"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Sandiwara Nada


__ADS_3

Masih POV Author


Setelah memberi tahu keadaan Nada, dan memberi saran apa yang harus dilakukan Elang terhadap Nada selama mengalami morning sickness parah, Bidan Dina berpamitan seraya memberi peringatan sekali lagi, "jangan lupa ikuti apa yang sudah saya sarankan, mohon kerjasamanya, khususnya Pak Elang yang menjadi andil utama atas kehamilan Mbak Nada. Saya permisi dulu!" Bidan Dina pergi seraya menyunggingkan senyum.


Elang nampak tersipu malu seraya menghampiri Nada lalu meraih jemarinya kemudian dirematnya. "Sayang, aku minta maaf. Karena aku terlalu mengabaikanmu," ucapnya lembut seraya menatap mata Nada yang sayu dan sedikit ke dalam. Ini semua karena lelah melawan rasa mual yang parah selama tiga hari yang lalu, serta kurangnya asupan makanan di tubuh Nada. Sementara dirinya tidak sama sekali mendapatkan perhatian dari Elang, hanya ARTnya saja yang bisa Nada mintai tolong.



Nada membuang wajahnya ke arah samping, dari sejak kedatangan Elang, dia sama sekali tidak berbicara pada Elang. Hati Nada kecewa, Elang terlalu cuek terhadap kehamilannya. Disisi lain Nada memaklumi, namun sisi lain hatinya berkata, tidak cuma ibunya saja atau pekerjaan saja yang jadi perhatian, tapi dirinya juga butuh perhatian.



"Sayang, coba dong bicara sama aku, aku tidak mau didiamkan begini. Bicara dong!" desak Elang.


"Pergilah Mas, tidak perlu menunggu Nada. Nada menjadi mual berada dekat dengan Mas Elang," ucap Nada tiba-tiba. Sekali bicara langsung membuat jantung Elang berdebar kecewa.


"Ehh ... kenapa bicaranya seperti itu, aku suami kamu. Masa berdekatan dengan suami sendiri, mual?"


"Iya, Mas, Nada mual. Biarkan saja yang nungguin Nada di sini Bi Narti, Mas pulanglah," usir Nada memaksa. Lagipula Nada memang sangat kesal dengan Elang, jadi dia saat ini sedang berpura-pura merasa mual jika berdekatan dengan suaminya.


"Benarkah kamu mual, Sayang, berdekatan dengan aku. Aku Papanya janin yang kamu kandung, kenapa bisa?"


"Bisa saja Mas, mungkin saja janin dalam kandungan Nada tidak ingin berdekatan dengan bapaknya," alasan Nada.


"Kenapa, aneh, bisa-bisanya begitu?" Elang penasaran. Saat dia makin mendekati Nada, Nada langsung membungkuk seakan mau memuntahkan sesuatu.


"Huek ... huek .... !" begitulah, Nada membuat suasana menjadj dramatis setelah didekati Elang. Rasa kesalnya dijadikan sebuah kesempatan untuk membalas sikap Elang yang kemarin-kemarin sangat abai terhadap Nada, dengan alasan lelah mengurus ibu pekerjaan, dan lainnya lagi, tapi istri seakan tersisih. Padahal saat maunya, memaksa nomer wahid. Itulah Elang, masih tinggi egoisnya.


__ADS_1


"Aduh, Sayang. Mual ya .... ?" Elang kalang kabut dan panik, lalu keluar mencari Bi Narti. Namun Bi Narti tidak ada. Terpaksa Elang kembali lagi karena khawatir, walaupun Nada tidak mau dekat dengannya karena mual.



"Sayang ... Bi Narti tidak ada, bair Mas ambilkan tisu ya, atau Mas antar ke kamar mandi jika kamu mau muntah yang banyak," ujarnya seraya duduk kembali di samping Nada yang sedang mengelap bibir bekas muntah tadi.



"Mas, jangan dekat-dekat, Nada takut mual lagi. Apalagi Mas itu bau!" peringat Nada, sontak Elang mencium sekujur tubuhnya mencium bau yang Nada bilang barusan.



"Mana ada sih bau, kamu itu kayanya lagi ngidam, makanya mencium aku yang wangi seakan bau. Duhhh ... ada-ada saja!" kesalnya.



"Sudah! Mas, jaraknya di situ saja jangan terlalu dekat, kalau dekat Nada takut mual lagi," tahan Nada. Elang terpaksa menurut karena takut istrinya mual dan muntah lagi.




"Mas ... dulu saat Mbak Mayang dalam keadaan hamil, Mas Elang seperhatian apa?" Nada bertanya tiba-tiba tentang Mayang, dengan tatapan mata yang serius namun berkaca-kaca. Elang tersentak, tentu saja kenangan itu tidak ingin dia ingat lagi, mengingat perbuatan Mayang yang merubah cintanya jadi benci.



