"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Kembali lagi ke Rumah


__ADS_3

"Mama... apa yang Mama bicarakan di depan Bi Inah? Tidak pantas Mama membicarakan aib anak menantu pada orang lain. Mama tahu, tadinya El ngajak Nada kesini tidak lain supaya kalian bisa baikan dan akur. Tapi apa, Mama malah membuat hubungan ini semakin runyam. Pantas saja selama ini Nada merasa enggan bertemu Mama, sebab Mama sendirilah yang memberi jarak dan tidak pernah mau menerima Nada!" ucap Mas Elang sedikit berteriak dan Nada tinggi. Ibu nampak gelagapan merasa kepergok oleh Mas Elang dan aku.


"Ti-tidak El... bukan Mama menceritakan aib anak menantu, tapi... Mama sedang membicarakan tentang sinetron bersama, Bi Inah." Ibu berargumen.


"Alasan... Elang tahu, Mama menceritakan Nada, kan? El, kecewa sama Mama....!" ujar Mas Elang seraya membalikkan badan dan berjalan menghentakkan kakinya pergi menuju kamar yang ditempati Sya.


"El... tunggu....!" Ibu mengejar Mas Elang. Melihat kejadian ini, aku segera menjauh dan berlari kecil menyelinap dan keluar dari pintu.



Sepanjang jalan tangisku pecah, aku sungguh sangat terluka dengan perkataan ibu tadi yang jelas terdengar membicarakan aku kepada Bi Inah tanpa rasa malu. Lagi dan lagi, ibu tidak bosannya membuka aib anak menantu di depan orang lain. Sebetulnya ini bukan aib bagi kami, sebab kami pasangan suami istri yang sah, yang secara kebetulan telah keramas dan basah dan dilihat ibu. Tapi dasarnya ibu memang sangat membenci aku, jadi apapun yang dilihatnya akan selalu negatif.



Ibu sangat tega dan tidak berperasaan, bukankah kemarin ibu sempat meminta maaf atas kesalahannya yang katanya telah memojokkan aku saat sertifikat PerkaSya Restoran hilang. Tapi kini, saat Mas Elang berniat ingin mendamaikan aku dan mendekatkan aku dengan ibu, rupanya ibu ketahuan belangnya.



Ini juga tidak luput dari sikap Mas Elang yang memaksa mengajak aku pergi ke rumah ibu. Jika saja Mas Elang tidak memaksa ingin segera mendamaikan kami, mungkin kejadian ibu membicarakan aib kami pada Bi Inah tidak akan terjadi. Semua gara-gara Mas Elang, Mas Elang pemicu ibu selalu mencemooh dan membicarakan masalah ranjang di depan orang lain. Ini untuk yang kesekian kali, rasanya kali ini aku sangat lelah mencoba bertahan dengan suami yang sama sekali tidak peka dengan perasaan istri.



Tangisku kian pecah, sakittt... sekali, hati dan dada ini kian sesak, ditambah rasa sakit di kepalaku muncul lagi, makin terasa bertubi-tubi rasa sakit hati ini. Rasa sakit hati dan fisik akibat sakit kepala dua-duanya menghentak-hentak dan berlomba-lomba seakan senang melihatku kesakitan. Aku mencoba meredam sakit kepalaku dengan menurunkan tubuhku. Aku duduk berjongkok dan memijit pelipis kananku. Aku biarkan tubuhku terduduk di trotoar.



Saat bersamaan, sebuah mobil berhenti dan membunyikan klakson. Rupanya Mas Elang yang berhasil menyusulku. Bagaimana tidak, pergiku belum jauh dari sekitar perumahan rumah ibu, dan aku terlanjur sakit kepala yang tiba-tiba mendera. Tubuhku tidak kuat berjalan lagi dan berhenti lalu mendudukkan tubuhku di trotoar.



"Sayang... Nada....!" Suara Mas Elang memanggilku dan aku hanya samar-samar mendengar. Tubuhku diangkat lalu dimasukkan ke dalam mobil. Di dalam mobil sudah terdengar suara bocah kecil yang khawatir kepadaku. Sya memanggil-manggil namaku.


__ADS_1


"Bunda... Bunda....!" Sya memanggil lalu memegang bahuku yang kini bersandar di jok mobil. Aku memejamkan mataku untuk meredam rasa sakit kepalaku yang masih terasa. Nyut-nyutan rasanya sampai aku tidak kuat membuka mata. Tiba-tiba Mas Elang memberiku sebotol air mineral dan menyodorkan ke arah mulutku. Aku mencoba meneguk air mineral itu seteguk, lalu bersandar lagi. Suara Sya yang tadi memanggil kini sudah tidak terdengar lagi.



