"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Firasat


__ADS_3

Tinggal beberapa hari di Yogyakarta aku sudah merasakan betah, daerah yang dekat dengan kost-kost'an itu sangat strategis untuk orang yang berjualan. Kebetulan Om Zainal suaminya Tante Mirna membuka kedai angkringan si sekitar Malioboro. Angkringan yang di Malioboro merupakan angkringan anak cabang milik Om Zainal. Pusatnya masih di Yogyakarta, dan cabang-cabang yang lain tersebar di kota Solo, Klaten juga Kendal.



Om Zainal merupakan Pengusaha kuliner angkringan yang lumayan terkenal di mata penikmat angkringan. Sejak menikah dengan Om Zainal, Tante Mirna langsung diboyong ke Yogyakarta mengikuti Om Zainal.



Salah satu angkringan yang selalu terpantau langsung oleh Om Zainal adalah angkringan yang berada di Malioboro ini. Angkringan yang dibuka setiap sore hari ini selalu ramai oleh pengunjung dari berbagai kalangan. Untuk membunuh bosan, tiap sore aku mengikuti Tante Mirna ke kedai angkringan. Walaupun sebetulnya tenagaku tidak dibutuhkan, karena sudah ada dua pelayan yang bekerja, namun kadang aku senang membantu melayani para pembeli dari berbagai kalangan.



"Ayo Kak...!" ajak salah satu anak perempuan Tante Mirna yang paling besar, dia sudah duduk di bangku kelas 2 SMA atau kelas XI.


"Ayo....!" sahutku sambil mengikuti Dina.


Tiba di angkringan, tenda sudah terpasang dan menu sudah dipajang. Para pelayan angkringan sudah berjibaku dengan pesanan para pembeli. Karena melihat begitu sibuk, aku ikutan membantu, walaupun dilarang Tante Mirna aku tetap membantu mereka. Dan ini begitu menyenangkan, mengantar pesanan ke setiap meja pelanggan. Meja yang tingginya hanya selutut orang dewasa, dan para pelanggan hanya duduk lesehan. Namun mereka begitu menikmati.



Sedangkan Om Zainal, dia mengawasi angkringan yang berada di jalan Wongso, biasanya Om Zainal suka dibuntuti anaknya yang paling bontot yaitu Adi. Adi memang paling dekat dengan Om Zainal dan paling rajin membantu. Jiwa bisnisnya sudah terlihat sejak dia sering ikut jualan bersama Om Zainal. Walaupun Om Zainal sebagai ayah sering memperingatkan supaya Adi jangan sering ikut ke angkringan, karena masih sekolah. Namun Adi tetap ikut Om Zainal, alasannya ingin sambil belajar bisnis. Masih muda tapi jiwa bisnisnya sudah kelihatan.



"Besok, kita ke Pasar Klewer yuk Kak, mungpung hari Minggu," ajak Dina disela-sela istirahat setelah selesai menghidangkan pesanan pelanggan.


"Boleh, memangnya Pasar Klewer dekat dari sini, Din?"


"Lumayan sih Kak, kita naik becak saja dari sini."

__ADS_1


"Ok deh. Besok kita berburu baju batik." Aku menyetujui ajakan Dina untuk besok pagi.


Jam 9 malam angkringan masih ramai, terlebih ini hari Sabtu, otomatis orang-orang pada bermalam mingguan di sekitar Malioboro. Suasana semakin ramai dan riuh oleh pengunjung. Tiba-tiba perutku terasa mual dan kepalaku terasa sakit lagi.



"Kak Nada... kenapa? Kakak seperti kurang enak badan?" Dina menebak apa yang aku rasakan dengan muka was-was.


"Nggak tahu ini Din, Kakak tiba-tiba sakit kepala." jawabku disertai ringisan kecil.


"Kakak pulang saja yuk, Dina antar pakai motor," ajak Dina. Aku menggeleng pelan.


"Kamu pulang saja Nad, kayaknya kamu masuk angin. Dari kemarin kamu bantu Tante, sekarang bantu lagi. Akhirnya kamu ambruk dan masuk angin. Biarlah... di sini kan ada pelayan. Kamu pulang diantar Dina, ya. Angkringan masih lama tutupnya, karena kalau malam minggu pengunjung datang silih berganti," bujuk Tante Mirna yang tiba-tiba muncul dari belakang kami.


