
"Kenapa, Sayang. Ada apa dengan Marisa?" Elang keluar dari kamar mandi dan bertanya tentang Marisa. Kayaknya dia sejak masuk ke kamar mandi menguping pembicaraan Nada.
"Mbak Marisa memberi kabar akan melahirkan. Dan sekarang sedang dibawa ke RS," ucap Nada.
"Oh ya! Wah ... Marisa pasti hari ini sangat tegang," ujar Elang seraya merangkul manja bahu Nada.
"Mas, kalau nanti Nada melahirkan, Mas Elang akan tegang juga tidak, sih?"
"Pertanyaan bodoh apa ini, Sayang. Jelaslah Mas tegang."
"Kenapa Mas Elang bisa tegang?" Nada memberi pertanyaan yang membuat Elang mengerutkan keningnya lagi.
"Ya ampun, Sayang, pertanyaan aneh apalagi ini? Ya jelas tegang, karena aku sedang menantikan kelahiran anakku." Jawaban Elang membuat Nada puas. Nada tersenyum dan bahagia.
"Terus, kalau anak kita laki-laki, Mas Elang akan menyambutnya dengan bahagia juga, kan?"
"Jelas dong. Tapi, kalau bisa anak pertama yang kamu lahirkan adalah perempuan," jawab Elang membuat Nada sedikit termenung.
"Sudah dong, jangan ngarep-ngarep dulu bayi kita yang masih beberapa bulan lagi nongol ke dunia, yang penting kamu sehat dan menjaga kandungan kamu."
"Nanti siang kita ke RS menjenguk Marisa," putus Elang seraya berubah manja ke arah Nada lalu mencium pipinya. Nada menjadi sangat takut dengan gelagat Elang yang demikian, sebab ujung-ujungnya selalu berakhir di ranjang.
Tidak bisa dihindari lagi, saat tatapan Elang menuju lingeri yang sudah terkapar di atas ranjang sejak semalam. Elang meraihnya.
"Lingeri ini, apakah kamu suka? Warna atau bentuknya apakah kamu menyukainya?" tanya Elang sambil membeberkan lingeri itu.
Nada bingung mau menjawab apa, sebab dia sesungguhnya tidak menyukai lingeri itu, dari bentuk atau warna sama sekali tidak Nada suka. Untuk melakukan itu, sebetulnya bagi Nada tidak perlu memakai lingeri. Pakai pakaian apa saja toh, ujung-ujungnya berhubungan.
"Apakah kamu menyukainya, sayang?" Ulang Elang memberi pertanyaan lagi.
"Suka, tapi .... " jawaban Nada hanya menggantung.
"Tapi apa?"
"Emmm, bentuknya terlalu vulgar dan tipis, Nada tidak menyukainya." Akhirnya jawaban jujur itu keluar dari mulut Nada.
Elang menatap aneh ke arah Nada lalu berkata, "kamu ini aneh dehh, Sayang. Pakaian dinas istri ya begitu itu, tipis dan menerawang. Masa iya pakaian dinas tebal dan tertutup. Kalau yang tertutup itu hanyalah pakaian dinas Guru dan pegawai pemerintahan lainnya," ujarnya serius. Nada hanya menunduk malu dibuatnya.
Elang masih membeberkan lingeri itu di hadapan Nada.
"Emm, tapi Mas dari balik lingeri itu ada benda yang terjatuh seperti kartu ATM. Apakah Mas Emang memasukkan juga benda itu. Dan kalau iya, itu kartu apa Mas?" tanya Nada heran yang tidak langsung dijawab Elang.
"Kartu itu simpanlah dulu. Jangan sampai hilang!" tegas Elang seraya menyeruput kopi buatan Nada. Nada masih belum menemukan jawabab pasti dari Elang mengenai kartu mirip ATM yang menyelip diantara lingeri itu. Masih misteri.
*
*
Siangnya seperti yang dijanjikan Elang, mereka bertiga bersiap akan ke RS menjenguk Marisa. Mobil Pajira yang dikemudikan Elang melaju dan membelah jalanan Ibu Kota menuju RS Harapan Kita Bersama.
__ADS_1
"Kalau Tante Marisa melahirkan, Sya akan ada temannya. Asikkkk!" sorak Sya senang.
