"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Obrolan Romantis Vidio Call


__ADS_3

Aku kembali ke kamar dengan hati yang sedikit plong. Tiba di kamar aku langsung memburu Hpku yang sedang dicas. Hampir 99 persen. Dan aku membukanya, aplikasi WA sudah banyak yang kirim WA. Salah satunya dari Mas Elang.



Sebelum membuka satu persatu pesan WA Tiba-tiba video call dari Mas Elang bunyi. Aku antara senang dan sedikit malu. Segera ku cari Sya untuk memberi tahu bahwa Papanya menghubungi.



Namun Sya yang aku cari tidak ada. Terpaksa VC itu aku angkat tanpa menunggu kehadiran Sya.


"Assalamu'alaikum! Sayang, kamu kemana saja sih, dari tadi aku VC tidak diangkat, memangnya kamu lagi apa?"


"Waalaikumsalam, Hp Nada tadi habis batrenya dan Nada tinggal saat jalan-jalan sama Ibu ke taman taman kota."


"Benarkah kalian ke taman kota?"


"Iya, Mas. Ibu yang mau, dan Nada ikut."


"Tapi ... saat di taman kota, kami malah bertemu Mbak Sonia. Dia menghina Nada persis seperti yang Ibu lontarkan untuk Nada." (Menangis saking tidak kuat membayangkan hinaan Sonia).


"Sonia, kalian bertemu? Ya ampun. Jika Mas ada disitu maka akan aku jebloskan lagi dia ke penjara. Kurang ajar dia. Mas yakin, Sonia juga dibebaskan atas jaminan orang yang sama, yaitu Zulfikar." (Bersungut-sungut dengan wajah yang sangat marah terlebih melihat Nada kini menangis).


"Cepat pulang, Mas. Nada ingin Mas Elang ada saat Nada sedih." (Masih terisak).


"Sabar, ya, Sayang. Aku masih harus tuntaskan masalah di sini dulu. Kamu kangen ya, baru sehari aku tinggal kamu sudah kangen. Kemarin ngambek tapi sekarang kangen, luar biasa istri aku ini? Sudah Sayang, jangan nangis lagi ya!" (Membujuk).


"Ngomong-ngomong Sya di mana?"


"Sya bersama Bi Ijah, tadi ke depan rumah dan minta dibelikan es cingcau. Tidak apa-apa, kan, Mas?"


"Tidak apa-apa, Sayang. Asal jangan sering, nanti dia kebiasaan."


"Mas kapan pulang?" (Nada).


"Kangen ya? Kamu nanyain Mas pulang?" (Elang).


"Di sini sepi Mas, tidak ada Mas Elang." (Nada).


"Di sini juga sepi, tidak ada kamu."


"Nada serius, Mas."

__ADS_1


"Aku juga serius, Sayang."


"Mas, sebetulnya Mas Elang keluar kota ke mana sih, kenapa tidak bilang saja di mana?"


"Mas di Bali, Sayang. Mas ada proyek di sini."


"Bali? Kenapa Mas Elang tidak ajak Nada dan Sya kalau ke Bali."


"Ini kerjaan, Sayanggg bukan liburan."


"Ok, kalau begitu Mas sudahi dulu VCnya ya, nanti malam Insya Allah Mas hubungi kembali. Mas. juga ingin bicara sama Sya."


"Mas, kenapa sebentar?"


"Pengen lama, ya, Sayang? Nanti saat Mas pulang, Mas kasih lama deh, ya." (sembari tertawa menggoda)


"Massss, jangan bercanda!"


"Tidak, Sayang. Mas betulan. Nanti kalau pulang kamu kasih lama juga ya."


"Mas Elanggggg, Nada tutup VCnya ya." (Dengan wajah yang cemberut)


"Kamu makin cantik deh kalau ngambek begitu."


"Nada tutup ya, Mas. Assalamu'alaikum." (Ditutupnya dengan perasaan sebal karena digoda Elang. Sebal tapi sebenarnya rindu berat).


Saat aku menyudahi VC dengan Mas Elang, tiba-tiba Sya datang. Padahal baru saja aku tutup. Tapi haripun sudah begitu nanggung, karena bersamaan dengan kumandang azan Maghrib. Aku putuskan akan menghubungi Mas Elang kembali setelah sholat Maghrib, demi memenuhi rasa rindu Sya.



"Sya, nanti setelah sholat Maghrib kita telpon Papa, ya," ujarku menghibur Sya yang sedih karena belum bisa bicara dengan Mas Elang. Sya, diam dengan mata yang berkaca-kaca. Aku tahu anak itu begitu rindu dengan Papanya, asal sudah bicara dan dibujuk Mas Elang, maka Sya akan menurut dan patuh.