"Kenapa sih, Sayang kamu bertanya tentang orang lain. Orang yang tidak pernah ingin aku ingat, tolonglah jangan begini. Kamu mau bandingkan perhatian aku dengan masa lalu aku. Dengan mengingatnya, itu terlalu sakit bagi aku. Jadi, tolonglah jangan ungkit masa lalu aku, sekarang ataupun nanti!" tegas Elang protes dan sedikit membara. Dia memang tidak pernah mau mengingat Mayang lagi, sebab rasa sakit yang ditorehkan Mayang baginya terlampau sakit.


__ADS_1


"Pasti, Mas Elang lebih perhatian sama dia, sebab Mbak Mayang adalah menantu yang ibu terima, sedangkan Nada, ibu saja tidak pernah menganggap Nada ada, apalagi perhatian dari Mas Elang." Elang bangkit dan meremat rambutnya, rasa sakit di kepala tiba-tiba muncul begitu saja.



"Mas, tidak ingin bahas siapa-siapa, Sayang. Mas mohon jangan bahas orang lain lagi, Mas tidak akan bisa menahan amarah jika harus ingat dia. Mas terlampau kecewa, kamu tahu itu? Sekarang, yang Mas miliki hanya kamu. Jadi, kamu tidak perlu ragukan cinta aku dan kasih sayang aku sama kamu. Aku mencintai kamu dan menyayangi kamu, tapi disaat kondisi Mama tidak menyukaimu, terlebih sekarang Mama sakit. Apakah aku harus memilih salah satu? Itu tidak mungkin, Nada. Tolong, mengertilah posisi aku," tandas Elang dengan nafas tersengal.



Nada menatap Elang yang membelakanginya, nafasnya yang tidak beraturan terlihat dari punggungnya yang turun naik. Ada rasa panik yang dirasakan Nada saat melihat Elang berkata-kata tadi, dia memang tidak akan pernah menanggapi lembut atau tenang jika sudah mengangkut nama Mayang. Dan mungkin saja Nada salah strategi untuk membuat drama atas rasa kecewanya terhadap Elang? Seharusnya Nada tahu, bahwa Elang trauma dengan nama Mayang, bahkan seolah alergi.



"Mas akan nginap di sini. Mas keluar dulu untuk mencari sebatang rokok," ucapnya seraya berjingkat.


"Mas, tidak perlu nginap di sini. Nada tidak mau berdekatan dengan Mas Elang. Lebih baik Nada ditemani orang lain daripada ditemani Mas Elang," tegas Nada sambil berkaca-kaca. Elang menghentikan langkahnya dan berbalik lalu mendekati Nada.


Nada kembali bersandiwara, dia membungkuk lalu ... "Hoek ... hoek .... !" Elang menjauh dan menjaga jarak dari Nada. Sepertinya dia terpedaya oleh sandiwara Nada.



"Pergilah Mas, jangan dekat-dekat! Mas Elang bau, bahkan dibanding dengan penarik sampah, Mas Elang jauh lebih bau," ujar Nada mengusir Elang membuat Elang terbelalak. Elang mencium sekujur badannya, namun tidak tercium bau sama sekali. Elang sedih dengan ucapan Nada yang mencemoohnya dengan membandingkan dirinya dengan petugas kebersihan bahwa dia yang lebih bau.



"Tega kamu sayang mencemooh suami sendiri. Baiklah, Mas tidak akan nginap. Tapi besok, Mas yang akan menjemputmu walau kamu bilang Mas ini bau melebihi petugas kebersihan," tandasnya.


"Tidak perlu menjemput, Mas. Nada lebih baik dijemput Pak Darma dibandingkan dijemput oleh Mas Elang. Jadi tidak usah repot-repot jemput Nada," tegas Nada seakan menumpahkan emosinya sekuat tenaga dengan cara menolak Elang.


"Kenapa seperti itu, Sayang? Hanya karena aku abai dan sudah minta maaf, tapi kamu tega banget menolak Mas untuk menjemput," ucap Elang tidak habis pikir. Dia merasa kecewa atas penolakan Nada.

__ADS_1



"Pergilah, Mas!" usir Nada sekali lagi. Dan akhirnya Elang mengalah dan pergi setelah susah payah membujuk Nada dengan berbagai cara. Setelah Elang benar-benar pergi, Nada termenung dia sedikit puas telah menumpahkan rasa kecewa dan kesalnya terhadap Elang dengan cara bersandiwara mual-mual saat berdekatan dengan Elang.


__ADS_2