"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Sebagai Kewajiban Istri


__ADS_3

Berdansa dengan suasana yang cukup romantis, membawa kami larut dalam buaian gelora asmara. Perlahan Mas Elang menyatukan bibir kami, saling memagut lama dan tanpa kusadari aku membalas perlakuan lembut nan romantis ini.



"Sayang... Mas sungguh kangen....!" ucapnya berat, seraya membawa tubuhku dalam pangkuannya dan merebahkan di ranjang. Mas Elang berjalan mematikan lampu diganti dengan lampu meja yang temaram.



"Malam ini anggap saja malam bulan madu kita yang kedua, Mas sudah lama menantikan ini." Ciuman itu kembali terjadi lebih dalam dan mesra. Mas Elang memperlakukan aku lembut seperti malam-malam biasanya. Tapi bagiku, ini malam teromantis kami.



Dengan sekali tarikan, tali dress itu terlepas. Terlepas bersama rasa marah, kesal yang sebelumnya ada kini sirna entah kemana. Dibuai oleh gelora asmara yang membara, saling menyatukan asa, cinta, dan rasa.



Subuh menjelang, kumandang Azan diperdengarkan. Aku bangun dengan tubuh yang terasa berat. Tangan kekar itu masih betah memeluk pinggang ini. Perlahan aku angkat untuk aku lepas. Namun berat dan susah, sebab si empunya tangan malah menyadari dan memperkuat lilitannya.



Aku terduduk di ranjang dengan tangan Mas Elang yang melilit. Sejenak aku termenung mengingat kembali kejadian tadi malam yang dahsyat, aku begitu menikmati semua perlakuan lelaki tampan di sampingku ini. Jujur, aku sangat mencintainya dan tidak pernah terpikir untuk berpisah darinya.


Aku hanya marah dan pergi, tapi bukan untuk dilepaskan, tapi untuk dirayu kembali dan diberi siraman cinta. Selemah itu aku dihadapkan dengan Mas Elang, luluh hanya dengan kata-kata mesra dan perlakuan lembut dan romantisnya.


Ku tatap wajah tampan itu, namun ada yang sedikit berubah. Mas Elang sedikit mengurus, entah apa yang dia pikirkan sehingga berat badannya menyusut. Masih kutatap wajah itu lekat. Sedetik kemudian wajah Mas Elang yang teduh, nampak lelah dan tergambar jelas gurat kesedihan.



Memang aku akui selama aku menikah dengannya, perlakuan Mas Elang padaku masih wajar dan tidak pernah melakukan kekerasan fisik. Dalam mendidik anak semata wayangnya saja begitu lembut, juga pada ibu yang selalu bikin kesal saja hampir tidak pernah berkata kasar, dengan dalih takut menjadi anak durhaka. Padahal ibu memang selalu membuat ulah, namun Mas Elang tidak sekalipun marah dan kasar. Mas Elang hanya menegur tanpa membuat ibu merasa menyesal, dan selebihnya dia menuntut aku yang harus memahami sikapnya, tanpa meraba perasaanku.



Harusnya aku bersyukur memiliki suami seperti Mas Elang, berbakti dan tidak pernah berkata kasar pada ibunya. Tapi... ingat itu rasa sedihku kembali menyeruak. Mas Elang hampir tidak pernah meraba perasaanku jika menyangkut ibunya. Jelasnya Mas Elang selalu mengabaikan perasaanku.


__ADS_1


Aku bangkit dan memaksa melepaskan tangan kekar itu dari lilitan pinggangku. Aku turun dari ranjang melewati Mas Elang. Mas Elang menyadari aku bangkit.


"Sayang.... !" panggilnya serak.


Aku tidak menghiraukan, terlebih aku harus mandi besar dan sholat Subuh.


Tiba-tiba aku merasa sangat mual yang mendorongku harus segera ke kamar mandi.


"Uwek... uwek....!"


Pusing dan juga mual tiba-tiba menyerang. Aku mencoba berdiri di dinding menahan sakit kepala dan mual yang tiba-tiba. Sudah yang keberapa kali aku merasakan pusing disertai mual ini, namun aku menganggap ini sakit kepala biasa.


