"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Kabar dari Marisa


__ADS_3

Setelah Elang pergi, Nada memutuskan ke kamar mandi dan membersihkan diri. Cara yang paling ampuh untuk menghilangkan resah dan rasa khawatir berlebihan, hanyalah dengan berwudhu menyucikan diri lalu melaksanakan kewajiban pada Yang Maha Kuasa. Nada sholat Isya dengan khusu. Hatinya pasrah menyerahkan keselamatan Elang setinggi-tingginya hanya pada Yang Maha Kuasa.



Setelah menyudahi sholat dan doanya, Nada menuju meja rias dan duduk mematung menatap cermin. Ditatapnya dalam wajah sendu dan sedih dirinya sendiri, lalu pandangannya beralih ke perut yang masih rata dan diusapnya perlahan. "Semoga Papa selalu dalam lindungan Yang Maha Kuasa," gumannya berbicara dengan perutnya.



Wajah cantik Nada telah bersih saat tadi dibersihkan oleh toner dan susu pembersih di depan meja riasnya. Kini Nada siap untuk mengistirahatkan tubuhnya yang lelah. Nada menuju ranjang dan menaiki lalu membaringkan tubuh lelahnya. Walaupun kecamuk rasa resah dan khawatir itu begitu besar dalam dadanya, namun Nada begitu lelah, sehingga rasa lelah mengalahkan segalanya.



Namun sebelum dia benar-benar memejamkan matanya, Nada memaksa tangannya untuk membuka kotak hadiah dari Elang. Perlahan dia buka. Setelah dibuka dan isinya ditarik, ternyata sangat mencengangkan.



Sebuah linjeri yang sangat tipis dan pastinya seksi menerawang saat dipakai, kini berada dalam genggaman tangannya. Nada ternganga, terlebih pesan seram tadi siang yang meminta membuka kado itu malam hari. Bukan hanya dibuka, tapi pastinya Elang juga akan membuka \*\*\*\*\*\*\*\*\*\* linjeri. Sungguh itu sudah terbayang oleh Nada. Bukan dia tidak mau, tapi apakah yang siang tadi belum cukup? Mengingat kondisi dia sedang hamil, rasanya bagi Nada sangat berlebihan kemauan suaminya itu.



Saat dibeberkan dan diangkat ke atas, tiba-tiba ada sesuatu yang jatuh mengenai ranjang. Benda segi empat sebesar kartu ATM jatuh dari balik linjeri. Nada terheran dan memungut benda itu. Dibulak balik ternyata bukan kartu ATM. Nada mencoba mengingat-ingat di manakah dia pernah melihat kartu jenis itu, namun dia lupa di mana.



Karena rasa kantuk, akhirnya Nada menyimpan linjeri itu di atas kasur dan kartu yang mirip ATM di laci meja riasnya. Kemudian Nada merebahkan tubuh lelahnya senyaman mungkin. Deru nafas teratur kini mulai terdengar. Dara tertidur dengan lelapnya meredam sejenak rasa takut akibat kejadian sore tadi karena ulah Mayang.



Tepat pukul 11 malam, Elang tiba. Orang-orang yang tadi beriringan mengikutinya, telah berpencar memisahkan diri ke tempat yang aman. Sementara orang-orang sekitar yang ikut mengawasi kediaman Elang masih setia di sekitar kediaman Elang. Pak Nanang yang masih di pos jaga masih berada di sana meskipun malam ini giliran Usep yang jaga.

__ADS_1



Elang masuk setelah pintu gerbang terbuka lebar-lebar. Setelah Pajiranya terparkir dengan benar, ia turun dan memasuki rumah yang telah ditunggui Bi Narti dan Bi Ijah.



"Den!" Keduanya ARTnya menyapa Elang sopan dan mendadak tegang.


"Bi, anak dan istri saya sudah istirahat? Aman-aman saja, kan?" Elang bertanya sebelum ia melanjutkan langkahnya menuju tangga.


"Sudah Den. Non Nada dan Den Sya sudah istirahat semua. Den Elang mau makan dulu atau .... " Uacapan Bi Narti menggantung setelah tangan Elang memberi kode di udara.


