
Sya berjalan menuju kamarku, dia menghampiri dan memelukku.
"Bunda....!" sebutnya sedikit berteriak. Aku terkejut, jangan-jangan Sya melihat dan mendengar saat aku dihina dan dihardik Ibu. Aku yakin teriakan Ibu saat menghina dan menghardikku sangat jelas terdengar ke atas. Aku khawatir dengan psikis Sya, selalu saja mendengar dan melihat Ibu memaki aku. Ibu sungguh tega.
Aku membalas pelukan Sya, sisa tangisan itu masih ada. Sya menatapku dan meraih wajahku.
"Bunda menangis karena nene ya?" tanyanya seraya dengan pengertiannya mengusap air mataku. Aku terharu melihat Sya sangat perhatian seperti itu. Aku tidak menyahut, buru-buru air mata itu aku keringkan dengan tisu yang ada di meja.
"Tidak, nene tidak marah. Sekarang kita makan siang dulu yuk. Sya pasti sudah lapar," bohongku seraya mengalihkan fokus Sya dengan mengajaknya makan. Setelah aku kembali tenang dan wajahku sudah tidak muram lagi aku mengajak Sya ke bawah.
Namun sisa sakit hati itu masih ada dan baru saja berlalu, dan aku menjadi ragu melangkah. Tapi aku harus membawa Sya ke meja makan dan makan. Sementara di ruang tengah ada Ibu dan Mbak Sonia. Aku berharap aku kuat, dan tidak peduli apapun yang akan diomongkan Ibu. Walaupun pastinya Ibu bicara lagi dan memancing rasa sakit hatiku lagi.
Aku melewati Ibu dan Mbak Sonia begitu saja tanpa menoleh atau mengajak mereka makan. Aku tidak akan sok-sok peduli lagi, sudah cukup aku sangat sakit hati dan terhina.
"Ayo Sya, mau makan apa?"
"Bi Narti, tolong minumnya Sya ya. Sya ingin minum jus sawi. Buatkan ya...." titahku. Bi Narti segera berlalu dan patuh.
"Bunda..., Sya mau ini," tunjuknya pada Ayam kecap yang dibuat Bi Narti. Aku mengambilkannya dan menaruhnya di piring Sya.
"Aduh... bagus ya, ada tamu kamu tidak nawarin makan. Jangankan nawarin, menyuguhi saja tidak." Ibu menghampiri beriringan dengan Mbak Sonia. Aku tidak membalas ucapannya, hanya menatap sekilas dan berbasa-basi.
"Ayo... Bu, Mbak Sonia, makan siang!"
Ibu dan Mbak Sonia duduk di kursinya masing-masing. Mata Ibu menatap satu per satu hidangan yang tersaji. "Cuma begini saja....!" ujarnya remeh.
__ADS_1
"Ayo sayang, ambillah makannya... ini sudah siang. Kita harus makan dulu sebelum pergi ke acara arisannya," ajak Ibu kepada Mbak Sonia.
Aku fokus dengan makananku dan Sya, dengan buru-buru ku akhiri makan siangku lagipula aku bukan tipe lama kalau makan. Tinggal Sya yang sedikit lagi menghabiskan makannya. Jus sawi pesanan Sya pun datang.
"Den Sya, ini jus sawinya." Bi Narti meletakkan jus sawi di pinggir Sya.
"Terimakasih Bi Narti....!" ucap Sya gemas. Aku terharu melihatnya. Rupanya didikan Mas Elang diterapkan Sya dengan begitu baik.
Ibu dan Mbak Sonia mulai menyuap makanannya. Sebelum mereka berdua makan, tidak lupa Ibu mengoceh dulu di depan makanan.
"Ini makanan biasa saja, padahal Elang punya restoran mewah yang menunya mewah juga. Hidangkan disini kek hidangan mewah itu." Raut muka Ibu nampak kesal.
"Sya, ayo diminum jusnya. Nanti keburu cair tidak enak, lho!" Sya mengakhiri makannya lalu kini mulai meminum jus sawinya. Ibu menatap ke arah aku dan Sya yang sudah selesai makannya. Aku berjingkat seraya menenteng piring dan gelas bekas aku dan Sya ke wastafel. Bi Narti menyambutku dengan sikap yang tidak enak.
