
"Mas, Nada mau ajak Sya ke rumah bapak, boleh? Nada kangen Mas sudah berbulan-bulan sejak menikah Nada belum pernah jenguk bapak. Kamu ijinkan ya Mas!" rengekku meminta ijin saat aku ditelpon Mas Elang.
"Tidak, aku tidak ijinkan. Nanti saja saat aku pulang, kita bertiga saja pergi ke rumah bapak. Gimana, kamu setuju, tidak?"
Aku terdiam sejenak sebelum memberikan jawaban sama Mas Elang.
"Baiklah Mas. Aku tunggu." Ku akhiri telpon itu dengan wajah yang lemas.
...----------------...
"Nada... aku minta tolong, sore nanti aku akan kedatangan tamu sekitar habis Asar. Kamu bikin Batagor seperti yang pernah kamu bikin waktu itu. Bahan-bahannya sudah siap, kamu tinggal eksekusi saja ya," perintah Ibu lalu berjingkat. Aku bengong tidak percaya. Baru beberapa waktu yang lalu memaki-maki dan menghina aku di depan Mbak Sonia, tapi masih butuh tenagaku. Lagipula aku tidak bisa memenuhi perintahnya. Aku sudah ada janji sama Mbak Marisa.
"Maaf Bu, tapi Nada tidak bisa bantu Ibu kali ini. Nada sudah ada janji sama orang lain," tolakku. Ibu tiba-tiba memutar tubuhnya dan terbelalak.
"Apa kamu bilang, sudah ada janji. Janji sama siapa, sama lelaki lain? Pandai ya, suami tidak ada kamu keluyuran dan buat janji sama lelaki lain."
"Cukup Bu, jaga omongan Ibu yang tidak benar itu," lawanku tidak senang.
"Lantas kamu itu mau kemana lagi kalau bukan keluyuran sama lelaki lain, kamu pasti kesepian kan saat Elang tidak ada?" tudingnya lagi.
Aku sudah sangat jengah dengan ocehan Ibu yang mengada-ngada itu, dan malas membalas atau komen. Lantas aku berjingkat meninggalkan Ibu. Ibu melongo melihat aku pergi.
Jam dua siang aku bersama Sya bersiap pergi. Tentunya aku sudah meminta ijin pada Mas Elang terlebih dahulu, setelah kemarin tidak diijinkan pergi ke rumah bapak.
"Ayo Sya...." ajakku pada Sya yang sudah tampan dan menggemaskan.
"Come on Bunda...." Sya menyambut jemariku, lalu mengikuti langkahku. Tidak lupa aku pamit sama Ibu dan Bi Narti.
"Bu, Nada pamit ya. Bi Narti, saya pamit dulu. Baik-baik di rumah ya!" Aku berlalu setelah pamit dan berpesan pada Bi Narti. Ibu mendilak tidak suka, sementara Bi Narti mengangguk patuh.
Setibanya di rumah Mbak Marisa, seorang ART menyambut dan mempersilahkan masuk aku dan Sya dengan ramah.
"Assalamu'alaikum! Mbak Marisa....!"
"Eh... Nada... kalian sudah datang. Ayo langsung ke meja makan saja. Aku sudah siapkan hidangan yang banyak lho buat kamu dan ponakan gantengku." Mbak Marisa langsung menyambut aku dan Sya ke meja makan dan menjamu kami dengan makanan yang mewah dan lezat-lezat. Kami makan dalam suasana yang gembira, Sya juga senang terlebih dia memang selalu dimanjakan oleh Mbak Marisa.
__ADS_1
"Mbak, makanan sebanyak ini siapa yang akan habiskan? Suami Mbak kan keluar kota?" ucapku heran.
"Aku dan semua pegawaiku yang akan habiskan. Kamu ini, aneh ya?"
"Tidak, maksud Nada apakah Mbak Marisa saat hamil begini memang makannya banyak?" heranku.
"Ya ampun Nada, kamu tidak tahu kalau aku sebelum nikah saja makannya banyak tapi tubuhku tetap ideal seperti ini. Sudahlah kamu tidak perlu khawatir tentang badanku yang akan melar." Mbak Marisa sepertinya salah pengertian.
"Maksud Nada, dalam keadaan hamil Mbak Marisa tidak mengalami mual dan alergi makanan gitu?" Mbak Marisa tertawa geli melihatku yang keheranan.
"Tidaklah. Lagipula ini kehamilan yang baru beberapa minggu. Keluhan yang aku rasakan cuma lemes, dan biasanya itu harus dimasuki makanan atau cemilan. Aku tidak mau mual dan alergi makanan Nad, biarlah trimester pertama maupun kedua aku lancar tanpa mengalami mual dan muntah," harapnya.
