
"El... Elang....!" suara cempreng Ibu masih memanggil-manggil. Aku dan Mas Elang segera berdiri kemudian menuju kamar mandi, tanganku ditarik menuju kamar mandi. Aku menahannya, namun tarikan Mas Elang semakin kuat.
"Ayo... kita mandi bersama. Santai saja, biarkan Mama mencari. Toh pintunya sudah Mas kunci." Aku ragu-ragu dan sedikit was-was, lalu dengan langkah yang sedikit diseret akhirnya kami masuk kamar mandi bersama. Dan yang aku takutkan benar saja terjadi, kami melakukannya dibawah guyuran shower.
Kini kami benar-benar melakukan mandi setelah pertautan itu terulang, aku gosok tubuh dan dada bidang Mas Elang. Aku tersenyum malu-malu saat Mas Elang mencoba menggosok badanku.
"Malu... !" ucapku tersipu. Mas Elang lantas mencubit hidungku, lalu mencium bibirku sekilas. "Mas, cepat kita selesaikan mandi kita. Nanti Ibu akan mencari kita kesini!" peringatku menghentikan aksi Mas Elang yang ingin mencium bagianku yang lain. Mas Elang nampak kecewa, namun tak pelak dia dengan sungguh-sungguh menggosok sekujur tubuhku. Lalu kita saling bilas dan membersihkan tubuh berbusa kita sambil memainkan bisa sabun. Keadaannya persis anak kecil main sabun, dan aku melihat Mas Elang sangat bahagia.
"Mas, kapan Nada boleh hamil?" tiba-tiba pertanyaan itu terlontar tanpa terkendali, Mas Elang diam. Namun tidak berapa lama dia bersuara. "Ayo... ini bilasan terakhir. Kita bersihkan," ucapnya tanpa merespon pertanyaanku tadi, dan aku sedikit kecewa.
"Sudahlah jangan manyun begitu, ada saatnya kelak kamu hamil dan memberiku anak lagi serta memberi Sya adik."
"Tapi tidak waktu dekat ini, Sya masih kecil dan butuh kamu. Kalau kamu hamil, takutnya kasih sayang kamu terbagi dan Sya tersisih. Sedangkan Sya masih bergantung kasih sayangmu," sambung Mas Elang seraya memakaikan handuk padaku.
Aku keluar duluan dari kamar mandi, sedikitnya omongan Mas Elang tadi mempengaruhi otakku. "*Padahal aku sama sekali tidak berpikir untuk* *menyisihkan kasih sayang pada Sya, jika aku* *hamil nanti*," batinku.
"El... Elang....!" Ibu memanggil lagi, kini panggilannya begitu dekat dan berada di depan pintu kamar kami. Aku segera berbaju dan juga menyiapkan baju untuk Mas Elang.
Tidak berapa lama kemudian, Mas Elang dan aku sudah dalam keadaan rapi. Dengan rambut kami yang sama-sama klimis, jelas kami akan terlihat sehabis mandi dan keramas. Mas Elang berjingkat membuka pintu kamar, dan aku membuka pintu penghubung kamar kami dan Sya. Aku sengaja melihat Sya, untuk memastikan keadaan Sya. Takutnya Sya sudah terbangun.
__ADS_1
"El... lama banget sih pintunya dibuka. Kalian lagi ngapain?" tanya Ibu terdengar menyelidik. "Kami sedang istirahat sianglah, Ma!" jawab Mas Elang dengan nada sedikit kurang senang.
"El, itu dibawah ada Sonia lho. Mama kesini sengaja bawa dia sebab dia bilang kangen rumah ini," ujar Ibu seraya melihat-lihat sekeliling ruangan kamar kami.
"Kalau dia kangen, biarkan sajalah Ma. Toh, dia sebelumnya sudah pernah datang kesini."
"Maksud Mama, dia itu kangen juga sama kamu, ingin ketemu kamu El. Jumpai dulu geh sambil kita minum teh hangat di ruang tamu," bujuk Ibu lagi pada Mas Elang.
"Ok, sebentar ya... El panggil dulu Nada. Biar kita sama-sama ke bawah," ucap Mas Elang seraya menuju kamar Sya lewat pintu penghubung.
