
"Ahhhhh." Nada menahan rasa sakit yang teramat sangat. Rasa mulas yang kini dirasakannya tidak terkira, diibaratkan nyawanya sudah sampai di tenggorokan. Nada semakin lemas, keringat sudah membasahi dahinya, tangannya mencengkram kuat lengan Bi Narti.
"Bi Narti, apakah suami saya sudah ada?" Nada bertanya dengan lemah. Bi Narti tidak kuasa menjawab, air matanya mengembun seakan siap jatuh. Dia merasakan kesakitan maupun kesedihan Nonanya saat ini. Yang dia butuh adalah support dari suaminya. Nada menatap lemah wajah Bi Narti, air mata Nada sudah tidak terbendung, dia menangis dalam kesakitan.
Pak Zakaria menghampiri setelah dibolehkan masuk oleh Suster, beliau meraih tangan Nada untuk memberikan kekuatan.
"Istighfar Nak! Tetap lapazkan nama Allah di dalam hatimu, minta kekuatan hanya pada-Nya." Pak Zakaria terus memberi support supaya Nada kuat menahan rasa sakit yang bisa diibaratkan perjuangan hidup dan mati.
"Mas Elanggg." Lelehan air mata tidak terbendung, dia ingin Elang ada di sampingnya saat berjuang antara hidup dan mati ini.
"Nak Elang pasti datang, Nak."
"Ba-pak, ma-afkan Nada," ucap Nada tersendat dan lemah. Pak Zakaria terus memegangi tangan Nada sambil berzikir meminta kekuatan untuk putri tercintanya. Tiba-tiba Dokter datang, mengintruksikan pada Suster untuk menyiapkan persalinan Nada.
Nada kini sudah terbaring di atas ranjang bersalin. Dokter Mirna dan dua orang Suster sudah siap untuk membimbing Nada karena bukaan sebentar lagi sudah lengkap. Pak Zakaria terpaksa keluar, dia tidak kuasa menahan kesedihan dan kesakitan sangat putri dalam perjuangan hidup dan mati. Pak Zakaria memilih diluar dan berdoa, diapun tidak kuasa meneteskan air mata, mengingat selama ini nasih Nada yang kurang diterima oleh mertuanya.
"Kamu pasti kuat, Nak. Walaupun suamimu tidak menyertaimu dalam perjuangan hidup dan mati ini, akan tetapi Allah yang akan selalu menguatkanmu," batin Pak Zakaria terus berdoa diiringi mata yang mengembun dan siap jatuh. Pak Zakaria juga kesal dengan menantunya, disaat putrinya mendekati melahirkan dia malah pergi dengan urusan bisnisnya.
Tiba-tiba saat Pak Zakaria sangat begitu sedih, Elang datang tidak disangka. Elang langsung menghampiri Pak Zakaria dan menyalaminya.
"Pak, bagaimana istri saya?" Elang bertanya penuh was-was.
Pak Zakaria terkejut plus lega kedatangan Elang, artinya belum terlambat untuk putrinya bisa merasakan perjuangan hidup dan mati dengan dukungan terbesar dari Elang.
"Cepat, masuklah Nak Elang, Nada menunggumu sejak kemarin. Dia sekarang sedang dipersiapkan Dokter untuk melahirkan, sebab tadi bukaannya tinggal satu lagi." Pak Zakaria dengan nafas memburu memberitahu Elang untuk segera masuk ke ruang bersalin. Elang nampak kalut dan resah, dia tidak sabar menyaksikan istrinya melahirkan.
__ADS_1
"Saya titip ini, Pak!" ujar Elang menitipkan sebuah tas ranselnya dan segera bergegas ke dalam ruang bersalin.
Di dalam ruangan bersalin, Elang melihat suasana yang sangat mengharukan, Nada merintih, mengerang, dan mendesis, menahan rasa sakit yang tiada terkira.
eeDi sampingnya, Bi Narti yang menjadi pegangan tangan Nada berusaha memberi kekuatan untuk Nada, walaupun Bi Narti juga sesungguhnya sangat terharu jika melihat orang kesakitan seperti ini, terutama perempuan yang berjuang melahirkan. Elang memberi isyarat supaya Bi Narti keluar, dan Bi Narti patuh. Sementara itu, air mata Nada terus meleleh menanti kedatangan Elang, suaminya.
Sementara Dokter dan Suster terus mengarahkan Nada supaya mengejan karena posisi kepala bayi sudah di mulut rahim. Elang menghambur ke arah Nada, dia bersyukur belum terlambat baginya untuk memberi support pada istri tercinta.