Mobil Mas Elang perlahan berjalan, deru mesinnya mulai terdengar. Dan mobil melaju sedang, membelah jalanan kota ini.


Namun hanya beberapa menit saja, Mas Elang sudah menghentikan mobilnya. Perlahan aku membuka mata seraya menahan sakit kepala yang masih ada. Ternyata Mas Elang menghentikan mobilnya di depan sebuah klinik. Aku merasa heran.


"Sya diam dulu ya, nanti kalau Papa sudah turunkan Bunda, baru Sya, Papa turunkan!" Mas Elang berusaha membujuk Sya yang memang sejak tadi diam, namun saat melihat pergerakan Mas Elang sedikitnya membuat Sya heran dan panik. Namun anak pintar itu patuh dan seakan kasihan melihat aku.



"Ayo, turun!" titah Mas Elang seraya meraih tangan sebelah kiriku untuk dibopongnya. Aku segera menepis karena aku bingung mau diapakan oleh Mas Elang, aku kan tidak sakit. Hanya sakit hati yang aku rasakan dan dampaknya ke kepalaku.



"Mau dibawa kemana, Nada, Mas?" Aku bertanya dengan heran sambil menahan tangan Mas Elang.


"Ayo, kita ke klinik dan mengobati luka di pelipis kamu."


"Tidak, kamu harus ke klinik. Luka di pelipis kamu itu yang menyebabkan sakit kepala," paksa Mas Elang lagi.


"Tidak, Mas... Nada mau diobati sama Bi Narti. Mas jangan selalu paksa Nada." Sekali lagi aku menolak ajakan Mas Elang.


"Jangan keras kepala, Nada!" ucapnya sedikit meninggi.


"Tolong, Mas. Nada tidak mau. Lebih baik cepat pulang ke rumah biar kita cepat sampai. Kasihan Sya, sudah lelah karena lama di jalan." Aku memberi alasan. Mas Elang akhirnya mengalah dengan muka yang sedih kecewa karena aku bantah.


"Kamu ini mulai ngebantah, padahal demi kebaikan kamu." Mas Elang ngedumel sambil kembali ke dalam mobil dan membetulkan sabuk pengamannya, dan sekilas melirik ke arahku yang meringis. Pajiranya pun kembali membelah jalanan menuju rumah kami. Aku hanya diam, dan malas menjawab lagi Mas Elang.



Mobil Mas Elang tiba di depan gerbang rumah saat jam menunjukkan pukul 18.30 malam. Gerbang dibuka oleh Pak Nandang yang kebetulan jaga pada shif malam, gantian sama Usep.

__ADS_1



Saat mobil sudah terparkir dengan sempurna di halaman rumah, aku segera turun dengan kepala yang benar-benar terasa sakit namun aku tahan. Sampai Sya tidak aku hiraukan.



Di depan pintu, Bi Narti sudah menyambut.


"Non Nada, kok balik lagi?" Bi Narti mengkerut heran.


"Bi... tolong buatkan saya Teh Jahe ya, saya merasa sakit kepala. Juga perban saya nanti tolong dibuka," perintahku sembari ngeloyor ke dalam dan menuju tangga.


"Baik, Non."


Tiba di kamar, langsung ku baringkan tubuhku. Rasa sakit di kepalaku masih ada. Aku berusaha menghilangkannya dengan memijit-mijit pelan.



Tidak berapa lama, Bi Narti datang dan masuk ke dalam kamar tidak lupa mengetuk pintu.


"Masuk, Bi!"


Bi Narti membawa Teh Jahe Hangat dan alat-alat P3K untuk mengobati luka di pelipisku.


"Luka di pelipisnya sudah mulai mengering, Non. Bibi hanya perlu kasih alkohol dan salep di luarnya saja," ujar Bi Narti. Tangannya dengan sigap mengobati pelipisku. Setelah selesai, Bi Narti membantuku duduk bersandar di kepala ranjang.



"Diminum dulu, Non!" Bi Narti, seraya menyodorkan Teh Jahe Hangat.


"Terimakasih, Bi!"


"Sepertinya, sakit kepala Non Nada bukan karena luka di pelipis."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Bi. Ini sakit kepala biasa. Mungkin sebentar lagi setelah minum Teh Jahe Hangat ini, sakit kepala saya akan menghilang," ujarku menenangkan kekhawatiran Bi Narti. Sementara Mas Elang menatapku dari pintu penghubung kamar kami dan Sya, dengan tatapan yang sedikit kesal. Entah kesal karena aku tidak mau di bawa ke klinik atau apa, entahlah.


__ADS_2