Aku berpikir sejenak, karena Dina dan Tante Mirna memaksa, akhirnya aku pulang duluan. Tiba di rumah Tante Mirna aku segera ke kamar mandi. Membersihkan diri dan sikat gigi.




Aku masuk kamar sembari menenteng segelas teh jahe hangat. Perlahan aku sandarkan tubuhku di kepala ranjang sambil menunggu teh jahe hangatku sedikit menghangat. Sejenak aku merogoh Hpku yang sejak kemarin tidak aku buka. Sementara tangan kiriku meraih gelas yang berada di meja kecil di kamar itu.



"Prangggg!!!" gelas itu jatuh dan air teh jahe hangatnya seketika berhamburan kemana-mana. Tanganku menggantung di udara, sebab benda yang aku maksud sudah berpindah posisi.


"Ya Allah.... !" gumanku. Bi Nurmi dan Dina berlarian menuju kamarku panik.


"Kenapa Kak?" Dina bertanya panik.

__ADS_1


"Gelasnya jatuh, Din. Biar saja, biar Kakak yang bersihkan," cegahku yang melihat Dina akan membersihkan lantai yang basah serta ada pecahan gelasnya.


"Biarkan Bibi yang bersihkan Neng," ujar Bi Nurmi yang sudah siap dengan elap dan sapu serta wadah penampung sampah di tangannya. Dengan sigap Bi Nurmi membersihkan tumpahan air teh jahe hangat beserta pecahan belingnya.



"Terimakasih, Bi!" ucapku. Bi Nurmi mengangguk dan keluar kamar. Dina juga kembali ke kamarnya. Tidak berapa lama Bi Nurmi kembali dengan teh jahe hangat yang baru.


"Makasih banyak ya, Bi!" ucapku. Bi Nurmi tersenyum ramah lalu kembali keluar kamar.


Langsung saja aku minum teh jahe hangat itu, seketika sakit kepalaku sedikit reda. Sejak gelas tadi jatuh dan isinya tumpah, pikiranku tiba-tiba teringat akan Sya. Bayangan Sya yang menggemaskan menari-nari di kepala. Juga Mas Elang, aku sungguh tidak bisa membuang jauh-jauh pikiranku tentang Mas Elang dan Sya.



"Mas Elang... Sya... Nada rindu kalian....!" lirihku seraya menahan embun yang siap jatuh di permukaan pipi. Karena saking lelahnya tidak terasa aku memejamkan mata karena ngantuk.



Besoknya, aku diajak Dina ke Pasar Klewer. Tentu saja atas izin dari Tante Mirna dan Om Zainal. Di pasar Klewer aku membeli beberapa potong baju batik untukku.



Saat aku membelokkan badan mengikuti Dina ke arah kiri, aku melihat sosok yang aku kenal.


POV Author


Elang meletakkan HPnya diatas meja pasien ruang rawat VIV. Saat itu, Sya baru saja tidur setelah diberi obat oleh Dokter. Sejenak Elang ingin memejamkan matanya yang terasa sepet karena hampir semalaman ia tidak tidur. Memikirkan pesan WAnya yang sama sekali tidak dibaca Nada. Desah lelah dan kesal menyatu dalam dada. Perlahan Elang memejamkan matanya.


Bunyi telpon WA Elang tiba-tiba bersuara nyaring. Dengan malas Elang mengangkatnya tanpa melihat siapa yang telpon.

__ADS_1


"Hallo Assalamu'alaikum... Apakabar Bro...? Bro... kamu dimana? Kamu di Yogya ya, kenapa tidak bilang-bilang? Aku sedang ada dinas luar kota nih. Kebetulan di kota yang sama kota gudeg," ujar orang di ujung telpon sana. Elang bengong tidak paham dengan maksud pembicaraan Bintang ke mana arahnya. Tanpa melihat siapa yang menelpon, dari suaranya Elang sudah hafal betul itu suara Bintang.


"Wa'alaikumussalam... iya Mas, Yogya? Siapa di Yogyakarta? Aku tidak kemana-mana. Aku sedang menunggu Sya di RS. Dia sakit karena ulah Mayang." Balas Elang penuh tanda tanya.


__ADS_2