
Di meja makan aku masih mendapati Sya ditemani Bi Ijah. "Bi, biarkan Sya saya temani. Bi Ijah makanlah dulu," ujarku.
"Iya, Non. Bibi nanti saja makannya sama Bi Narti dan Pak Nanang, silahkan Non, saya permisi dulu." Bi Ijah menimpali seraya pergi meninggalkan meja makan.
"Bunda, kenapa Papa sejak tadi tidak turun?"
"Papa sedang sakit kepala, Papa tidak mau diganggu dulu. Sebaiknya Sya makanlah dulu," titahku.
"Bunda, tante tadi yang di taman itu, Sya ingat dia adalah penculik yang pernah menculik Sya." Sambil menyuapkan makanan, tiba-tiba Sya membicarakan tentang Mbak Mayang di Taman Bahagia sore tadi.
"Penculik apa Sya? Ayo makanlah dulu, jangan pikirkan tentang penculik. Tante yang tadi hanya senang melihat Sya yang tampan dan menggemaskan. Jadi dia bukan penculik. Ayo, habiskan makannya. Nanti Bunda cerita tentang kisah Nabi Sulaeman yang pandai berbahasa binatang," bujukku berusaha mengalihkan pikiran Sya tentang kejadian tadi dan insiden pengambilan paksa Sya oleh Mbak Mayang tempo hari.
Setelah makan malam, aku menggiring Sya ke tangga. Namun tiba-tiba sebelum menuju tangga perutku keram kembali.
"Bunda, kenapa?" tanya Sya saat aku menghentikan langkahku.
"Tidak apa-apa Sya, Bunda hanya sakit perut sedikit. Ayo, kita ke atas!" ajakku dengan suara yang menahan sakit. Tiba di atas, keram di perutku perlahan menghilang. Kami langsung masuk kamar Sya, dan seperti janjiku di bawah, aku akan menceritakan kisah tentang Nabi Sulaiman yang memahami bahasa binatang.
"... dan semut pun menyingkir." Aku mengakhiri ceritaku tentang kisah Nabi Sulaiman yang membanggakan itu. Sya nampak sudah mengantuk saat ku akhiri kisah Nabi Sulaiman. Sejenak aku membenahi selimut Sya. Setelah dia benar-benar lelap, aku tatap beberapa saat. Ingin rasanya aku peluk dan tidur bersamanya. Namun aku ingat akan Mas Elang yang sejak tadi belum keluar kamar, jangan-jangan masih di balkon.
Saat masuk kamar, Mas Elang masih di balkon. Namun sepertinya sudah tidak merokok lagi, tidak terlihat asap rokok yang mengepul lagi ke udara. Aku ingin menghampiri namun ada perasaan was-was, apalagi bau asap rokok pasti sangat tidak baik jika tercium olehku.
Aku putuskan kembali ke kamar Sya, namun saat akan melangkah, suara nyaring Mas Elang memanggil.
"Nada .... "
Aku menahan langkahku, lalu dengan cepat Mas Elang menghampiri dan menangkap tubuhku ke dalam pelukannya. Bau asap rokok seketika tercium membuat aku merasa mual. Namun belum sampai aku protes, Mas Elang sudah membalik tubuhku dan menciumku penuh gairah dan kerinduan.
Aku berontak karena bau rokok dari tangan dan mulut Mas Elang yang masih membungkam bibirku. Aku dorong dada Mas Elang sekuat tenaga.
"Masss ... hentikan, Nada sesak nafas gara-gara bau rokok dari mulut dan tangan Mas Elang," sentakku seraya menahan dada Mas Elang dengan kedua tanganku.
__ADS_1
"Mas rindu, Sayang," alasannya sembari melepaskan tubuhku. Wajahnya diliputi kecewa.
Aku langsung memburu kamar mandi melepaskan rasa mual yang mendera. Kepalaku menjadi sakit dan mual ini seakan makin mendera.
15 menit kemudian, aku keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang lemas dan mata yang sembab. Selama mual muntah tadi benar-benar menguras tenagaku dan membuat air mataku keluar.
Lelah benar-benar lelah, aku terbaring lemah karena mual muntah tadi. Seketika kamar kami tercium aroma terapi yang menyegarkan, mungkin tadi saat aku ke kamar mandi, Mas Elang menyemprotkan atau memasang parfum beraroma terapi yang menenangkan.
Tiba-tiba Bi Narti masuk seraya mengetuk pintu, dia membawakan aku segelas teh jahe hangat kesukaanku dan beberapa toples cemilan. Pasti Mas Elang yang menyuruh Bi Narti membawakan untukku.
"Non, teh jahe hangatnya di minum dulu supaya segar," ujar Bi Narti seraya menyimpan nampan di atas meja. Bi Narti membantu aku bangkit setelah dia menyimpan nampan di meja.
"Non, makan nasi saja ya supaya makin kuat."
"Tidak, Bi. Saya takut mual," tolakku. Memang selama aku mengalami *morning sickness* parah, aku tidak menyukai nasi dan rasanya bau. Jadi terpaksa aku hindari untuk sementara,
Tidak berapa lama, setelah Bi Narti keluar dari kamar, Mas Elang muncul. Kelihatannya sudah membersihkan diri dan wangi. Dia datang lalu duduk di tepi ranjang. Aku tidak takut lagi mencium bau rokok yang tadi membuat aku mual.
