"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Launching Homestay n Cafe


__ADS_3

Jam empat sore Elang dan Bintang tiba di penginapan. Mereka mendapati keadaan penginapan sepi. Elang masuk ke dalam. Rupanya Nada dan kedua bocah sedang terlelap tidur. Mungkin efek cuaca yang terasa sejuk.



Awan hitam yang bergelayut di ufuk barat, dan kadang-kadang angin sepoy membawa hembusannya sampai ke dalam penginapan, masih setia menemani langit kota Tabanan sejak pagi tadi. Elang menduga sebentar lagi akan turun hujan. Pantesan Nada dan dua bocah itu bisa tidur sore ini dengan nyenyak.



Elang melihat jam di tangan, lalu beranjak keluar penginapan dan melihat ke arah hamparan padi di depannya. "Masih tiga jam lagi," gumannya.



"El, anak-anak dan istrimu mana?" Tiba-tiba Bintang menghampiri seraya membawa dua gelas kopi tamalatte dan disodorkan satu gelas untuk Elang. Elang meraih gelas berisi tamalatte kemudian diteguknya perlahan, rasa hangat langsung menyeruak masuk ke dalam tenggorokannya. Begitu nikmat.



"Terimakasih, Mas!" ucapnya lalu menyimpan kopi tamalatte di meja. "Anak-anak dan istriku sedang tidur. Mungkin efek cuaca, jadi mereka tidur." Elang memberitahukan tanpa ditanya.



"Wahhhh, bagaimana nih El, cuaca sepertinya mau turun hujan. Aku takutnya saat launching nanti malah turun hujan." Bintang mendesah khawatir.



"Betul juga Mas, itu juga yang aku khawatirkan." Elang menimpali. "Tapi cuaca tidak bisa ditebak, Mas. Padahal dari sejak kita sampai pagi tadi, cuacanya sudah seperti ini dan hujan belum turun. Mudah-mudahan saat peluncuran nanti, hujannya belum mau turun," harap Elang yang diaminkan Bintang.



"Sepertinya cuaca malah mendukung kamu untuk bulan madu, El. Aku rasa hujan akan tiba nanti malam, dan kamu beserta Nada bisa langsung menempati *homestay* baru sekaligus bulan madu di sana," goda Bintang sembari tersenyum. Elang nampak malu-malu dia hanya membalas dengan senyuman.



Kedua sahabat itu masih terlibat obrolan seru yang kadang diselingi tawa dan sesekali serius. Hamparan padi di depan mata cukup membuat keduanya damai dan bahagia. Sampai waktu menunjukkan pukul lima sore mereka menyudahi ngopi sorenya.



"El, aku masuk dulu. Titip dulu Rafa. Nanti kalau dia sudah bangun, kamu langsung suruh ke kamar aku saja. Aku mau menelpon istri aku dulu untuk memberi kabar," ujar Bintang seraya masuk ke dalam.



"Ok, Mas, santai saja. Sampaikan salam kami untuk Mbak Citra," ucap Elang sambil meneguk tamalatte sampai tandas. Elang memasuki kamar dan sudah mendapati Nada bangun.



"Mas, sudah datang." Nada menghampiri Elang yang menutup pintu penginapan dengan perlahan.


"Cuaca mendung begini, enaknya buat kita bulan madu," ujar Elang seraya meraih pinggang Nada lalu dipeluknya dan mencium pipi Nada berulang-ulang, sehingga membuat Nada menjadi geli.


"Mas, sudah, Nada geli. Dagu Mas Elang mulai tumbuh janggut baru, jadi sakit kena pipi Nada," cegah Nada menghentikan aksi liar Elang yang hampir mencium bibirnya.


"Sekali saja, Sayang," mohonnya lalu dengan cepat sudah menyambar bibir Nada dengan penuh perasaan. Akhirnya Nada juga menikmati ciuman Elang yang penuh perasaan di sore ini, hingga hampir lupa bahwa di ruangan yang sama masih ada dua bocah yang kini mulai menggeliat bangun.

__ADS_1


Nada melepaskan ciuman dan cengkraman Elang, dia takut kepergok anak-anak. Nada tahu, kalau sudah begitu Elang akan keterusan dan berusaha mencari celah agar aksi begitunya tersalurkan.



"Nanti malam, Sayang. Kita habiskan malam kita di Bali ini dengan penyatuan cinta kita," ancamnya penuh rayuan sembari menjawil dagu Nada yang lancip. Sebenarnya Nada juga merasakan rasa yang sama, gejolak kerinduan pada Elang selalu menggebu-gebu, terlebih sejak usia kandungannya menginjak usia empat bulan. Namun untuk saat ini Nada harus menghindari Elang, sebab dia tidak mau aksi nakal mereka diketahui anak-anak. Nada menuju pantry lalu membuat segelas seduhan kacang hijau yang sudah tersedia di dalam pantry.



Tidak berapa lama Sya dan Rafa terbangun, untung saja aksi nakal Nada dan Elang sudah berakhir. Mereka tahu diri sebelum anak-anak terbangun, menghentikan aksi romantisnya.



Tiba waktunya, Elang mengintruksikan Nada dan Sya untuk bersiap-siap. Elang sudah menyiapkan sebuah gaun malam untuk Nada dan juga baju untuk Sya. Gaun berbahan dasar tile dan brukat itu nampak pas dan serasi dengan keadaan Nada yang sedang berbadan dua. Dipadu dengan warna kuning keemasan, semakin menambah pesona Nada. Sehingga Elang tidak mau berkedip melihatnya. Benar-benar Nada sangat cantik malam ini.



Sya dan Elang juga mengenakan kemeja satin berwarna senada dengan warna kuning keemasan mirip gaun Nada. Mereka bertiga nampak serasi bak couple yang memperlihatkan betapa harmonisnya kehidupan mereka.



"Sayang, ayo! Sya, ayo! Tampan banget anak Papa!" ajaknya, diakhiri memuji Sya yang memang bener-bener tampan. Nada melihatnya terharu foto cofyan Elang benar-benar menjelma di depan mata.



Sebenarnya Nada merasa heran, ada acara besar apa ini? Sementara Elang tidak memberitahu. Dia hanya mengatakan bahwa ada acara besar malam ini. Nada semakin penasaran saat Elang memerintahnya memakai gaun malam berwarna kuning keemasan, yang sekarang dipakainya.



Elang memang selalu membuat Nada pantas. Setiap ada acara apapun, selalu menyiapkan gaun untuk Nada, dan setiap gaun yang sengaja dipilihkan Elang ketika dipakai Nada, membuat penampilan Nada menjadi semakin cantik dan mempesona.




Elang selalu berkata "pantaskan diri kamu, supaya saat berjalan bersamaku kamu tidak malu atau dipermalukan", dan kalimat itu selalu terngiang di telinga Nada. Nada terharu, betapa Elang tidak ingin melihat dirinya buruk di hadapan orang lain, sehingga untuk penampilan luar seperti gaun, Elang yang pilihkan dan sesuaikan. Hasilnya memang tidak pernah mengecewakan.



"Sayang, kenapa kamu terlihat sedih begini, nanti riasan kamu terhapus oleh air matamu yang jatuh." Nada tiba-tiba menghambur ke dalam pelukan Elang sambil menangis. Elang heran dan merangkum wajah Nada yang sudah basah air mata.



"Jangan cengeng, Sayang! Sebentar lagi acara besar akan dimulai, yang mungkin saja bisa membuat air matamu lebih banyak keluar. Simpan dulu air mata itu untuk nanti. Mungkin saja acara ini justru membuat air matamu akan lebih banyak dan tidak terbendung!" peringat Elang menyusut air mata di pipi Nada dengan tisu.



"Nada hanya terharu dan Nada ingin berterimakasih sama Mas Elang. Mas Elang selalu membuat Nada pantas di mata orang lain. Semua itu karena Mas Elang. Terimakasih banyak, Mas." Nada kembali merangkul Elang menyandarkan kepalanya di dada Elang.



"Sudah, Sayang. Nanti air matamu malah membasahi gaun dan kemeja Mas ini. Kalau basah nanti jelek. Aku tahu kamu terharu. Tapi ini bukan saatnya. Simpanlah dulu air mata itu sampai saatnya tiba." Elang kembali merangkum wajah itu, lalu disusutnya air mata itu.

__ADS_1



"Perbaiki riasan kamu, sebentar lagi acara akan dimulai," titahnya seraya melepaskan rangkulan Nada. Nada patuh dan segera menyusut air matanya.



Acara besar yang dimaksud Elang dimulai. Nada dibawa ke sebuah tempat yang tidak jauh dari penginapannya, hanya berjarak kurang lebih 700 meter. Nada turun dari mobil, dengan mata yang ditutup persis saat dia dikasih surprise sebuah studio foto dua bulan yang lalu oleh Elang. Sya diturunkan duluan dan bergabung bersama Rafa.



Dengan hati-hati Nada dibawa berjalan menuju depan. Sebuah tirai penutup berada di hadapan Nada dan semua. Tidak menunda lama, karena cuaca terlihat sangat mendung, Elang membuka acara dengan sedikit basa-basi. Lalu Nada disuruhnya membuka mata setelah hitungan mundur selesai diucapkan.



"Tiga, dua, satu. Ayo buka matanya," titah Elang yang segera dilakukan Nada. