
Besoknya di rumah Bapak, suasana begitu hangat dan ramai terutama suara Sya yang memenuhi ruangan. Sehabis sarapan pagi, kami bergegas ke halaman belakang yang kebetulan Bapak jadikan taman dan lahan bercocok tanam jenis sayuran, seperti cabe dan bawang-bawangan.
Rupanya Bapak masih tidak meninggalkan hobinya setelah ditinggalkan ibu. Mereka sepasang suami istri yang selalu penuh kasih sayang dan penuh kelembutan dalam mendidik anak-anaknya, namun tetap tegas. Membatasi pergaulan kami supaya tidak terperosok ke dalam pergaulan yang salah.
Dulu, ibu selalu memetik hasil kebun kami untuk memenuhi kebutuhan dapur kami. Cabe dan Bawang hampir tidak pernah membeli dari warung. Ibu tipe ibu rumah tangga yang pandai menyiasati urusan dapur, jika kekurangan uang ibu selalu memetik sayur dari halaman belakang. Bersyukur, kami adalah keluarga yang tidak manja dalam hal makanan, terlebih kami hanyalah keluarga yang sederhana. Yang terbiasa hidup dalam kesederhanaan.
Mengenang masa lalu pastinya ada susah dan senangnya. Bersama ibu, dahulu kami lengkap dan kebahagiaan kami sempurna. Kini, ibu hanya tinggal kenangan dan hanya doa yang mampu aku kirimkan disetiap habis sholatku.
"Pak... ini Singkongnya sudah tua, sudah boleh dicabut belum, ya?" tanya Mas Elang antusias saat melihat Singkong yang tumbuh besar dan daunnya rimbun.
"Itu masih muda, sebab Bapak nanamnya baru tiga bulan. Itu besar dan rimbun karena kebetulan bibitnya bagus, Nak," ucap Bapak.
"Nah yang ini, yang daunnya tidak lebar-lebar dan batangnya sedikit kecil, ini sudah lama dan tua. Ini pasti sudah ada umbinya," jelas Bapak yakin.
Mas Elang tiba-tiba mencoba mencabutnya, namun alangkah susahnya. Sekali lagi dia mencoba menarik batang singkong itu dengan kedua tangannya dan....
"Gubrak....!"
Singkong beserta Mas Elang terpelanting ke tanah. Yang melihat saat itu spontan tertawa ngakak, Sya yang sedang main tanah bersama Nadli, tergelak sampai memegangi perutnya. Ini sungguh moment yang jarang kami jumpai, hal yang sangat sederhana namun mampu membuat kami bahagia.
"Papa sangat lucu... lihatlah Bunda muka Papa juga cemong mirip Dakocan, hahahaha...." celoteh Sya diiringi tawa renyah. Kami semua ikut tertawa melihat wajah Mas Elang yang cemong oleh tanah. Mas Elang diejek begitu, bukannya marah dia malah ikut tertawa.
__ADS_1
Aku dan Nadli menghampiri Mas Elang sembari masih ketawa, lalu menarik tubuhnya dari tanah. Singkong yang berhasil dicabut Mas Elang itu tua namun tidak terlalu besar. Aku punguti dan kumpulkan, lalu ku cuci untuk kemudian aku rebus dan digoreng.
Selesai berkebun, semuanya aku suruh mandi dulu untuk menikmati surprise sederhana ala aku.
Saat semua telah berkumpul di ruang tengah, aku datang dari arah dapur seraya membawa sepiring besar goreng Singkong yang tadi dicabut Mas Elang. Ini Singkong hasil olahanku, resep sederhana dari almarhumah ibu.
"Singkong goreng....!" seruku seraya meletakkan piring berisi Singkong goreng di tengah-tengah keempat laki-laki yang aku sayangi.
Semua memburu Singkong goreng buatanku, satu dan satu saat sampai di mulut mereka, Singkong yang masih panas itu perlahan-lahan masuk ke dalam mulut. Sya nampak menahan panas, tidak sabaran dia menggigit Singkong masih panas itu lalu dikulumnya sebelum dikunyah untuk mengurangi rasa panas pada gigi dan lidahnya.
"Sya, tahan sebentar, itu masih panas lho!" peringatku.
"Fuhhh, fuhhh... panas Bunda!" ucapnya seraya meniup Singkong yang masih di tangannya.
