
Pagi yang indah di kota Tabanan, terasa sejuk. Matahari masih malu-malu menampakkan sinarnya. Hawa dingin sampai menembus kulit, sehingga membuat malas seisi bumi untuk melakukan pergerakan di pagi ini. Nada dan Elang pun masih bergelung selimut di sisi kiri dan kanan Sya.
Setelah pergumulan hebat tadi malam hingga dini hari, mereka pindah ke kamar Sya untuk melanjutkan mimpi di sana. Sya sangat nyenyak malam tadi, sehingga kedatangan Elang dan Nada ke ranjangnya tidak sama sekali mengganggu.
Nada kembali memeluk Sya yang terasa nyaman baginya. Elang menatap sekilas ke arah Nada sambil mencubit kecil hidung Nada. Elang membayangkan kejadian tadi malam hingga dini hari, dirinya dan Nada sama-sama menikmati kebersamaan panjang itu dalam gelora asmara yang membara.
"Mas, jangan kasar!" cegahnya saat tadi malam Elang merangsek menikmati setiap jengkal tubuh wangi Nada. Nada begitu menggemaskan, mencegah namun dirinya seakan pasrah dan menantang Elang untuk terus merangsek.
"Apa sih, Mas, malah ketawa-ketawa? Jangan-jangan sedang membayangkan hal mesum?" tuding Nada merengut.
"Iya, betul banget. Aku sedang membayangkan hal mesum bersama kamu semalam." Elang kembali mencubit hidung Nada sembari tertawa puas menjahili Nada. Nada hanya bisa merengut kesal digodain seperti itu. Dia menjadi malu jika harus membayangkan kejadian semalam. Menolak tapi mau juga dan pasrah, betapa malunya Nada.
"Tuh, kan pasti kamu juga sedang membayangkan kejadian semalam, kamu sangat agresif dan nakal malam tadi, Sayang. Dan Mas menyukainya." Elang masih belum berhenti menggoda Nada sampai pipi Nada mirip tomat cery yang merah.
Nada bangkit pelan menuruni ranjang, dia takut membangunkan Sya yang masih nyenyak. Nada keluar kamar meninggalkan Elang yang masih tersengeh jail kepadanya.
Tiba di ruang tengah homestay, Nada menghampiri jendela kaca dan membukanya. Letak jendela sangat bagus, yakni menghadap ke arah timur. Matahari yang sudah tidak malu-malu lagi, dengan seenaknya menerobos masuk ke dalam celah jendela yang semakin lebar.
Seketika Nada menutupi matanya dengan sebelah tangannya, rasa silau kini dia rasakan. Namun matahari pagi ini rasanya hangat dengan udara yang menyejukkan. Sisa semalam habis hujan yang membuat pagi di kota Tabanan ini terasa sejuk dan nyaman.
Nada menghirup banyak-banyak udara pagi ini. "*Terimakasih, ya Allah, masih Kau limpahkan kami* *kehidupan di pagi ini, dengan segala kebaikan-Mu*. *Kami masih bisa menyambut pagi ini dengan* *bahagia*." Dalam hati Nada berterimakasih pada Yang Maha Kuasa atas limpahan nikmat yang selama ini dia rasakan.
"Kepppp." Tiba-tiba dua tangan sudah melingkar di perut Nada. Nada sudah tahu pelakunya, sudah pasti Papanya jabang bayi yang selalu menjahilinya. Dan ciuman di pipinya kini bertubi-tubi Elang daratkan.
"Mas, jangan merusak suasana hati Nada. Dagu Mas Elang masih belum dicukur ya, soalnya sakit kena pipi Nada." Nada komplen sembari mengusap tulang pipinya yang kena sosor kumis Elang yang tumbuh, tapi terasa sakit.
"Masih sakit ya, Sayang? Padahal semalam, kan nggak. Malah kamu nagih terus," godanya lagi masih mengungkit kisah manis semalam. Nada malu-malu, dia merengut dan berusaha melepaskan pelukan Elang.
"Sayang, hari ini kita jalan-jalan menjelajahi kota Bali, apakah kamu mau?"
"Apaaa, jalan-jalan? Mau dong, Mas. Masa ke Bali cuma duduk tidur di penginapan saja," ujarnya sembari berbalik badan menghadap Elang dan menatap Elang dengan bahagia.
__ADS_1
"*Ya ampun, Sayang, kamu sebahagia itu cuma* *diajak jalan-jalan saja*." Elang berguman dalam hati. Tiba-tiba sudut matanya menyimpan bulir bening yang siap akan jatuh, Elang terharu mendapati kenyataan bahwa Nada sesederhana itu dan benar-benar tulus. Elang memang terlalu bodoh, selalu mendengar pengaruh Mamanya bahwa Nada ingin menjadi istrinya karena melihat Elang kaya dan karena hartanya.
