
Aku menarik nafasku dalam, merasa jengah dengan tuntutan Mas Elang.
Mas Elang masih menatapku tajam, aku seketika menunduk. Aku tidak bisa berdebat lagi. Aku sebetulnya paham dengan maksud Mas Elang. Ingin mendekatkan dan mendamaikan aku dengan Ibu. Namun waktunya seakan kurang tepat, saat aku masih merasa sakit hati dan pikiran belum bisa berpikir jernih, aku dipaksa harus bisa berdamai dengan ibu.
"Mas, kenapa harus sekarang? Mas bakal jamin, jika Nada datang ke rumah Ibu, maka kami akan akur dan langsung akrab tanpa rasa kaku? Padahal seiring berjalannya waktu, kami pasti bakal baikan. Kalau seperti ini, Mas Elang memaksa namanya," protesku.
"Berusahalah, aku saja bisa memperlakukan bapak kamu dengan baik. Kenapa kamu tidak?" Lagipula aku tidak ingin menunda-nunda masalah lebih larut, kalau bisa sekarang diselesaikan, kenapa harus menunggu lebih lama?" Benar apa yang dikatakan Mas Elang. Mas Elang pada bapak begitu baik, bahkan Mas Elang selalu mengirimkan uang tanpa sepengetahuanku.
"Tapi, bapak tidak seperti Ibu, Mas. Bapak tidak pernah merecoki rumah tangga kita," debatku. Mas Elang diam, matanya menatap lurus ke depan.
"Jadi mau kamu apa?"
"Nada maunya, biarkan kami mengalir apa adanya. Biar Nada menata hati Nada sampai Nada bisa lega dan melepaskan semua masalah yang pernah ditorehkan ibu hilang begitu saja. Biarkan kita sama-sama koreksi dan introspeksi diri masing-masing, Mas. Kalau dipertemukan begini, belum tentu kami bisa langsung ikhlas saling memaafkan dan melupakan."
"Kamu ini mau menunda-nunda perdamaian, itu maksud kamu? Kamu mau menjadi pendendam dengan membiarkan masalah berlarut-larut tanpa perdamaian? "
"Bukan begitu maksud Nada, Mas! Seperti sudah Nada bilang, biarkan kita saling koreksi dan introspeksi diri masing-masing dulu. Lagipula, Nada dari dulu tidak pernah dendam sama ibu. Nada selalu memaafkan Ibu," debatku sekali lagi.
"Kamu sepertinya sudah mulai membantah. Dengar ya, aku tidak ingin jadi anak yang durhaka pada orang tua, terutama Mama. Dia Ibu kandungku yang harus selalu aku hormati. Jadi, apapun keputusanku, kamu harus ikuti!" tekannya tegas tidak ingin dibantah. Aku seketika diam dengan mata yang mulai berembun.
Mas Elang melajukan kembali Pajiranya membelah jalanan menuju rumah ibu. Kami diam sampai mobil Pajira tidak terasa sampai di depan halaman rumah ibu. Aku turun dari mobil tanpa menunggu dibukakan Mas Elang, lalu membuka pintu belakang bermaksud memangku Sya. Namun Mas Elang melarangku. Aku urung, lalu berdiri di pinggir pintu seraya menunggu Mas Elang.
Aku berjalan mengikuti Mas Elang yang memangku Sya menuju rumah ibu yang lumayan besar. Di depan pintu muncul perempuan setengah abad dan menyambut kedatangan kami.
"Den Elang, Non Nada....!" sapanya ramah. Dia Bi Inah ART di rumah Ibu. "Silahkan, Den... kebetulan Nyonya sedang tidak di rumah. Nyonya pergi arisan setengah jam yang lalu," berita Bi Inah.
"Biasanya berapa jam arisannya, Bi?"
__ADS_1
"Tidak tentu, Den. Kadang sampai dua jam malah lebih," jawab Bi Inah.
"Den Elang dan Non Nada, makanlah dulu. Nanti Bi Inah siapkan."
"Tidak usah, Bi! Tadi kami sudah makan dulu di rumah. Kami mau istirahat saja dulu. Istri saya juga kayaknya lelah." Mas Elang memberi alasan. Benar sekali aku memang sangat lelah ditambah sakit kepala, kayaknya kalau ditidurkan bakalan enak.
"Ini kamar tamunya, Den," ucap Bi Inah seraya menunjukkan kamar tamu dan mengantar kami ke kamar tamu. Aku masih mengikuti Mas Elang dan masuk ke dalam sebuah kamar tamu. Kemudian Sya ditidurkan.
Kamar ini lumayan besar untuk ukuran kamar tamu. Sehingga kami begitu sangat leluasa berada di dalamnya.
Tiba-tiba Mas Elang meraih pinggangku dan memeluknya penuh kerinduan. Tentu saja gelagat ini sudah bisa aku tebak, hasratnya lagi tinggi. Kalau sudah begini, aku menolakpun Mas Elang selalu saja berhasil menguasaiku. Dan jika aku menolak pastinya dia akan marah, kecuali jika aku benar-benar sedang halangan.
"Tapi... Nada sedang sakit kepala Mas....!" tolakku halus dengan sakit kepala sebagai alasannya.
"Ayolah... mungpung Mama sedang tidak ada," paksanya.
"Nada benar-benar lelah Mas, Nada ingin membaringkan sakit kepala Nada," ujarku lagi beralasan.
Disaat inilah Mas Elang mampu memanjakanku dan memberikan aku kebahagiaan yang melayang-layang, yang mampu melupakan sejenak perasaan kesalku pada ibu maupun pada Mas Elang. Saat kami menyudahi kegiatan panas kami, untungnya Sya masih tidur terlelap.
"Ayo, mandilah. Setelah mandi kita istirahat sejenak," ajaknya seraya membawaku ke dalam kamar mandi. Disana kami benar-benar mandi, walau sekali-kali Mas Elang masih mencuri ciuman sekilas di bibirku. Kami saling menggosok badan dan membilas badan kami bergantian.
Selesai mandi, aku segera memakai pakaianku, juga Mas Elang. Kami sama-sama klimis karena baru saja mandi besar. Niatnya mau beristirahat, namun di luar kamar kami mendengar suara ibu. Aku dan Mas Elang saling pandang dan akhirnya dengan kompak berdiri menuju pintu kamar dan keluar kamar.
"Ma... pulang arisan?" Mas Elang menyambut Ibu dan menyalami Ibu disusul aku yang juga menyalami tangan Ibu.
"Iya nih El, Mama tadi sekalian belanja kue-kue dan buah-buahan. Tumben... El, kalian ke rumah Mama?" ujar Ibu seraya menatap kami bergantian, tatapannya mengarah pada rambut kami yang basah.
__ADS_1
"Kami ingin sajalah Ma, lagipula kami belum pernah nginap di rumah Mama selama El nikah sama Nada. Kenapa, tidak boleh Ma?"
"Tidaklah, El. Boleh kok. Kalian kan anak dan menantu Mama. Ngomong-ngomong, kalian habis mandi ya? " tanya Ibu penasaran.
"Iya, Ma. Kami kepanasan karena kegerahan di jalan." Mas Elang memberi alasan.
"*Pasti rasa ingin tahu Ibu begitu besar karena* *melihat kami sama-sama klimis dan masih* *basah*," dugaku dalam hati.
"Inah... bawa ke dapur kue dan buah-buahan ini, sekalian siapkan ya! Saya mau ngeteh sore bersama anak menantu saya," titahnya pada Bi Inah.
"Lho... Sya mana?" Ibu baru menyadari keberadaan Sya, cucunya.
"Masih tidur, Ma."
"Ya, sudah Mama ke kamar mandi dulu, mau cuci muka dan bersih-bersih dulu. 15 menit lagi kalian nyusul ya," ujar Mama sembari tersenyum seakan benar-benar bahagia menyambut kami.
Melihat Ibu tersenyum ramah dan bahagia seperti ini, aku beranggapan bahwa cara Mas Elang membawa aku ke rumah Ibu untuk mendamaikan dan mendekatkan aku dan Ibu rasanya tidak sia-sia. Dan kini Ibu memperlihatkan sikap ramah dan welcomenya terhadapku.
"Tuh, lihat kan. Mama saja sudah memperlihatkan sikap yang baik di hadapan kita. Makanya, kamu jangan berprasangka buruk dulu dong." Mas Elang mencubit kecil hidungku seraya tersenyum bahagia.
"Iya, Mas," balasku diiringi senyum.
"Ayo kita ngeteh sore seperti yang Mama janjikan." Mas Elang menarik lenganku menuju dapurnya Ibu, namun aku menahannya.
"Mas, kita lihat dulu Sya. Siapa tahu sudah bangun." Mas Elang setuju. Dan kami ke kamar dulu melihat Sya, namun Sya masih nyenyak dan belum ada tanda-tanda akan bangun.
Kami membalikkan badan menuju dapurnya Ibu. Di dapur sudah terdengar suara Ibu dan Bi Inah ngobrol sampai kadang terdengar tertawa-tawa. Rupanya Ibu baik juga, dengan ART saja seakan tidak ada jarak. Mungkin saja Ibu benar-benar akan bersikap baik padaku juga mulai sekarang.
Langkah kami makin dekat dan obrolan Ibu dan Bi Inah makin jelas.
"Dasar wanita ranjang, datang ke rumah mertua dan menyambut mertua dengan rambut yang basah. Tidak berguna, percuma kalau hanya dinikmati di ranjang saja. Tidak menguntungkan. Masih mending Sonia, sayangnya Sonia berkhianat. Jika saja Sonia tidak berkhianat, maka aku lebih senang Sonia jadi menantuku." Tandas Ibu seraya diakhiri tawa renyah seakan puas mengeluarkan unek-unek kekesalannya terhadapku pada Bi Inah.
Dadaku tiba-tiba sesak, air mataku jatuh seketika dan deras, kepalaku tiba-tiba sakit tidak terkira. Aku terpaku dengan deraian air mata. Mas Elang yang mendengar juga pembicaraan Ibu pada Bi Inah, terkesima dan kaget. Mukanya memerah menahan amarah. Baru kali ini aku melihat Mas Elang semarah itu. Kemudian Mas Elang bergegas menghampiri Ibu dan Bi Inah.
__ADS_1
"Mama....!" Seketika Ibu dan Bi Inah terkejut.