"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Masih POV Author Cinta yang Terkoyak karena Luka Lama


__ADS_3

Marisa menghampiri Nada yang kini tersungkur dengan isak tangis yang terdengar begitu menyayat. Marisa tahu Nada merasa malu dan sakit hati dengan ucapan Ibu mertuanya yang menghina Nada di depan orang lain.



"Nad...." seru Marisa pelan lalu menghampiri Nada dan mengusap lembut bahu Nada. Nada semakin jelas isakannya. Nada perlahan mengangkat tubuhnya dan berbalik ke arah Marisa lalu merangkul Marisa. Tangisnya kini semakin menjadi-jadi.



"Cup, cup, cup... aku tahu kamu kecewa dan sakit hati sama Uwa Sri, dia memang bermulut pedas sejak Mayang pergi mengkhianati Kak Elang. Jadi, aku mohon kamu bersabar ya... Kak Elang mencintai kamu. Mulut pedas Ibu mertuamu tidak sebanding dengan cinta Kak Elang, kamu juga tahu itu, kan?"



Perlahan Nada mengurai rangkulan Marisa lalu menatap lekat wajah sepupu suaminya itu.


"Tidak pernah ada sedikitpun ruang di hati Ibu mertua untuk menyayangi Nada, bahkan ucapan di bawah tadi, bukan sekali dua kali. Ibu sering mengatakan hal itu di depan teman-temannya. Nada malu Mbak, sangat malu...." ucapnya merintih.


"Aku tahu Nad... tapi... kamu harus kuat karena di sini Kak Elang sangat mencintai kamu." Marisa mencoba memberi kekuatan. Nada tidak menyahut, kini dia larut dalam pikirannya. Benarkah Elang mencintainya, tapi kenapa Elang kadang-kadang menyakitinya, walaupun tidak secara langsung?



Urusan ranjang yang sudah beberapa kali kepergok, itu semata-mata ulah Elang yang sengaja membiarkan pintu tidak dikunci. Lalu saat di ruang tengah, itupun kemauan Elang melakukan di sana, sehingga dengan leluasa ditonton Ibu mertuanya yang mengaku melihat sampai 15 menit. Padahal Nada sudah menolaknya dan mengajak di kamar.



Nada merasa ragu, benarkah suaminya mencintainya, setelah kesengajaan yang diperbuatnya? Lalu Ibu mertua yang menghinanya menceritakan penemuan hubungan ranjang anak menantunya kepada orang lain. Bahkan dengan sengaja Ibu mertuanya bercerita dan mencibir di depan teman-teman arisannya. Malu dan terhina itulah yang Nada rasakan. Tapi kemarahan Elang yang menegur Ibu mertuanya, tidak menjadikan Ibu mertuanya kapok atau jera menghina Nada.



"Kenapa dengan Nada, Mbak? Kenapa Ibu tidak pernah sedikitpun punya rasa sayang sama Nada, padahal Nada mencintai Mas Elang itu tulus. Nada bahkan menyayangi anak Mas Elang seperti Nada menyayangi anak kandung. Tapi Ibu tidak mau melihat ketulusan Nada, sehingga yang Nada perbuat selalu salah di mata Ibu," ucap Nada mencurahkan isi hatinya.


__ADS_1


"Kamu harus kuat Nad, buktikan sama Ibu mertuamu kalau tudingan itu semuanya tidak benar. Kalau kamu kuat dan bisa membuktikan bahwa semua yang dikatakan Uwa tidak benar, disitulah kamu benar-benar hebat. Dan aku yakin suatu saat Uwa akan berbalik menyayangi kamu. Pegang omonganku." Marisa mengurai rangkulannya kemudian menatap lekat wajah Nada memberikan kekuatan.



"Aku lagi hamil muda, aku juga kuat. Kalau melihat kamu lemah seperti ini, takutnya kehamilanku tidak akan bertahan lama karena ikut meratapi kesedihanmu. Jadi, mulai saat ini kamu harus kuat dan sabar." Lagi dan lagi Marisa mencoba memberi kekuatan pada Nada yang jauh lebih muda darinya.



Saat Marisa menatap Nada menyalurkan energi positifnya pada istri sepupunya itu, Elang muncul dan masuk kamar. Bersamaan dengan itu telepon di HP Marisa berbunyi, Marisa mendapatkan panggilan dari suaminya.



"Kayaknya aku harus pulang Nad, suami aku sudah menjemput. Dia ada di depan gerbang dan tidak akan mampir dulu. Lagipula aku mau ke dokter kandungan diantar suamiku." Marisa berkata dan pamit. Dengan terpaksa Nada melepaskan Marisa. Marisa meninggalkan kamar itu lalu berlalu.



