"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Mengajak Pulang


__ADS_3

Nada kembali dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah dibasuh air, lalu masuk kamar. Beberapa menit kemudian disusul Elang, setelah melihat Sya tengah anteng bersama Nadly. Di dalam kamar, Elang melihat Nada sedang membalur tubuhnya dengan minyak kayu kencana.



"Besok kita pulang ya!" seru Elang menghentikan gerakan Nada membalurkan minyak kayu kencana ke tubuhnya. Sejenak Nada menoleh ke arah Elang.


"Tidak, Nada mau di sini dulu," tolak Nada yang sontak membuat Elang sedikit mengerutkan keningnya.


"Kenapa?" Nada tidak menjawab.


"Nada belum siap."


"Karena Mama?" tanya Elang yang masih belum dijawab Nada.


Melihat reaksi Nada diam seperti itu, Elang perlahan mendekat seraya memeluk punggung Nada, betapa dia merindukan perempuan di depannya ini yang kadang menurutnya sedikit kolokan dan keras kepala. Inikah yang dinamakan jiwa muda Nada yang masih meledak-ledak, seperti yang pernah dikatakan Marisa tempo hari?


Nada bergerak seraya melepaskan pelukan tangan Elang perlahan.


"Nada belum mau pulang Mas, selama ibu masih seperti itu." Tiba-tiba Nada memberi jawaban kenapa dia belum mau pulang.


"Mas tahu, sikap Mama seperti itu dan menyakiti hatimu. Tapi apa yang lebih penting daripada mematuhi perkataan suami kamu, dibanding menjauhi rasa sakit hati karena sikap Mama?"


"Nada minta maaf, selama ibu sikapnya seperti itu, maka Nada tidak mau pulang." Mendengar jawaban Nada seperti itu, Elang memejamkan matanya dan memijit pelipisnya seakan sakit.



"Mas minta maaf, selama ini tidak bisa ngertiin kamu. Mas selalu meminta kamu untuk selalu memahami Mas. Semua itu tidak terlepas dari keterbatasan Mas sebagai seorang anak dan suami, yang masih banyak kekurangan dan belum bisa membuat kamu dan Mama bisa saling bersampingan. Jadi, untuk itu ... Mas mohon, besok kamu ikut pulang ya! Mas mau memberi pengertian Mama supaya pulang dan memulihkan kesehatannya di rumah Mama saja. Jadi ... tidak ada alasan kamu tidak mau pulang," bujuk Elang tidak menyerah.


__ADS_1


"Berikan Nada waktu beberapa hari di sini, Mas. Setidaknya untuk menenangkan diri Nada," alasan Nada lagi. Setelah panjang lebar memberi penjelasan yang tidak ditanggapi Nada, rasanya Elang sia-sia. Elang berdiri dengan prustasi, kekerasan hati Nada membuat Elang kecewa.



"Kamu masih ingin di sini karena lelaki muda tadi, sudah beberapa kali kalian aku lihat bertemu. Kalian janjian dan sengaja ada main di belakang aku?" tuding Elang sedikit emosi. Mendengar itu, Nada langsung berbalik dan segera membantah tudingan Elang.



"Tidak Mas, bukan itu! Nada belum mau pulang karena Nada benar-benar mau menenangkan diri. Lagipula selama ibu masih di rumah dengan sikap seperti itu, maka Nada belum mau kembali," putus Nada teguh.



"Kamu lagi hamil, Sayang ... jadi aku mohon, besok pulang bersama aku, kita periksakan kandungan kamu," ucap Elang setengah memohon.


"Sudah Nada katakan, Nada belum mau pulang. Nada mau di rumah bapak dulu." Jawaban Nada kali ini benar-benar membuat Elang berada di puncak emosi. Elang yang memang punya watak sedikit keras, ketika dibantah emosinya seakan-akan ingin saja meledak, namun karena menghadapi Nada yang sedang hamil, Elang mencoba menahannya.


"Baiklah, jika kamu belum mau pulang, dan alasan kamu belum mau pulang karena sikap Mama dan karena Mama masih di rumah, terserah kamu. Tapi ingat ya, jika alasan kamu belum mau pulang karena lelaki yang tadi itu, maka lihat saja apa yang akan aku lakukan! Jangan sampai kamu mengikuti jejak Mayang, maka aku tidak akan pernah memaafkan kamu," tandas Elang memberi peringatan yang sifatnya mengancam. Jantung Nada tiba-tiba berdebar kencang saat mendengar peringatan Elang barusan.