"Kalau Sya punya adik, Sya maunya adik laki-laki atau perempuan?" tanya Elang sembari fokus ke arah jalanan.
"Sya ingin adik perempuan, biar besar nanti Sya yang jagain adik," celotehnya membuat suasana menjadi ramai.
"Tapi, kalau adiknya laki-laki Sya masih mau jagain adik, tidak?" tanya Nada ingin tahu.
"Jagain dong, kan sama-sama adik," jawabnya membuat Nada lega. Memang Sya benar-benar tidak salah didik, sebesar itu saja pikirannya sangat cerdas dan sudah memiliki rasa kasih sayang yang tinggi.
Tiga puluh menit kemudian, mobil yang dikemudikan Elang, tiba di RS, Elang menuju ruangan bersalin tempat Marisa dirawat. Saat tiba di pintu ruangan, ternyata di dalam sudah ramai orang. Keluarga Marisa maupun keluarga dari pihak suaminya ada di dalam . Elang masuk diikuti Nada dan Sya di belakangnya.
"Assalamu'alaikum!" Elang mengucapkan salam, sontak yang berada di sana mengalihkan fokus ke arah suara Elang.
"Wa'alaikumussalam," jawab semua.
"Elang, rupanya kamu, Nak," sambut seorang wanita paruh baya yang usianya diperkirakan tidak jauh dari Bu Sri. Wanita itu menghampiri Elang dan menerima uluran tangan Elang. Juga menyalami Sya yang dengan pandainya menjulurkan tangan pada Ibunya Marisa.
"Sya, makin tampan saja cucu Nene. Nada, apakabar juga sayang, kata Marisa kamu juga sedang hamil muda, ya?" sambut Bu Martini ramah dan begitu baik memperlakukan Nada.
"Betul, Tante. Sekarang mau jalan tiga bulan."
"Selamat ya, Sayang. Akan nambah lagi deh cucuku ini dari perut kamu." Nada tersenyum mendengar ucapan Bu Martini.
"Bagaimana kabarnya, Tante?"
"Alhamdulillah, El. Bagaimana kabar Mama Sri sudah ada perkembangan yang baik?" tanya balik wanita paruh baya itu yang rupanya Ibunya Marisa. Sementara Nada dan Sya setelah bertegur sapa dengan Bu Martini, menghampiri Marisa yang masih dikerubungi oleh keluarganya.
"Bagus itu El, lanjutkan terapinya. Proses terapi akan membantu Mama Sri segera sembuh. Insya Insya Allah setelah kepulangan bayinya Marisa, Tante menjenguk Mama Sri ke rumah."
"Terimakasih, Tante. Oh ya, El, lihat Marisa dulu ya."
"Oh iya El, ayo." Elang menghampiri Marisa setelah berbincang dengan Tantenya.
Setelah kedatangan Elang, Nada, dan Sya, sebagian anggota keluarga dari Marisa dan Ilham, suaminya, keluar dari ruangan VIP itu, untuk memberi ruang untuk keluarga kecil Elang. Tinggallah Marisa, suaminya dan dede bayi yang diletak di boks bayi di sebelah Marisa.
"Nada, Kak Elang, akhirnya kalian datang. Sya, sini salam tante, tante kangen Sya." Marisa menyambut kedatangan keluarga sepupunya dengan senang.
Sementara Elang berbincang-bincang dengan Ilham suaminya Marisa di sofa ruangan itu.
"Wahhh bayinya lucu banget, laki-laki atau perempuan, Mbak?"
"Alhamdulillah laki-laki Nad, sesuai keinginan Mas Ilham."
"Ihhhh lucunya ... prosesnya normal?"
"Alhamdulillah, normal. Sya, ayo lihat dede bayinya. Nanti kalau sudah besar, Sya ajarin main bola ya."
"Asikkk, Sya ada teman main bola dong Tante."
__ADS_1
"Iya, dong, Sya. Adiknya kan laki-laki, tampan seperti Kakak Sya," puji Marisa gemas melihat Sya yang semakin menggemaskan dan tampan.
"Lihatlah, Sya, dede bayinya di boks. Dia tampan. Nanti bakal saingan dengan Sya," celoteh Marisa menggoda Sya. Sya yang digoda tidak merasa terganggu, Sya menghambat boks bayi dan melihat dengan menjinjitkan kakinya.
