nada yang seolah-olah tidak lagi menganggap Mamanya ada.
Namun di sisi lain Elang merasakan rindu yang teramat dalam pada wanita yang telah dia nikahi kurang lebih satu tahun ini. Rindu sikap manjanya dan terutamanya rindu sentuhannya, terlebih sudah seminggu ini dia rela menahan hasrat akibat amarahnya. Kini Elang merasa tidak kuat untuk menahan hasrat itu lagi.
Kadang Elang tidak tega juga melihat Nada bersedih dan kelihatan murung. Saat diam-diam Elang memperhatikan Nada berdiam diri di balkon, Elang sebetulnya kasihan, ingin dia merangkulnya dan memeluknya dari belakang seraya bermanja, berbagi kasih seperti sebelum dia marah akan sikap Nada. Elang menghela nafasnya dalam, otaknya kini berpikir antara dua pilihan sikap.
Elang memejamkan matanya seraya menyenderkan tubuh di kursi ruang kerjanya. Pikirannya tiba-tiba melayang ke masa saat dirinya dikhianati Mayang, rasa cinta yang berlebihan menjadi bumerang bagi dirinya. Semua harta dan aset lainnya Elang berikan atas nama Mayang, hanya karena Elang takut wanitanya meninggalkannya pergi. Namun taqdir baik tidak memihak padanya, Mayang yang dia cintai dan dia manjakan dengan harta, pergi dengan lelaki lain dan membawa kabur hampir semua asetnya. Elang kecewa dan sakit hati. Rasa cinta kini berubah benci. Tidak terasa lelehan air mata membasahi pipinya yang kini kembali terlihat tirus.
Elang bangkit dari kursi ruang kerjanya, kali ini dia tidak ingin kehilangan untuk yang kedua kalinya. Sebab kehilangan Nada, akan benar-benar membuat hidupnya lebih hancur daripada kehilangan Mayang. Seluruh hidupnya telah ia pasrahkan hanya untuk hidup bersama Nada. Nada yang sangat ia cinta dan yang membuat dia bangkit kembali dari rasa kecewa dari cinta di masa lalunya.
Elang merencanakan sebuah siasat dalam otaknya, untuk mengikat Nada dia harus membuat Nada hamil. Sebab jujur, kehilangan Nada seakan kehilangan separuh nafas.
Elang mulai merencanakan aksinya, dia mengintip dari celah gorden ruang kerjanya, 15 menit yang lalu dia melihat Nada kembali dari taman belakang. Sejak Nada dibiarkan Elang, Nada lebih banyak menghabiskan waktu di taman belakang dan di balkon. Mungpung Sya sedang bersekolah dan jam pulang masih lama, ini kesempatan Elang untuk menemui Nada di kamar yang sudah hampir seminggu tidak ia tiduri. Terlebih hasratnya kini sedang di ubun-ubun, Elang tidak bisa lagi untuk menahannya. Dia juga sangat merindukan Nada.
Elang membuka pintu kamar perlahan, lalu dengan cepat menguncinya. Secara bersamaan Elang melihat Nada baru keluar dari kamar mandi, berbalut handuk dan rambut basah tergerai. Keadaan seperti itu membuat Nada semakin seksi dan menggairahkan.
Nada terkejut melihat Elang tiba-tiba masuk dan menatapnya tajam, seperti tatapan harimau yang sedang lapar, siap menerkam. Lalu Nada mengawasi Elang yang menutup gorden rapat-rapat tanpa menyisakan celah.
__ADS_1
"Sayang....!" tiba-tiba Elang memeluk Nada dari belakang, Nada tidak siap sehingga tubuhnya terpelanting dan bertumpu pada dada Elang. Elang tidak membuang kesempatan emas ini. Dengan cepat Nada dibawanya ke atas ranjang. Sekali tarik handuk itu terlepas dari tubuh Nada.
"Layani aku!" pintanya dengan gairah yang sudah tidak tertahankan. Nada menahan dada Elang sebagai tanda penolakan. Namun sia-sia, tangan Elang yang kuat mampu mengunci pemberontakan kecil Nada. Nada sebetulnya tidak benar-benar menolak Elang, dia hanya kaget dan tidak siap atas serangan mendadak Elang. Kalau boleh jujur Nada juga sangat merindukan Elang. Selemah itu pertahanan Nada atas pesona Elang. Sehingga dia sejenak melupakan kesedihan atas sikap marah Elang seminggu yang lalu.
"Mas kangen sudah satu minggu tidak menyentuhmu," rayuan itu keluar dari mulut Elang yang kini sangat aktif melancarkan ciuman-ciuman yang membuat Nada hilang nalar. Dia menerima sentuhan-sentuhan itu dengan sukarela, terlebih Elang benar-benar membuatnya bertekuk lutut atas nama hasrat yang sama.