Elang keluar dengan mengusap rambutnya kasar. Dia berniat mencari Sya dan akan mengajaknya pulang. Namun Elang terkejut saat mendapati Bapak mertuanya tengah duduk di ruang tengah. Elang khawatir ucapannya tadi di dalam kamar di dengar Pak Zakaria.


Sementara Nada yang melihat sikap Elang yang kecewa seperti itu, hanya mampu mengusap dada, dia tahu dan sadar sudah berani membangkang terhadap Elang, suaminya.


"Bapak, sudah pulang, Pak?" sapa Elang sopan. Pak Zakaria mengangguk lalu tangannya melambai memberi kode supaya Elang mendekat dan duduk. Elang patuh dan duduk di hadapan Pak Zakaria, perasaannya kini seakan sedang di sidang oleh seorang Hakim.


__ADS_1


"Maaf, Bapak secara tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian tadi. Bukan maksud menguping. Bapak kecewa, rupanya Nada datang ke sini karena kalian sedang ada masalah," ujar Bapak seraya menyodorkan sebungkus rokok Jarcok ke hadapan Elang.



"Tidak, Pak, bukan kami yang sedang punya masalah, tapi ....,"


"Ibumu, kan?" tebak Pak Zakaria tepat, memotong ucapan Elang, dan Elang segera mengangguk.


"Elang minta maaf, Pak. Karena sikap Mama Elang, Nada sering mendapatkan kecewa. Elang bukan tidak bertindak atas sikap Mama ke Nada. Tapi ... Elang terbentur hormat dan bakti Elang pada seorang Ibu. Elang sudah berusaha menegur Mama, namun Mama belum juga mau akur dengan Nada. Elang sudah berusaha mendamaikan mereka dan memberi pengertian pada Mama dan Nada, tapi ... Elang belum berhasil." Elang berbicara panjang lebar seraya menunduk, berharap Pak Zakaria memahami keadaannya.


Pak Zakaria nampak manggut-manggut, raut wajahnya seakan sedang berpikir.


"Sedangkan Bapak tahu, bagaimana beratnya saya sebagai anak laki-laki. Saya tidak ingin berkata kasar dalam menyikapi Mama saya, dan ....!" sambung Elang menggantung saat Pak Zakaria mengangkat tangannya di udara.


"Bapak paham, di sini Nak Elang bingung, kan? Sudah sepatutnya seorang anak terutama laki-laki berbakti dan hormat pada kedua orang tuanya, terutama ibunya. Bapak salut dan sependapat dengan Nak Elang. Namun ... disini juga Nak Elang perlu bersikap tegas apabila ibu Nak Elang sudah keterlaluan, contohnya melakukan kekerasan atau hal lain yang mengancam keselamatan anak Bapak." Pak Zakaria menjeda sejenak bicaranya.



"Bapak percaya, Nak Elang sangat mencintai anak Bapak. Oleh karena itu Bapak percayakan anak Bapak kepada Nak Elang. Namun untuk beberapa hari ke depan, biarlah dulu dia di sini. Biarkan Bapak yang akan memberi pengertian pada anak Bapak," ucap Pak Zakaria penuh pengertian dan memutuskan untuk beberapa hari Nada tinggal bersamanya dengan maksud memberi pengertian dan membujuknya.



"Saya khawatir, Pak. Sebab Nada saat ini sedang hamil muda. Usia kandungannya saja baru baru satu bulan. Jika Nada di sini, sementara saya di sana, saya takut terjadi apa-apa terhadap Nada dan janin yang dikandungnya. Mendengar pengakuan Elang, Pak Zakaria terkejut namun wajahnya nampak berbinar seketika.



"Nada sedang hamil? Alhamdulillah ....!" ujar Pak Zakaria bersyukur. "Nak Elang jangan khawatir, masalah Nada sedang hamil alangkah baiknya turuti dulu kemauannya, Nada juga butuh ketenangan. Untuk beberapa hari, biarkan dia di sini, ini tidak akan lama. Biar Bapak membujuknya," yakin Pak Zakaria mencoba menenangkan kekhawatiran Elang. Mendengar itu, Elang sedikit tenang dan tidak tegang seperti tadi.


__ADS_1


Waktu semakin beranjak malam, Pak Zakaria sudah terlihat mengantuk. Mata lelahnya turun naik. "Bapak sudah mengantuk, Bapak masuk duluan ya." Pak Zakaria pamit dan memasuki kamarnya. Sementara Elang masih betah di ruang tengah menghabiskan sisa sebatang rokok jarcok yang selama ini belum pernah diisapnya.


__ADS_2