Dokter dan Suster yang sejak tadi membimbing Nada untuk melahirkan, ikut lega setelah tahu bahwa lelaki yang datang adalah suami dari pasien Nada, yang sejak tadi ditunggu pasiennya. Dokter memberi kode supaya Elang memegang tangan Nada. Sebab sejak bukaan hampir lengkap pasiennya selalu menyebutkan nama suami dan ingin menunggu suaminya datang.
Elang meraih tangan Nada dan memegangnya erat, satu kekuatan besar dia salurkan lewat sentuhan tangannya menjalar ke dalam jiwa dan raga Nada. "Sayang, aku datang, maafkan aku terlambat," bisikan lembut Elang tujukan di telinga Nada. Seketika Nada kembali bertenaga. Rasa lelah dan lemasnya kini berubah menjadi kekuatan setelah support terbesarnya datang.
Nada kembali diarahkan Dokter untuk tarik nafas dan mengejan. Sementara itu Elang terus berdoa dalam hati meminta kekuatan untuk istrinya sembari menyusut keringat di kening Nada dengan handuk kecil.
Satu kali hentakan bersamaan dengan tangan Elang yang diremas kuat oleh Nada, seketika itu tangisan seorang bayi mulai terdengar. Tidak sia-sia Elang menahan sakitnya remasan tangan Nada disaat yang sama suara tangisan bayi yang sangat dinantikannya terdengar juga.
"Owe, owe, owe, .... "
Ucapan hamdalah keluar dari bibirnya lantas mencium kening Nada penuh haru. "Alhamdulillah." Dan buliran bening itu jatuh di kening Nada. Sementara setelah Nada berhasil mengejan dan melahirkan bayi dalam kandungannya, kondisinya begitu lemas, rasa lelah menjalar dalam tubuhnya.
"Yang kuat Sayang, kamu berhasil melahirkan anak kita dengan selamat." Bisikan Elang diharapkan memberi kekuatan untuk Nada.
__ADS_1
"Selamat, Pak. Bayinya perempuan, dia sangat sehat," ucap Dokter memberi selamat. Elang sangat bahagia bertubi-tubi mendengar berita bahwa bayinya perempuan, impiannya selama ini tercapai.
"Terimakasih Allah, terimakasih Sayang. Aku sangat mencintaimu. Kamu begitu hebat mampu memberiku kebahagiaan yang luar biasa ini.
Dokter memperlihatkan bayi mungil yang masih berdarah itu ke hadapan Elang dan ke wajah Nada sebelum siap dibersihkan. Karena Nada dan bayinya harus segera dibersihkan, Elang terpaksa harus keluar dan menunggu di luar, sebab setelah ini Nada dan baby girl akan segera dipindahkan ke ruang perawatan.
Elang keluar dari ruang bersalin dengan raut wajah bahagia, di dalam hatinya tidak terlepas dari doa dan rasa syukur yang teramat dalam pada Yang Maha Kuasa. Pak Zakaria menyambut Elang dengan wajah yang sama bahagia, setelah tadi dirinya mendengar tangisan bayi dalam ruang bersalin.
"Alhamdulillah, selamat Nak Elang, dan terimakasih telah mendampingi putri bapak dalam persalinan ini," ucap Pak Zakaria sangat emosional, wajahnya yang tadi diliputi sedih dan was-was kini berubah rona bahagia bercampur haru, sehingga sisa-sisa embun disudut matanya perlahan jatuh.
"Alhamdulillah, Pak. Elang justru minta maaf karena telah merepotkan Bapak dan membuat semua menunggu cemas," ucapnya. Elang juga menceritakan pengalaman dalam perjalanan bisnisnya kemarin yang mendapat rintangan, pesawat delay yang membuat dirinya terpaksa menunggu lama di dalam bandara.
Kini Nada dibawa ke ruang perawatan, diikuti Elang, Pak Zakaria dan Bi Narti di belakang Suster. Di ruang perawatan, Nada diberi cairan infus oleh Dokter karena kondisi Nada yang masih lemah. Sementara itu, Suster menempatkan bayi Elang dan Nada dalam sebuah boks bayi yang memakai lampu penghangat. Sebelum diletakkan di boks bayi, Suster menyuruh Elang mengazani dan memberi nama sebagai identitas bayi di boks bayi.
Setelah Elang mengazani bayinya, Elang mengembalikan bayi pada Suster dan memberikan sebuah nama pada bayi mungilnya itu.
"Elana Syafa Perkasa," ucap Elang lantang dan sedikit bergetar penuh rasa haru. Kini baby girlnya benar-benar hadir dalam hidupnya.
Masih bersambung ya Guys, tekan tombol. like dan komen ya. Bagi yang masih ada votenya, jangan lupa kasih vote di karya saya ini.
Beberapa hari lagi Novel ini tamat lho, maka pantengin terus ya, setelah ini Author akan mengeluarkan karya baru. Tungguin dan kepoin trs ya.... terimakasih....
__ADS_1