Melihat suaminya berkaca-kaca, Nada sangat heran. Lantas dia mengambil tisu dan mengusap bulir bening yang hampir jatuh itu. "Mas Elang kenapa sih, kok mau nangis?" tanyanya.
"Tidak, Sayang. Mas hanya terharu melihat kebahagiaanmu sesederhana itu. Mas merasa bersalah tidak bisa memberikan ini semua sejak awal," ucap Elang menyesal.
"Sudah dong Mas, tidak perlu disesali, toh ini sudah terjadi. Dan lagi Nada tidak pernah minta Mas Elang harus memberikan harta berlimpah untuk Nada. Buat apa juga harta berlimpah kalau tidak ada kebahagiaan batin, percuma. Sekarang Nada merasakan kebahagiaan batin yang luar biasa dari Mas Elang yang sudah perhatian, dan Ibu yang mulai bisa menerima Nada walaupun belum mau bicara banyak sama Nada," ucap Nada panjang lebar menenangkan keresahan hati Elang.
Elang menatap Nada, dia tersenyum bahagia mendengar semua kata-kata Nada yang menenangkan.
"Mas, kan homestay ini mau disewakan kenapa kita tempati? Terus seprei yang di ranjang itu sudah kita pakai. Nanti bagaimana jika ada yang menyewa?" Nada terlihat khawatir.
Elang tertawa, merasa lucu dengan pertanyaan Nada yang memang baru kali ini memiliki usaha homestay. "Tenang saja, Sayang. Tidak usah khawatir. Homestay ini akan kita sewakan bulan depan. Kalau sekarang, biarlah kita terutama kamu sebagai pemiliknya menikmati dulu. Nanti setelah kita pulang, homestay ini akan disterilkan dan dibersihkan. Seprei dicuci dan diganti dengan yang baru. Mas sudah rekrut pegawai untuk menjaga dan memelihara homestay ini kok." Elang menjelaskan. Nada mengangguk paham.
"Jadi, apakah nanti siang Anda siap untuk saya ajak jalan-jalan, Nyonya Elang?" Elang menatap penuh harap sembari menerbitkan sebuah senyuman bahagia.
*
*
Siang mulai merekah, jam di dinding menunjukkan pukul 9.00 WITA atau pukul 8.00 WIB. Elang dan Nada serta Sya telah menyudahi sarapan paginya. Elang berencana akan membawa mereka jalan-jalan ke pantai-pantai yang ada di Bali ini.
Sama halnya dengan Bintang Negara, hari ini dia juga berencana ingin mengajak Rafa ke pantai Sanur dan Legian. Tujuan Elang dan Bintang ternyata tidak sama, namun kedua anak mereka ingin selalu bersama. Akhirnya Elang dan Bintang mengikuti kemauan dua bocah beda umur itu. Yang penting mereka ke pantai ingin naik Banana boat bukan mau jalan-jalan doang.
Akhirnya Elang dan Bintang pergi bersama-sama. Mereka mengikuti kemana keinginan kedua bocah kesayangannya masing-masing. Tujuan pertama, karena mereka ingin main sky, berselancar dan naik Perahu pisang, Elang dan Bintang mengarahkan tujuan ke Tanjung Benoa. Setelah puas bermain, mereka bisa jalan-jalan ke Sanur atau Kuta karena jaraknya tidak terlalu berjauhan.
Tidak susah bagi Bintang untuk mendapatkan tumpangan. Sebab di Bali, Bintang merupakan orang yang berpengaruh kuat di kalangan pengusaha Bali.
Tujuan utama sampai juga ke Tanjung Benoa, walaupun harus menempuh waktu kurang lebih 1.47 menit dari Tabanan. Kegembiraan Sya dan Rafa sungguh tidak bisa tergantikan. Mereka turun dari mobil dan langsung memilih permainan perahu pisang. Elang dan Bintang menemani anak-anaknya menaiki perahu pisang. Sementara Nada menunggu di Gazebo sambil menikmati minuman air degan.
Puas bermain perahu pisang, kedua bocah belum mau berhenti, mereka ingin berselancar. Elang dan Bintang mengabulkan permintaannya. Mereka berdua pun membersamai kedua bocah tampan itu dan mengawasi.
__ADS_1
Ketika Nada sedang menunggu, tiba-tiba telpon WAnya berbunyi. Nada mencari HP siapa yang bunyi, rupanya miliknya. Saat Nada lihat siapa yang menghubunginya, Nada cukup terhenyak. Nadie teman masa kecil dan tetangga dekatnya saat di Bandung menghubungi. Nada bingung apa yang harus dia lakukan, mengangkatnya atau membiarkan? Nada membiarkan bunyi panggilan itu berakhir. Namun beberapa menit kemudian berbunyi lagi, seakan tidak sabar untuk diangkat.