"Sayang, aku minta maaf telah membuat kamu mual dan muntah kembali. Aku tidak bisa menahannya dan menghampirimu, aku kangen kamu," ungkapnya terus terang.
"Sejak kapan Mas selalu merokok, tiap ada masalah lariny ke rokok. Itu tidak baik, Mas. Apalagi sekarang Nada tengah hamil. Nada takut kena dampaknya, sebab Nada di sini jadinya perokok pasif," ujarku protes.
Mas Elang nampak menghembuskan nafasnya kasar sebelum menanggapi protesku.
__ADS_1
"Sejak kamu merajuk dan sering pergi dari rumah. Mas sedih dan tidak ada lagi tempat mencurahkan rasa dan bermanja. Jadi sebagai pelariannya adalah rokok," jawabnya sembari merangkulku dan mencium kepalaku.
"Gimana, sekarang mual dan muntahnya sudah mendingan?" tanyanya lagi seraya menatap mataku dalam.
"Masih sedikit, Mas," jawabku lesu.
"Sya sudah tidur?" Mas Elang bertanya seraya merangkulku lebih dalam dengan sikap yang lebih agresif. Aku tidak mau kecolongan dengan sikap agresifnya Mas Elang, aku tahu sikap ini sudah pasti menginginkan sesuatu. Mas Elang seperti tidak tahu waktu dan kondisi. Selalu menginginkan, tidak mengerti keadaan aku lagi lelah atau sakit.
"Mas, tadi ibu menanyakan Mas Elang. Mungkin karena Mas Elang belum menemuinya. Jadi, lebih baik Mas Elang temui ibu. Nada sedang tidak enak badan, jadi malam ini Nada tidak bisa melayani Mas Elang," ucapku langsung menolak keinginan Mas Elang yang tadi tersirat. Mas Elang nampak kecewa lebih dalam.
"Kangen sayang," rayunya lagi. Aku menepis perlahan tangan Mas Elang, yang kini sudah melingkar di pinggangku.
"Tadi, kenapa Mas Elang tidak mau Nada ajak ke Danau Cinta?" tanyaku mengungkit kejadian di Taman Bahagia tadi deni mengalihkan gelagat aneh Mas Elang. Mas Elang diam seakan berat untuk menjawab.
"Kenapa Mas Elang tidak mau menjawab? Apakah ada kenangan indah di sana yang tidak sanggup Mas Elang lupakan? Padahal Nada belum pernah ke Danau Cinta, tapi Mas Elang malah membawa Nada ke Taman Bahagia. Tapi di Taman Bahagia malah .... " Kata-kataku terhenti saat mengingat betapa marah dan kecewanya ketika Mas Elang di Taman Bahagia tadi.
"Jangan ingatkan Mas dengan kejadian tadi!"
"Coba kalau kita ke Danau Cinta, tidak akan bertemu Mbak Mayang 'kan?" selaku cepat.
"Sudahlah, Mas tidak ingin mengingat sesuatu yang menyakitkan!" peringatnya.
"Mas Elang menolak ke Danau Cinta demi menghindari kenangan indah di sana, namun saat ke Taman Bahagia malah bertemu dengan Mbak Mayang. Mungkinkah kenangan indah itu adalah Mbak Mayang?" tuturku lagi.
"Stop, jangan katakan dia lagi. Tidak ada kenangan indah dengannya di sana. Hati ini sakit jika mengingatnya!" tandasnya meninggi.
"Kenapa saat Nada mengungkit nama Mbak Mayang, Mas Elang selalu marah dan tidak suka, tapi Nada yang selalu jadi sasaran kemarahan Mas Elang. Apakah Mas Elang trauma dengan Mbak Mayang? Berhenti Mas untuk terus trauma, jika trauma dan marah Mas Elang dilimpahkan ke Nada, itu artinya salah sasaran Mas. Kalau begitu, Mas Elang menikahi Nada hanya sebagai pelampiasan rasa marah atas masa lalu Mas Elang. Jadi, Nada mohon lupakan trauma Mas Elang. Nada ingin dicintai Mas Elang tanpa bayang-bayang masa lalu Mas Elang," ujarku panjang lebar seraya mengurai rangkulan Mas Elang, kemudian bangkit turun dari ranjang dan berlalu menuju kamar Sya.
"Nada jangan pergi, asal kamu tahu aku sangat mencintaimu. Dan tentang masa lalu, aku sudah melupakan jauh-jauh hari. Jadi, jangan berpikiran bahwa kamu adalah pelampiasan rasa marahku terhadap masa lakuku. Ini bukan tentang trauma, tapi memang aku tidak ingin mengingat yang namanya Mayang," jelasnya sembari meremat rambutnya. Aku beranjak memasuki kamar Sya, dan menutup pintu serta menguncinya. Rasanya malam ini aku hanya ingin tidur bersama Sya, yang lebih menenangkan bagiku.
__ADS_1