"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Rujak Cinta di Pagi Hari


__ADS_3

Pagi tiba. Untuk yang pertama kali setelah Bi Ijah dipekerjakan kembali oleh Elang, Nada seperti biasa menyiapkan kebutuhan Sya. Kali ini Bi Ijah dibolehkan untuk tidak menyiapkan apapun untuk Sya.



"Bi Ijah, biarkan hari ini saya yang mempersiapkan semua kebutuhan Sya. Bi Ijah bersantailah dulu sejenak," ujar Nada seraya sibuk mengambil baju yang akan digunakan oleh Sya nanti.


"Baik, Non," balas Bi Ijah sambil berlalu.


Melihat Sya belum bangun, Nada beranjak ke kamarnya untuk mengganti baju. Tiba di kamar, Nada dikejutkan oleh keberadaan Elang. Elang sudah sangat rapi dan tampan. Nada pikir, Elang semalam tidak pulang, jadi dia menyangka Elang tidak ada dalam kamar.



"Mas, sudah pulang?" tanya Nada sembari melangkahkan kaki ke kamar mandi. Perutnya mendadak mual dan ingin muntah. Elang yang tadi ingin meraih tangan Nada, menjadi urung dan membiarkan Nada ke kamar mandi.



Nada memuntahkan semua isi dalam perutnya yang belum diisi makanan, sehingga yang dikeluarkan hanyalah cairan kuning yang terasa pahit. Nada segera membasuh mulutnya bersih, dan kembali ke kamar yang masih ada Elang.



Sebenarnya Nada merasa malas ada Elang di kamar. Karena kejadian kemarin, saat dia terbatuk-batuk oleh asap rokok, namun Elang pergi begitu saja tanpa kabar apapun. Tidak merasa khawatir akan keadaan Nada atau bertanya. Dari situlah Nada jadi sedikit kesal sampai pagi menjelang.



"Sayang ... kenapa?" Elang bertanya sembari meraih pinggang Nada. Nada menggeleng dan kemudian mencoba melepaskan rangkulan Elang.


"Kenapa, kok, menghindar?" Elang bertanya penuh selidik.


"Tidak Mas," sahut Nada sambil ngeloyor bermaksud ke kamar Sya, namun Elang berhasil menahannya. Nada sedikit berontak, namun lagi-lagi Elang berhasil menahannya.



"Aku minta maaf atas kejadian kemarin," ucapnya seraya menatap kedua manik mata Nada yang sudah menggenang air mata. Elang menjadi khawatir dengan sikap Nada yang nampak sedih dan akan menangis. Elang sangat merasa bersalah melihat Nada seperti itu. "Ayolah, Sayang. Mas mohon maafkan lahir, Mas!"



"Kenapa Mas Elang meminta maaf pada Nada? Memangnya salah Mas Elang apa?" Nada berusaha tidak ngeh dengan situasi yang canggung ini.

__ADS_1


"Sayang ... !" ucapan Elang menggantung saat Sya datang menghampiri dan berteriak.


"Papa ... !" teriak Sya seraya mendekat dan menghambur ke dalam pelukan Elang. Elang menyambut tubuh kecil Sya dan diangkatnya ke atas.


"Papa kangen sayang.. Papa minta maaf karena semalam Papa tidak menemani Sya tidur," ujar Elang penuh sesal. Saat Elang dan Sya bercengkrama dan tidak menyadari kehadiran Nada, Nada pergi meninggalkan kamar.


Elang menyadari perubahan sikap Nada, ini tidak lepas dari sikapnya kemarin yang pergi begitu saja setelah melihat Nada terbatuk-batuk.


Di meja makan sikap Nada masih sama. Dia tidak banyak bicara dan lebih banyak diam.


Setelah sarapan yang dingin sedingin hati Nada saat itu, Elang bergegas mengantar Sya sekolah. Kali ini tidak ada tatapan mesra dari Nada di depan pintu. Mungkin dia masih merajuk dan marah.



Beberapa saat setelah mengantar Sya, Elang kembali ke rumah. Perlahan Elang memasuki kamar. Di sana Elang mendapati Nada tengah berada di balkon. Duduk menatap cerahnya langit yang tidak bisa dia gapai.


.


Nada terngiang kembali dengan pepatah Bapaknya tempo hari. Yang mengingatkannya harus terus baik jika mertuanya berkata tidak baik juga. Rasanya berat, dan kini dia seakan mengalami titik lelah. Namun, apakah hanya karena masalah kecil dirinya kembali harus pergi dari rumah. Sungguh terlalu kekanakan jika itu terjadi.