"Aamiin... semoga kehamilan Mbak Marisa lancar dan tidak mengalami mual muntah," harapku juga.
"Nad... kalau Sya makannya sudah selesai ajak dia main di ruang sebelah. Disana banyak mainan. Biar Bi Niar awasin Sya. Kita di ruang tamu, aku ada sesuatu yang ingin disampaikan." Mbak Marisa bicara kepadaku seakan ada suatu hal penting yang ingin disampaikannya. Aku setuju dan mengangguk.
"Aku ada kabar mengejutkan buat kamu." Mabakr Marisa sedikit merendahkan volume suaranya saat kami sudah balas berada di ruang tamu. Aku mengerutkan keningku heran.
"Kayaknya ada sesuatu antara Sonia dan mantan istrinya Kak Elang, si Mayang. Aku sudah curiga sejak aku menemukan dia bersama Mayang, akrab banget di Kafe Venus. Padahal sebelumnya mereka tidak saling kenal," tutur Mbak Sonia.
"Terus hubungannya apa sama kecurigaan Mbak terhadap Mbak Sonia?"
"Aku curiga, mereka bersekongkol untuk menghancurkan Kak Elang, atau bisa jadi bersekongkol menghancurkan hubungan rumah tangga kalian," duga Mbak Marisa.
"Masa sih Mbak?" heranku masih belum percaya.
"Aku yakin, firasat aku mengatakan begitu. Sonia justru yang bohong. Dia bilang tidak kenal Mayang padahal mata dan kepalaku melihatnya dengan jelas," yakin Mbak Marisa.
__ADS_1
"Menurut Mbak Marisa apa yang direncanain mereka, jika benar mereka berdua bersekongkol?"
"Aku belum tahu Nad, tapi aku yakin mereka merencanakan sesuatu. Kamu harus hati-hati jika Sonia datang atau nginap di rumahmu," ujar Mbak Sonia mewanti-wangi.
"Kamu cepat hamil deh Nad. Biar Kak Elang ada pengikat yang lebih kuat diantara kalian."
"Nada sudah tidak minum pil KB kok sejak dua minggu yang lalu. Mas Elang memintanya untuk membuktikan bahwa dia menikahi Nada bukan karena menganggap Nada pemuas ranjangnya saja." Ucapku.
"Bagus itu. Cepatlah hamil biar kita sama-sama bisa ke dokter anak, menimbang berat badan anak dan lain-lain," timpal Mbak Marisa seraya tersenyum.
"Iya Mbak, Nada juga pengen hamil, biar Sya ada yang nemenin."
"Ok deh Mbak, ini sudah mau Maghrib, Nada takut kemalaman. Lagipula ibu pasti marah, sebab tadi perintahnya tidak aku turuti."
"Memangnya Uwa Sri nyuruh kamu apa?"
"Nada... tadi disuruh bikin Batagor. Tapi Nada tolak, sebab Nada keburu ada janji sama Mbak Marisa."
"Ya sudah deh, kamu balik. Aku takut juga kalian kemalaman. Ngomong-ngomong Kak Elang pulang kapan?"
"Besok katanya, Mbak. Ya sudah, kami pulang ya!" pamitku seraya mengajak Sya pulang.
Akupun pamit sama Mbak Marisa, dijemput oleh Pak Udin Supir yang sengaja diperuntukkan buat kami.
Sesampainya di rumah, suasana rumah masih ramai dengan suara orang-orang bersenda gurau dan ngobrol. Rupanya teman-teman Ibu masih ada. Padahal ini hampir Maghrib, mereka belum pulang juga.
"Tuh... hebat menantu saya. Suaminya keluar kota, dia malah keluyuran tidak jelas. Giliran disuruh bantuin bikin Batagor sama mertua, dia menolak mentah-mentah alasannya mau ketemu seseorang. Pasti dia bertemu laki-laki," sindir Ibu ditujukan padaku.
"Nada bukan ketemu lelaki lain, Bu. Tapi Nada habis ketemu Mbak Marisa. Kalau Ibu tidak percaya, lihat saja status WA Mbak Marisa," sanggahku kesal.
__ADS_1
"Ohhh... pantesan, Batagor tadi rasanya kurang enak. Jadi ini bukan buatan menantu Jeng Sri. Beda dengan yang saat arisan kemarin itu. Rasanya enak dan adonannya lembut. Menantu Jeng Sri memang pintar mengolah Batagor ya," celetuk seorang ibu-ibu memujiku. Ibu mendilak melihatku, tidak suka mendengar aku dipuji temannya.