
Pulang sekolah Sya, kami bersiap-siap akan ke rumah sakit. Kami makan siang dulu, setelah itu berangkat. Mas Elang membuat janji terlebih dahulu dengan Dokter Gilang, yang kebetulan bertugas di RS tersebut.
Tiba di RS, kami langsung menuju ruangan Dokter Gilang yang sudah tidak sibuk, karena ini tepat dengan jam berdekatan pulang. Para pasien sudah ditangani semua.
"Assalamualaikum!" salam kami bersamaan. Dokter Gilang yang sedang membereskan berkas menoleh, dan rupanya sudah menunggu kedatangan kami.
"Waalaikumsalam," sahutnya menyambut kedatangan kami. "Halo, Sya! Apakabar?" sapa Dokter Gilang menyapa Sya yang bergelayut manja di tangan Mas Elang. Sya dan Dokter Gilang sudah sangat akrab, sebab Mas Elang dan Dokter Gilang merupakan sahabat sejak kuliah dulu.
"Bagaimana, apa yang dirasakan sekarang Nyonya Elang?" tanya Dokter Gilang sembari menyuruh seorang Perawat membantuku berbaring di *bed* pemeriksaan. Aku berbaring mengikuti arahan Perawat, lalu Perawat itu menyingkap sedikit baju atasanku untuk mengoleskan gel khusus USG.
Denyut jantung janin belum bisa dirasakan, sebab usia kehamilanku baru menginjak satu bulan. Jantung dan organ tubuh lainnya belum terbentuk, namun sejauh ini kondisi janinku baik dan sehat-sehat saja.
"Dok, pagi tadi saya merasakan keram di perut, apakah ini tidak akan kenapa-kenapa?" tanyaku menceritakan keluhanku tadi pagi dengan penasaran dan was-was.
"Itu tidak apa-apa, kondisi ini biasa. Penyebabnya karena ada pertumbuhan di rahim, juga bisa jadi karena perubahan hormon. Dan ini wajar-wajar saja," jelas Dokter Gilang menyurutkan ketakutanku.
"Untuk suaminya, jika ingin berhubungan, hati-hati jangan terlalu bersemangat, sehingga lupa bahwa dalam perut istrinya ada janin. Berhubungan tiap hari sah-sah saja, asalkan melihat dulu kondisi istri, jika istri sedang lelah maka jangan dipaksakan," peringat Dokter Gilang ditujukan pada Mas Elang sembari tersenyum penuh arti.
Mas Elang paham, dia membalas senyuman Dokter Gilang dengan malu-malu.
"Ingat ya El, jangan terlalu bersemangat. Tahu batasan!" peringat Dokter Gilang langsung di depan Mas Elang. Mas Elang merengut dan menepuk pundak Dokter Gilang akrab.
__ADS_1
"Elu ini, Gua tahulah batasannya," tangkis Mas Elang sembari tersenyum kecut.
Setelah pemeriksaan, Dokter Gilang memberikan resep obat pada Mas Elang yang harus ditebus.
" Ok, deh, Dokter Gilang kami permisi dulu. Ada hal lain yang ingin disampaikan?"
"Ohh, tidak ada Pak Elang, untuk hari ini cukup sekian. Dijagain istrinya ya!" peringat Dokter Gilang tidak bosan-bosan mengingatkan Mas Elang. Lagi-lagi Mas Elang tersenyum kecut.
"Ok, Bro, gua ke ruangan Mama dulu. Mama sedang dirawat di RS ini, di ruangan Nusa Indah," berita Mas Elang.
"Gua, nanti ke sana saat senggang. Ok, bro, gua lanjut kembali pekerjaan yang masih tersisa ini." "Sya, selamat, ya, akan punya adik baru," lanjut Dokter Gilang sembari membukakan pintu untuk kami bertiga.
"Ok, Bro, terimakasih sebelumnya. Gua, pamit, ya!" ucap Mas Elang mengakhiri pertemuan kami siang itu.
"Mari, Dokter!" seruku sebelum keluar dari ruangan Dokter Gilang.
Keluar dari ruangan Dokter Gilang, kami langsung menuju ruangan rawat ibu. Berbeda satu lorong dari ruangan Dokter Gilang. Tiba di depan ruangan rawat ibu, mendadak jantungku berdebar kencang. Mas Elang yang menyadari keteganganku, segera meraih tanganku untuk memberi kekuatan. Sya yang sejak tadi dituntun Mas Elang, ikut-ikutan memegangi tanganku. Akhirnya aku diapit oleh kedua jagoanku menuju ruangan ibu dirawat.
