
Pov 3 (Author)
Sedih dan kecewa yang kini dirasakan Elang. Saat tadi berpamitan pada Om dan Tantenya Nada, ingin rasanya Elang menarik Nada masuk grab dan membawanya pulang paksa. Namun akal sehatnya masih berjalan dengan jernih, baru saja dia meminta maaf dan akan berusaha memahami Dara, apakah harus dirusak dengan keegoisannya yang tinggi? Elang menahan diri, meski hatinya sedih dan kecewa.
Baru kali ini juga dia meminta maaf dengan cara bersimpuh di paha Nada. Namun kata maaf tidak cukup membuat Nada luluh dan mau diajak pulang oleh Elang. Rasa kecewa Elang bertambah, setelah Nada bilang kejadian semalam yang begitu dekat itu hanya sebagai kewajiban istri pada suaminya, dan itu tidak membuat Nada mau diajak pulang juga. Sedih dan kecewa jelas terlihat, dan Elang sempat menitikkan air mata, namun tanpa sepengetahuan Nada.
"Aku mencintaimu Nada, tidak bolehkah aku egois untuk selalu ada di sampingmu, untuk selalu mengaturmu atau memaksamu? Namun nyatanya kamu bukan tipe istri yang mau diatur atau dipaksa. Tapi kamu harus tahu, aku bersikap seperti ini hanya karena tidak ingin kehilangan kamu. Aku melarangmu bergaul diluaran, itu karena aku takut kamu bermain mata dengan lelaki lain seperti apa yang dilakukan Mayang, mengkhianatiku disaat segalanya telah kuberikan padanya," bisik hati Elang, disaat itulah air matanya menitik ketika dia membereskan barang-barangnya ke koper.
Ini semua akibat kelalaiannya yang tidak mampu meraba perasaan Nada, Elang merasa Nada akan bisa memahami sikapnya. Dia tidak sadar bahwa jiwa Nada bisa meronta-ronta atau protes, terlebih Nada memang masih muda, namun Elang menuntut Nada supaya lebih memahami dirinya. Dan itu, kini menjadi bom. waktu yang meledak. Ditambah sikap ibunya yang memang secara frontal tidak menyukai Nada dan terang-terangan membenci Nada. Ini menjadi PR buat Elang, bagaimana caranya dia mengembalikan Nada tanpa harus disakiti ibunya?
Check out dari hotel Elang tidak bisa menyembunyikan rasa sedih dan kecewanya terhadap Nada. Namun sebelum keluar kamar, Elang memberikan sebuah ATM yang isinya bisa Nada pakai apa saja. Sebab selama menikah, Nada tidak Elang fasilitasi kemewahan apapun. Dan ini adalah harta pertama yang Elang berikan untuk Nada yang pernah Elang kasih beberapa bulan yang lalu, namun Nada kembalikan lagi saat dia merajuk.
Sikap datar tidak mampu Elang sembunyikan dari Nada, dan Nada menyadarinya. Kalau boleh menangis, saat itu juga Elang ingin menangis saat penolakan Nada yang tidak mau diajak pulang hari itu. Akhirnya Elang mengijinkan Nada untuk tinggal di rumah Tante dan Omnya sesuka Nada, berharap Nada benar-benar percaya bahwa Elang sungguh-sungguh akan berubah dan memahami perasaan Nada, seperti yang Nada harapkan selama ini.
Pulang ke rumah, Elang sudah disuguhkan rengekan Sya yang langsung menanyakan Nada. Dan keadaan ini sungguh membuat Elang sedih dan tersiksa. Kehadiran Mamanya juga yang kebetulan berada di rumah Elang, membuat Elang seketika merasa marah. Atas andilnya, Nada kekasih hatinya pergi karena sakit hati oleh ucapan Mamanya yang tidak pernah disaring.
"El... sudah pulang... mana istrimu? Dia tidak ikut? Si Nada ini benar-benar ya....!"
"Ma, tolong mulai hari ini dan seterusnya Elang tidak ingin mendengar Mama sepatah katapun menjelekkan atau mencemooh Nada lagi. Sebab, Nada tidak ingin pulang gara-gara masih sakit hati oleh Mama. Jadi tolong, untuk apapun yang berkaitan sama Nada, Elang mohon Mama tidak perlu ikut campur di dalamnya," tegas Elang sembari meletakkan koper di lantai. Bu Sri nampak terhenyak dan ingin protes, namun Elang sudah menjauh dan berniat menghampiri Sya.
"Nada... kamu harus benar-benar kembali dan mengembalikan sikap baik dan pemaaf Elang padaku," ucap Bu Sri dalam hati.
