"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Bakti Mas Elang, dan Penyesalanku


__ADS_3

Seminggu kemudian ibu benar-benar boleh pulang, tensi darah ibu juga sudah normal dan dokter membolehkan ibu dirawat jalan serta boleh melakukan pisioterapi di luar jam rumah sakit. Tujuannya agar kesehatan ibu cepat pulih. Dokter bilang stroke ibu masih bisa disembuhkan dengan jalan rajin terapi.



Aku pasrah saja dengan keinginan Ibu yang sempat ingin dirawat di rumah kami, alasannya biar dekat dengan anaknya. Aku yakin Mas Elang lebih mendengar permintaan ibu daripada memikirkan perasaanku. Namun sebagai istri yang memang harus patuh, aku pasrah saja apa yang diputuskan Mas Elang. Toh akhirnya aku juga yang dipaksa mengerti dan mengalah. Namun keadaannya sekarang beda. Aku sedang hamil dan aku merasakan perasaan yang tidak enak terus, bawaannya sedih dan sensitif.



Namun Mas Elang yang diperkirakan sudah datang dari RS dan membawa ibu pulang ke rumah, ternyata belum muncul. Mendadak aku berpikiran yang tidak-tidak. Aku mencoba mengirimkan pesan WA pada Mas Elang.



Lima menit, sepuluh menit hingga satu jam, Mas Elang tidak ada membalas WA dariku. Aku jadi uring-uringan sendiri, dan akhirnya aku membiarkan HPku tergeletak di atas kasur. Lalu aku menuruni tangga menuju taman bunga belakang rumah.



Jam dua siang, suara deru mesin mobil Mas Elang mulai terdengar. Aku berdiri dari dudukku di bangku belakang. Suara salam Mas Elang sudah terdengar, dan celotehan Sya juga ada. Aku tidak langsung menghampiri. Aku masih menikmati rujak buatan Bi Narti tadi yang rasanya terasa enak dan menyegarkan di taman belakang.



"Bundaa ... !" teriakan Sya mampu menghentikan aku yang sedang mengunyah rujak. Lalu dengan segera aku habiskan rujak itu lalu menyusul Sya dan Mas Elang ke atas.


"Sya ....!" panggilku seraya menuju ke atas.


"Bunda ....!" Sya berteriak lagi dan menghampiriku. Aku merangkulnya dan membawa Sya ke kamarnya. Bi Ijah dengan cekatan menyiapkan pakaian ganti Sya dan siap-siap mengajak Sya makan siang. Kami bertiga turun ke bawah menuju makan siang kami.


...****************...


Malam tiba, Mas Elang tengah kedapatan berbicara di telpon di ruang kerjanya, namun entah dengan siapa. Niat hati ingin menanyakan keadaan ibu, namun Mas Elang masih sibuk. Sejak tadi siang aku kepikiran ibu yang ternyata tidak dibawa ke rumah ini. Lega campur sedih sebetulnya. Namun bagaimana lagi, toh kenyataannya Mas Elang tidak membawa ibu ke rumah ini.


Dalam pembicaraan telponnya yang tanpa sengaja aku dengar, Mas Elang sedang membicarakan tentang ibu. Ibu rupanya dirawat di rumahnya dengan bantuan seorang Suster yang dipesan oleh Mas Elang. Segala jenis biaya Mas Elang yang tanggung, termasuk Terapis yang didatangkan langsung ke rumah ibu.


__ADS_1


"Aku tidak ingin saja hubungan antara istri dan Mamaku semakin runyam, apalagi sekarang istri aku sedang hamil muda. Aku rayu Mama untuk mengalah dan mau berobat namun dengan tinggal di rumahnya sendiri." Percakapan di telpon itu berakhir.



Jadi Mas Elang merayu ibu untuk dirawat di rumahnya sendiri, padahal ibu maunya di rumah kami? Alangkah berdosanya aku, demi aku Mas Elang mati-matian merayu ibu untuk di rawat di rumahnya dan membiayai semua biaya pengobatan ibu serta Suster yang merawatnya. Aku sudah salah menduga terhadap Mas Elang, yang aku pikir akan mengorbankan perasaanku demi kemauan ibu.



Rupanya Mas Elang masih memikirkan perasaanku dan keselamatan aku dan janinku, itu makanya tidak membiarkan ibu di rawat di sini, meskipun yang merawat tetap Suster dan ART.


"Maafkan Nada, Mas. Nada sudah salah menduga terhadap Mas Elang!" batinku lirih dan sedih.


