"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Kesembuhan Ibu Sri


__ADS_3

Karena rajin terapi dan sering konsultasi dengan Dokter, akhirnya satu bulan kemudian, sakitnya Bu Sri dinyatakan sembuh. Terlebih tekad dalam diri Bu Sri begitu kuat untuk sembuh. Semua bahagia, terutama Elang. Elang bersujud syukur atas kesembuhan Mamanya.


"Alhamdulillah, Mama sudah sembuh. Mama sudah bisa jalan," ujar Elang bahagia sembari merangkul pundak Mamanya.


"Selamat, Bu. Ibu sudah sembuh. Nada sangat bahagia." Nada memeluk Bu Sri persis yang dilakukan Elang. Semua nampak bahagia. Sya yang belum tahu Bu Sri sudah bisa jalan, rencananya akan dikasih kejutan. Elang merencanakan sesuatu untuk menyambut kepulangan Elang dari sekolah.


"El, Mama setelah ini ingin kembali ke rumah. Kasihan Inah di sana kesepian."


"Ma, Mama belum bisa ke sana sebelum sembuh benar, Dokter bilang dalam waktu sebulan Mama masih harus di terapi untuk melancarkan semua peredaran darah di sekitar kaki. Jadi dalam sebulan ini Mama masih harus dalam pantauan Dokter," cegah Elang.


"Mama rindu rumah El, biar saja dalam sebulan ke depan Mama diterapinya di rumah Mama. Biar Vera juga ikut ke rumah Mama. Dalam waktu sebulan Vera masih merawat Mama. Tolong, El. Mama sangat rindu rumah," rengek Bu Sri tidak biasanya.


"Kenapa Mama tidak di sini dulu sampai Mama benar-benar normal kembali."


"Tidak, El. Rasanya Mama ingin dalam waktu sebulan merasakan menikmati perjuangan Mama untuk sembuh di rumah Mama sendiri. Biar Mama relaks berlatih jalan di sana dan fokus," pintanya lagi. Elang merasa aneh dengan permintaan Mamanya ini, kenapa tidak sekalian saja dituntaskan pengobatannya di rumah Elang.


"Sudah, El, tidak perlu heran begitu. Mama hanya ingin di masa-masa pemulihan ini Mama fokus berlatih di rumah Mama. Mama hanya ingin memberi kejutan pada kalian saat Nada melahirkan cucu Mama," ujarnya teguh dengan keinginannya. Elang tidak bisa mencegah lagi.


Baiklah Ma, Elang kabulkan keinginan Mama. Mama fokus ya di sana berlatih jalannya. Biar Mama benar-benar normal kembali. Dan ingat pantangan dari Dokter masalah makanan, Mama tidak boleh makan yang keasinan." Elang memperingatkan Ibu Sri.


"Tenang saja El, Mama akan ikuti apa kata Dokter. Mama, kan ingin sehat," ujar Bu Sri dengan senyuman yang terbit di bibirnya. Kali ini Nada benar-benar melihat mertuanya berbeda, sangat bahagia dan ceria. Keadaan seperti ini baru pertama kali Nada lihat di sini, di saat Bu Sri dinyatakan sembuh. Mungkin ini hikmah dari sebuah musibah atau ujian. Dan pantas kiranya Bu Sri dibilang lulus ujian, melihat sikapnya yang berubah semakin baik.


Siang itu Sya pulang dari sekolah. Dia biasa mencari Nada dan mendahului langkah Elang. Sya berlari kecil seraya berteriak. "Bundaaaa, Bundaaaa, assalamu'alaikum!" Sebelum naik ke atas, Sya bertemu dengan Neneknya. "Nenek!" Sya menyapa Neneknya lalu mencium tangan Bu Sri.


"Sya, mau cari Bunda ya?"


"Iya, Ne. Sya mau ke atas dulu," ujar Sya. Sebelum Sya melangkah Bu Sri berhasil mencegah Sya.


"Sya, nene juga mau ke atas, kita sama-sama ke atasnya, ya," serunya membuat Sya heran.


"Nenek jangan ke atas! Nenek kan belum bisa jalan," cegah Sya. Elang yang menguntit dari belakang sengaja berjalan pelan ingin melihat reaksi Sya jika melihat Neneknya bisa jalan.

__ADS_1


Sya melihat Neneknya mengikuti dari belakang dan menuju tangga. Lalu Bu Sri perlahan berdiri dan meraih pembatas tangga. Saat Sya melihat dengan jelas Neneknya mengikuti dari belakang dan mulai berjalan, Sya terkejut dan berteriak kepada Elang yang kebetulan sudah ada di belakang Bu Sri.



