"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Tespek


__ADS_3

POV 1 (Nada)


Ketika Mas Elang pergi aku tiba-tiba merasakan kepalaku sakit, aku dudukkan tubuhku di ranjang sembari memijit pelipisku. "Ya ampun, sakit banget," bisikku lirih. Lantas aku baringkan tubuhku yang mendadak seperti kurang vit.


Memikirkan sikap Mas Elang tadi yang aneh itu, rasanya sakit di kepalaku makin menjadi. Aku berusaha bangkit namun rasanya tubuhku limbung, tadinya bermaksud ingin memanggil Bi Narti atau Bi Ijah dari pintu kamar. Terpaksa aku memanggil mereka lewat telpon rumah.



"Halo Bi Narti, ini saya Nada... tolong buatkan teh jahe hangat ya, saya rasanya sakit kepala dan tidak enak badan. Tolong ya Bi, segera!" perintahku seraya menutup panggilan.



Tidak lama kemudian, Bi Narti datang dengan sebuah gelas berisi teh jahe hangat di atas nampan. Bi Narti meletakkan gelas itu di meja kecil dekat ranjang.


"Silahkan Non, teh jahe hangatnya! Non Nada sakit ya?" ujar Bi Narti sembari membantuku yang ingin bangkit dan duduk di ranjang.


"Iya nih Bi, saya tiba-tiba sakit kepala dan sedikit tidak enak badan. Badan saya juga terasa meriang," keluhku seraya meraih gelas yang berisi teh jahe hangat lalu menyeruputnya.



"Jangan-jangan Non Nada sedang isi," ujar Bi Narti.


"Isi, maksudnya apa, Bi?" tanyaku tidak paham.


"Maksud Bibi, Non Nada kayaknya sedang hamil," ucap Bi Narti yang sontak membuat aku terbelalak tidak percaya.


"Apa benar itu Bi?" yakinku.


"Iya Non, biasanya yang hamil muda akan mengalami sakit kepala. Bi Narti yakin, Non Nada itu sedang hamil. Periksalah Non, apakah Non Nada mau Bibi antar ke klinik untuk diperiksa?" ucap Bi Narti menawarkan bantuannya.


"Ah tidak Bi, nanti saja. Saya akan bilang dulu ke suami saya. Lagipula saya belum ditespek jadi belum yakin," ujarku.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu Non, istirahatkan dulu. Saya kembali ke bawah ya!" pamit Bi Narti seraya ngeloyor meninggalkan kamar.


Seperginya Bi Narti aku termenung sejenak memikirkan ucapan Bi Narti tadi atas dugaannya bahwa aku ini sedang hamil. Seketika senyumku terbit menghiasi bibir. Rasanya jika benar, aku akan sangat bahagia. Tapi... bagaimana dengan Mas Elang? Apakah dia akan bahagia mendengar berita kehamilanku sementara tadi saja dia masih bersikap dingin. Mudah-mudahan saja Mas Elang sudah benar-benar memaafkan aku masalah di pesta pernikahan koleganya itu.



Aku kembali membaringkan tubuhku setelah meminum air teh jahe hangat yang sedikit membuat rasa sakit di kepalaku mereda. Entah karena rasa nyaman dan Nganjuk, akupun tertidur dalam buaian detak jam dinding.



Kumandang adzan terdengar di berbagai pelosok tempat, sehingga membangunkan tidur di siang bolongku. Aku bergegas ke kamar mandi untuk memenuhi kewajibanku sebagai seorang Muslim.



Jam dua siang tiba, saat itu Bi Narti datang ke atas untuk memberitahuku bahwa makan siang telah siap. Namun aku menolak, dengan alasan ingin menunggu Sya dan Mas Elang pulang. Dan entah kenapa Mas Elang dan Sya belum pulang, ini benar-benar aneh.


"Bi....!" Bi Narti yang hampir beranjak meninggalkan kamar, berbalik dan kembali menghampiriku.


"Iya, Non?"


"Boleh Non!"


"Ini uangnya, dua ya Bi!" ujarku seraya memberikan selembar uang merah ke tangan Bi Narti. Bi Narti segera meraih uang itu dan hendak pergi.


"Kembaliannya buat Bibi saja," ucapku yang disambut baik oleh Bi Narti dan segera pergi dari muka pintu.?


