
Malam semakin larut, tamu istimewa Elang, Bintang Negara dan istrinya telah kembali. Suasana di Villa tidak seramai tadi. Sya juga suaranya sudah tidak terdengar lagi.
"Bi Ijah, Sya sudah tidur?"
"Sudah, Den. Den Sya ditidurkan di kamar sebelah." Bi Ijah memberitahu.
"Bi, tapi nanti temani sama Bi Ijah, ya!" pinta Elang. Bi Ijah mengangguk. Elang meminta Bi Ijah menemani Sya tidur, sebab jika di tempat baru, Sya kadang rewel dan mencari orang terdekat.
"Mas, Ibu bagaimana? Apakah sudah tidur atau belum, ya?" Nada mencemaskan Bu Sri.
"Tadi Perawat Vera membawa ke dalam kamar, aku tidak tahu apakah Mama sudah tidur atau belum."
"Ayo kita ke ruang tengah dulu, mas masih pengen menikmati malam hari ini dengan melihat aquarium di taman depan." Elang mengajak Nada ke ruang tengah.
Ruang tengah ini terhubung langsung dengan taman di depannya, hanya pintu kaca yang menjadi penghalang. Ruang tengah di villa ini dikhususkan untuk menyepi atau menghibur diri dengan melihat taman bunga dan juga aquarium berukuran dua meter kali satu meter. Saat siapapun bersantai di ruang tengah, maka dipastikan view yang didapat adalah taman dan aquarium berbagai ikan hias.
"Wahhh, indah banget tamannya, Mas. Nada suka bunga-bunganya." Nada melihat dari pintu kaca, penuh kagum. Elang menghampiri Nada dan melilitkan tangannya di perut Nada yang mulai buncit.
"Kamu tidak suka aquariumnya?" tanya Elang sembari mencium pipi Nada gemas.
"Suka, Mas. Tapi, Nada lebih suka bunga-bunga," ujar Nada.
"Ayo, kita duduk si sofa saja." Elang membawa Nada ke sofa dan duduk di sana. "Di sini juga viewnya bagus, bunga-bunga dan ikan hiasnya bisa kita lihat dengan jelas. Daripada di kaca, kamu hanya berdiri dan kaki kamu akan pegal." Elang begitu perhatian banget.
__ADS_1
"Tapi di sini dingin banget Mas, ACnya terlalu kuat," protes Nada sambil memeluk tangannya satu sama lain. Gaun yang tadi saat pembukaan Nada Studio, walaupun tangannya panjang, namun permukaannya tipis sebab bahan dasar kainnya tile yang transparan.
"Sini, Mas peluk." Elang duduk di belakang tubuh Nada sembari mengapit dengan kedua kakinya, sementara tangannya ia lingkarkan di tubuh bagian Nada. "Bagaimana, lumayan hangat, kan?" Elang memastikan Nada sedikit merasakan kehangatan akan pelukannya. Nada mengangguk seraya meremat jemari Elang dengan jemarinya. Ia jalin dan merasakan kehangatan yang disalurkan lewat jemari Elang.
"Mas, kenapa harus memberikan studio foto untuk Nada, padahal Nada tidak meminta?" Nada menolehkan kepalanya ke belakang dan menatap wajah Elang.
"Aku mencari uang untuk kamu dan anak-anakku. Jadi, wajar saja jika aku memberi harta aku untuk kamu, selagi aku mampu." Elang menjawab sembari membawa tengkuk Nada mendekati wajahnya, lalu Elang memberikan ciuman di sana. Lama dan lembut.
"Nada sejenak melepas ciuman menuntut Elang, lalu berkata, "padahal tanpa Mas Elang kasih harta seperti studio foto tadi, Nada tidak akan merasa iri seperti yang Mas berikan pada mantan istri ...." Belum tuntas Nada berkata, Elang sudah menutup bibir Nada dengan ciuman yang ganas.
