
POV 3 (Author)
"Mas Elang, benarkah ini Mas Elang?" Nada masih belum percaya bahwa laki-laki di hadapannya adalah Elang, suaminya.
Saat semakin erat pelukan di tubuh Nada, tidak sadar handuk yang dikenakannya semakin melorot, dengan secepat kilat tubuhnya melayang di bawa Elang ke atas ranjang. Pikiran Nada melayang-layang bagai diawang-awang. Dan sebuah kecupan yang dalam mendarat di bibir Nada yang sejak tadi tersenyum bahagia sehingga celah bibirnya dengan mudah dimasuki Elang. Rasa bahagia menyelimuti keduanya.
"Mas kangen banget, Sayang. Apalagi melihatmu seperti ini. Kamu membuat Mas semakin bergairah. Mas sudah tidak sabar untuk membawamu ke awang-awang," ujarnya sambil melucuti semua yang menempel di tubuhnya.
Nada pasrah, memang ini yang dia inginkan. Dia merindukan sentuhan Elang. Selama seminggu dia kesepian. Dan akhirnya dua insan yang saling merindu ini kini berada dalam pertautan yang membuat keduanya melayang. Saling berbagi dan bertukar menumpahkan segala rindu yang seminggu tertunda.
Elang melepaskan pertautannya dengan perlahan, selama seminggu dia menahan semua hasrat ini, dan saat dilepaskan betapa dia mendapat kenikmatan berkali lipat. Dilihatnya Nada semakin menggairahkan dan mempesona, apakah ini pengaruh dari kehamilan Nada. Elang tidak peduli, yang jelas ketika pulang ini sambutan Nada sangat istimewa. Dia tersenyum bahagia dan mendamba.
"Cupp .... " sekali lagi diciumnya bibir tipis wanita yang masih dibawah kendalinya, lama dan dalam. Inginnya saat itu juga dia rangsek kembali kenikmatan itu, namun Elang harus memberi jeda, supaya Nada mengumpulkan tenaga.
"Terimakasih, Sayang, untuk hari ini. Aku sangat bahagia. Kamu sungguh hebat, selalu membuat Mas puas," ucapnya membuat Nada tersenyum bahagia atas pujian dari Elang, suaminya. Nada bergeliat sembari menahan tubuhnya dengan handuk yang tadi sempat terlepas begitu saja ketika dirinya memeluk erat Elang. "Mau kemana, diam di situ. Temani Mas tidur siang. Mas lelah dan ingin beristirahat bersamamu dan memeluk tubuhmu," pintanya sebagai sebuah perintah. Nada patuh, terlebih setelah pertautan tadi dia sangat begitu ngantuk dan lelah.
Hari beranjak siang, kedua insan suami istri yang saling melepas rindu itu terbangun oleh kumandang suara azan yang begitu merdu dari Mushola terdekat. Nada bergeliat di antara pelukan tangan kekar Elang yang sangat kuat. Ketika dia berusaha melepaskan diri, yang dia rasakan hanyalah sebuah kenyamanan.
Elang bergerak, sesaat setelah bagian intinya secara tidak sengaja kena gesekan paha Nada, saat itu juga hasratnya kembali membara meminta sebuah pertautan kembali. Elang bergerak cepat menguasai seluruh tubuh Nada. Nada terperanjat saat dirinya kini telah dikuasai Elang kembali. Nada hanya bisa pasrah dan membalasnya memberikan servis yang terbaik yang dia mampu.
"Sekali ini lagi, Sayang," tatapnya memohon. Nada mengangguk pasrah. Dan keduanya menautkan kembali hasrat yang masih bergelora.
__ADS_1
Akhirnya Nada bisa bergerak dan bangkit, dia segera ke kamar mandi membersihkan diri mandi besar, membasuh semua bukti cinta yang baru saja terjadi. "Mas, cepatlah mandi. Sebentar lagi menjemput Sya!" peringat Nada yang saat melihat Elang masih mengantuk.
"Tidak, kan masih ada Pak Udin. Pak Udin belum kelar tugasnya." Elang menyanggah peringatan Nada, dia malah semakin dalam berselimut.
"Ck, ck, ck," Nada hanya mampu geleng-geleng kepala menyaksikan gelagat suaminya yang malas bangun seperti ini. "Apakah aku biarkan saja dulu, kayaknya Mas Elang benar-benar sangat lelah," gumannya seraya beranjak menuju Mushola di rumah itu.
