
"Sayang... lagi apa nih... kok seperti uring-uringan begitu?" Mas Elang menghampiri seraya berbaring di belakang tubuhku dan membelitkan tangannya ke pinggangku manja.
"Nggak ada... Nada cuma takut Mas."
"Takut kenapa sih....?" Mas Elang nampak heran.
"Nada sudah dua hari telat datang bulan, Nada takut di dalamnya sudah ada janin."
"Kenapa harus takut... kamu tidak mau punya anak dari aku, kok takut?" Mas Elang mengerutkan keningnya heran.
"Bukan takut karena hamil, Mas. Nada hanya takut kehamilan Nada tidak diketahui lagi seperti kemarin. Kemarin karena Nada tidak tahu akhirnya janin Nada tidak terselamatkan. Padahal tante Mirna saat di Jogja selalu mengingatkan Nada untuk periksa.
"Lantas apa yang kamu takutkan?"
"Nada butuh tespek deh Mas, tapi siapa yang akan belikan ke apotek?"
"Ohhh... Mas pikir kamu takut hamil lagi. Nanti Mas suruh Usep beli tespek ke apotek."
"Iya Mas, makasih....!"
"Ya sudah, kalau begitu mungpung keadaan lagi strategis nih, dan Sya sedang di rumah Marisa, kita bikin anak saja supaya nanti jadinya dobel!" ajak Mas Elang mesum. Aku terbelalak mendengar ajakan Mas Elang yang kata-katanya begitu formal, kesannya seakan mau meninjau sebuah tanah yang mau dijual yang letaknya strategis.
"Ini masih siang lho Mas, Nada takut tiba-tiba ada tamu yang datang," protesku was-was.
"Tidak... biar saja tamu datang, kan ada Bi Narti," ucapnya seraya mulai memainkan tangannya.
"Tapi... masa di sofa ini?"
"Tidak apa-apa, di sofa sensasinya lain sayang....!" rayunya memelas.
Akhirnya dengan cekatan dan sudah lihai Mas Elang beraksi penuh gairah di sofa kamar ini. Aku pasrah dan mengikuti saja permainan Mas Elang yang semakin liar dan bikin melayang-layang.
"Sayang... kalau Mas boleh meminta, inginnya anak kita ini perempuan. Biar kita lengkap dan tambah warna," celetuk Mas Elang seraya masih belum mau melepas cengkraman tangannya yang masih membelit di pinggangku. Aku hanya bisa tersenyum menahan beliau.
"Terus kalau misalnya anaknya nanti laki-laki, Mas Elang mau gimana? Apakah tidak mau menyayanginya?"
__ADS_1
"Ya nggak dong, Mas tetap sayang... dan kalau anaknya masih cowok, Mas mau buat lagi setiap tahun sampai Mas dapatkan anak cewek," pungkasnya seraya bergelayut manja. Aku cuma bisa mengelus dada, Mas Elang pikir hamil itu enak dan tidak ada dukanya. Segampang itu berkata.
Malam mulai menjelang, Syapun sudah pulang. Dalam pangkuan Bi Ijah Sya tertidur pulas. Bi Ijah langsung membawa Sya ke kamarnya.
"Makasih ya Bi!" ucapku.
"Sama-sama Non. Saya permisi dulu." Bi Ijah pamit dan keluar kamar Sya.
"Sayang... bagaimana, Sya sudah tidur?" Mas Elang menghampiri dan meraih pinggangku lalu manariknya ke ranjang.
"Sudah, Mas," ujarku seraya menepis tangannya yang mulai nakal.
Ayo ah... mungpung di luar hujan," ajak Mas Elang.
"Ayo kemana Mas?" ucapku pura-pura heran, padahal sudah bisa ditebak ke arah mana Mas Elang berbicara. Aku berjingkat menghindari Mas Elang lalu memasuki kamar mandi.
"Nadaaaa... ayo sayang....!" teriaknya sembari mengetuk pintu kamar mandi.
"Nada pipis dulu Mas, kebelet," alasanku. Padahal tadi siang sudah, sekarang masih mau lagi, Mas Elang memang tidak ada lelahnya.
Percuma berlama-lama di kamar mandi, toh Mas Elang masih menunggu dan menginginkan yang tadi siang dilakukan di sofa. Aku keluar kamar mandi dengan jantung deg-degan, entah kenapa setelah keguguran kemarin. Setiap habis melakukan hubungan suami istri aku selalu merasa sedih setelahnya. Perasaan yang seakan-akan benci dan kesal selalu muncul.