"Papa, itu Neneee!" teriaknya menunjuk Bu Sri yang mulai selangkah demi selangkah menaiki tangga. Elang tersenyum seraya meletakkan telunjuknya supaya Sya tidak teriak lagi. Sya patuh dan mengikuti arahan Elang.



"Sya, berjalanlah dulu. Nanti Nenek dari belakang." Walaupun Sya masih syok karena melihat Neneknya yang tiba-tiba berdiri dan berjalan, Sya patuh akan arahan Elang sang Papa.



Tiba di pintu kamar, Nada sudah berdiri dan menyambut kedatangan Sya.


"Bundaaa, lihatlah Nenek!" tunjuk Sya ke arah Neneknya. Nada tersenyum karena sudah tahu Bu Sri bisa berjalan. Walau masih pelan, selangkah demi selangkah akhirnya Bu Sri sukses menaiki tangga.


Tepuk tangan Nada diberikan buat Bu Sri dengan spontan. Nada terharu melihat mertuanya sudah berhasil sembuh.


"Nenek sudah bisa berjalan, Nene hebatttt, asikkk, kalau Nenek sudah bisa berjalan, nanti kita jalan-jalan ke taman ya, Nek!" seru Sya bahagia. Bu Sri tersenyum merespon kebahagiaan yang dirasakan Sya.



"Nenek belum bisa diajak jalan-jalan sekarang, Sya. Nenek harus benar-benar pulih dulu. Nanti kalau sudah pulih dan normal kembali, kita janji akan bawa Nenek jalan-jalan ya." Elang menghampiri dan menimpali kegembiraan Sya melihat Neneknya berjalan.



Sore itu akhirnya Bu Sri minta pulang. Walaupun Elang sudah mencegahnya, akan tetapi dengan alasan ingin fokus untuk pemulihan kesembuhannya, Bu Sri memaksa pulang. Ia juga rindu akan suasana rumah yang sudah lama dia tinggalkan.



"Nada, aku pulang ya. Aku minta maaf jika kehadiran aku di sini mengusik ketenanganmu," ucapnya pelan kepada Nada. Nada menatap mertuanya sedih, kenapa Bu Sri berbicara seperti itu, padahal Nada tidak merasa terusik.

__ADS_1



"Kenapa Ibu berbicara seperti itu, Nada tidak merasa terusik, Bu. Nada justru yang minta maaf sama Ibu, selama Ibu di sini Ibu tidak Nada perhatikan. Nada benar-benar minta maaf," ucap Nada memeluk Bu Sri. Kali ini Nada benar-benar merasa emosional dan menumpahkan semua perasaan hatinya dengan menangis di pelukan Bu Sri.



"Nada, benar-benar minta maaf sama Ibu. Nada tidak bisa mengurus Ibu," ulangnya lagi masih menangis. Bu Sri mengusap-usap punggung Nada, baru kali ini dia mengusap Nada. Dan Nada merasa kasih sayang yang dia rindukan dari seorang Ibu kini seolah hadir dalam sosok Bu Sri lewat ucapannya.



"Jaga kandungan kamu ya, Nada. Insya Allah saat lahiran aku datang menengok cucuku," ujarnya sekilas meraba kandungan Nada.


"Iya, Bu. Terimakasih banyak." Nada membalasnya seraya memeluk Ibu Sri.


"Mbak Vera, saya masih percayakan Mama saya dirawat Mbak Vera selama masa pemulihan. Jadi, mulai sekarang Mbak Vera ikut ke rumah Mama saya dan merawatnya di sana," ucap Elang pada Perawat Vera.



"Baik, Pak Elang. Saya siap merawat Ibunya Pak Elang di mana saja." Perawat Vera menyambutnya dengan senang hati.



"Nanti gaji Mbak Vera, saya transfer seperti biasa berikut bonusnya."


Perawat Vera yang mendengar kabar gembira itu, langsung senang dan bahagia.


"Terimakasih Pak Elang dan Neng Nada. Saya merasa senang," ucapnya senang. Elang dan Nada membalas dengan senyuman gembira.



Tidak berapa lama, Bu Sri dijemput oleh Supirnya ke rumah Elang. Elang sebetulnya berat hati, tapi mau bagaimana lagi, Mamanya memaksa. Nada juga sama merasa berat hati akan kepergian Bu Sri dari rumah ini.

__ADS_1


Elang mengantar kepulangan Bu Sri sampai rumahnya. Setelah itu Elang kembali lagi dengan perasaan penuh harap akan kesembuhan Mamanya.


__ADS_2