"Mas Elang!" serunya kaget sampai berdiri terlonjak. Elang menghampiri Nada dan duduk di sebelah Nada.


"Mas minta maaf untuk kejadian kemarin, Mas terlalu panik dengan keadaan Mama. Jadi Mas abai terhadap kamu. Namun percayalah, Mas selalu mencintai kamu," dengan cepat Elang merangkul tubuh Nada ke dalam Dekapannya.


Nada terhenyak, tubuhnya kini berada dalam rangkulan suaminya. Siapa yang tidak luluh dengan berjuta pesonanya. Elang mengurai pelukannya setelah melihat Nada berontak kecil.



"Aku membawa sesuatu buat kamu, kamu pasti suka," ucapnya yakin sembari memperlihatkan sebuah kantong kresek hitam ukuran kecil di hadapan Nada. Hati Nada bertanya-tanya apakah itu?


"Bukalah, ini pasti bisa membuat perasaan kesal dan marahmu sejenak hilang bahkan sirna tidak berbekas," ungkapnya puitis. Nada semakin penasaran saja. Di pagi hari begini Elang sudah merayu dengan kata-kata puitis. Nada tahu, inilah cara Elang untuk merayu dirinya.


"Ayo masuklah ... dibukanya di dalam sambil melihat TV dan bersantai." Elang membawa tubuh Nada ke dalam kamar. Nada patuh dan mengikuti ke dalam. Dalam benaknya bertanya-tanya apakah isi dalam kresek hitam itu.


__ADS_1


Perlahan Nada membuka kresek hitam itu, di dalam kresek itu terdapat dua buah *stereo foam* yang dalamnya sudah pasti makanan. Saat perlahan dibuka, isinya membuat Nada terbelalak dan senang seketika.



"Mas ... kok tahu, Nada sangat menginginkan ini. Ini sudah dari tiga hari yang lalu Nada idamkan," serunya senang. Elang yang melihat Nada bahagia dengan oleh-oleh yang dibawanya, juga ikut senang dan tersenyum bahwa Nada sudah kembali pada mode pabrik. Menjadi Nada yang hangat kembali.



Nada sudah tidak sabar ingin segera menikmati isi dari *steteofoam* itu. Tanpa menunggu lama lagi Nada menikmati dan merasai makanan dalam *stereo foam* itu. Rasanya sungguh membuat air liur yang tadi rasanya sudah ngeces, kini seakan terobati.



Satu *stereo foam* rujak buah-buahan telah Nada habiskan, tinggal satu lagi. Dengan tidak sabar, rujak dalam *stereofoam* satunya lagi dia buka dan segera dilahapnya. Nada benar-benar menyukainya.



"Bagaimana, rujaknya enak?" tanya Elang penasaran. Ia yang memperhatikan Nada makan rujak tadi seakan ikut merasakan enaknya rujak itu.



"Iya, Mas enak sekali rujaknya. Mas belinya di mana sih, kok enak banget?" Nada penasaran.


"Tadi, saat Mas pulang dari mengantar Sya, dipinggir jalan ada tukang rujak keliling yang menggunakan gerobak. Terus Mas beli deh karena ingat kamu," terang Elang menatap Nada yang masih menikmati sisa rujaknya.


Mendengar itu, Nada merasa sangat terharu. Sesuatu yang baginya kecil mampu membuat hatinya kembali baik. Moodnya membaik setelah kemarin dibiarkan Elang begitu saja.



"Mas, terimakasih banyak rujaknya, Nada suka," ucap Nada seraya memeluk Elang bahagia. Elang tidak membuang kesempatan emas ini, mungpung dia lagi ingin dan Nada moodnya lagi baik, tidak ada salahnya pagi ini dia meminta ingin menjenguk janin dalam kandungan Nada.



"Ayo sayang," ajaknya membuat Nada terbelalak. Nada tidak berani menolak. Kini hatinya sedang bahagia karena rujak pemberian Elang, maka sebagai balasannya Nada harus membuat Elang bahagia juga.



"I love You, Sayang!" ucap Elang lalu mengecup bibir manis Nada penuh perasaan. Dan pagi ini saksi keduanya benar-benar dimabuk asmara.

__ADS_1


__ADS_2