
Malam tiba, aku merasakan badanku sudah lebih baik, dan sakit kepala yang tadi sempat dirasakan mulai hilang. Aku melihat keseluruh ruangan tapi tidak menemukan Mas Elang. "Syukurlah....!" gumanku. Aku perlahan bangkit untuk membersihkan diri dan melaksanakan kewajibanku.
Tidak berapa lama aku berada di kamar mandi, lalu membuka pintu kamar mandi perlahan. Saat ku buka sudah ku dapati Mas Elang di sofa dengan pakaian kokonya. Dia duduk dan sengaja menatap ke arahku. Aku menunduk, dengan segera ku raih mukena yang berada di dalam lemari.
"Ayo....!" ucapnya seraya memberi isyarat sholat bareng, tanpa kata aku mengikutinya. Aku menjadi bingung dengan sikap lelaki di depanku ini, tadi siang dingin dan sangat menakutkan namun dengan seketika bisa berubah menjadi baik walaupun memang masih datar. Sholatku jadi tidak khusu, pikiranku melayang-layang entah kemana.
Selesai sholat, Mas Elang membalikkan tubuhnya lalu menyodorkan tangannya. Aku perlahan meraihnya dan menciumnya seperti biasa. Ada rasa damai yang tiba-tiba menjalar dalam sekujur tubuhku. Mas Elang mampu menghadirkan rasa damai dalam waktu singkat, padahal tadi siang dia sedang marah.
"Maafkan Mas ya, tadi siang Mas khilaf. Tidak seharusnya Mas kasar sama kamu!" ujarnya seraya meraih tubuhku dan mencium keningku. Aku sedikit terbawa suasana, tanpa bisa aku bendung air mata disudut mataku sudah turun. Mas Elang membawaku berdiri lalu berusaha menghentikan air mataku. "Sekali lagi aku minta maaf, sekarang bukalah mukenanya," titahnya.
Setelah aku merapikan mukena, aku segera melangkahkan kaki menuju pintu penghubung kamar Sya, sementara Mas Elang sudah berkutat dengan laptopnya di sofa. Aku sempat melihatnya dengan ujung mata, alangkah tampannya Mas Elang, wajahnya teduh tanpa rona kemarahan. Degup jantungku tiba-tiba kencang hanya dengan menatap Mas Elang dengan ujung mata. Lelaki itu benar-benar punya daya pesona yang luar biasa. Sehingga membuat hatiku selalu ada rasa tidak rela untuk meninggalkannya. Ya... cinta dan sayang telah tertanam dalam hatiku begitu kuat pada Mas Elang, imamku. Sehingga aku tidak mudah melepaskannya.
Tiba di kamar Sya, namun anak yang menggemaskan itu tidak ada. Aku mencoba mencarinya ke bawah. Suaranya terdengar dari arah dapur. Rupanya Sya sedang makan dengan Bi Narti. Lalu ku intip sejenak untuk memperhatikan tingkahnya. Lucu, patuh, dan tidak rewel, selalu patuh apa yang dibilang Bi Narti. Sungguh menggemaskan. Itu artinya jika suatu saat aku terpaksa harus pergi meninggalkannya, Sya tidak akan sampai lama dibujuknya. Aku percaya Sya sangat penurut dan baik. Namun seketika dada ini langsung terasa sesak, jika mengingat perpisahan. Padahal dalam lubuk hatiku, sama sekali tidak ingin mengalami perpisahan baik dengan Sya ataupun Mas Elang.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, aku melihat Sya berlari kecil menuju tangga, entah disuruh apa oleh Bi Narti. Yang jelas Sya dengan penuh senyum begitu semangat berlari. Sebelum menuju tangga aku berhasil mencegatnya.
"Anak ganteng mau kemana?" cegatku menghalangi jalan Sya. "Eh, Bunda... Sya mau panggil Bunda sama Papa untuk makan malam, ayo Bun kita makan malam. Bi Narti sudah menyiapkannya. Sya panggil Papa dulu ya!" ujarnya sangat pintar, menggemaskan. "Ok... hati-hati naik tangganya ya, jangan lari!" peringatku sambil mengusap kepalanya. Kupandangi Sya sampai naik tangga.
Tidak berapa lama, Sya dan Mas Elang susul menyusul turun dari tangga dan menuju ke meja makan. Lalu duduk di kursinya masing-masing. Aku dengan sigap menyiapkan piring dan nasi untuk Mas Elang dan Sya, lauknya biasanya mereka yang tentukan sendiri. Kami makan dalam diam, namun yang selalu berceloteh hanya Sya mencairkan kebekuan antara aku dan Mas Elang. Walaupun tadi Mas Elang sudah meminta maaf, namun kecanggungan masih terasa diantara kami.