Sesaat setelah Bi Narti pergi, tiba-tiba saja aku merasa mual dan aku harus segera ke kamar mandi mengeluarkan rasa mual yang rasanya mendorong isi perutku. Namun saat aku memuntahkannya, yang keluar bukan sisa makanan, melainkan cairan bening dan yang terakhir cairan kekuningan yang rasanya terasa pahit di kerongkongan.



Rasa mualku sedikit plong setelah tadi aku mengeluarkan sedikit muntahan dari mulutku, yang hanya berupa cairan. Aku keluar kamar mandi seraya memijit-mijit pelipisku, bersamaan dengan itu aku sedikit terkejut karena di dalam kamar sudah ada Mas Elang.

__ADS_1



"Mas...." sapaku seraya menghampiri Mas Elang dan menyalaminya. Ini pertama kali sejak seminggu yang lalu Mas Elang memusuhiku, aku bisa mencium kembali tangan Mas Elang. Mas Elang masih bersikap dingin walaupun tidak sesangar kemarin.



Tiba-tiba Bi Narti datang dan menyeru, "Den Elang dan Non Nada, makan siangnya sudah siap. Dan ini Non, tespeknya. Bibi belinya merek ini, kata Apotekernya ini sangat akurat walaupun digunakan saat mau cek di siang bolong. Tapi kalau ingin lebih apdol sih pagi saat air seni pertama." Aku dan Mas Elang melongo secara bersamaan saat mendengar penjelasan Bi Narti.



Bi Narti permisi keluar dan kini tinggal aku dan Mas Elang. "Tespek? Kami mau periksa kehamilan?" tanya Mas Elang menatapku meminta penjelasan dariku.


"Iya Mas," jawabku singkat dengan sedikit lemas.


"Ya sudah, periksakan sana!" titahnya terdengar tegas. Tiba-tiba aku merangkul Mas Elang dengan perasaan sedih. Sedih dengan sikap Mas Elang yang masih bersikap dingin dan datar.


"Mas, jika Nada hamil apakah Mas Elang akan bahagia?" tanyaku seraya terisak, tangisku tiba-tiba pecah mendadak cengeng.


"Bahagia dong... kenapa sih jadi cengeng begini," Mas Elang memegang kedua pundakku dan menatapku lekat. Kedua mataku semakin perih saja saat ditatap dan kembali mengeluarkan air mata yang lumayan deras.


"Nada minta maaf atas sikap Nada kemarin sama Ibu, Nada sungguh-sungguh menyesal!" ucapku dari dalam hati yang mendadak melow seraya memeluk Mas Elang erat.


Mas Elang mengusap rambutku, yang sontak membuatku nyaman. Ini juga usapan pertama setelah seminggu lamanya Mas Elang mendiamkanku.


"Sudah... aku sudah melupakannya. Kenapa sih kamu jadi cengeng begini, hanya ingin dapat maaf dari aku? Sudahlah sekarang kita makan siang dulu, kasihan Sya sudah lapar," ucap Mas Elang seraya mengurai pelukanku.


"Terimakasih ya Mas!" ucapku seraya memberanikan diri mencium pipi Mas Elang. Mas Elang menyinggungkan senyum seraya meraih tanganku.


"Berani kamu ya... lihat saja pembalasanku nanti malam!" ancamnya membuat aku sedikit ngeri dan segera menuju kamar Sya untuk menghindari rasa malu yang tiba-tiba hadir saat Mas Elang memberikan ancamannya barusan.


"Bunda....!" Sya segera menghampiriku seraya merangkulku, wajahnya sekilas nampak lelah.

__ADS_1


"Ayo Sya, kita makan siang dulu, Lapangan sudah menunggu!" ajakku seraya menuntunnya dan keluar kamar. Sya patuh dan mengikutiku. Kami bertiga berjalan beriringan menuruni tangga. Sementara pikiranku bertanya-tanya dari mana Mas Elang kemarin. Akan aku tanyakan saat Sya nanti akan tidur siang.


Setelah makan siang, aku kembali mengajak Sya ke atas dan masuk ke kamarnya. Sementara Mas Elang pamit pergi setelah ada yang menelponnya. Aku segera membawa Sya ke ranjang. Niat aku ingin menanyakan hal kemarin saat Mas Elang dan Sya tidak pulang aku urungkan karena Sya sudah sangat mengantuk. Dan Syapun tertidur dengan deru nafas yang lelah.


__ADS_2