"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Terbuai Diantara Rasa Kesal


__ADS_3

Mas Elang menghentikan langkahnya saat suara telpon dari HPnya berdering. Aku tidak begitu jelas dengan siapa Mas Elang berbicara. Namun dilihat dari gestur mukanya saat merespon lawan bicara, nampaknya menerima telpon dari seseorang yang penting atau berpengaruh.



Aku menghampiri Sya yang sedang anteng bermain mobil-mobilan ditemani cemilan yang tadi diberi Mbak Marisa.


"Bi... ini tolong snacknya simpan di kulkas saja. Nanti kalau Sya mau tinggal ambil di kulkas," titahku pada Bi Narti. Bi Narti patuh dan segera meraih kantong kresek pemberian Mbak Marisa yang lumayan banyak.


"Ayo Sya, tidur siang dulu. Waktunya sudah lewat lho," ajakku seraya meraih jemari Sya dan menuntunnya. Saat mau naik tangga, aku dan Mas Elang berpapasan. Mas Elang menatapku namun aku langsung buang muka.


"Papa... Sya bobo siang dulu ya!" ujar Sya berpamitan. Mas Elang merengkuh bahu Sya sejenak lalu beranjak menuju dapur.


POV Author


Di dapur, Elang sengaja mencari Bi Narti yang sedang merapikan snack pemberian Marisa untuk Sya.


"Bi....!" panggilnya yang sontak membuat Bi Narti terkejut.


"Ehh... Den Elang! Ada apa, Den?" Bi Narti menghentikan dulu sejenak pekerjaannya dan fokus pada Elang.


"Saya ingin bertanya, namun Bi Narti harus jawab dengan jujur."


"Tanya apa, Den?" Bi Narti mengkerutkan keningnya heran dan penasaran.


"Saat saya pergi ke luar kota, apakah istri saya sering pergi keluar?" tanya Elang sembari memasukkan tangan kirinya ke saku depan celana.


"Setahu Bibi, Non Nada pernah jalan keluar saat Den Elang pergi hanya sekali, tapi itu berdua dengan Den Sya dan diantar jemput oleh Pak Udin," jelas Bi Narti. Elang manggut-manggut.


"Lantas saat itu Mama dan Sonia menginap, ya?" Elang masih penasaran.


"Iya, Den. Nyonya Besar dan Mbak Sonia nginap di sini hampir seminggu," jawab Bi Narti.


"Seminggu?"


"Iya, Den, seminggu."


"Bibi melihat ada yang mencurigakan tidak dari gerak-gerik Sonia selama disini?"


"Emmm... anu....!" Bi Narti nampak ragu untuk melanjutkan ucapannya.


"Anu apa, Bi?"


Bi Narti diam sejenak, dia seakan berpikir.


"Saat itu, sehari sebelum Den Elang pulang dari luar kota dan tepatnya Non Nada mengajak Den Sya pergi keluar, Bibi melihat Mbak Sonia keluar dari kamar Den Elang. Saat itu Bibi melihat dari tempat jemuran atas, kebetulan Bibi sedang menjemur pakaian. Tadinya mau Bibi tegur dan kejar, namun Mbak Sonia sudah menghilang turun ke bawah," jelas Bi Narti.

__ADS_1


Elang terhenyak mendengar penjelasan Bi Narti barusan. Kecurigaan Marisa benar. Dia sekarang yakin bahwa yang mencuri sertifikat PerkaSya Restoran tidak lain adalah Sonia.


"Sonia....!" pekiknya seraya menghantamkan tinjunya di udara.


"Saat istri saya pergi, apakah dia lupa mengunci kamar?"


"Tidak mungkin Den, selama ini Non Nada selalu mengunci pintu, kok," tepis Bi Narti.


"Coba Den Elang pasang CCTV nya di depan pintu kamar Den Elang, bisa jadi yang keluar masuk kamar akan terlihat," ujar Bi Narti memberikan usulnya. Elang mengangguk.


"Ada benarnya Bi Narti," guman Elang sambil membalikkan badannya.


Elang menuju tangga dan masuk ke kamarnya. Lalu membuka lemari dan mengeluarkan beberapa potong baju yang sepertinya akan dia kemas di koper. Dan benar saja, Elang meraih salah satu koper berukuran sedang lalu memasukkan helaian pakaiannya itu. Mau ke mana Elang?



Setelah selesai mengemas pakaiannya di koper, sejenak Elang menuju lemari penyimpanan surat-surat pentingnya. Elang menatap tumpukan berkas yang tersusun rapi disana, yang kemarin telah dirapikan kembali oleh Bi Narti. Saat Elang mendapati sertifikaf PerkaSya Restoran raib, tumpukan berkas itu masih tersusun rapi. Sonia sangat rapi menyembunyikan jejaknya. Namun mata Bi Narti terlanjur mengetahui.



"Tidak akan aku lepaskan dirimu Sonia, karena kamu telah berani berkhianat. Aku jadi merasa bersalah pada Nada, istriku yang selalu tidak pernah aku bela jika sedang berdebat dengan Mama," gumannya penuh amarah.




"Aku merindukanmu Nada," gumannya menyunggingkan senyum seraya menuju pintu penghubung kamar Sya.