Keluar kamar mandi, rupanya Mas Elang sudah terjaga. Dia duduk di tepi ranjang dengan wajah yang masih mengantuk.


"Tadi, Mas dengar kamu seperti muntah-muntah, kenapa?" tanyanya penasaran.


"Sakit kepala dan sedikit mual, Mas. Mungkin masuk angin akibat AC," ujarku seraya pergi dan duduk di meja rias.


"Tunggu, biar nanti Mas pesankan teh jahe hangat biar tubuhmu lebih hangat dan enak. Tapi Mas membersihkan diri dulu," katanya sambil menuju kamar mandi. Lima belas menit kemudian, Mas Elang keluar dari kamar mandi.




"Minumlah....!" Mas Elang memberikan satu cangkir teh jahe hangat untukku dan meletakkan camilan di hadapanku.



"Nanti kita pulang... Mas sudah siapkan tiket pulang untuk berdua." Aku langsung terhenyak mendengar Mas Elang membicarakan pulang.


"Pulang....?" Mas Elang mengangguk. Aku berdiri dan pindah duduk menuju meja rias.


"Nada belum mau pulang... ijinkan Nada di sini beberapa hari lagi!" mohonku.


"Apa... kenapa....?" tanya Mas Elang penasaran.

__ADS_1


"Nada... masih betah di sini Mas, ijinkan Nada menenangkan diri beberapa hari lagi, Nada mohon!" ucapku sekali lagi dengan penuh permohonan.


"Kenapa harus menunggu beberapa hari lagi untuk pulang? Mas sengaja jemput kamu. Apakah kamu sudah tidak sayang Sya lagi?" Pertanyaan Mas Elang kali ini tidak mampu aku jawab, aku diam tidak berkutik.



"Pulanglah... kami sangat membutuhkanmu!" ujarnya lagi memohon seraya meraih bahuku dari belakang.


"Untuk yang kali ini Nada mohon, ijinkan Nada untuk beberapa hari tinggal di sini. Nada mohon pengertian Mas Elang!"


"Sayang... Mas mohon patuhlah. Jika Mas membiarkan kamu di sini dan Mas pulang tanpa membawa kamu, Mas khawatir dengan kamu."


"Mas tidak usah khawatir, Nada bisa jaga diri di sini," ucapku meyakinkan.


"Setelah kita sedekat itu tadi malam, apakah bagimu tidak berbekas? Aku sangat merindukanmu dan berharap kita bisa bersama lagi, tapi kenapa kamu bersikap seolah permintaan aku tidak penting?" Aku diam dan seakan siap menerima ceramahnya lagi.



"Lantas apa artinya hubungan kita tadi malam, kamu sangat menikmatinya, aku juga."


"Itu semua sebagai bentuk kewajiban Nada sebagai seorang istri pada suaminya, tidak lebih," ucapku datar. Mendengar ini Mas Elang seakan tidak terima.


"Kenapa kamu lakukan ini Sayang... padahal harapan aku sudah besar akan bisa membawamu pulang hari ini ke hadapan Sya, ini semua permintaan aku dan Sya. Sya akan sangat kecewa kali ini jika aku tidak berhasil membawamu pulang," ucapnya penuh desakan.



"Nada mohon, plisss... jangan paksa Nada untuk yang kali ini. Mas Elang mohon mengerti Nada!" Aku memohon sambil menatap lekat wajah Mas Elang. Mas Elang meraih wajahku.



"Sebegitu besarnya marahmu padaku, sampai kamu tidak mau diajak pulang sekarang." Mas Elang nampak sedih, air mukanya muram. Aku hampir saja merasa tidak tega.



"*Maafkan Nada Mas, bukan Nada ingin* *membuat Mas Elang semakin merasa bersalah* *pada Nada, namun dalam hatimu tidakkah* *terbersit meminta maaf padaku, kamu hanya* *sibuk membujuk dan merayu, tapi tidak pernah* *meminta maaf*," monologku di dalam hati.

__ADS_1



Mas Elang nampak menghela nafasnya dalam sebelum memulai berbicara padaku.


__ADS_2