"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Trauma dengan Perkataan Ibu


__ADS_3

Tiga minggu sudah aku lalui masa-masa sulit dalam menghadapi pemulihan pasca kuret. Walaupun kadang-kadang masih terasa rasa nyeri yang tiba-tiba mendera, namun kata Dokter nyeri yang tiba-tiba itu adalah biasa, karena masih dalam masa pemulihan.



Seperti hari-hari biasa Mas Elang mengantar Sya sekolah, juga sudah seminggu ini rutin ke restoran dari pagi sampai Sya pulang.



"Sayang, Mas pergi dulu ya," pamit Mas Elang seraya mencium pipiku. "Doakan juga, hari ini Mas mau bikin laporan ke Polisi, Mas mau menjebloskan Mayang ke penjara." Sontak aku terkejut saat mendengar bahwa Mas Elang ingin memenjarakan Mbak Mayang ke penjara.


"Apa... memenjarakan Mbak Mayang?"


"Iya... kenapa? Dia sudah terbukti bersalah kok, yang telah lalai dalam melindungi anak dibawah umur sampai Sya terjatuh dari mobil, untung saja hanya pelipis yang terluka karena kena gesekan aspal dan kaki yang cuma keseleo."


"Tapi... apakah nanti tidak akan pengaruh pada Sya jika mendengar ibu kandungnya dipenjara?" Mas Elang tidak menjawab, dia malah menerawang menatap jauh seperti ada yang diragukan.


"Mas pamit ya!" ulangnya sekali lagi.


"Iya, Mas!" sahutku.


"Sayang... sejak kamu keguguran kamu berubah banyak, tidak ceria seperti dulu. Ayo dong kembali ceria seperti dulu, Mas Kangen kamu yang dulu," ucapnya sebelum melangkah pergi, seperti sebuah permohonan. Aku hanya tersenyum tipis, lalu segera mencium tangan Mas Elang dan mendorong pelan tubuh Mas Elang ke arah pintu. Mas Elang menarik nafasnya dalam tanda kecewa.



Saat Mas Elang pergi, aku terduduk lesu di ranjang. Perubahan sikap aku ini memang aku rasakan sejak aku dihina oleh ibu dihari di mana aku baru pulang dari RS dan masih merasakan sakit di perut yang seakan diiris-iris sembilu. Namun ucapan ibu rupanya lebih tajam dari sembilu.



Seharusnya saat itu aku beristirahat dan menenangkan diri dari semua masalah yang mendera, namun ibu tanpa tahu waktu dan situasi menorehkan luka yang ingin aku sembuhkan, malah menjadi semakin menganga.



Sejak aku keguguran, Mas Elang juga mempekerjakan kembali Bi Ijah yang dulu pernah bekerja di sini satu tahun yang lalu sebelum aku menjadi bagian dari keluarga ini. Sya tidak protes ketika akhir-akhir ini setelah aku keguguran, lebih banyak ditemani Bi Ijah. Sya memang anak yang pengertian dan patuh.



Siang ini, Sya pulang namun diantar Usep menggunakan sepeda motor. Aku heran kemana Mas Elang perginya? Mungkin saja Mas Elang sibuk ngurus PerkaSya Restoran yang sekarang sedang maju pesat. Atau bahkan Mas Elang tengah mengurus masalah Mbak Mayang yang akan di penjara.


"Tapi... apakah Mas Elang mampu jika sudah berhadap-hadapan dengan Tuan Zulfikar?" pertanyaanku seolah meragukan kemampuan Mas Elang.

__ADS_1


Malam tiba, Bi Narti mendatangi kamarku. Kebetulan aku sedang bersama Sya. Bi Narti memberitahukan waktu makan malam. Aku dan Sya menuruni tangga dan menuju meja makan. Makan malam kali ini rasanya hambar. Mungkin karena tidak ada Mas Elang yang biasanya meramaikan meja makan ini.



Selesai makan malam, aku dan Sya langsung menuju kamar Sya. Malam ini Sya ingin ditidurkan olehku. Aku senang saja sebab rasanya sudah lama aku tidak memeluk Sya lagi. Dan Sya tertidur setelah aku mendongengkan sebuah dongeng sebelum tidur. Tidak lama dari itu, akupun ikut tidur di samping Sya.



Malam sudah sangat larut, ketika aku melihat jam dinding rupanya sudah jam 10 malam. Aku bangun lalu menuju kamar kami. Kamar itu masih kosong dan lampunya masih belum menyala. Tadinya aku pikir Mas Elang sudah berada di kamar. "Kemana Mas Elang, tumben selarut ini belum pulang?" Hatiku bertanya-tanya dan gelisah.



Karena rasa kantukku belum muncul lagi, aku pergi menuruni tangga dan menuju dapur. Mengambil minuman di kulkas, suasana dapur sudah sepi mungkin saja Bi Narti dan Bi Ijah sudah mulai masuk kamar masing-masing.



