"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Pembukaan Nada Studio


__ADS_3

Elang menutup mata Nada dengan sebuah kain. Nada bertanya-tanya, surprise apa yang akan diberikan Elang untuknya? Nada diajak berjalan perlahan oleh Elang dengan tangan yang dipegangi.


"Mas, kejutan apa sih? Kenapa harus ditutup mata segala?" tanyanya penasaran.


"Harus dong, Sayang. Kalau tidak ditutup, nanti tidak surprise lagi," alasannya sembari masih belum berhenti berjalan.


"Mas, sudah sampai belum?"


"Sabar, Sayang. Sebentar lagi."


Nada sangat tidak sabar ingin melihat apa yang menjadi surprise untuknya. Tumben banget suaminya memberikan surprise dengan mata yang ditutup kain begini. Hati Nada tiba-tiba berdebar. Membayangkan sesuatu di depan matanya ternyata hal yang menggelikan. Nada malah berpikiran, Elang akan menjahilinya dengan hal yang menggelikan.



"Mas, awas lho ya, jangan buat kejutan yang membuat Nada ngeri atau geli," pinta Nada bergidik.


"Tenang dong, Sayang. Jangan su'udzon dulu. Sejak kapan suamimu ini memberikan kejutan yang menggelikan," tepisnya seraya masih berjalan.


"Siap-siap, ya," Elang memberikan aba-aba pada Nada untuk bersiap melihat kejutan yang diberikannya.



"Hitungan mundur ya, dari sepuluh hingga satu, jika mas sudah menghitung sampai satu, maka kamu boleh membuka kain penutup mata dan melihat surprise yang mas berikan," tambahnya lagi. Dan hitungan mundur pun segera dimulai.



"Sepuluh ... sembilan ... delapan ... tujuh ... enam ... lima ... empat ... " Elang menjeda hitungan mundurnya. Nada sudah kesal, rasanya sudah tidak sabar ingin segera membuka kain penutup mata ini.



"Sayang, mas mau tanya, pernah tidak, kamu ingin pergi meninggalkan mas saat mas tidak punya apa-apa?" tanya Elang membuat Nada heran. "Jawab cepat dan tidak pakai jeda lama!"


"Tidak pernah, Mas."


"Pernah tidak, kamu merasa ada rasa ingin pergi dengan laki-laki lain setelah mengetahui sikap aku yang kurang memahami kamu?"


"Tidak pernah dan tidak akan pernah," jawab Nada yakin.


"Sayang, kamu mencintai aku, tidak?"


"Cinta dong Mas."


"Kenapa bisa begitu?"


"Apa ya ... karena, setiap Nada merajuk dan pergi, Nada selalu berharap Mas Elang menyusul Nada dan mengajak Nada pulang," jawab Nada.


"Iyakah, secinta itu kamu sama aku?"


"Iya, Mas."


"Tiga ... dua ... satu ... ayo buka kain penutup matanya," ujar Elang melanjutkan hitungan mundurnya. Perlahan Nada membuka penutup matanya dengan rasa was-was. Dan saat penutup mata itu dibuka, Nada terhenyak, mulut ternganga.

__ADS_1



Nada menatap ke hadapannya, saat itu tirai penutup dibuka perlahan dan Nada fokus ke arah tirai. Semakin tirai ke bawah semakin tegang yang dirasakan Nada. Tiraipun terbuka semua. Lampu hias dan disko berkilauan seketika dan kelap-kelipnya menyilaukan mata. Nada mengucek matanya demi menyeimbangkan cahaya yang masuk ke dalam matanya.


Beberapa detik kemudian dengan jelas Nada melihat sebuah nama studio foto tertulis indah dan jelas di sana. "Nada Studio", Nada bergumam. Namun Nada belum paham maksud dari semua yang dilihatnya ini. Ada apa dengan Nada Studio di hadapannya. Nada Studio bersebelahan dengan PerkaSya Restoran yang luasnya semakin lebar dan megah.


PerkaSya Restoran merupakan proyek Elang yang pada bulan kemarin mendapatkan suntikan dana dari seorang Investor, sehingga Elang mampu memperluas PerkaSya Restoran sampai semegah ini dan luas.



"Ayo, Sayang majulah, kita potong pita dulu untuk pembukaan Studio foto dan PerkaSya Restoran. Ini hadiah buatmu yang telah berjanji mencintai aku selama hidup aku. Nada ternganga tidak percaya, jadi Nada Studio ini hadiah untuknya?



"Ini untuk Nada, Mas?" Nada masih belum yakin dengan apa yang baru saja didengarnya. Elang menatap Nada dengan anggukan yang meyakinkan. Nada terharu, buliran bening kini mulai berkumpul di sudut matanya. Rasa tidak percaya masih menyelimuti dirinya.



"Ayo, mendekatlah, kita potong pitanya, semua orang sudah menunggu." Elang meraih lengan Nada mengajak Nada untuk mendekat dan menggunting pita sebagai bentuk pembukaan Nada Studio dan PerkaSya Restoran yang baru.



Saat Nada mendekat menuju pita yang terbentang dari kiri ke kanan, bersamaan dengan itu orang- orang yang Nada kenal mulai kelihatan. Sya, Bu Sri, BI Narti, Bi Ijah dan semua ART di Villa, serta semua Pelayan PerkaSya Restoran, hadir di sana menyambut dan menyemangati Nada.



Gunting pita dimulai. Dengan jantung yang deg-degan, Nada memulai menggunting pita. Akhirnya pita berhasil digunting dengan sorak sorai dan tepuk tangan hadirin.