"Saya tidak akan makan, nanti saja. Saya mau ke atas dan istirahat," ucap Elang seraya menuju tangga. Namun sebelum menaiki tangga, Elang membalikkan badan, lalu berjalan menuju kamar Bu Sri. Tiba di depan pintu, Elang perlahan membukanya pelan hingga terbuka sedikit celah. Elang berhasil mengintip ke dalamnya, lampu sudah temaran diganti dengan lampu tidur. Artinya Bu Sri dan Perawat Vera sudah beristirahat. Dan benar dugaan Elang, Bu Sri sudah terlelap.



Elang mengusap dadanya dan hatinya bersyukur. "Alhamdulillah."




Beberapa menit di sana, Elang kembali ke kamarnya dan menutup pintu penghubung. Bergegas Elang menuju kamar mandi, sekilas dia melihat Nada yang sudah terbujur tidur dengan deru nafas yang teratur.



Elang membilas tubuhnya yang lelah, berharap rasa itu hilang dan terganti dengan kesegaran dan kewarasan setelah tadi bergelut dengan ketegangan bersama Tuan Zulfikar. "Ahhhhh," desahnya merasa kembali segar dan bugar setelah sekujur tubuhnya dibilas air malam ini.


__ADS_1


Sebelum menapaki ranjang, Elang melaksanakan terlebih dahulu kewajibannya sebagai seorang Muslim yang tadi tidak sempat ia laksanakan. Ada rasa damai dan nyaman setelah menghadap sang Illahi. Lantas Elang berdiri mengakhiri doanya dan menuju ranjang.



Saat tubuhnya baru saja menduduki ranjang, Elang melihat sesuatu yang dikenalinya. Linjeri yang dibungkus rapi dengan kotak dan dijadikan kado untuk Nada, kini sudah terpapar di sana di samping tubuh Nada. Elang tersenyum sumbang. Keinginan siang tadi yang sempat ia bisikkan di telinga Nada, sudah pasti tidak akan terlaksana. Elang lelah dan Nada sudah terlelap, jadi tidak mungkin dirinya melampiaskan hasrat saat dalam keadaan lelah.



"Kamu selamat malam ini, Sayang. Tapi besok, jangan harap kamu bisa lepas dari terkamanku," ancam Elang sembari mencium kening Nada lama. "Terimakasih, Sayang untuk doa-doanya. Aku mencintaimu," ucapnya lagi berterimakasih diakhiri ungkapan cinta yang dalam. Sekilas Elang mencium bibir Nada dan melepaskannya. Elang berbaring di samping Nada dengan tubuh menyamping memeluk tubuh Nada yang terlelap.



Malam semakin larut. Saat ini Elang benar-benar lelah. Tanpa terasa Elangpun terlelap dan tertidur dengan memeluk Nada yang nyenyak.



Pagi menjelang, Elang terbangun dengan keadaan tubuh yang segar. Semalam dia tidur nyenyak. Mungkin merasa keadaan hatinya lega setelah mendatangi kediaman Tuan Zulfikar dan mendapat kesepakatan yang disepakati bersama.


Melihat ke arah Nada yang semalam tidur di sampingnya dan dipeluk olehnya, ternyata sudah tidak ada, Elang yakin Nada sedang ke kamar mandi.


"Pagi Mas." Tiba-tiba Nada muncul


dari balik pintu, membawa sebuah nampan yang berisi secangkir kopi hitam kesukaan Elang.


"Sayang, kirain berada di kamar mandi. Oh rupanya, istri Mas pergi membuatkan kopi." Ditatapnya mesra wajah Nada yang malu.


"Mas, jangan diminum dulu kopinya," tahan Nada seraya menyimpan kopi di meja rias. Elang bangkit dengan malas dan menuju kamar mandi untuk membasuh muka yang masih ngantuk.


__ADS_1


Tidak lama dari itu, Nada sedikit terkejut karena bunyi WA dari Marisa yang memberitahukan bahwa hari ini dia akan melahirkan. "*Selamat* *Mbak Marisa*," bisik Nada di dalam hati tulus.


__ADS_2