Nada menyadari kehadiran Elang, dengan cepat dia bangkit. Mata sembab dan sedikit bengkak itu jelas terlihat oleh Elang. Elang menghampiri lalu meraih lengan Nada. Nada menepisnya lalu dengan berlari kecil menuju pintu penghubung kamar Sya. Nada dengan cepat meraih handle pintu. Belum sempat ditarik, Elang meraih tangan Nada dan menghentikan pergerakan Nada.



"Sayang... lihat aku. Aku mencintai kamu, jadi jangan dengar Mama," ucap Elang lalu memeluk tubuh Nada erat. Nada mencoba berontak dengan memukul-mukul punggung Elang, namun Elang tidak goyah.


"Cinta apa yang Mas Elang berikan, jika hanya hinaan yang Nada terima dari Ibu akibat ulah Mas Elang?" Akhirnya Nada bersuara.


"Maksud kamu?"


"Apakah Mas tidak sadar, setiap hinaan Ibu itu berawal dari ulah Mas Elang. Mas Elang sengaja mempertontonkan kegiatan ranjang kita, kan? Apa maksud semua itu Mas, Mas sengaja ingin menyakiti Nada tapi melalui mulut Ibu. Begitu, kan?" Dengan lantang Nada mempertanyakan cinta yang Elang rasakan untuknya.


"Aku tidak seperti itu, sayang. Dengarkan dulu penjelasanku. Aku melakukan itu karena aku tidak ingin Ibu menjodohkan aku dengan perempuan lain. Aku ingin supaya Ibu jera membawa-bawa Sonia ke rumah ini untuk dijodohkan denganku. Dan saat kegiatan kita dipergoki Sonia, aku juga ingin Sonia tahu bahwa aku sudah memiliki kamu dan aku mencintai kamu. Aku ingin Sonia mundur ketika dia melihat kita melakukan itu," jelas Elang terengah-engah.


__ADS_1


Nada melepas paksa pelukan Elang, lalu dia menatap nanar wajah Elang. "Cinta dengan mempermalukan Nada di depan orang lain, cinta apa itu Mas?" Nada berteriak dan mencucurkan air mata.



Elang termenung lalu dengan perlahan mengurai pelukannya dan melepaskan Nada.


"Kalau kamu ingin tahu mengapa Mas lakukan itu, Mas hanya ingin orang lain tahu bahwa Mas begitu mencintai kamu," tandas Elang.


Nada tidak begitu mempercayai ucapan Elang, dia menduga cinta yang Elang rasakan untuknya hanyalah cinta pelampiasan karena kekecewaan terhadap mantan istrinya.



"Mas itu bohong, cinta yang Mas rasakan untuk Nada hanya pelampiasan. Karena sesungguhnya Mas masih mencintai Mbak Mayang, kan?" Ucapan Nada lepas begitu saja tanpa kontrol. Elang tiba-tiba menatap tajam ke arah Nada dengan menggeretakkan giginya, lalu mendekati Nada, meraih tangannya. Nada ditarik dan dihempasnya di atas ranjang.


"Bruggg...."


"Apa maksud kamu, sudah ku bilang jangan pernah sebut nama pengkhianat itu di depanku atau di depan Sya!" peringat Elang marah dengan mata memerah. Nada terhuyung, seketika itu juga dia merasa ketakutan.



"Asal kamu tahu, kamu ku bawa ke dalam rumah ini dengan rasa cinta, dan perlu kamu ingat, nama pengkhianat itu sudah sama sekali tidak ada dalam otakku, kalau kamu mengungkitnya lagi, maka tidak segan aku menyingkirkanmu," ancam Elang sungguh-sungguh seraya meraih dagu Nada lalu dihempasnya kasar.



Nada menarik nafasnya dalam dan membuangnya kasar. Rahangnya terasa sakit karena hempasan Elang. Dia tidak bisa benar-benar memahami sifat Elang sebenarnya. Salah dia sendiri, Nada berani mengatakan iya secepat itu saat Elang mengajaknya menikah. Hanya karena melihat Elang rajin beribadah dan menyayangi anak semata wayangnya.



"*Apa sebenarnya yang belum Nada tahu dari isi* *hatimu Mas? Mencintai Nada namun sengaja* *ingin menyakiti Nada lewat orang lain. Padahal* *bisa saja menolak baik-baik perempuan yang akan* *dijodohkan Ibu, bukan dengan menyakiti Nada*," bisik hati Nada menangis.


__ADS_1


Elang berdiri menatap marah pada Nada yang masih menangis di atas ranjang. Sebenarnya dia tidak ingin melakukan tindakan kasar, namun setiap dia mendengar nama Mayang disebut oleh Nada maka emosinya meluap. Apakah ini karena trauma luka lama, yang jika mengingatnya maka rasa emosi itu akan muncul?


__ADS_2