"Ayolah sayang, kenapa sih lama amat?" protesnya seraya menepuk ranjang sebelahnya. Aku berbaring di samping Mas Elang. Lalu tubuh aku dipeluknya dengan senyaman mungkin dan aku merasakan benar-benar nyaman.
"Mas hari ini kecewa, karena laporan Polisi Mas terhadap Mayang ditolak," ujarnya penuh rasa putus asa.
"Kok bisa Mas?" tanggapku.
"Kata pihak kepolisian bukti yang Mas sodorkan tidak lengkap dan tidak cukup kuat untuk menyeret Mayang ke penjara, terlebih Mayang memang sudah mendapat jaminan dari suaminya." Mas Elang menarik nafasnya dalam.
"Nada ikut prihatin ya Mas, tapi... ada baiknya memang Mbak Mayang tidak di penjarakan Mas, sebab yang Nada takutkan akan berimbas pada mental Sya suatu saat. Nada tidak ingin Sya menjadi bahan bulyyan di sekolah karena melihat Mamanya diseret ke dalam penjara," tukasku seraya menenggelamkan kepalaku di dada Mas Elang.
__ADS_1
"Tapi... Mas sangat gemas banget dan rasanya ingin memberikan pelajaran pada Mayang. Tapi ternyata Mayang punya beking yang kuat di belakangnya.
" Sudahlah Mas, sekarang jangan memikirkan ingin memenjarakan Mbak Mayang. Toh Sya sudah sehat dan selamat," ujarku menghiburnya.
"Baiklah, Mas tidak akan memikirkan lagi Mayang atau tentang orang lain malam ini. Malam ini Mas hanya ingin berbulan madu kembali bersamamu," ucapnya dengan seringai yang sudah pasti siap menerkam. Dan... keinginan Mas Elang malam ini tercapai kembali. Dia selalu tersenyum puas dan mencium kening seraya berkata, "jangan pernah tinggalkan Mas sampai kapanpun." Setelah itu kami tenggelam dalam buaian mimpi malam yang indah.
Subuh menjelang, namun Mas Elang sudah tidak ada di sampingku. Aku mencari Mas Elang dan rupanya Mas Elang berada di ruang sebelah yaitu gudang penyimpanan sepatu yang disulap menjadi ruangan kerja. Aku intip sejenak, karena pintunya yang kebetulan tidak tertutup rapat. Wajah Mas Elang nampak serius dan fokus. Tanpa ingin membuat fokusnya terganggu, aku kembali ke kamar dan segera ke kamar mandi.
Di kamar mandi, aku menemukan sebuah notice bertuliskan "Sayang di sini tespeknya, bangun tidur langsung pakai ya! Semoga pergulagatan kita semalam langsung membuahkan hasil, syukur-syukur langsung dua!" tulisnya penuh harapan.
Aku keluar kamar mandi dengan wajah tidak bersemangat, bagaimana tidak? Hasil tespek tadi rupanya hanya muncul garis merah satu, yang artinya aku masih belum hamil. Ada rasa sedih dan kecewa, terlebih jika Mas Elang nanti tahu. Aku merasa takut jika Mas Elang kecewa juga.
"Mana hasil tespeknya?" Mas Elang tiba-tiba sudah berada di belakangku seraya merengkuh pinggangku dan mencium pipiku lembut.
"Mas... tapi... kayaknya Nada belum dikasih kepercayaan, sebab hasilnya masih negatif," ujarku lesu.
"Negatif...? Kemarin bilangnya telat datang bulan, tapi sekarang malah negatif. Gimana sih yang benar?"
"Bisa jadi Mas, Nada telat datang bulan bukan karena hamil. Tapi... memang telat saja bulannya datang." Aku memberi alasan.
"Berarti usaha kita yang belum maksimal. Gimana kalau kita maksimalkan dengan merencanakan bulan madu?"
"Bulan madu?"
"Iya, bulan madu."
"Tidak Mas. Kalau kita bulan madu, lantas dengan siapa Sya?"
"Kan ada Bi Ijah."
"Nggak ah, Nada tidak mau bulan madu. Di rumah saja sudah cukup," tolakku halus.
__ADS_1
"Ya sudahlah terserah kamu, sayang. Lagipula benar juga, jika kita bulan madu Sya kasihan juga ya." Akhirnya Mas Elang menyadari dan tidak akan merencanakan bulan madu.