"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Ingin Dimanja


__ADS_3

Kembali ke POV 1 (Nada)


Aku terbangun saat jam weker menunjukkan pukul 10 pagi, aku bergeliat meregangkan otot-ototku yang kaku. Rasanya badanku mulai membaik dan terasa ringan. Obat pereda mual yang diberikan Bidan Dina memang ampuh. Aku tidak merasakan mual. muntah berat lagi seperti kemarin.


Kakiku rasanya malas untuk melangkah ke kamar mandi, akhirnya aku baring lagi dan malas-malasan kembali di atas kasur. Sembari meraba perut yang masih rata. Kadang aku tidak percaya telah tumbuh janin dalam perut ini. Alangkah senangnya aku bisa hamil, terlebih aku mempunyai suami yang tampan dan aku mencintainya.



Disaat hamil seperti ini, jujur aku ingin sekali dimanja suami atau diprioritaskan dalam hal apapun, namun sepertinya tidak bisa. Sebab Mas Elang sekarang fokusnya terbagi-bagi, memberi perhatian sama ibu, pekerjaan, Sya dan juga aku. Dan aku kini menginginkan diprioritaskan? Itu tidak mungkin, jangankan jadi prioritas, ingin dimanja saja sekarang sulit. Apakah aku terlalu banyak menuntut atau egois meminta perhatian lebih dari Mas Elang disaat aku hamil?



Sayangnya Mas Elang tidak peka, dan itu tidak mungkin bisa ku dapat, karena Mas Elang bukan tipe yang selembut sutra, Mas Elang itu wataknya sedikit keras. Dia memang romantis kalau sedang menginginkan sesuatu, perhatian dan setia, namun untuk memanjakan aku dengan sikap lebay bukan tipe dia.



Tiba-tiba saja aku menangis entah apa yang membuat aku sedih, aku merasa begitu sensitif, ingin dipeluk dan ingin dimanja, itu saja dalam pikiranku. Mas Elang yang aku harapkan entah kemana. Ingin rasanya saat ini dia berada di sini memelukku dan bercerita sambil bermanja.



Mas Elang memang bukan tipe lebay, sejak pernikahan pertamanya gagal dia seakan trauma untuk bersikap berlebihan dalam memperlakukan pasangan, imbasnya kena padaku. Aku malah tidak diperlakukan istimewa seperti mantan istri pertamanya, yang diberikan fasilitas eksklusif, dipercayakan usaha ini itu.


Beruntung aku bukan tipe cewek matre, pikiranku saat itu sederhana, yang penting laki-laki itu setia dan pekerja keras dan mampu menafkahi. Namun rasanya itu tidak cukup, rupanya aku butuh perhatian dan dimanja.


Aku segera bangkit dari ranjang, bergegas aku ke kamar mandi dan membersihkan diri dari sisa tangisku yang mungkin bagi Mas Elang lebay. Dengan cepat aku sudahi ritual di kamar mandi lalu segera berpakaian dan memoles mukaku dengan sentuhan make up. Dirasa sudah terlihat cantik, aku segera bergegas menuruni anak tangga dan berjalan menuju dapur. Namun sebelum menuju dapur aku berbelok ke kanan di mana kamar Ibu berada, untuk sekedar menyapa dan melihat perkembangan ibu.



Dan rupanya Mas Elang ada di kamar ibu, sedang bercengkrama dengan pakaian kantor yang diaw pakai, kayaknya Mas Elang tadi langsung ke restoran setelah mengantar Sya, lalu ke restoran sejenak dan sekarang sudah kembali ke rumah.



"Mana istri kamu, El?" Ibu bertanya pada Mas Elang.


"Di kamar, Ma. Tadi habis pulang dari klinik, Nada sangat ngantuk, mungkin pengaruh obat pereda mual jadi Nada tertidur pulas."

__ADS_1


"Itulah kebiasaan istri kamu ....!"


"Sudah .... jangan Mama lanjutkan, nanti ujung-ujungnya mengata-ngatai Nada," sergah Elang memotong ucapan Bu Sri.


"Mulai saat ini, ingat kata Dokter, Mama jangan terlalu banyak berpikir yang tidak-tidak, Mama harus menjaga emosi Mama supaya tidak meledak-ledak, kalau tidak maka darah tinggi Mama kumat," peringat Elang serius.



Aku mengurungkan niatku ke kamar Ibu, lalu langsung ke dapur dan segera membuat susu ibu hamil yang diberikan Bidan Dina kemarin. Aku berjalan membawa segelas susu ibu hamil ke taman belakang, agaknya suasana taman belakang bisa membuat rasa cengengku hilang.



Saat duduk di kursi taman belakang dan memandangi bunga-bunga, benar saja sedikit bisa menghilangkan rasa cenngengku. Aku berjingkat lalu lalu mendekati salah satu bunga Dahlia yang berwarna merah marun.



"Indahnya ....!" gumanku seraya aku cium dengan penuh perasaan. Bunga yang kutanam sepenuh hati itu tumbuh dengan subur dan indahnya.




"Rupanya kamu di sini, Sayang. Aku mencarimu di atas namun tidak ada," ucapnya seraya menenggelamkan kepalanya di leherku. Seketika rasa bahagia itu hadir dan aku senang sekali Mas Elang datang.



"Mas ....!" seruku saat Mas Elang membawaku duduk di kursi taman itu.


"Ayo, Mas temani kamu minum susu. Dan Mas minum kopi. Mengetahui kamu di sini, Mas langsung datang dan membawa biskuit serta cemilan buat kamu," ujarnya. Perhatian kecil ini seketika membuat aku berbunga-bunga.


Aku tidak berani membalas tatapan mata Mas Elang yang sejak tadi menatapku. Entah apa yang dia pikirkan.


"Sayang, kamu berdandan ya? Pantas kamu berbeda, kamu semakin cantik," pujinya diiringi menyeruput kopinya. Dadaku seketika bergemuruh dengan pujiannya. Namun itu tidak membuat aku terbuai. Mulai saat ini meski sedang hamil muda, akan berusaha melawan rasa manja dan cengengku di hadapan Mas Elang, sebab Mas Elang tidak menyukai aku yang manja.


"Kenapa kamu berdandan, ini kan di dalam rumah?" Aku seketika mengerutkan keningku dengan pertanyaan anehnya, tadi memuji sekarang malah bertanya. Beberapa menit aku diam tidak menjawab.

__ADS_1



"Ingin saja berdandan Mas," jawabku pendek. Mas Elang menatapku heran, entah apa yang membuatnya heran.


"Heii ... kamu kenapa, Sayang? Menunduk, sedih dan nampak tidak bahagia?" tanyanya heran. Kenapa Mas Elang bertanya, yang akupun tidak tahu jawabnya. Perubahan dalam diriku akhir-akhir ini tidak bisa kutebak. Tadi cengeng dan sedih, sekarang juga sedih lagi hanya karena pertanyaan sepele Mas Elang. Wajar tidak sih?


Aku tidak mempedulikan Mas Elang yang masih penasaran dengan sikapku. Aku kini tengah sibuk mengisi perutku dengan cemilan yang tadi dibawakan Mas Elang. Mas Elang hari ini tampan, dan biasanya aku selalu terpesona dan luluh akan pesonanya. Namun hari ini aku lebih terpesona dengan kue dan cemilan yang dibawanya.



"Apa kamu sedang lapar, Sayang?" tanyanya lagi menatapku penasaran. Aku berhenti memasukkan kue dari toples ke mulutku, lalu segera menghabiskan susu stroberiku sampai tandas.



"Terimakasih kuenya Mas, Nada masuk dulu," aku berjingkat dan berdiri, dan berlalu dari hadapan suamiku yang beberapa saat tadi memberikan pertanyaan yang membuat aku heran dan sedikit malu. Mungkinkah ini tandanya aku sensitif dengan pertanyaan sepele Mas Elang? Entahlah, aku tak tahu.



Aku berjalan memasuki dapur dan mencuci gelas bekas aku minum, lalu bermaksud kembali ke kamar. Namun ku belokkan kakiku menuju kamarw ibu. Saat itu ibu sedang di terapi.



"Bu .... !" Aku menatap ibu yang sepertinya semangat dengan terapinya hari ini. Ibu dan sang terapis bersamaan menatapku.


"Nada?" sapa ibu.


"Bu, semoga ibu cepat sembuh," ucapku sembari tersenyum. Aku kembali dan keluar dari kamar ibu, di dekat mulut pintu Mas Elang berdiri di situ. Mungkin sejak tadi mengikutiku.


"Sayang ... nanti kita jalan-jalan sore ya bersama Sya." Aku membalikkan badan dan tersenyum.


"Ke mana Mas?" tanyaku antusias dan senang.


"Terserah kamu maunya kemana, yang penting kita bertiga bisa jalan-jalan sorew."


"Danau Cinta, itu bagus Mas. Nada belum pernah. kesana," ucapku sembari menatapnya. Mas Elang langsung murung entah apa yang tiba-tiba jadi pikirannya. Aku pun tidak tahu apa. yang dipikirkan Mas Elang, yang jelas aku bahagia akan jalan-jalan sore ke Danau Cinta.

__ADS_1


__ADS_2