Aku segera beranjak dari balik pintu ruangan kerja Mas Elang setelah melihat Mas Elang berdiri dan hendak keluar dari ruangan itu. Aku segera menuju kamar dan berpura-pura membersihkan muka di depan meja rias.



Pintu kamar kami perlahan terbuka dan masuklah sosok Mas Elang. Aku berpura-pura masih sibuk mencuci mukaku dengan kapas. Mas Elang menyimpan HPnya di meja rias, sementara Mas Elang masuk ke kamar mandi. Gemericik air menandakan Mas Elang sedang mandi.




Sejenak aku merasa sedih membaca WA masuk dari ibu di layar HP Mas Elang. Rupanya ibu masih sebenci itu padaku walaupun sedang sakit. Aku jadi merasa bersalah sama Mas Elang, demi aku Mas Elang rela di hardik ibu.



Mas Elang keluar dari kamar mandi dengan keadaan basah, dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Aku cepat-cepat menuju ranjang, setelah menyiapkan baju piyama Mas Elang. Berpura-pura akan siap tidur. Mas Elang memakai piyama yang telah aku siapkan, lalu naik ke ranjang menyusulku dan membaringkan diri. Kali ini aku harus mencoba menanyakan gimana keadaan ibu, apakah Mas Elang akan berkata jujur atau tidak.



"Mas, bagaimana keadaan ibu, ibu sudah pulang dari rumah sakit, kan?" tanyaku memberanikan diri sembari berbaring di sampingnya dengan kepala disenderkan manja di bahunya.


__ADS_1


"Mama sudah pulang ke rumah. Keadaannya masih harus terapi setiap hari supaya Mama cepat sembuh dan bisa jalan kembali," jawab Mas Elang sembari mengutak-atik HPnya. Bisa jadi Mas Elang sedang membaca WA dari ibu yang tadi sempat aku baca di layar HPnya. Melihat wajah Mas Elang muram, aku jadi merasa bersalah dengan Mas Elang. Karena aku pernah menolak ibu untuk di rawat di rumah Mas Elang.



"Ibu tidak jadi minta di rawat di rumah ini, Mas?" tanyaku sembari memeluk Mas Elang menyembunyikan rasa bersalah atas sikapku yang pernah menolak ibu untuk dirawat di sini.



"Tidak ... sudahlah kamu jangan pikirkan Mama. Mama sudah ada yang mengurus semuanya, Suster, biaya, dan segalanya. Jadi, Mama tinggal menunggu untuk sembuh saja," jawab Mas Elang sembari menyimpan kembali HPnya di atas meja rias tadi.



Aku jadi merasa sangat sedih melihat Mas Elang muram seperti itu, ini pasti gara-gara pesan WA dari ibu tadi. Namun Mas Elang berusaha menyembunyikan perasaan sedihnya padaku.


"Begitu besar baktimu pada ibu Mas, bertanggungjawab jawab dan tidak pernah ingin menyakiti ibu sedikitpun. Dan sekarang Mas Elang membantah ibu demi memikirkan perasaanku. Nada yang egois di sini, Mas. Nada minta maaf," tiba-tiba air mata ini tidak bisa terbendung, untung saja Mas Elang sudah mematikan lampu utama dengan lampu meja yang temaram, sehingga saat aku menangis tidak terlihat oleh Mas Elang.


"Heiiii ... kamu menangis ya?" Mas Elang menyadari aku menangis dan membingkai wajahku dengan tangannya lalu menyusut air mataku. "Sayang ada apa sih?" Pertanyaannya malah semakin membuat aku deras air mata. Rasa bersalah dan penyesalan serta merta menyertai tangisanku.



"Maafkan Nada, Mas ....!" bisikku dalam hati seraya menelusupkan wajahku di dada Mas Elang.



Besoknya, sembari mengantar Sya sekolah, Mas Elang sengaja mengantar aku ke rumah sakit untuk diperiksa kehamilan. Alhamdulillah keadaan janin yang aku kandung sehat dan baik. Dokter hanya memberi aku obat pereda mual untuk diminum saat mual itu terasa.



"Terimakasih, Dok!" ucap Mas Elang sembari meraih tanganku mesra dan merematnya mengajakku pulang. Mobil yang dikendarai Mas Elang melaju keluar dari area rumah sakit membelah jalanan untuk menuju pulang.



Sungguh aku merasa bahagia dengan sikap Mas Elang dari sejak malam tadi. Mas Elang sangat perhatian meskipun dikedalaman matanya masih tersimpan rasa sedih karena ibu.

__ADS_1


__ADS_2