"Tuk... tuk....!" Bunyi kruk beradu dengan lantai keramik memenuhi seisi ruangan itu.
"Papa... mana Bundanya... kenapa Papa tidak bawa Bunda?" rengek Sya sembari berjalan menghampiri Elang. Elang bingung mau menjawab apa, hatinya lagi-lagi hancur saat Sya memberikan pertanyaan itu.
Elang merangkul Sya dengan hati-hati dan meletakkan kruknya di tepi kursi tamu.
"Sayang... Bunda masih sibuk. Tapi Bunda janji akan segera pulang jika urusannya sudah selesai." Elang berusaha mengalihkan perhatian Sya.
"Bunda jahat... tidak sayang lagi sama Sya," rajuknya sembari meremas kaos yang dipakai Elang.
__ADS_1
"Papa minta maaf Sayang. Papa janji nanti bawa Bunda pulang. Sekarang lihat, Papa bawa oleh-oleh untuk Sya. Sebuah mobil-mobilan remot buat Sya." Elang memperlihatkan mobil-mobilan remot, namun Sya sama sekali tidak menghiraukannya. Elang semakin sedih dan sangat kecewa dengan keputusan Nada yang tidak mau ikut pulang bersamanya.
"Aku harus apa untuk membujuk Sya? Obat terampuh Sya hanyalah Nada. Tapi, Nada begitu keras kepala. Apakah ini yang disebut oleh Marisa, bahwa jiwa muda Nada sedang meronta-ronta dan berontak? Kalau memang iya, seharusnya saat itu Nada tidak usah menerima pinanganku," kecamuk batin Elang saling berargumen.
Elang membawa Sya ke atas masuk kamar, seraya membujuk anak semata wayangnya itu. Sementara itu, Bu Sri tertegun entah apa yang sedang dipikirkannya. Dia merasa sedih melihat Elang bersikap dingin seperti itu. Ingin rasanya Bu Sri menghadirkan Nada ke hadapan Elang supaya Elang kembali ceria seperti semula.
"Nada... apakah kamu semarah itu sama aku, sampai kamu menghukum anakku? Aku tahu aku tidak pernah suka sama kamu, tapi Elang mencintai kamu, harusnya kamu bertahan sebab Elang mencintai kamu. Bukan pergi dan menyerah begitu saja. Pulanglah Kau Nada, aku butuh kamu hanya untuk mengembalikan kebahagiaan Elang dan cucuku, Sya." bisikan hati Bu Sri berkecamuk.
Malam menjelang, Elang harus sabar menidurkan Sya yang tidak biasanya rewel. Kakinya yang masih sakit akibat keseleo, Elang urut-urut sesuai arahan Dokter, memakai minyak urut yang diresepkan Dokter.
Saat Elang membaringkan tubuhnya di samping Sya yang mulai tidur karena tadi diceritakan dulu dongeng sebelum tidur, Elang meraih HPnya dan bermain sejenak dengan dunia mayanya.
Elang langsung membuka aplikasi WA dan melihat siapa saja yang mengirimkan pesan untuknya. Dari kebanyakan pesan WA masuk yang paling menarik perhatiannya adalah hanya dari Bintang, sang sahabat. Bintang mengirimkan kabar keberadaan dia yang kini sedang melakukan dinas keluar kota, yang selalu disampingi sang istri. Ada rasa iri dalam diri Elang melihat kebahagiaan dan keharmonisan rumah tangga sahabatnya itu. Di matanya nyaris sempurna.
Scroll ke bawah, sengaja Elang melihat profil Nada. Rupanya pesannya lima hari yang laluoppa sudah dibaca Nada. Elang menjadi bersemangat dan berharap Nada memberi pesan balik padanya, namun sampai setengah jam menunggu, tidak ada sama sekali Nada memberinya pesan, padahal status masih on.
Elang merasa sakit hati diabaikan Nada, Nada yang ia cinta tapi kini abai. Tidak sadar Elang melemparkan salah satu bantal sebagai pelampiasan rasa kecewanya.
Pagi menjelang, suara kokok ayam tetangga bersahutan. Walau jaraknya beberapa ratus meter, namun kokokannya mampu terdengar radius 500 meter, membangunkan penghuni alam yang terlena dalam mimpi. Elang menggeliatkan badannya. Lalu perlahan bangkit dan duduk di tepi ranjang. Sebelum ke kamar mandi dia merenung memikirkan ketiadaan Nada di sampingnya.
