
Back To POV 1 ( Nada)
Akhirnya malam itu sehabis Isya, aku diantar Nadly, adikku pulang ke rumah Mas Elang. Sebenarnya ada perasaan ragu untuk pulang. Sebab, sudah dua hari Mas Elang pulang dari rumah bapak, Mas Elang tidak ada menghubungi sama sekali. Mungkin karena sedang sibuk dan panik mengurus ibu yang pingsan dan harus dibawa ke rumah sakit.
Grab yang kami tumpangi berjalan sedang di jalanan ibu kota yang selalu ramai di malam hari ini. Nadly, adik yang sangat bela terhadapku duduk di sampingku dengan tangan memegangi lenganku, dari sejak naik grab tadi, dia yang menuntun aku masuk ke dalam grab dengan hati-hati, takut dede bayinya kenapa-kenapa katanya. Sungguh terharu dengan adik laki-lakiku ini, dia sangat melindungi. Jiwa pelindungnya sudah dia tunjukkan sejak kecil, dia selalu membantu almarhumah ibu cuci piring dan kadang masak saja membuntuti ibu. Karena itulah Nadly sedikit banyak bisa masak minimal buat sendiri.
"Kenapa sih Kak kayak sedih begitu? Kakak lagi hamil jangan mikir yang sedih-sedih, nanti pengaruh lho buat dede bayinya," peringat Nadly seraya menatapku curiga.
"Tidak, Kakak tidak sedang sedih, tapi Kakak sedang terharu," sangkalku.
"Terharu kenapa sih, Kak?" tanya Nadly menyelidik.
Aku tidak menjawab, kalau aku omongin nanti Nadly malah bilang 'Kak Nada ini lebay, biasa-biasa saja kali, Kak'. Dia memang begitu, selalu menanggapi sesantai itu, dan aku merasa sangat terharu dengan sikap merendah dan humblenya.
"Kakak ini, malah diam saja. Ditanya ya dijawab!" gertak Nadly, namun tidak menyurutkan sikapku untuk tetap diam dan tidak menjawab pertanyaan Nadly.
"Nad, kamu sesayang itu sama Kakak, kenapa?" Pertanyaan konyol itu keluar dari mulutku begitu saja, yang sontak ditertawakan Nadly. Mungkin merasa lucu buat Nadly.
"Hahaha .... Kakak nanyeeee, Kakak bertanye-tanyeee ... gini ya aku jawab .... !"
"Stop ... apa-apaan sih Nad, gayanya begitu amat, Dilan saja bukan, KW juga nggak. Kamu itu ikut-ikutan Dilan KW, sebal tahu ....!" ujarku mengangkat tangan, memotong ucapan Nadly yang kini menggantung.
"Kak Nada 'kan nanya sama aku, ya aku jawab."
"Tidak begitu juga kali jawabnya, Nad. Kamu rupanya sudah terbawa oleh virus Alif cepmek, apa-apa ngomongnya digituin!" sergahku sebal melihat adikku Nadly ikut-ikutan gaya salah satu Tiktoker yang viral gara-gara cepmeknya.
"Bercanda dong, Kak. Kak Nada kayak tidak kenal aku saja sejak kecil. Aku kan suka bercanda. Lagian hidup ini jangan terlampau serius ataupun sedih, jadi harus balance. Begitu, Kak," urai Nadly terlihat seperti mentor tentang kehidupan saja, padahal masih anak bawang, sekolah saja baru mau lulus tahun ini.
"Ya sudah deh aku jawab serius pertanyaan Kak Nada. Aku takut Kak Nada nangis kalau dibawa bercanda terus, hehe ... aku itu sayang sama Kak Nada seperti aku menyayangi almarhumah ibu. Karena ibu sudah tidak ada, jadi sebagai penggantinya, ya, Kak Nada, meskipun Kak Nada bukan ibu aku," jawab Nadly sedikit serius, walaupun masih dibumbui candaan khas dia.
__ADS_1
"Coba kalau ibu masih ada ya, Kak. Akan aku buat ibu bahagia. Dan akan aku buat ibu selalu tersenyum hidup sampai tua sama bapak," ujarnya berubah lesu seperti menyimpan kerinduan yang dalam pada ibu kami yang telah berpulang.
Aku meraih tangan Nadly, kemudian memeluknya mengapit diantara tangan dan badanku. Benar-benar Nadly sosok lelaki yang kelak akan bertanggungjawab dan sayang sama keluarga, itu yang aku tangkap. Makanya aku sangat begitu sayang dan terharu dengan Nadly. Jiwa pelindungnya selalu ada di setiap kesempatan. Walaupun bicaranya kadang dibumbui canda, namun pada akhirnya omongannya selalu mengena dan bisa dipertanggungjawabkan.
Aku berharap adik laki-laki satu-satunya ini, kelak bahagia dan sukses dalam bidang karir. Nadly harus sukses, sebab semua biaya sekolah ditanggung Mas Elang tanpa kami minta. Sebagai bentuk tanggungjawab, maka Nadly harus belajar sungguh-sungguh dan lebih keras lagi, supaya kelak mempertanggungjawabkannya tidak malu di hadapan Mas Elang.
Tidak terasa, grab yang kami tumpangi sudah sampai di depan gerbang rumah Mas Elang. Waktu saat itu menunjukkan pukul 8.30 malam. Nadly segera turun lalu meraih tanganku membawa keluar, lalu aku dipapahnya.
"Terimakasih banyak, Pak!" ucapku seraya memberikan ongkos grab pada Pak Supir.
"Sama-sama, Mbak!" balasnya sembari melajukan kembali grabnya.