"Waalaikumsalam," jawabnya.
"Den Elang, Non Nada .... !" sambungnya menyapa kami.
"Bagaimana Bi, keadaan Mama, tadi sudah sadar belum?"
"Sudah, Den, malah Nyonya sudah mau makan. Tapi, makannya sedikit," jelas Bi Narti.
"Tidak apa-apa, Bi. Yang penting Mama mau makan."
"Oh ya, Bi, hari ini Bi Narti ikut kami pulang. Mama biar Bi Inah yang jagain," putus Mas Elang. Bi Narti mengangguk paham. Sementara itu, ibu dari sejak kami datang sampai setengah jam kemudian belum bangun juga, mungkin pengaruh dari obat yang diminumnya.
Setengah jam kemudian, ibu baru bangun. Apa yang akan terjadi saat ibu bangun ini, aku masih menebak-nebak? Sebenarnya aku merasa was-was menunggu ibu bangun.
__ADS_1
"Nyonya, Nyonya mau minum?" Suara Bi Narti terdengar menanyakan sesuatu pada ibu. Aku segera mendongak bermaksud menghampiri ibu. Namun Mas Elang melambaikan tangannya, memberi kode agar aku tidak mendekat dulu. Mas Elang mencoba memberikan jeda pada ibu biar sepenuhnya sadar, tidak dalam keadaan setengah-setengah.
Mungkin Mas Elang berusaha pelan-pelan mempertemukan aku dengan ibu, takut jika aku dipertemukan ibu ngedrop lagi. Aku harus sabar menanti momen itu. Mas Elang menghampiri ibu dan menyalaminya. Ibu yang disalami diam saja tidak ada suara yang keluar dari mulutnya. Aku menjadi heran, kenapa ibu diam dan tidak sebawel biasanya.
Aku hanya mampu mengamati dari jarak 3 meter, dan berusaha menyembunyikan badanku di balik badan Bi Narti. Aku melihat Mas Elang berbisik di telinga Ibu, namun Ibu hanya diam. Tidak berapa lama, Ibu mengeluarkan suara namun suaranya tidak jelas.
"Ol, Ol ... " entahlah yang ku dengar baru saja seperti memanggil El namun yang keluar bukan El. Mas Elang memegang tangan Ibu, aku melihat Ibu sedang berbicara dengan Mas Elang. Dari apa yang kulihat, rupanya Ibu kena stroke dan Ibu tidak bisa bicara dengan jelas. Untuk sembuh, butuh kurang lebih setahun proses penyembuhan lewat jalur terapi. Dan selama itu Ibu dilarang makan-makanan berlemak dan mengandung kolesterol.
Kenyataan baru terkuak, rupanya Ibu mengalami stroke sebelah kanan. Bicaranya cadel dan kacau serta tidak jelas. Aku tidak kuat melihatnya, ingin rasanya aku menangis melihat Ibu yang menatap sedih saat berbicara pada Mas Elang, namun Mas Elang sulit memahami ucapan Ibu.
Aku segera menghampiri Ibu, dengan atau tanpa diterima oleh Ibu, yang jelas saat itu juga aku harus berusaha meminta maaf agar aku merasa plong dan tidak merasa berdosa. Saat itu Mas Elang berusaha menahan namun aku tidak peduli, pokoknya hari aku harus menyalami Ibu.
Tiba di dekat Ibu, aku langsung meraih tangan
Ibu dan menyalaminya. Ibu menatapku sekilas lalu tatapannya ia fokuskan kembali pada Mas Elang yang berada di depannya. Sungguh keadaan yang menyedihkan, dalam keadaan seperti itu Ibu masih menyimpan kesal terhadapku. Aku harus berpikir positif, agar kehamilanku ini tidak mengalami stress.
Mas Elang memberi kode mengajak kita pulang, sebab Bi Inah sudah datang. Kami berpamitan pada Ibu. Aku kembali menyalaminya, walau tanpa jawaban.
"Bi, kita pulang dulu ya! Kalau ada apa-apa, langsung hubungi saya," pahitnya seraya keluar dari ruangan rawat Ibu. Keluar dari sana, Mas Elang menampakkan wajah murung dan sedihnya. Aku pun sama merasakan apa yang Mas Elang rasakan.
__ADS_1