Jam 6 lewat 30 menit, Sya bangun. Hari ini Sya masih belum masuk sekolah, sebab Dokter masih memberinya surat ijin beristirahat di rumah untuk memulihkan rasa nyeri akibat keseleo.
Sya mandi seperti biasa dengan air hangat yang sudah disiapkan Bi Narti di *bathtub*. Setelah itu mereka sarapan pagi menuju meja makan. Sya berjalan dibantu Elang di sisinya. Sya berpegangan ke tangan Elang. Walaupun jalannya belum sempurna, namun Dokter bilang harus dilatih tanpa kruk. Dan Sya mencobanya walau tertatih-tatih.
Selesai sarapan pagi, Elang mengajak Sya ke taman belakang berlatih jalan tanpa bantuan. Alasan Elang membawa ke taman belakang adalah untuk mengingat keberadaan Nada, yang selalu menghabiskan waktu di taman ini. Bunga-bunga seperti Dahlia, Melati dan Amarilis tumbuh subur dan berbunga. Bunganya mekar seakan sedang menantikan kehadiran Sang pemiliknya.
Nada terkadang menghabiskan waktu senggangnya dengan merawat bunga kesayangannya. Disiram dan dipupuk sehingga tumbuh subur. Elang ingat betul bagaimana kebiasaan Nada, lembut dalam memperlakukan bunga-bunganya, kadang saat menyiram Nada sering mengajak bunga-bunganya bicara. Itulah Nada kekasih hati Elang, setiap gerak geriknya begitu Elang rindukan.
__ADS_1
"Nada... kembalilah sayang... aku merindukan semua yang berhubungan denganmu....!" Elang menatap salah satu bunga kesukaannya Nada yaitu Melati, karena wanginya. Dan Dahlia adalah bunga favoritnya karena saat merekah begitu indah dan kadang daunnya selalu Nada jadikan mainan terompet.
"Papa... lihat....!" teriak Sya memperlihatkan dirinya yang sedang berjalan tanpa bantuan kruk atau apapun. Elang gembira, terlebih kaki Sya mulai bisa berjalan normal walau masih tertatih-tatih sedikit. Luka di pelipis maupun di jidatnya juga mulai kering walau meninggalkan bekas.
"Sya... hebat... Papa kagum sama Sya....!" puji Elang seraya meraih bahu kecil Sya memberikan semangat, dan menyodorkan sebotol air mineral untuk Sya minum.
"Sya... apakah Sya benar-benar merindukan Bunda?" Pertanyaan Elang tidak langsung dijawab Sya yang sedang menutup botol air mineral.
"Sya rindu Bunda... tapi kenapa Bunda tidak rindu Sya? Bunda jahat, Bunda tidak sayang sama Sya," rajuk Sya.
"Kenapa Sya sayang sama Bunda....?" Elang kembali bertanya.
"Karena, Bunda adalah Bunda Sya...."
"Kalau misalkan Bunda belum selesai pekerjaannya dalam waktu yang lama, apakah Sya masih mau menunggu Bunda?"
Dalam beberapa detik Sya tidak menjawab, tiba-tiba Sya malah menangis.
"Sya tidak mau kehilangan Bunda... Papa... Sya pengen Bunda....!" rengek Sya diiringi tangis yang membuat Elang semakin sedih.
"Papa tidak bisa memaksa Bunda untuk kembali Sya, karena... Bunda tidak suka Papa paksa. Jadi... kita harus siap jika Bunda benar-benar tidak ingin di samping kita lagi," bujuk Elang lirih seraya meneteskan air mata.
"Bunda... kenapa Bunda tidak mau bersama Sya lagi....!" pertanyaan itu larut bersama tangis Sya, Elang merasa teriris mendengar Sya menangis karena ingat Nada.
Elang memeluk Sya yang menangis, Elangpun larut dalam kesedihannya mengingat Nada. Taman bunga belakang rumah ini begitu banyak mengingatkan Elang akan Nada, sehingga dia tidak kuasa menahan tangis saat ingat Nada.
"Sayang... kapan kamu pulang... kami merindukanmu???"
Sementara itu dibelakang Sya dan Elang telah berdiri sepasang kaki jenjang, menatap kedua punggung lelaki beda generasi itu pilu. Ia ikut meneteskan air mata haru. Betapa diapun merasa sedih berpisah dari kedua lelaki beda usia itu. Tangisnya pecah diantara rasa sakit yang sejak dalam perjalanan mendera. Menangis dan meringis itu yang kini dia rasakan.
__ADS_1
"Nada... pulang Mas... !"
"Bunda pulang Sya....?" ucapnya lirih seraya merangkul erat dua punggung yang bergetar sedang menangis itu.