Nada menatap sayu wajah Elang, lalu Elang mengusapnya perlahan. " Kenapa kamu selalu cemburu dengan dia? Dalam hati aku sudah tidak ada nama dia. Jadi, mas mohon jangan sekali-kali mengungkit nama dia lagi di hadapan mas, ok!" ujarnya kesal.
"Nada tidak cemburu, Nada hanya .... "
"Sudahlah tidak perlu diteruskan, kamu selalu mengungkit dia, padahal aku tidak ingin mendengar nama dia," potong Elang cepat.
"Ayo, kita ke kamar. Aku sudah ngantuk." Elang berjingkat lalu keluar dan segera menuju kamar utama miliknya di villa itu.
"Nada mengekori Elang, dia merasa tidak enak hati melihat Elang yang pergi begitu saja gara-gara dia mengingatkan Elang pada Mayang. Nada masuk dan mendapati Elang sudah terbujur membaringkan tubuhnya di ranjang. Nada menatap Elang sendu, dia menyesal kenapa tadi seakan mengingatkan Elang dengan Mbak Mayang.
__ADS_1
Sementara itu Bu Sri yang kini berada di kamarnya, setelah tadi didorong rodanya oleh Perawat Vera dari balik pintu ruang tengah, rupanya telah mendengar obrolan Nada dan Elang. Semua yang Nada ungkapkan telah didengarnya dengan jelas, meskipun terpaksa harus melihat adegan yang harus disensor jika anak kecil yang melihatnya.
"Rupanya Nada tidak seburuk yang aku duga. Aku selalu dipengaruhi pikiran yang tidak-tidak tentang Nada, bahwa Nada menikahi Elang karena melihat hartanya. Namun semua itu terpatahkan. Dan aku selalu ketakutan, karena Nada terlahir dari keluarga biasa-biasa saja. Maafkan aku, Nada!" bisik hati Bu Sri penuh sesal.
Nada masih berdiri menatap tubuh Elang yang berbaring. Dia sedih karena masalah tadi. Mungkin benar kata Elang, dia marah ketika diungkit nama Mayang bukan karena belum move on, akan tetapi terlalu sakit jika harus mengingatnya.
Sebelum Nada ikut berbaring, Nada ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan gosok gigi. Nada berharap Elang tidak lagi marah, saat dirinya kembali dari kamar mandi.
Nada menaiki ranjang. Di sampingnya Elang masih terbaring tidak berkutik. Apakah Elang sudah tertidur? Padahal baru saja dari ruang tengah.
"Mas, Nada minta maaf karena masalah tadi di ruang tengah. Nada tidak bermaksud mengungkitnya lagi. Nada janji tidak akan membicarakannya lagi," janjinya sungguh-sungguh. Elang yang sebenarnya belum tidur, hanya tersenyum hambar mendengar permintaan maaf Nada.
Merasa tidak ada balasan dari Elang, Nada akhirnya membaringkan diri, ingin rasanya Nada memeluk Elang yang marah. Namun dia merasa malu. Akhirnya Nada tertidur dalam suasana hati yang dibalut rasa bersalah pada Elang.
Jam tiga dini hari, Nada tiba-tiba terbangun karena perutnya merasa lapar. Saat matanya terbuka, Nada melihat Elang yang tertidur nyenyak. Alangkah Nada merindukan sosok di sampingnya itu. Ingin memeluk dan dipeluknya. Namun kini Elang telah marah padanya.
"Mas Elang, Nada ingin dipeluk Mas. Nada rindu Mas Elang yang bawel." Nada bermonolog.
Nada turun dari ranjang secara perlahan, karena tidak ingin sampai membangunkan Elang. Nada membuka pintu kamar dengan pelan juga. Nada keluar dan langsung menuju dapur di villa itu. Rasa lapar yang menderanya sudah tidak tertahan lagi.
Nada membuka tudung saji, di sana masih banyak makanan sisa acara tadi malam. Nada mengambil piring, lalu menuangkan salah satu menu favorit di PerkaSya Restoran.
__ADS_1