"Biarlah Bi, saya sekalian cuci tangan. Ayo, Sya Cuci tangan dulu." Aku memanggil Sya supaya cuci tangan dulu di wastafel.
Aku dan Sya, berlalu dari meja makan. Satu langkah kemudian mendengar Ibu berteriak.
"Tidak tahu adab dan sopan santun, tamu masih makan ditinggal. Asal dari kampung, ya begitu," oceh Ibu kepadaku. Aku lurus saja pura-pura tidak mendengar dan fokus meremat jemari Sya ku ajak menuju tangga.
"Sya, kalau sudah makan siang kita boci ya, alias bobo ciang...tapi jangan langsung boci, Bunda takut gemuk. Kita bermain kartu Doraemon dulu ya," ujarku kencang, sengaja biar Ibu kepanasan melihatku yang cuek.
Sebenarnya aku ini sedang berusaha cuek dan kuat, kalau aku terlihat lemah dan menunduk di depan Ibu, maka Ibu akan tambah berani. Aku sejujurnya bukan ingin tidak sopan atau melunjak pada Ibu kandung Mas Elang ini, namun hanya dengan beginilah pertahananku yang aku mampu saat ini. "*Maafkan Nada Bu*," batinku.
__ADS_1
"Mulai berani dia, mentang-mentang tidak ada Elang. Akan aku adukan pada Elang bahwa kamu tidak ada sopan-sopannya sama mertua dan Sonia sebagai tamu," ujarnya berdesis saking kesal dan gemasnya terhadapku. Aku berlalu dan tidak ingin sepatah katapun membalas lagi, mungkin dengan begini Ibu akan berhenti mengoceh.
POV Author
Elang menjalankan mobil Pajiranya di jalan besar penghubung antar kota sekaligus antar Provinsi. Saat di rest area, secara mengejutkan dia bertemu Mayang. Setelah menyudahi makan siangnya di sana, Elang ke toilet rest area untuk memenuhi panggilan alam.
"Brugg....!" Elang bertubrukan dengan seseorang, lalu tangan orang tersebut berpegangan pada bahu Elang menahan tubuhnya supaya tidak jatuh. Posisi keduanya begitu dekat dan rapat. Elang mencoba berbaik hati menahan tubuh orang itu dengan tangan kirinya yang secara tidak sengaja tepat di pinggangnya.
Saat posisi keduanya sudah stabil, Elang baru bisa fokus lalu menatap siapa orang yang bertubrukan dengannya.
"Mayang....!" kejutnya, dengan spontan Elang segera melepaskan sentuhan tangannya dari Mayang.
"Elang... bisa-bisanya kita bertemu di sini. Apakah ini yang dinamakan jodoh." Elang melengos tidak suka dengan omongan Mayang barusan.
"Sorry, aku tidak banyak waktu meladeni kamu bicara," Elang berlalu seraya berpikir heran tentang Mayang yang bisa berada di kota yang sama. Elang melajukan langkahnya menuju parkiran mobil dan masuk serta dengan cepat menghidupkan mesin mobil. Deru mesin mobil kini terdengar, Elang melajukan mobilnya meninggalkan rest area dengan hati yang berkecamuk.
Mayang menatap lekat kepergian Elang sembari menyunggingkan senyum licik.
"Assalamu'alaikum, Mas Bintang! Kayaknya Mayang mengikutiku. Barusan di rest area aku bertemu dengannya. Kami bertubrukan di depan toilet. Ada yang aneh, Mas. Aku curiga ini sudah direncanakan Mayang. Namun, yang aku heran, dari mana Mayang tahu kalau aku keluar kota?" Elang berbicara di telpon dengan seseorang yang disebut Mas Bintang.
"Tenang El, aku akan pantau dan kerahkan anak buahku untuk mengawasinya. Berhati-hatilah El, aku tunggu." Jawaban di ujung telpon barusan membuat Elang sedikit tenang. Elang, menyudahi telponnya. Lalu kembali melajukan Pajiranya dengan kecepatan sedang.
__ADS_1
"*Mayang, dari mana dia tahu aku keluar kota*? *Apakah ada penguntit*?" Elang masih berpikir keras tentang keberadaan Mayang di kota yang sama dengan dirinya. Kini Elang harus lebih berhati-hati. Dan Elang belum bisa menebak rencana licik apa yang akan Mayang lakukan?