Sholat Maghrib berlalu, aku mencoba menghubungi Mas Elang. Namun susah sekali masuk, rupanya Mas Elang sedang dalam panggilan lain. Akhirnya aku harus membujuk Sya supaya jangan merajuk.



Jam 8 malam, Mas Elang baru menghubungi namun dalam keadaan Sya sudah ngantuk. Aku jadi bingung harus bagaimana, namun Mas Elang menyarankan untuk memberikan telponnya kepada Sya. Biarkan Sya yang memilih mengangkat atau tidak.


__ADS_1


Saat Sya mendengar Papanya nelpon, seketika Sya terbangun dari rasa kantuknya. Dia segera meraih Hp yang aku pegang, antusias Sya berbicara dengan Mas Elang. Kerinduannya kini terobati setelah mendengar suara Mas Elang. Akhirnya lamat-lamat Sya tertidur dengan telpon yang masih menyala.



"Sya, sudah bobo, Mas?" Beritaku.


"Pantesan, tidak terdengar suaranya lagi. Kamu belum mau bobo, Sayang? Pindahlah ke kamar kita, kita berpacaran di sana. Temani aku sampai jam 10 malam, Mas sedang mengerjakan laporan pembangunan proyek di sini," ajaknya, aku patuh dengan arahan suara Mas Elang ditelpon, seraya tersipu malu. Padahal Mas Elang tidak melihat aku, tapi kenapa aku bisa merasa malu-malu begini?


Sudah mau lima hari Mas Elang di kota Bali dan komunikasi kita hanya via telpon. Aku sudah sangat rindu dengan lelakiku itu. Terlebih Sya, setiap pulang sekolah selalu menunggu telpon dari Mas Elang.



Pagi itu, hari Senin. Aku sengaja ikut Pak Udin mengantar Sya sekolah, dengan tujuan utamaku adalah Bidan Dina. Setelah mengantar Sya, aku langsung minta diantar Pak Udin ke Klinik Sejati tempat Bidan Dina praktek. Setibanya di sana aku disambut ramah olehnya. Seperti biasa aku berbaring untuk diperiksa.



"Suaminya ke mana Mbak Nada, pasti sibuk kerja ya?"


"Kebetulan sedang ada pekerjaan di luar kota, jadi tidak bisa mengantar."


"Ok, keadaan janin sehat. Dan Alhamdulillah sekarang ibunya sudah mulai bagus makannya, jadi ke janinnya juga bagus. Saya kasih resep seperti biasa, obat pereda mual."


Mendengar penjelasan dari Bidan Dina seperti itu, aku merasa lega. Aku dipersilahkan pulang dan kembali lagi bulan depan.


"Alhamdulillah, Sayang, kamu sehat di dalam perut Mama. Tunggu enam bulan lagi ya, Insya Allah kita akan ketemu di dunia," bisikku sembari berjalan menuju mobil yang disupiri Pak Udin menuju rumah.


Dan aku pun pulang dengan hati yang senang. Saat itu masih jam 9.30 wib. Keadaan rumah sangat sepi. Hanya ada Usep saja yang terlihat membuka gerbang, sedangkan Bi Narti kata Usep sedang ke pasar, Bi Ijah di taman belakang. Namun saat ku lihat tidak ada tanda-tanda Bi Ijah di sana.



Tanpa aku hiraukan keadaan rumah yang sepi, aku menuju tangga dan langsung ke kamar. Sejenak aku membaringkan tubuh yang terasa lelah, namun aku segera bangkit untuk membersihkan diri. Ke kamar mandi membersihkan diri. Setelah membersihkan diri, aku keluar hanya dengan memakai handuk.



Duduk mematut di depan cermin dengan rambut yang masih basah. Saat berdiri hendak menuju lemari dan mengambil pakaian, tiba-tiba ada sebuah tangan yang kekar melingkar di pinggang serta di dadaku. Sontak aku terperanjat namun wangi parfum yang tidak asing di hidungku membuat aku terlena dan tidak berontak.



"*Mas Elang*," batinku dengan hati yang bahagia. Pada saat tubuhku dibalikkan, betapa aku sangat terkejut sekaligus bahagia.


__ADS_1


"Mas Elangggg," alangkah bahagianya aku sebab yang ada di hadapanku benar-benar Mas Elang, lelaki yang sangat aku rindukan. Saat itu juga kueratkan pelukanku dengan rasa haru. Aku menangis bahagia, tidak disangka Mas Elang pulang tanpa memberi kabar.


__ADS_2