"Non Nada? Sedang apa Non, Non Nada butuh apa biar Bibi ambilkan?" Bi Narti tiba-tiba sudah ada di belakangku mengagetkan.


"Saya ambil air mineral dari kulkas Bi, ini sudah saya ambil. Saya mau kembali lagi ke kamar ya!" ucapku sembari beranjak meninggalkan dapur dan Bi Narti.


Aku kembali ke kamar dengan air mineral di tanganku dan meminun air itu hingga tandas. Baru saja aku menduduki ranjang, deru mesin mobil Mas Elang terdengar. Aku langsung berdiri dan mengintip dari balik gorden. Benar saja Mas Elang. Mas Elang mulai memasuki rumah yang di sambut Bi Narti. Aku kembali ke ranjang dan membenahi tubuhku, aku berpura-pura tidur pulas.




Setelah membuka kemejanya Mas Elang menuju kamar Sya, entah apa yang dilakukannya. Lima menit kemudian Mas Elang kembali ke kamar kami dan kembali duduk di tepi ranjang tepat di sebelah tubuhku. Dengan perlahan Mas Elang mendekatiku, dan ciuman itu terasa di keningku begitu lama. Mas Elang mencium dan memeluk tubuhku penuh kerinduan.



Ranjang itu bergoyang karena pergerakan Mas Elang, dengan masih bertelanjang dada dia memelukku erat.


"Sayang bangun dong....!" ucapnya seraya mengganggu tidurku yang pura-pura tidur.


Karena aku merasa kegelian karena tangan Mas Elang mengusap-usap perutku, terpaksa tidur pura-puraku aku gugurkan. Aku berpura-pura baru terbangun dan merasa terganggu oleh Mas Elang.



"Mas... sudah pulang, tumben pulang larut banget?" tanyaku seraya bergeliat-geliat seolah baru terbangun.

__ADS_1


"Mas... berat, awas dulu! Nada mau bangun!" rengekku yang terkunci oleh pelukan Mas Elang.


"Mas sangat kangen malam ini sayang, sudah lewat sebulan bukan? Kata Dokter boleh melakukannya. Mas tidak tahan, sudah sebulan lebih berpuasa," bisiknya berkabut gairah sambil menatap dalam.



Dengan sekali tarik baju tidur tali yang aku pakai sudah terurai dan terlepas. Aku tidak menduga kepulangan Mas Elang selarut ini malah mengundang hasratnya yang sudah lama terpendam kini bangkit kembali.



"Mas, jangan... Nada takut masih sakit!" cegahku. Mas Elang malah mencium bibirku yang setengah terbuka, tanpa mendengarkan aku yang sedang protes.


"Tidak apa-apa. Dokter bilang jika sudah sebulan lebih, kita boleh melakukannya. Mas sudah kangen, sayang....!" ucapnya sambil melancarkan aksi brutalny melucuti senjata pertahananku. Akupun terbuai dalam bujukan gelora asmara yang ditawarkan Mas Elang.


.


"Aku mencintaimu sayang, sangat mencintaimu. Cuppp....!" Kembali Mas Elang melancarkan rayuan maut dengan melabuhkan ciuman panasnya yang akhirnya kubalas.


"Mas... jangan kasar, Nada takut kenapa-kenapa dengan perut Nada!" peringatku seraya menerima sentuhan-sentuhan nakal dari Mas Elang. Kamipun larut dalam pesona yang sama-sama kami curahkan dalam ikatan gairah yang bergelora di malam itu.



Kegiatan panas itu berakhir, dan kami sama-sama terkulai lemas. Mas Elang nampak sangat kelelahan, membelitkan tangannya di pinggangku lalu tertidur dengan dengkuran yang sedikit berisik. Aku belum bisa tertidur lagi setelah kegiatan tadi. Kutatap lekat wajah Mas Elang yang nampak kelelahan itu. Tiba-tiba air mataku menetes sedih. Sedih karena ingat kembali perlakuan ibu padaku.



"Di sini anaknya di sampingku mencintai aku sepenuh hati, namun di sana ibunya membenciku setengah mati," bisikku dalam hati sembari meneteskan air mata. Kini aku menangis lagi mengingat kembali ucapan ibu yang menyakitkan itu.



"Sayang kamu kenapa... kamu menangis?" Tiba-tiba Mas Elang terbangun dan memelukku dari belakang. Aku tidak menjawab, tangisku malah kian pecah. Mas Elang semakin khawatir dan merasa bersalah.



"Sayang... maafkan Mas ya... Mas membuatmu sedih....!" ucapnya seraya menenggelamkan wajahku di dalam dekapannya. Kalau boleh jujur, ingin aku katakan bahwa aku menangis karena sakit hati oleh perkataan ibu yang kini terngiang-ngiang kembali.



Setelah tangisanku reda, Mas Elang perlahan membaringkan kembali tubuhku di sampingnya dan memeluk memberikan kenyamanan untukku.

__ADS_1


__ADS_2