"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Membujuk Sya


__ADS_3

Lambaian tanganku mengiringi perjalanan Mas Elang. Suara klakson dibunyikan pertanda Mas Elang berpamitan. Aku kembali ke kamar. Sebelum menuju tangga aku berpapasan dengan Ibu yang didorong Perawat Vera.



"Mbak Vera, Ibu mau dibawa ke mana?" tanyaku.


"Ibu pengen ke depan, Neng. Katanya mau berjemur."


"Ohhh, tapi jangan keluar gerbang, ya, Mbak!"


"Baik, Neng."


"Bu, jangan keluar gerbang, ya!" peringatku was-was, sebagai bentuk perhatianku. Ibu menjawab dengan isyarat mata. Entahlah, Ibu belum mau banyak bicara denganku. Namun aku berusaha untuk memperbaiki sikapku pada Ibu meskipun belum kena di hati Ibu.


Aku kembali ke atas. Sebelum masuk kamar, aku sejenak masuk ke kamar Sya. Rupanya, Bi Ijah sudah di sana dan mempersiapkan Sya untuk mandi. Sya sudah bangun dan masih malas-malasan. Aku menghampiri dan meraih tangannya.



"Bangun, Sayang! Sudah waktunya mandi, Bi Ijah sudah siapkan airnya dan baju sekolah, Sya," ujarku. Sya mengucek matanya, mungkin masih ngantuk.



"Ok, Sya. Mandi dulu ya sama Bi Ijah. Nanti kita sarapan pagi bersama," ucapku seraya melepaskan tangan Sya. Sya tidak menyahut, dia bangkit dan menuju kamar mandi.


"Anak baik," pujiku seraya keluar kamar Sya menuju kamarku.


Di dalam kamar, aku duduk sejenak di ranjang mengingat kejadian tadi saat Mas Elang menyiapkan perlengkapannya keluar kota. Perasaan sedih dan rasa bersalah langsung muncul kembali. Aku merenung, menyesali pertengkaran kami yang pernah terlewati.



Demi membunuh rasa bosan, aku beranjak ke balkon. Baru saja berada di sana, bau rokok langsung tercium menyeruak masuk ke dalam hidungku. Sehingga aku merasa pusing dan mual. Sebelum kembali ke kamar, aku meneliti berapa batang rokok yang dihabiskan Mas Elang. Aku cukup tercengang, rupanya Mas Elang dalam waktu kurang lebih tiga jam, mampu menghabiskan 16 batang rokok putih.



Aku segera kembali ke kamar, dan menutup pintu balkon rapat-rapat. Dengan tergesa menuju kamar mandi untuk menuntaskan rasa mualku. Semua aku keluarkan sampai keluar cairan kuning yang rasanya pahit. Tubuhku sampai lemas, dan tenagaku habis.


__ADS_1


Aku segera keluar kamar mandi dengan tangan meraba dinding, kejadian ini pernah aku alami saat Mas Elang merokok di ruang kerjanya. Saat itu aku mau mengantarkan es krim, namun kepalaku langsung pusing dan perut mual. Kalau ingat itu, aku jadi takut dirawat lagi seperti saat itu, apalagi Mas Elang tidak ada. Aku harus kuat dan kembali sehat. Dengan terpaksa aku menghubungi Bi Narti untuk membawakanku teh jahe hangat dan cemilan untuk perut kosongku, sebelum Sya datang dan menemukanku dalam keadaan lemas tidak bertenaga.



Lima menit kemudian Bi Narti datang membawakan aku teh jahe hangat dan gorengan buatannya sendiri. Gorengan perkedel jagung dengan gehu. Jadi ingat masakan almarhumah Ibu dulu. Kalau hari Minggu saat kami berkumpul, selalu membuat gorengan sendiri di rumah, seperti bala-bala (bakwan), dan gehu. Sambalnya sambal *goang*, yaitu sambel simpel yang bahannya hanya cabe, bawang putih, sama kencur. Semua bahannya mentah langsung diulek dan disantap langsung. Sederhana tapi enak.



Bi Narti tahu banget apa yang aku suka. Seorang ART, namun seperti keluarga. Di sini, walaupun aku jauh dengan bapak dan Nadly, terlebih almarhumah ibu. Namun Bi Narti dan Bi Ijah terasa seperti seorang Ibu yang perhatian.