Hari semakin siang, saat itu dari bawah sudah terdengar celotehan Sya. Nada terkejut, dia harus menghindarkan Elang bertemu Sya untuk sejenak, karena kalau tidak, keadaan tubuh Elang yang telanjang sehabis pertautan tadi bisa ketahuan Sya, dan itu tidak boleh terjadi.
Sya tidak akan menyangka Papanya telah kembali, sebab mobil Elang tidak terparkir di depan rumah Elang.
"Mas, Mas Elang, bangun. Sya sudah pulang. Nada takut Sya langsung menghampiri Nada. Nanti Mas Elang ketahuan tidak berbaju seperti ini." Elang terkejut, lantas dia segera bangkit dan masuk kamar mandi.
Nada segera beranjak menyambut Sya di kamarnya yang kini sudah ditemani Bi Ijah.
"Bundaaaa!" serunya sembari menghampiri dan memeluk tubuh Nada.
"Ayo, Sayang. Diganti baju dulu, setelah itu kita makan siang bersama. Bunda punya surprise buat Sya."
"Surprise apa Bunda?" Sya nampak penasaran.
"Bunda tidak akan bilang, kalau bilang nanti tidak akan surprise lagi dong." Sya nampak merengut lucu. Wajahnya yang tampan semakin menggemaskan.
"Kalau Sya ingin segera melihat surprisenya, Sya harus cepat-cepat ganti baju. Dan kita turun untuk makan siang," ujar Nada memberi syarat. Sya dengan cepat mengikuti perintah Nada dengan segera mengganti baju.
__ADS_1
"Ok, Sya, kita turun!" Mereka menuruni tangga dengan tangan saling meremat. Selangkah demi selangkah akhirnya mereka sampai di meja makan, di sana satu sosok tampan yang dirindukan Sya telah duduk rapi menunggu mereka berdua. Sehingga ....
"Papaaaa!" teriak Sya histeris. Tentunya histeris bahagia. Sya memeluk Elang dengan penuh kerinduan. Keduanya larut dalam suasana haru saling menumpahkan rindu yang masing-masing tidak terbendung.
"Papa, kenapa Papa pulangnya tidak bilang-bilang Sya, kan kalo bilang Sya pasti tungguin, Papa," protesnya sembari bergelayut manja di pangkuan Mas Elang.
"Papa, kan kasih surprise buat Sya dan Bunda, jadi Papa tidak bilang."
"Ayo, Sya turun dari pangkuan Papa, kita mulai makan." Sya patuh dan turun dari pangkuan Elang.
"Oh iya, Mas. Apakah Mas Elang sudah melihat Ibu? Ajak Ibu makan bersama kita, Mas. Nada tidak enak Ibu makan di kamar hanya ditemani Mbak Vera, sedangkan kita di sini." Nada mengingatkan.
"Mas tadi sudah menemui Mama, dan Mama menolak diajak makan bersama kita. Mama ingin di kamar atau di luar ditemani Mbak Vera," ujar Elang. Mereka bertiga pun makan bersama dibarengi obrolan ringan yang diselingi tawa.
Selesai makan siang mereka segera menuju kamar, setelah tadi Elang saat di meja makan menjanjikan akan memberi oleh-oleh pada Sya dan Nada, bu Sri, dan orang-orang di rumah ini.
"Ini buat Sya," Elang memberikan sebuah kotak untuk Sya. "Dan ini buat kamu sayang." Juga sebuah kotak kecil buat Nada, masing-masing dibungkus kertas kado yang indah. "Sayang, kalau yang itu jangan dibuka dulu." Tahan Elang mengurungkan niat Nada membuka bungkus kadonya.
"Mas punya sesuatu yang lain untuk dipasangkan sekarang di leher kamu," ucap Elang seraya berdiri di belakang Nada lalu memasangkan sebuah kalung emas bertuliskan Nada. Nada senang dibuatnya.
"Terimakasih banyak Mas Hadiahnya, padahal Nada kan tidak minta dibawakan apa-apa. Terus kalau yang ini apa?" Nada bertanya penuh penasaran.
"Ini, baju dinas yang harus kamu pakai untuk nanti malam," bisik Elang membuat Nada terbelalak seketika.
__ADS_1
"Apaaaa?"
"Asikkkk, Papa belikan oleh-oleh mobil-mobilan remot." Berbanding terbalik dengan Nada, Sya begitu antusias mendapatkan kadonya dibuka.