"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Kumbang dan Bunga


__ADS_3

Pagi sudah menjelang, Nada dan Elang saling berpelukan. Pergulatan yang sampai subuh tadi membawa kesan malu-malu untuk Nada. Terlebih Elang selalu tersenyum menggodanya. "Hantunya cantik dan sangat menggoda," ucap Elang sembari merangkul tubuh wanitanya semakin dalam. Asik saja berdua dan tanpa menghiraukan Sya yang berada di kamar sebelah.



"Ayo kita keluar, kita cari sarapan hangat! Aku takut kalau lama-lama berdua di sini akan membangkitkan singa yang lapar." Nada tersenyum seraya menatap bibir Elang yang membuatnya ketagihan dengan rasa manis sebatang rokok. Padahal asapnya sangat ia hindari.



"Kenapa?" Pertanyaan Elang dibungkam oleh bibir Nada yang langsung nyosor dan mencium tiga detik di situ. "Kamu nakal ya hari ini. Ayo kita keluar dulu. Kita cari menu hangat di depan," ajak Elang seraya menarik lembut lengan Nada yang kini sangat manja dan agresif, dan Elang menyukainya.



Dua hari di kota itu, Elang bersama rombongan kembali ke kota Jakarta. Usaha studio foto milik Nada sudah mulai beroperasi dan sudah ada pengunjung yang mendatanginya. Elang sudah sedikit lega. Kali ini dia memberikan kepercayaan untuk Nada dan tidak akan mengingat trauma yang cukup menyiksanya.



Dua bulan kemudian, usia kandungan Nada kini mulai memasuki bulan ke 6. Saat diperiksa kemarin, kandungan Nada dalam keadaan sehat. Janinnya juga sudah mulai aktif dan menendang-nendang.



"Bunda, Sya sekolah dulu, ya," pamit Sya sembari mencium perut Nada yang sudah mulai membesar.


"Iya, sayang. Hati-hati ya!" peringat Nada seraya membalas mencium kepala Sya yang semakin hari semakin tampan.


Saat Sya menjauh, Elang tiba-tiba datang dan merangkul Nada. "Sayang, aku pamit juga ya. Hati-hati di rumah. Jaga baby girlnya!" Elang mencium bibir Nada sejenak dengan tangan mengusap perut buncit Nada.


"Jangan nakal ya, anak Papa!" peringat Elang saat mengusap perut Nada.


Elang dan Sya beranjak diantar dengan tatapan mata Nada.


Setelah mengantar kepergian Elang dan Sya, Nada bergegas menuju dapur. Hari ini rencananya Nada akan memetik bunga Dahlia kesayangannya seraya membersihkan sedikit rumput liar bersama Bi Ijah. Nada menyiapkan gunting pemotong buah, dan sarung tangan sebagai alat untuk pelindung tangannya.


"Nadaaa!" Tiba-tiba Bu Sri memanggil Nada dengan suara yang lemah dan panjang. Seketika Nada menoleh dan menatap kedatangan Bu Sri yang didorong oleh Perawat Vera.



"Ada apa, Bu?" Nada heran dan mengkerutkan keningnya. Seperti biasa Bu Sri setelah memanggil Nada selalu diam dan tidak melanjutkan kata-katanya lagi.



Nada menghampiri mencoba mengorek apa mau mertuanya. "Ibu mau apa?" tanyanya lembut. Bu Sri hanya diam, tapi raut wajahnya sedih dan muram. Tiba-tiba Nada berjongkok dengan tangan kiri menahan perut.


"Ibu kenapa? Coba bilang sama Nada," bujuk Nada mencoba mengorek apa yang akan dikatakan mertuanya. Mata Nada menatap wajah Bu Sri yang sendu. Ada kesedihan di sana. Nada berdiri dan merangkul bahu Bu Sri. Nada menduga Bu Sri ingat akan kesalahannya tempo hari padanya.


"Bu, jangan sedih lagi ya. Nada sudah melupakan yang pernah terjadi diantara kita. Baik Ibu ataupun Nada mari kita sama-sama melupakan apa yang pernah kita lalui sebagai masa pahit kita. Nada juga minta maaf, Nada tidak pernah memahami Ibu," tutur Nada membujuk seraya merangkul dan mengusap bahu mertuanya. Dia juga sadar banyak kekurangan dan kesalahan sama mertuanya. Tidak terasa bulir bening sudah mengalir di pipinya.



Bu Sri pun meneteskan air mata merangkul tangan Nada. Namun tetap tidak bersuara. "Bu, sekarang Ibu tidak usah sedih lagi. Sekarang yang Ibu pikirkan hanyalah kesehatan Ibu. Nada ingin Ibu cepat berjalan lagi," harap Nada tulus. Setelah itu Nada memberi kode pada Perawat Vera supaya membawa Ibu berjemur di depan.

