"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Merajuk ke Rumah Bapak


__ADS_3

Aku berlari kecil keluar gerbang dan menyelinap lewat pintu gerbang kecil khusus keluar masuk Satpam. Pak Nanang bengong melihatku seraya merentangkan tangannya.


"Non....!" Pak Nanang berusaha menghentikan langkahku namun aku tidak menggubris.


"Nada... jangan berani langkahkan kaki keluar dari gerbang ini. Dengarkan aku dulu. Ayolah kita masuk dan bicara baik-baik!" ucap Mas Elang menahan langkahku. Akupun tersentak dan menghentikan langkahku di depan gerbang.


Aku mendengar jelas apa yang diucapkan Mas Elang baru saja. Namun foto yang dikirim oleh seseorang ke WAku begitu jelas terbayang, foto yang begitu dekat, bahkan saling rangkul.


Aku berlari kembali sembari berusaha menyetop Taksi.


Entah keberuntungan ada dipihakku, tidak butuh waktu lama sebuah Taksi menuju ke arahku. Aku langsung menyetopnya, seketika Taksi berhenti. Aku segera masuk. "Andir Pak.... !" titahku menyebut tempat tujuanku. Pak Supir melajukan Taksinya dengan kecepatan sedang ke arah alamat yang aku tuju.



Berada di dalam Taksi, otak dan pikiranku masih terbayang foto Mas Elang dan Mbak Mayang. "Tega kamu Mas membohongi Nada. Kamu bilang benci pengkhianat, tapi... kamu masih menemuinya diam-diam."



Aku menoleh sejenak kebelakang Taksi mencoba meyakinkan apakah Mas Elang menyusulku atau tidak. "*Tidak ada*," gumanku sedikit kecewa. Entah apa yang aku rasakan, aku merasakan kecewa saat tidak mendapati mobil Mas Elang di belakang, padahal aku sedang berlari menghindarinya.

__ADS_1



Satu jam kemudian, aku tiba di toko kelontong bapak, yang bangunannya sudah banyak berubah. Aku menatap heran bangunan yang makin bagus dan kini ramai pengunjung itu. Apakah ini yang dimaksud Bapak ditelpon tempo hari, tentang Mas Elang yang selalu mengirimkan uang tiap bulan buat Bapak? Dan uangnya Bapak pakai untuk merenovasi toko kelontong dan bengkel tambal ban yang dulu kondisinya jauh dari kata layak.



Aku menarik nafas dalam, sambil sesekali celingukan mencari sosok Bapak atau Nadli adikku ke arah dalam.



"Cari siapa Mbak?" tanya seseorang tiba-tiba membuat aku terkejut.


"Eh... !" ujarku terkejut.


"Bapak...? Pak Zakaria?" ucap lelaki berumur itu


balik bertanya. Aku mengangguk dengan cepat.


"Ada, di dalam!" jawabnya sambil mengarahkan jemarinya ke arah dalam. Aku segera menuju ke dalam dan mencari Bapak di toko kelontong milik Bapak yang lumayan bagus ini.

__ADS_1


"Ini berkat Mas Elang, Mas Elang yang selalu mengirimkan uang pada Bapak." batinku.


"Bapakkk.....?" jeritku saat mataku sudah menemukan Bapak. Bapak tersentak lalu menatap ke arahku.


"Nada....!" seru Bapak terkejut seraya menyambut tanganku yang sudah terentang. Kami saling peluk dan menumpahkan rasa rindu yang sudah lama terpendam.


"Kamu sendiri, mana suami kamu?" Bapak bertanya heran sedangkan aku tidak bisa menjawab. Melihat aku menunduk, Bapak. seakan paham. "Pulanglah, Bapak masih harus di toko sampai jam 5 sore," ucap Bapak seraya memberikan beberapa kunci yang menyatu dalam satu ikatan. "Nadli juga masih belum pulang sekolah," berita Bapak.


"Yang bandulnya besar adalah kunci rumah pintu depan," ucap Bapak mengingatkan.


Aku meraih segerombolan kunci itu dari tangan Bapak, lalu berpamitan dan melanjutkan perjalanan menuju rumah Bapak yang tidak jauh dari toko kelontong milik Bapak itu.



Tiba di rumah Bapak, aku kembali dikejutkan dengan keadaan rumah yang sangat beda. Dulu terakhir kali aku tinggalkan tidak sebagus ini, dulu kucel dan kusam bahkan bisa dikatakan reyot. Tapi kini... ah... lagi-lagi ini pasti ulah Mas Elang. Yakinku.



Karena lelah, aku langsung masuk kamarku. Kamar yang penuh kenangan semasa masih single. Aku melihat keadaannya masih sama, hampir tidak ada yang berubah di dalam kamar ini, kecuali warna cat. Tanpa terasa aku terlelap.

__ADS_1



"Mas Elang....!" kejutku seraya bangkit dari tidurku.


__ADS_2