Saat berada di dalam kamar Sya, Elang mendapati Nada sedang berada di balkon kamar, sementara Sya tertidur nyenyak.


"Hebat kamu sayang, pandai menidurkan Sya dengan cepat," pujinya sembari membuka pintu keluar menuju balkon. Dengan pelan dibukanya pintu itu.


Sebelum Nada menyadari kehadirannya, Elang dengan cepat merangkul Nada dari belakang. Nada menggerinjal kaget. Namun dia tidak bisa bergerak, sebab Elang telah mengunci pergerakannya dan menyandarkan kepalanya di ceruk leher Nada.



"Sayang....!" Elang membisikkan kata-kata romantis di telinga Nada sehingga Nada merasa geli.


"Mas... menjauh, Nada geli," cegah Nada yang tidak digubris Elang.


"Ayo kita ke kamar... Mas rindu kamu, sayang!" Elang sudah membawa tubuh Nada dari balkon menuju ke dalam kamar Sya, lalu menutup pintu itu dengan perlahan. Elang menggiring tubuh Nada menuju pintu penghubung, dengan cepat Elang membukanya lalu masuk dan menguncinya cepat. Kini tubuh Nada diangkatnya, dia baringkan di ranjang. Nada berontak dan bangkit, namun Elang menahannya dengan melingkarkan tangannya di pinggang Nada yang ramping.



Nada sungguh tidak ingin melayani Elang dalam suasana hati yang galau begini, yang masih dia rasakan hanya luka yang ditorehkan ibu mertuanya, dan Elang tidak berusaha menyembuhkannya.

__ADS_1


"Mas Elang hanya butuh tubuhku saja untuk memenuhi hasratnya. Dia tidak meraba, seberapa dalam ibu sering menyakitiku?" Nada berbicara dalam hatinya.


"Mas... jangan, Nada sedang tidak enak badan." tepisku.


"Jangan menghindar, aku tahu kamu berusaha menghindariku. Karena masalah ibu tadi, kan?" tebak Elang.


"Nada sedang tidak ingin Mas," tolak Nada memalingkan muka saat Elang mendekati wajah Nada.


"Aku mau pergi beberapa hari untuk mengungkap dan membawa si pengkhianat ke penjara. Jadi tolong biarkan aku melepaskan rindu denganmu."



"Pergi....?" Nada sedikit terkejut.


"Ayolah....!" Elang menjamah tidak sabar dan menahan tubuh Nada supaya tidak banyak bergerak.


Elang berhasil mendaratkan ciuman lembut di bibir Nada untuk beberapa detik. Sejenak diangkatnya bibir itu lalu berkata, "aku mencintaimu, sayang. Dan kamu jangan pernah tinggalkan aku, apapun yang terjadi." Lalu Elang melancarkan ciumannya kembali yang kini semakin ganas dan menuntut penuh gairah. Nada tidak berdaya dengan gairah yang ditawarkan Elang, sehingga entah bagaimana awalnya, Nada yang ingin menolak kini malah menggelinjang menerima serangan kerinduan Elang. Dan kerinduan Elang yang menggebupun tersalurkan sudah.



Elang tersenyum bahagia disisi Nada yang masih berselimut tipis. Diciumanya kembali bibir Nada lama, Nada diam tidak membalas. Lalu ciuman lain ia daratkan diseluruh wajah Nada.



Setelah pergulatan panas tadi, kini Nada sudah menduduki ranjang dan termenung. Dia melihat koper merah teronggok di bawah ranjang yang sudah Elang siapkan tadi. Sementara Elang berdiri di depan cermin, berdandan dan merapikan kemejanya. Nada hanya melihat dari ujung matanya. Walaupun pergulatan tadi sudah menyatukan dua tubuh, namun entah kenapa masih ada gundah gulana yang tiba-tiba saja Nada rasakan. Dan rasa kesal itu masih ada.



"Mas pergi dulu ya... titip Sya. Mas tidak bisa pamit sampai menunggu Sya bangun. Mas sudah dikejar waktu," ucapnya seraya mendaratkan ciuman di pipi Nada.



"Tunggu....!" tahan Nada.


"Kenapa sayang, kamu pasti akan sangat merindukan suamimu ini, kan?" ucapnya percaya diri.


"Tidak, Nada hanya akan mengembalikan ini....!" ucap Nada datar, seraya memberikan kartu ATM yang dua minggu yang lalu pernah Elang berikan untuknya.


"Kenapa....?" Elang heran dengan raut muka kecewa.


"Nada tidak membutuhkannya!" ujarnya dan berlalu menuju kamar Sya.


"Yang Nada butuhkan kepekaan dan pembelaanmu Mas, bukan hanya kata cinta yang terucap. Tapi Mas Elang selama ini tidak pernah peka terhadap perasaan Nada." Batin Nada menangis.


Ingin rasanya Elang menyusul Nada ke kamar Sya, namun karena dikejar waktu dan sudah ada janji dengan seseorang, Elang tidak bisa meminta penjelasan yang lebih dari Nada. Elangpun pergi tanpa diantar lambaian dan tatapan cinta Nada lagi.

__ADS_1


__ADS_2