__ADS_1



"Mbak Vera, bawa Ibu berjemur di depan ya, mungpung mataharinya sudah nongol." Perawat Vera mematuhi perintah Nada, dia mendorong roda menuju ke depan dan menjemurkan Bu Sri di depan.



Nada kembali pada rencana semula. Yaitu, memetik bunga Dahlia dan membersihkan rumput liar. "Bi Ijah, ayo!" ajaknya sembari membekal gunting dan sarung tangan.



Di taman belakang Nada dengan bersuka ria memetik sambil bernyanyi, menyanyikan sebuah lagu indah yang pernah di dengarnya.


Bunga Pertama dan Impian


Ku petik bunga pertama


impian di dalam hidupku


wangi mengharum, berbagai rupa


suci, sesuci dirimu,


saat ku renggut pertama kali


senangnya rasa di dalam hati,


kumbang bahagia bersuka ria


Ohhhh bunga pertamakuuu


Bertahta lah di dalam hatikuuuu


Sepanjanggggg hayatkuuuu


Menemani suka dukaku.


Enggkau sang bunga penawar hati


pengobat lukaku yang dalam


Engkaulah bunga penawar rasa


Bertahtalah di dalam hidupku,


lukaku kini telah sirna, karena Kau bungaku


Suci, sesuci dirimu


Bertahtalah di dalam hatiku....

__ADS_1


Saat ku renggut pertama kali


Senangnya rasa di dalam hatiku


Kumbang bahagia bersuka ria


Suci, sesuci dirimu


Bertahtalah di dalam hatiku


25 Desember 2022, by Deyulia


Nada begitu menghayati lagu itu, tidak terasa air matanya menetes bagaikan mendapatkan kesedihan. Nada terharu.


"Non, lagu yang Non Nada nyanyikan ini, harusnya dinyanyikan oleh seorang laki-laki, contohnya Den Elang. Ini cocoknya laki-laki yang nyanyi, Non. Istilahnya, Den Elang mendapatkan bunga pertama dan direnggut pertama kali olehnya," timpal Bi Ijah membuat rasa terharu Nada hilang seketika berganti rasa geli, ternyata sejak tadi Bi Ijah mengartikan lirik lagu yang dia nyanyikan itu.


Padahal Nada hanya menyanyikan lagu itu, tanpa ngeh dengan isinya, yang jelas dia menyanyikan dengan setulus hati lirik itu, karena kebetulan liriknya ada kata-kata bunganya.



"Saya hanya sekedar berdendang, Bi. Tidak mengartikan seperti Bi Ijah. Benarkah lagu ini harusnya seorang laki-laki yang menyanyikan?" tanya Nada penasaran.


"Benar, Non." Bi Ijah membenarkan pertanyaan Nada sambil tersenyum sopan dan mengangguk, karena saat itu Elang tiba-tiba datang.


"Harusnya yang pantas menyanyikan lirik lagu itu adalah aku. Aku nyanyikan untukmu, Sayang. Benar kata Bi Ijah. Dan lagu itu kena banget di hati aku. Mendapatkan kamu untuk pertama kalinya. Dan akulah Kumbang yang bahagia itu," ungkap Elang seraya merangkul Nada yang terkejut melihat kedatangan Elang yang masih tampan meskipun telah bepergian mengantar Sya. Bi Ijah permisi saat melihat Elang melilitkan tangannya ke pinggang Nada.



"Nada hanya menyanyi Mas, karena kebetulan liriknya berhubungan dengan bunga. Terus kebetulan Nada sedang memetik bunga," tukas Nada menyembunyikan rasa malu di hadapan Elang yang semakin tampan. Lalu tanpa Nada sadari Elang telah mencium pipinya gemas dan berulang-ulang.



"Mas, malu, jangan cium-cium di sini! Nanti dilihat orang lain." Nada protes sambil melepaskan lilitan tangan Elang yang melingkar di perutnya.



"Tidak ada orang, yang ada hanya Kumbang. Kumbangnya ini, dan bunganya ini," balasnya sambil menunjukkan tangan ke arahnya juga ke arah Nada. Nada tersenyum malu-malu mendengar ucapan Elang.



"Ayo, kita masuk. Bereskan bunga Dahlia yang cantik seperti wajah istri Mas ini. Kita bawa dan dipajang di ruang tengah," ajak Elang seraya ikut membereskan bunga Dahlia dan diikatnya dalam satu ikatan.



"Ayo, Sayang. Kamu harus mandi dulu sebelum masuk kamar, karena Mas punya kabar gembira buat kamu." Nada penasaran.



Elang menarik Nada masuk ke dalam dan berjalan beriiringan memasuki pintu belakang dengan rasa hati yang bahagia.

__ADS_1


Kabar gembira apakah kira-kira... dan apakah Nada akan gembira mendengarnya? Nantikan terus ya....


__ADS_2