Dengan terpaksa Nada mengangkatnya.📱"Assalamu'alaikum, Nad! Ini aku Nadie, apa kabarnya sekarang?" (Nadie)
📱"Wa'alaikumsalam. Kabar Nada baik, Kak Nadie. Sebaliknya bagaimana?" (Nada)
📱"Aku, Alhamdulillah baik. Oh iya, aku mau minta maaf telah lancang meminta nomer telpon kamu dari Bapak. Saat itu aku ke bengkel Bapak, dan meminta nomer HP kamu. Tadinya Bapak tidak mau memberikan, tapi karena aku memaksa akhirnya Bapak memberikan nomer kamu. Sekali lagi aku minta maaf ya!" (Nadie)
📱"Ohhh, tidak apa-apa Kak Nadie. Memangnya ada apa Kak Nadie menghubungi Nada?" (Nada)
📱"Boleh tidak aku bertanya, Nad?" (Nadie)
📱"Masalah apa, Kak?" (Nada)
📱"Nad, benarkah kamu sudah melupakan Kakak? Ingat tidak dahulu kita sering main sama-sama dan berangkat sekolah bersama?" (Nadie)
📱"Nada masih ingat Kak, tentang kenangan kita. Nada tidak pernah melupakannya." (Nada)
📱"Jadi, kamu belum lupa dengan hubungan kita?"(Nadie)
📱"Hubungan yang mana, Kak?"(Nada)
📱"Hubungan dekat kita, bukankah dulu aku pernah menyatakan cinta sama kamu, yaaa walaupun kamu tidak menjawab secara langsung, tapi kita sering bersama dan kamu tidak pernah menolaknya. Jadi, apakah kamu tidak mau mengingatnya barang sedikitpun?"(Nadie)
📱"Maaf Kak Nadie, hubungan kita yang dulu itu kan sudah lama, dan menjadi masa lalu. Sekarang Nada sudah menikah dan punya suami. Malah sekarang Nada sedang hamil anak pertama. Jadi, Nada minta maaf, kalau Nada tidak bisa kembali ke masa lalu. Sebab kita bukan siapa-siapa lagi. Nada sudah ada yang memiliki." (Nada)
Untuk beberapa saat suara di ujung telpon sana tidak terdengar, seakan sedang mencerna pembicaraan Nada barusan.
📱"Kak Nadie, halooo" (Nada)
📱"Ya sudah kalau begitu, Nad. Aku minta maaf karena telah mengganggu waktu kamu. Semoga kamu bahagia bersama keluarga kamu." (Nadie).
Belum sempat Nada mengakhiri atau mengucapkan salam, Nadie sudah memutus sambungan teleponnya. Nada cukup terhenyak, bersamaan dengan itu Elang tiba-tiba datang dan mengagetkan Nada yang termenung memikirkan Nadie yang tanpa basa-basi memutus hubungan teleponnya.
"Selesai berbincang dengan mantan pacar, ya?" Sinis Elang tiba-tiba nyelonong memberi pertanyaan yang membuat jantung Nada berdegup tidak beraturan. Seperti sedang ketahuan selingkuh, padahal bukan.
"Mas, tadi Kak Nadie nelpon. Dia cuma basa -basi menanyakan kabar Nada dan memberi ucapan selamat buat kehidupan rumah tangga kita," jawab Nada sedikit gugup. Elang tersenyum hambar seraya meraih HP Nada, lalu mengutak-atik Hpnya. Di sana Elang menemukan dua panggilan tidak terjawab dari nomer yang sama dengan nomer yang Nada terima. Kemudian Elang memblokirnya tanpa basa-basi.
"Nada minta maaf, tadi Nada tidak bermaksud mengangkatnya," ucap Nada berharap Elang memahaminya. Elang diam, matanya menyiratkan marah, lalu mengembalikan HP Nada ke tangan Nada sedikit kasar. Nada terhenyak dan menjadi sedih.
Sementara itu, di sebuah rumah mewah, seorang pemuda berwajah tampan nampak sedang mengakhiri sambungan telpon dengan seseorang, dialah Nadie. Nadie sangat sedih setelah mendengar pembicaraannya dengan Nada. Dia kecewa Nada tidak bisa dia dapatkan lagi.
"Nada, padahal aku datang ke sini sengaja mencarimu. Semua rumah, harta yang aku miliki hanya untukmu, tapi kamu sudah ada yang memiliki. Aku kecewa Nad, ternyata kamu tidak pernah mencintai aku," ujarnya pelan dengan tatapan sedih.
__ADS_1
"Sudah Nad, jangan terlalu memikirkan Nada, dia masa lalu kamu. Dia sudah bahagia dengan suaminya, jangan paksakan hatimu untuk memilikinya. Karena itu tidak baik, dia sudah milik orang lain." Seorang wanita paruh baya di sampingnya berusaha memberi kekuatan dan dukungan buat Nadie, anaknya tercinta. Sembari mengusap bahunya penuh kasih sayang.