"Aku merindukanmu sayang.... !" ucap Elang dibalik \*\*\*\*\*\*\* yang dikeluarkan Nada. Elang bahagia melihat reaksi Nada kali ini. Dia benar-benar totalitas melayani hasrat Elang. Itulah makanya Elang tidak sanggup kehilangan Nada. Nada benar-benar memberikan apa yang dia mau.
Hampir setengah jam pergumulan itu, saling memberi dan menerima. Keduanya tiba-tiba melupakan perang dingin yang sudah seminggu berlangsung, dengan sengatan cinta yang membara. Nada hendak bangkit, namun Elang meraihnya dan kembali memeluk Nada erat.
Elang terbangun ketika tangannya terasa enteng bergerak, tadi dia memeluk Nada dan tangannya jadi tumpuan kepala Nada. "Kemana Nada?" guman Elang seraya bangkit lalu melihat jam di tangannya. Masih jam satu, ada kesempatan untuk bersiap menjemput Sya.
Elang sudah siap dengan baju santainya lalu segera turun menuju garasi mobil. Deru mesin mobil terdengar lalu suaranya menghilang bersama berlalunya mobil meninggalkan halaman rumah.
Nada meraba dadanya yang terasa sesak melihat Elang pergi tidak mencarinya. Padahal dia pikir setelah pertautan tadi, Elang akan mengingatnya dan mencarinya. Nada pikir Elang sudah memaafkan sikapnya.
Sementara saat dalam perjalanan menjemput Sya di sekolah, Elang mendapat telpon dari seseorang, sepertinya sangat penting dan mendesak.
__ADS_1
"Halo... Iya... Apa...? Iya saya segera ke sana." Elang langsung mematikan sambungan telponnya dan melajukan mobilnya dengan kecepatan yang sedikit tinggi.
Setelah berhasil menjemput Sya, Elang melajukan mobilnya secepat mungkin menuju sebuah Rumah Sakit swasta di kota itu. Siapakah yang Elang tengok?
Sampai jam 10 malam, Nada merasa khawatir sebab Elang dan Sya belum kembali. Nada menjadi resah dan takut terjadi apa-apa pada keduanya. Dalam resah, Nada berdoa untuk keselamatan keduanya.
Malam berganti siang, Nada kembali dikejutkan dengan ketidakhadiran Elang dan Sya di kamar. Nada mencoba menghubungi HP Elang namun tidak aktif. "Ada apa ini, kenapa Mas Elang dan Sya tidak pulang?"
"Bi... Bi Ijah atau Bi Narti, apakah ada telpon dari Mas Elang lewat telpon rumah?" tanya Nada penuh rasa was-was.
"Tidak ada Non?" Jawab Bi Narti dan Bi Ijah kompak. Jawaban mereka berdua sontak membuat Nada semakin dilanda resah.
Nada mencoba kembali menghubungi nomer Elang, kali ini aktif namun tidak diangkat oleh Elang. Nada semakin dilanda resah dan bingung.
"Mas angkat dong Mas....!" gumannya memohon saat Nada mencoba menghubungi kembali nomer Elang.
Dua jam kemudian orang yang ditunggu datang, mobil Elang terdengar derunya. Nada berlari dan menghampiri pintu depan. Dilihatnya Elang keluar mobil sendirian dengan muka yang kusut. Elang berjalan dengan langkah panjang dan terburu-buru.
"Mas... Mas Elang... kenapa semalam tidak pulang?" tanya Nada seraya mensejajari langkah Elang. Elang tidak menoleh, dia berlari menuju tangga dan masuk kamar. Nada terus mengekori Elang sampai masuk kamar.
"Mas... ada apa? Kenapa Sya semalam tidak pulang, dan sekarang Sya kemana? Apakah Sya sekolah?" tanya Nada penasaran.
"Aku buru-buru, aku tidak ada waktu menjelaskan padamu!" Sahut Elang seraya memakai jaketnya.
"Mas mau kemana lagi, ada apa sebenarnya Mas? Jangan diamkan Nada lagi, Mas?" tanya Nada sembari memeluk punggung Elang mencoba menahan Elang untuk pergi. Elang perlahan membalikkan badannya lalu menatap Nada dalam.
__ADS_1
"Maafkan aku, aku harus pergi. Aku buru-buru. Tinggallah di rumah, aku pergi lagi," jawab Elang sembari melepaskan tangan Nada. Nada ingin mengejar Elang namun kepalanya mendadak pusing, lantas Nada mendudukkan tubuhnya di ranjang seraya memijit-mijit pelipisnya. Deru mesin mobil terdengar menandakan Elang telah pergi.