Elang membawa Nada untuk memperkenalkan Nada Studio Foto. Saat masuk pertama kali kesan klasik namun elegan kental terasa. Studio Foto itu di atas pintunya terpasang foto Nada sebagai pemilik studio. Di dalam studio sudah lengkap dengan alat-alat foto, tripod dan peralatan yang berhubungan dengan perfotoan.



Sebelah pintu barat studio, dipasang sofa tempat istirahat para pelanggan sembari menunggu fotonya jadi. Elang membawa Nada duduk di sana, rasanya nyaman. Sehingga bisa dipastikan para pengunjung betah dan berlangganan untuk datang ke Nada Studio.



"Mas, kenapa menghadiahi Nada studio foto, Nada sama sekali tidak memiliki keahlian dalam fotografi, ini tidak masuk akal, Mas?" protes Nada tidak mengerti.


"Ini bukan untuk ditangani langsung olehmu sayang. Memang benar ini milikmu tanah dan bangunannya semua milikmu, tapi kamu hanya duduk manis menunggu hasilnya di rumah. Kalau kamu suntuk, kamu bisa jalan-jalan ke sini untuk memantaunya dan melihat-lihat saja."


"Oh ya ... !" Nada menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya sebagai tanda tidak percaya. Dia benar-benar terharu atas hadiah yang diberikan Elang.



"Kenapa Mas Elang memberikan ini semua, apakah tidak akan rugi, sedangkan Nada tidak turun tangan nantinya?"


__ADS_1


"Apa sih yang kamu bilang, rugi kenapa? Aku bekerja dan memberikan ini buatmu, tidak ada yang rugi jika memberikan semua yang mas punya pada istri yang setia yang mau menjalani hidup sama mas selamanya."



Ucapan Elang barusan sontak membuat Nada menangis, dia sangat terharu dan sedih betapa dulu saat Elang memberikan hampir semua asetnya pada Mayang, berharap Mayang setia sepanjang hayat. "*Padahal kurang apa Mas Elang*, *kenapa Mbak Mayang berani mengkhianati Mas* *Elang*?"



"Terimakasih banyak, Mas. Mas Elang mempercayakan hadiah ini untuk Nada. Nada merasa terharu," ucap Nada seraya memeluk Elang dengan tangis yang kini mulai berderai.



"Aku yang terimakasih sama kamu. Dengan segala kekurangan aku, kamu masih mau bersamaku," ucap Elang membalas pelukan Nada.



"Hapuslah air mata kamu, Sayang. Kita ke restoran dulu. Kita makan bersama Mama dan para pekerja kita. Kita rayakan pembukaan Nada Studio dan PerkaSya Restoran dengan menikmati hidangan di sana. Ada banyak pilihan makanan. Untuk kamu yang sedang hamil muda ada banyak pilihan makanan yang tidak membuat enek."



Elang menarik tangan Nada menuju PerkaSya Restoran untuk menikmati hidangan yang ada. Tiba di sana, Nada melihat semua orang sedy menikmati hidangan dengan sukacita, dan Elang bahagia melihatnya.



"Bunda, Papa, ayo kita makan dulu." Sya sudah mensejajarkan langkahnya dengan Nada dan Elang, lalu membawa ke sebuah stand makanan yang dasarnya buah-buahan. Sya seakan tahu apa yang Nada suka. Namun saat ini Nada lebih tertarik dengan sayuran. Nada tertuju pada lotek yang bahan dasar sayurannya mentah, terbayang di matanya sayuran mentah itu akan menyegarkan mulut dan perutnya.



"Sayang kamu mau makan apa?"


"Lotek, Mas. Nada suka lotek mentah, kayaknya segar dan tidak bikin enek," sahut Nada dengan wajah yang bahagia.


Elang sedikit khawatir melihat Nada makan sayuran mentah. "Kenapa, Mas. Kok seperti khawatir begitu melihat Nada makan lotek mentah?"



"Iya, kan kata Dokter Gilang kamu tidak boleh makan yang mentah-mentah."


"Sayuran mentah tidak apa-apa Mas, selama bebas dari pestisida. Lagipula Nada tidak tiap hari makan sayuran mentah. Yang tidak boleh itu Nada makan daging yang olahannya masih mentah, seperti daging ayam dan sapi. Jika masih mentah maka dikahwatirkan ada bakteri yang bisa menyebabkan kita infeksi," terang Nada. Elang mengangguk memahami penjelasan Nada.


Acara pembukaan Nada Studio dan PerkaSya Restoran kini telah usai. Para tamu mulai berkurang dan kini tinggal keluarga dan tamu. khusus Elang. Sekitar jam sembilan lebih lima menit, sahabat terdekat Elang datang.



"Selamat datang Mas Bintang, tamu istimewa kami." Rupanya Bintang Negara yang datang beserta istri tercinta. Elang mengajak Bintang Negara dan istrinya ke dalam villa. Elang berjalan bersama Bintang di depan diikuti Nada dan Citra istrinya Bintang Negara.



Elang membawa Bintang Negara menuju meja makan dengan menu hidangan istimewa PerkaSya Restoran.


"Silahkan, dinikmati hidangan makan malam PerkaSya Restorannya, menu terbaik restoran kami," ucap Elang formal.

__ADS_1


Merekapun menikmati makan malam diselingi obrolan ringan. Sementara Nada, walaupun dirinya sudah kenyang dan tidak mungkin makan lagi, demi menghormati tamu istimewa suaminya, Nada menuangkan sedikit salah satu makanan di meja makan.


Detik-detik mau tamat Guys.... saya mau tanya, bagusnya menurut kalian anak yg dikandung Nada laki2 atau perempuan ya? Kalian. kasih saran di bawah ya! Terimakasih untuk kontribusi kalian yg sgt berharga ini.


__ADS_2