"Sayang... ayo kita ke bawah, kita ngeteh bareng sama Mama," ajak Mas Elang seraya menggandeng tanganku. Setelah berada di hadapan Ibu, seketika Ibu menatap kami berdua dengan tajam.
"Kalian sama-sama klimis, habis ngapain siang-siang begini?" tanya Ibu super kepo. "Ya... apalagi sih Ma, selain berkarya.... !" jawab Mas Elang sekenanya. Ibu mendelik tidak senang. Lagipula kenapa juga Ibu selalu senang banget ingin tahu hubungan kami yang satu itu, aneh.
Aku dan Mas Elang duduk dan kompak menatap kedatangan Mbak Sonia yang menyajikan teh hangat untuk kami. Dengan elegannya dia menyimpan satu persatu cangkir beraroma air teh itu di depan kami masing-masing.
Kehadiran Mbak Sonia cukup membuatku terhenyak apalagi penampilannya begitu modis dan sangat elegan, cantik dan bisa jadi Mas Elang terpesona.
"Mbak Sonia....!" sapaku seraya ingin menyalaminya. Spontan aku ingat bahwa tadi saat di atas aku juga belum menyalami Ibu. Namun tatapan Ibu yang menusuk membuatku urung menyalami.
__ADS_1
"Nada....!" sahutnya dengan senyum dipaksa, namun tidak membalas tanganku. Akhirnya tanganku tergantung di udara dan kembali kutarik perlahan. "Ayo, silahkan diminum teh hangatnya....!" Mbak Sonia mempersilahkan seakan dia pribumi.
"Kalian kompakan sih, rambut sama-sama klimis. Oh ya... Sya kemana, kok sepi?" Mbak Sonia memulai pembicaraan dan menyentil keadaan rambut kami yang klimis, namun langsung membelokkan ke topik lain dan menanyakan Sya. "Sya, sedang tidur siang Mbak," jawabku.
"Oh ya El, kalau kamu tidak sibuk tolong ajak jalan-jalan Sonia. Berhubung dia kini sudah mundur untuk dijodohkan sama kamu, sebagai kompensasinya ajaklah Sonia jalan-jalan, bertiga saja sama Sya kan lebih baik," ujar Ibu seenaknya, sementara Mbak Sonia senyum-senyum bahagia, tidak jelas entah apa yang dipikirkannya.
Dadaku seketika terasa sesak atas ucapan Ibu, yang menyuruh Mas Elang jalan-jalan bertiga dengan Sya dan Mbak Sonia. Sampai beliau tidak memikirkan perasaanku sebagi istri Mas Elang. Ibu nampak cuek, dia malah merasa senang melihat aku
"Kompensasi apaan sih Ma, kalau Sonia mau jalan-jalan, jalan-jalan saja sama Mama. Ajak saja Sonia berlibur bersama Mama," ucap Mas Elang membuat aku sedikit senang. Mbak Sonia seketika nampak muram dan binar di wajahnya hilang.
"Aku bukan ingin diajak jalan-jalan sama Mas Elang tante, tapi aku rasa lebih baik aku nginap saja di sini untuk waktu yang lama, seminggu misalnya. Aku kan sudah lama tidak pernah lagi nginap disini," ucapnya merengek. Mendengar penawaran seperti itu, hatiku malah tambah ketar-ketir. Seandainya Mbak Sonia nginap disini sampai satu minggu lamanya, bukan tidak mungkin hal lain yang menakutkan akan terjadi. Namun aku langsung menepis bayangan buruk itu.
Mas Elang tidak menolak atau mengiyakan, hanya Ibulah yang seakan memberi ruang dan memberi ijin seakan Ibu pribuminya.
Tiba-tiba saat kami sedang asyik bercengkrama, ada seseorang yang mengucap salam yang suaranya sudah sangat aku kenal.
"Assalamu'alaikum....!" semua sontak melihat ke arah depan. Terutama Mbak Sonia, dia nampak ingin menyembunyikan wajahnya dari orang yang baru datang itu.
__ADS_1
Siapakah orang yang baru datang itu, dan mengundang Sonia ingin menyembunyikan wajahnya? Tunggu kisah selanjutnya...