"Dimakan dulu Non, ini kayaknya cocok buat Non Nada. Kalau tidak mau makan nasi, coba terigu dicampur jagung alias perkedel jagung sama gehu, ditambah sambelnya sambel goang, mantap Non. Segerrrr," ucap Bi Narti mencoba memprovokasi, supaya aku makan gorengan dengan sambalnya, padahal aku sedang hamil. muda.



"Bi Narti, memangnya boleh saya makan sambel saat hamil muda?" heranku.


"Tidak apa-apa, Non, asal tidak terlalu pedas. Rujak saja boleh asal jangan kepedesan," ucap Bi Narti. Akhirnya aku makan gorengan dengan dicocol sambel goang yang memang aku suka.


Benar, rasanya segar dan perut kosongku karena mual tadi, kini terisi kembali dan rasanya kenyang, ditambah air teh jahe hangat yang menyegarkan, rasanya mual yang aku rasakan seketika hilang.



"Sama-sama, Non."


"Bi Narti, saya boleh minta tolong, tidak?" tanyaku ragu.


"Apa, Non? Kenapa pakai minta tolong segala? Apapun tugas dari Non Nada, merupakan bagian pekerjaan bibi," ucap Bi Narti penuh semangat.


"Itu, Bi, di balkon banyak puntung rokok bekas Mas Elang merokok, saya minta tolong dibersihkan. Tadi saya ke sana sampai saya mual dan pusing kepala," ucapku diakhiri keluhan.


"Ohhhh, itu, Non. Iya, Non segera bibi bersihkan. Non Nada tenang saja, bau rokoknya nanti bibi hilangkan."


"Terimakasih, ya, Bi," ucapku. Bi Narti segera beraksi melaksanakan tugas yang aku beri.


Tidak lama dari itu, Sya tiba-tiba datang dan mengajakku ke bawah untuk sarapan. "Bundaaaa, ayo, kita sarapan. Pah, ayo, Pah, kita sarapan!" ajaknya seraya teriak mencari Mas Elang.

__ADS_1



Sejenak aku menjadi bingung harus menjawab apa pada Sya tentang Papanya. Mas Elang bilang bicara saja apa adanya, Mas Elang yakin Sya akan mengerti dan tidak terlalu sedih sebab masih ada aku di rumah ini. Akhirnya aku mencoba bicara apa adanya walaupun was-was.



"Sya, Papa tidak ada. Papa tadi berangkat keluar kota, karena ada pekerjaan penting. Jadi, Sya jangan sedih, ya, kan masih ada Bunda," bujukku berharap Sya mengerti.



"Kenapa, Papa tidak pamit sama Sya," protesnya sedikit marah.


"Tadi, Sya, masih bobo, jadi Papa kasihan jika harus membangunkan Sya," ucapku lagi. Namun Sya masih merengut tidak terima.


"Papa selalu begitu, tidak pernah pamit Sya, jika pergi keluar kota," protesnya lagi.


"Aduhhhh," ringisku seraya memegangi perut yang memang sakit dan bukan pura-pura. Rupanya keram di perutku mendera. Sya yang melihat merasa iba, dia melihatku cemas dan menghampiriku.



"Bunda, kenapa?" cemasnya sambil memegangi tanganku.


"Perut Bunda sakit, Sya. Perut Bunda keram," ucapku masih meringis. Sya nampak panik dan takut. Melihat Sya panik seperti itu, aku tidak tega.


"Sya, sebaiknya Sya turun dan sarapan dulu. Dengan begitu, keram di perut Bunda akan sembuh," ucapku bersiasat. Dan memang perutku! perlahan membaik. Sya nampak panik dan takut membuat aku tidak tega melihatnya.



"Sya, kita sarapan, ya. Lagipula perut Bunda sekarang sudah sedikit membaik," kataku masih mencoba membujuk. Sya nampak berpikir dan akhirnya Sya mau sarapan pagi bersamaku.



Saat kami sedang sarapan pagi, tiba-tiba di depan terdengar suara orang mengucapkan salam.



"Assalamu'alaikum!" Suara cempreng itu sudah tidak asing bagiku dan Sya.

__ADS_1


"Tante Marisaaa!" pekik Sya seraya berdiri dari kursi makannya. Dan tanpa kami persilahkan terlebih dahulu, Mbak Marisa sudah masuk duluan. Alangkah senangnya hatiku bisa bertemu Mbak Marisa setelah beberapa bulan tidak bertemu.


__ADS_2