"Sini Sya, Om kipasin ya Singkongnya biar agak dingin." Nadli berinisiatif memisahkan Singkong untuk Sya, kemudian dikipasi oleh buku bekas yang berada dekat di sana.
"Ihhh... betul nih Bunda, tidak panas lagi. Tapi masih hangat. Singkong buatan Bunda enak banget dan renyah. Rasanya juga pas," ucap Sya memuji Singkong gorengku.
"Sya bisa saja, masa sih Singkong buatan Bunda enak, memangnya Sya suka?" tanyaku penasaran. "Betul, ini sangat enak dan renyah. Benar kan, Pah?" Ucapnya meyakinkan, lalu melempar pertanyaan pada Mas Elang. Mas Elang mengangguk dengan mulut yang dipenuhi Singkong goreng.
Alangkah senangnya hatiku melihat sekelilingku, orang-orang yang aku sayangi tengah tertawa bahagia menikmati suguhan Singkong Goreng buatanku. Sungguh, bahagia itu rupanya sederhana.
__ADS_1
Kamipun ngobrol ngalor ngidul tentang apa saja termasuk membahas sekolah Nadli. Mas Elang memberi perhatian khusus, bahkan Mas Elang sanggup membiayai Nadli jika kuliah nanti.
"Nak Elang... Bapak mengucapkan terimakasih atas kebaikan Nak Elang selama ini pada kami. Toko dan rumah ini menjadi bagus seperti ini adalah berkat Nak Elang, ini sudah cukup buat Bapak. Bapak tidak ingin merepotkan terus Nak Elang," urai Bapak sedikit menunduk.
"Bapak bicara apa, Elang hanya melaksanakan tugas Elang sebagai seorang anak. Elang menikahi Nada, itu artinya Elang punya kewajiban sebagai seorang anak pada orang tuanya," ucap Elang lugas. Bapak terlihat semakin malu dengan sikap Mas Elang seperti itu.
"Bapak hanya tidak ingin jadi beban Nak Elang, jadi... hentikan mengirim uang kepada Bapak, biarlah Nak Elang fokus dengan keluarga Nak Elang. Usaha toko dan tambal ban Bapak sudah lumayan penghasilannya," ucap Bapak akhirnya memberanikan diri.
"Pak... tidak perlu sungkan dengan pemberian saya, saya tidak ada maksud lain selain rasa kasih sayang saya terhadap orang tua, Bapak adalah mertua saya, jadi sama saja Bapak adalah orang tua saya. Jadi, jangan sungkan dengan pemberian saya sebagai anak," tegas Mas Elang membuat Bapak tidak bisa menyela lagi.
Aku seakan tercubit dengan semua ucapan Mas Elang barusan, seakan menyentil diriku yang tidak bersahabat dengan Ibu. Padahal Mas Elang kepada Bapak begitu sayang dan hormat, sedangkan aku? Aku dan ibu bagaikan Tom dan Jerry, ada saja hal yang memicu perselisihan. Mampukah setelah ini aku bersikap baik pada ibu? Sedangkan ibu selalu membuatku sakit hati?
Sore hari, Mas Elang pamit sama Bapak dan Nadli. Kami kembali ke kota, walaupun aku sejujurnya masih rindu sama Bapak dan Nadli, adikku. Akhirnya, kami sampai di rumah, disambut baik oleh Sekuriti dan Bi Narti. Sementara ibu dan Sonia sudah tidak ada di rumah ini.
Dua minggu kemudian setelah pulang dari kampung kelahiranku, Mas Elang tiba-tiba mendapat kabar buruk tentang restorannya yang diluar kota. PerkaSya Restoran sudah dijaminkan orang pada bank. Mas Elang tidak percaya, siapa lagi yang berani mengkhianatinya kini?
__ADS_1
Mas Elang masuk kamar dengan wajah murka dan kalut. Dia membuka sebuah lemari khusus tempat penyimpanan berkas-berkas, arsip dan surat-surat berharga.
"Arghhhh... tidak mungkin....!" teriak Mas Elang murka. Aku yang mendengar dan melihat Mas Elang seperti itu, ketakutan dan sedih. Bingung, sebetulnya apa yang sudah terjadi dengan PerkaSya Restoran?