Makan malam selesai, aku membantu sejenak Bi Narti membawa piring kotor bekas kami ke wastafel. Bi Narti melarangku, namun aku tetap melakukannya, toh hanya memindahkan piring kotor ke wastafel. Setelah itu terdengar Mas Elang berkata pada Sya. "Sya segera tidur ya, jangan lupa gosok gigi dulu!" peringatnya seraya mencium puncak kepala Sya. "Ayo Bunda... kelonin Sya!" ajaknya seraya menarik tanganku. Aku berjalan beriringan menuju tangga. Sementara Mas Elang berpindah ke ruang tengah, bersamaan dengan bunyinya suara telpon dari seseorang.
Di dalam kamar Sya, aku menyuruh Sya menggosok gigi terlebih dahulu sebelum tidur dan Sya segera mematuhinya. "Bunda, Sya belum ngantuk tapi Sya mau Bunda bercerita dulu tentang pangeran yang berhasil mengalahkan Harimau yang akan menerkam seorang putri!" ujarnya memohon. Aku mengangguk lalu mencari buku cerita yang dimaksud.
"Akhirnya..., sang putri berhasil diselamatkan sang pangeran....!" ujarku mengakhiri cerita tentang "Pangeran Pemburu Hebat". Lamat-lamat aku melihat Sya sudah mulai menutup mata, sehingga cerita yang aku perdengarkan tidak lagi diresponnya. " Alhamdulillah....!" bisikku seraya menutup seluruh tubuh Sya dari kaki sampai dada dengan selimut.
Aneh sekali aku belum merasakan kantuk, padahal biasanya jika sedang memperdengarkan cerita pada Sya, aku akan ikut mengantuk dan tidur di samping Sya. Tapi kali ini tidak. Lantas aku turun dari ranjang menuju balkon kamar Sya. Menghirup udara malam dari kamar Sya. Sejenak mungkin bisa membunuh rasa bosan sampai kantuk datang.
__ADS_1
Aku berdiri sambil melihat ke langit sana, nampak bintang-bintang bersinar dan seolah berkedip ke arahku. Tiba-tiba aku terbayang kedipan Mas Elang dulu saat dia berhasil mengajak aku menikah dan aku menyetujuinya. Berapa bahagia Mas Elang saat itu, sehingga aku dipeluknya sangat erat.
Sudah setengah jam aku berada di balkon, dan waktu menunjukkan jam 9 malam. Namun aku belum merasakan kantuk. Aku masih ingin melihat bintang dan menikmati angin malam yang kini terasa makin menusuk. Aku mencoba menghilangkan rasa dinginku dengan memeluk tanganku satu sama lain.
Beberapa detik kemudian, aku malah mendengar suara pintu penghubung kamar kami dan Sya terbuka pelan. Jantungku seketika berdebar, pasti itu Mas Elang. Aku kesal kenapa rasa kantukku belum muncul-muncul sampai Mas Elang mencariku. Aku menjadi salah tingkah, mau melangkah meninggalkan balkon dan berpura-pura sudah ngantuk lalu tidur itu tidak mungkin, sebab Mas Elang sudah terlanjur melihatku.
Mas Elang nampak menghampiri Sya dan menciumnya lama. Lalu membenarkan selimut yang tadi sedikit tersingkap. Aku berharap Mas Elang tidak menyusulku ke sini dan tertidur saja di sisi Sya. Namun harapan itu sirna, perlahan Mas Elang turun dari ranjang dan tubuhnya menuju pintu keluar balkon.
Perlahan pintu terbuka, dan Mas Elang kini sudah berada di balkon, aku melihat sejenak ke arahnya namun kembali tatapanku ke depan. Suasana terasa canggung, dan belum ada yang berbicara diantara kami.
Perlahan aku mengurai kedua tanganku, lalu berubah posisi memegang pagar balkon. Sementara rasa dingin itu makin menusuk.
__ADS_1
"Kamu masih disini? Angin malam tidak baik untuk kesehatan, apakah kamu tidak merasa dingin?" Mas Elang tiba-tiba memulai pembicaraan. Aku sedikit memutar tubuhku dan menatap Mas Elang. "Belum, Nada belum ngantuk," ucapku pelan lalu kembali tatapanku dialihkan ke depan. Tanpa ku sadari tiba-tiba Mas Elang mendekat dan memelukku dari belakang. Sementara jantungku seketika berdegup sangat kencang.