"Sini Sya, Bunda bantu." Nada meletakkan satu kursi untuk dinaiki Sya, supaya Sya bisa berdiri dan melihat dede bayi. Sya tersenyum dan senang saat melihat dede bayinya. Kadang Sya tersenyum dan mengajaknya bicara walaupun bayinya belum bisa bicara.
"Nad, kandungan kamu bagaimana?"
"Alhamdulillah, sehat Mbak. Dan sekarang mual muntahnya sedikit berkurang."
"Syukurlah, Nad. Lalu, keadaan Wa Sri sekarang bagaimana? Maksud aku, sikapnya ke kamu?" tanya Marisa ingin tahu.
"Ada perubahan baik Mbak," singkat Nada.
"Benarkah, seperti apa itu, Nad?"
"Ibu, tiba-tiba minta maaf setelah siangnya kita habis dari taman kota." Nada mengawali ceritanya.
"Kok bisa, Nad?" selidik Marisa penasaran.
"Saat di taman kota, kami tidak sengaja ketemu Sonia, dia mencak-mencak marah dan menghina Nada, Ibu juga mendapat hinaan dari Sonia,"
"Wahhhh, seru kayaknya kalau aku saat itu ada di sana, akan aku lawan dan sumpal mulut si Sonia." Marisa ikut geregetan.
"Saat pulang ke rumah, Ibu nampak sedih dan murung, mungkin omongan Sonia kepikiran. Lantas saat Nada mau beranjak dan ninggalin Ibu di kamar dengan Mbak Vera, tiba-tiba Ibu memanggil Nada, dan Ibu minta maaf sama Nada. Setelah itu Ibu tidak banyak bicara lagi."
"Ada perkembangan baik berarti, ya?"
"Benar, Mbak. Dan seperti yang disarankan Mbak Marisa sejak saat itu, Nada juga tidak mau terlalu dipikirkan omongan Ibu jika Ibu berkata yang tidak baik lagi pada Nada. Namun secara tidak disangka setelah pertemuan dengan Sonia itu, sedikit demi sedikit Ibu mau berbicara pada Nada."
"Tuh, apa aku bilang, Nad. Lama-lama Wa Sri akan berubah. Apalagi kalau kamu terus bersikap baik, maka mata pisau yang tumpul saja jika diasah terus akan tajam, benar tidak?" Nada mengangguk membenarkan omongan Mbak Marisa yang benar-benar menyejukkan hati. Tidak disangka dibalik sikap bar-bar dan ceplas-ceplosnya, tersimpan sisi baik yang bisa menenangkan orang lain. Tidak disadarinya, tiba-tiba Nada meneteskan air mata sehingga membuat Marisa kaget.
"Nad, kamu nangis. Kenapa?" Marisa mendekat dan merangkul Nada serta mengusap-usap bahu Nada.
"Nada terharu dengan kata-kata Mbak Marisa. Mbak, benar-benar membuat hati Nada tenang dan bisa berpikir jernih. Mbak Marisa juga selalu menghibur dan memberi kekuatan untuk Nada. Terimakasih ya, Mbak," ucap Nada masih terisak.
"Sudah, sudah, jangan nangis lagi. Nanti dikiranya oleh Kak Elang, aku ngejahatin kamu." Marisa melepaskan rangkulannya seraya memberikan Nada tisu.
Tidak berapa lama, Elang dan suami Marisa menghampiri. Elang melihat dulu babynya Marisa sebelum pulang.
"Mar, Kakak kirim mentahannya saja ya, Kakak bingung mau beli kado apa, dan lagi tadi dari rumah langsung ke RS tidak mampir ke toko."
"Marisa memang nunggu mentahannya dari Kak Elang. Kirim deh semua yang ada di rekening Kak Elang, biar habis sekalian, hehe," celoteh Marisa membuat suasana menjadi semakin hangat. Setelah itu Elang mengajak Nada dan Sya pulang.
"Cek M-Bankingnya ya, Mar," seru Elang sebelum keluar kamar rawat Marisa.
__ADS_1
"Ok, makasih Kak Elang, sepupuku yang baik hati," ucap Marisa gembira.