Di depan pintu gerbang aku mematung sembari menatap pintu gerbang lekat, seperti saat pertama kali masuk grab tadi, ada keragu-raguan untuk masuk atau mengetuk gerbang itu. Namun sebelum aku mengetuk, tiba-tiba pintu terbuka. Muncullah Pak Nanang membuka pintu gerbang.
"Terimakasih Pak Nanang," ucapku sembari tersenyum.
"Ini Nadly, adik saya dari kampung. Dia sengaja mengantar saya karena khawatir sudah malam," terangku memperkenalkan Nadly tanpa ditanya. Pak Nanang tersenyum dan mengangguk. Aku masuk dibuntuti Nadly.
"Assalamualaikum.... ! salamku menggema di depan pintu rumah Mas Elang. Beberapa saat seakan sepi, Bi Narti maupun Bi Ijah tidak terdengar suaranya.
" Non Nada ... sudah datang, Non!" seru Bi Ijah dari arah loteng kami. Aku rasa Bi Ijah habis menidurkan Sya. Aku jadi sangat kangen dengan Sya, rasanya ingin segera memeluknya.
"Iya, Bi ... Alhamdulillah. Dan ini adik saya, Nadly. Dia sengaja mengantar saya, karena khawatir dengan saya jika pulang sendiri," jelasku.
"Alhamdulillah, Non ... !" Kalau begitu, biar Bi Ijah siapkan kamar dulu buat adiknya Non Nada. Sebentar ya. Tapi ... lebih baik Non Nada makan malam dulu bersama adiknya, Bibi akan siapkan. Kasihan perjalanan jauh, cape, dan pasti lapar," ujar Bi Ijah penuh pengertian. Dan benar saja aku memang lapar.
Setelah bersih-bersih dan makan malam, aku kembali ke atas. Sedangkan Nadly langsung ke kamar yang telah disiapkan Bi Ijah. Aku segera ke kamar Sya, karena sejak tadi belum aku lihat. Rupanya di kamar Sya ada Bi Ijah yang masih nungguin.
"Bi Ijah, saya sejak tadi tidak melihat Bi Narti, kemana Bi Narti?" tanyaku heran.
__ADS_1
"Bi Narti ke rumah sakit, Non, diajak Den Elang untuk menunggu Nyonya. Tapi, itu hanya sementara, sebab nanti akan digantikan Bi Inah," terang Bi Ijah.
"Ohhh, begitu, ya, Bi?"
"Iya, Non."
"Kalau Sya, apakah selama ini tidak rewel?"
"Justru itu, Non, Den Sya rewel terus sejak Non Nada pergi. Tadi juga maunya ikut Den Elang ke rumah sakit, namun Den Elang melarangnya. Terpaksa Bibi tahan, walaupun menangis lama," jelas Bi Ijah membuat aku sedih. Aku segera menghampiri Sya dan menatap wajah sendunya.
Jadi, kepergianku tidak membuat keadaan lebih baik. Aku yang terlalu egois, terbawa perasaan, atau cengeng? Maafkan, Bunda, Sya. Bunda terlalu egois dan tidak memikirkan perasaanmu. Bunda terlalu memikirkan rasa sakit hati Bunda karena Nenek, padahal di sini Sya tersakiti karena Bunda pergi.
Aku menangis kecil di depan tubuh Sya yang terlelap, sungguh aku menyesal telah pergi tanpa memikirkan perasaannya. Namun kenapa Sya begitu merasa kehilangan, padahal aku bukan ibu kandungnya?
Setengah jam kemudian, mataku terasa sangat ngantuk. Akhirnya aku tidur di samping Sya yang sudah terlelap. Mengarungi alam mimpi, dan berharap setelah bangun nanti akan aku temui kenyataan yang sangat indah.
Suara azan berkumandang saling bersahutan, aku terbangun untuk segera melaksanakan kewajibanku pada Yang Maha Kuasa. Sejenak ku tatap wajah Sya yang sendu. Ada gurat sedih di sana, hatiku terasa teriris, mengingat Sya selama ini menganggap aku sebagai ibu kandung bukan ibu sambung, namun aku benar-benar tidak bisa diharapkan sebagai ibu sambung yang baik.
Selesai melaksanakan sholat Subuh, aku melihat Sya masih terlelap. Aku mendekat kemudian sekilas aku cium keningnya. "Bunda, sayang sama Sya," bisikku. Setelah itu aku menuruni tangga dan menuju kamar yang ditempati Nadly tidur. Rupanya Nadly sudah sholat Subuh dan bersiap untuk pulang.
"Kak, aku pulang ya, mungpung masih jam lima, masih keburu untuk masuk sekolah," ujar Nadly seraya bersiap.
"Tapi, kamu belum sarapan, Nad. Biar Kakak siapkan dulu ya," ucapku
"Tidak usah, Kak. Aku takut kesiangan masuk sekolah jika harus sarapan di sini," tolak Nadly.
"Baiklah kalau begitu Nad. Sebentar Kakak pesankan grab dulu ya," ucapku yang segera membuka Hp untuk memesan grab via aplikasi. Tidak berapa lama, grab yang aku pesan tiba.
"Pak Nanang, saya pamit dulu. Assalamualaikum," ucap Nadly sembari menyalami tangan Pak Nanang sopan.
"Hati-hati, Nak!" seru Pak Nanang memperingatkan.
__ADS_1
Saat Nadly mau masuk grab, bersamaan dengan itu mobil Mas Elang muncul. Nadly melihat kedatangan Mas Elang, sejenak Nadly berhenti untuk sekedar menyapa Mas Elang. Mas Elang menyambut dengan membunyikan klakson mobil. Setelah itu Nadly segera memasuki grab, tidak berapa lama grab melaju membelah jalanan komplek itu.