
Kumandang azan menggema, aku terbangun dengan kedua mata yang masih ngantuk. Setelah meninggalkan kamar Mas Elang tadi malam, aku tidak bisa langsung tidur. Hanya termenung memikirkan pertengkaran kami tadi.
Aku merasa serba salah dengan sikap Mas Elang. Sebentar marah gara-gara tidak sengaja aku menyebut nama Mbak Mayang. Dan setelahnya menyatakan cintanya padaku. Sehingga aku sering kali berpikiran, mungkin saja Mas Elang belum sepenuhnya bisa melupakan cintanya pada Mbak Mayang. Dan aku cemburu. Akhirnya aku hanya bisa menangis.
Aku segera ke bawah setelah melaksanakan sholat Subuh. Tiba di dapur, Bi Narti dan Bi Ijah menyambutku.
"Non Nada, mau Bibi buatkan apa?" tanya mereka menghampiriku.
"Tidak usah, Bi, saya mau buat susu saja," sahutku seraya membuat susu hamil dan satu cangkir kopi.
"Non Nada mau minum kopi juga?" Bi Narti bertanya keheranan.
"Tidak, Bi, ini buat Mas Elang," jawabku seraya mengaduk kopi hitam kesukaan Mas Elang.
"Non, biar saya yang bawakan kopi dan susunya ke atas," Bi Narti menawarkan bantuan.
"Tidak usah, Bi, biar saya sendiri," tolakku seraya menyiapkan susu dan kopi di nampan.
Aku berjalan menuju tangga dan menaikinya pelan. Bi Ijah yang khawatir denganku mengikuti dari belakang.
"Bi Ijah, langsung ke kamar Sya saja. Siapa tahu Sya, sudah bangun," titahku. Bi Ijah patuh dan membelokkan badannya ke kamar Sya. Sedangkan aku langsung menuju kamar kami untuk memberikan kopi kesukaan Mas Elang. Sebagai bentuk maafku gara-gara pertengkaran kecil tadi malam.
Sebelum masuk kamar, aku berdiri dan termenung di depan pintu. Berpikir, apa yang akan aku omongkan pertama pada Mas Elang? Yang jelas, aku akan meminta maaf atas pertengkaran semalam. Mungkin di sini aku yang harus mengalah.
Aku ketuk sebentar dan langsung aku buka. Perasaanku tiba-tiba bergemuruh dengan rasa ragu yang membara.
Di dalam kamar, aku melihat pemandangan yang aneh. Mas Elang tengah sibuk menyiapkan baju dan lain-lain ke dalam koper, seperti mau pergi jauh. Aku heran dan menghampirinya, bahkan Mas Elang tidak menyadari kalau aku telah masuk kamar.
Tiba-tiba perasaanku sangat sedih. Aku berpikir gara-gara pertengkaran semalam Mas Elang akan pergi. Aku letakan nampan berisi satu gelas susu dan satu gelas kopi di meja. Aku berdiri menatap punggung lelaki yang sangat aku cinta itu.
"Mas, Nada bawakan kopi buat Mas Elang," ujarku menawarkan dengan perasaan sedih. Mas Elang menoleh seraya mengerutkan keningnya heran. Mungkin tidak biasanya melihat aku membawakan minuman ke kamar.
__ADS_1
"Lho, kamu? Kenapa bawa minuman ke kamar, biasanya juga tidak?" tanyanya heran. Aku duduk di ranjang seraya menatap semua barang yang sedang ditata Mas Elang.
"Ini ... sebagai permintaan maaf Nada buat Mas Elang," sahutku tersendat seraya masih tertunduk pada tumpukan baju dan lainnya yang masih belum dimasukkan ke dalam koper.
"Mas Elang mau pergi?" lanjutku bertanya pelan dan menunduk sedih. "Gara-gara pertengkaran kita semalam?" tanyaku lagi semakin sedih.
"Nada, mas harus pergi. Ini mendadak dan tidak ada hubungannya dengan perdebatan semalam," ucapnya tergesa sembari memasukkan barang yang masih belum dimasukkan.
"Kemana, Mas?"
"Sayang, mas tidak ada waktu menjelaskan sekarang. Mas sudah ditunggu. Ada hal penting yang harus mas urus di luar kota," jawabnya tidak jelas.
"Entahlah, mungkin seminggu."
"Seminggu?" heranku tidak percaya.
"Mas belum tahu pasti berapa lama, doakan saja urusannya selesai lebih cepat. Mas, akan sangat merindukanmu," ujarnya seraya merangkulku erat, lalu perlahan mengurai pelukan itu. Mas Elang menatapku dalam, mencoba menenangkanku yang nampak gelisah.
"Mas, titip Sya, dan Mama. Tentang Mama, kamu tidak perlu mendengarkan apa-apa jika Mama mengatakan hal menyakitkan."
Mendengar kata-kata Mas Elang seperti itu, tidak terasa air mata ini menetes. Sedih tiada terkira.
"Sya, dia anak yang pintar. Kamu cukup katakan yang sebenarnya. Mas tahu dia tidak ingin jauh dari mas. Tapi, dengan adanya kamu, mas rasa dia tidak akan terlalu sedih," ujarnya lalu menatapku dalam dan mencium keningku.
"Mas akan sangat merindukan kamu, juga Sya. I love you," ucapnya lagi sembari mencium bibirku sekilas. Aku semakin sedih mendengar semua ucapannya.
__ADS_1
"Untuk antar jemput Sya sekolah, mas sudah utus Pak Udin. Jika kamu ingin keluar dan jalan-jalan juga, tinggal minta antar Pak Udin," ujarnya mengingatkan.
Mas Elang bangkit seraya merangkulku, memelukku erat, mengusap punggungku sambil berkata-kata. "Aku minta maaf untuk semalam ya, baik-baik di sini, jaga kandunganmu," ujarnya.
"Nada juga minta maaf, Mas," balasku.
"Mas, tidak bisa lama-lama, Sayang. Mas buru-buru," ucapnya sembari mencium bibirku dalam dengan perasaan menggebu. Tentunya dengan hasrat yang ditahan.
"Ok, mas harus pamit Mama dulu," ujarnya melepaskan rangkulan dan ciumannya. Sebelum meraih kopernya, tidak lupa Mas Elang meraih gelas yang berisi kopi buatanku tadi, lalu diminumnya.
"Ayo!" ajaknya seraya menyeret koper. Aku mengikutinya dari belakang. Kami menuruni tangga. Saat melangkahkan kaki satu persatu di tangga, perasaan sedihku tidak terbendung. Aku menangis dalam diam.
Mas Elang berbelok menuju kamar Ibu. Saat itu Ibu sudah terbangun dan duduk di tepi ranjang. Belum ada tanda-tanda Ibu segera membaik kaki atau tangannya. Aku sangat sedih melihatnya. Mas Elang menghampiri dan memeluk Ibu.
"Ma, Elang pergi dulu, ya. Mama jangan banyak pikiran yang lain-lain selain fokus dengan kesehatan Mama," ucap Mas Elang mengingatkan.
"Kamu kemana, El? Jangan tinggalkan Mama!" pintanya sedih.
"El, tidak lama. Hanya urusan pekerjaan. Mama, baik-baik di sini, ya. Semua akan menjaga Mama, termasuk Nada," pungkas Mas Elang seraya mencium kening Ibu dan menyalaminya.
"El, jangan lama." Ibu menatap Mas Elang dengan wajah cemas.
"Elang, tidak lama, Ma. Mama tenang saja, semua ART akan menjaga Mama," bujuk Mas Elang seraya mencium kening Ibu kembali. "Elang pamit, ya, Ma!"
Karena merasa di kejar waktu, Mas Elang segera beranjak setelah pamit pada Ibu.
Di depan pintu, Mas Elang meraih tanganku lalu merangkul. "Aku akan sangat merindukan kamu. Titip Sya, Mama, juga kandungan kamu. Kalau kamu bosan, kamu boleh main ke rumah Marisa atau jalan-jalan sama Marisa, asal diantar jemput Pak Udin," ucapnya berpesan. Kemudian meraih wajahku, mendekatkannya dengan wajah Mas Elang, lalu ciuman itu mendarat lama.
"Ok, Mas berangkat, ya!" pamitnya seraya melepaskan rangkulannya dan beranjak. Mas Elang mulai memasuki mobilnya dan menyalakan mesin mobil. Pak Nanang dengan sigap membuka pintu gerbang, kemudian mobil Mas Elang berlalu seiring suara klakson mobil yang dibunyikan.
Aku mengantar kepergian Mas Elang dengan tatapan sendu. Hanya doa yang mengiringi kepergian Mas Elang. "Semoga selamat dan lancar urusannya Mas," doaku berbisik.
Hai Readers ... semoga masih setia dengan cerita Nada-Elang ini, jangan lupa tetap dukung ya. Bagi Readers yang masih ada VOTEnya, kasih buat cerita Nada-Elang ya...... ayo buruan... biar Author makin smgt....
__ADS_1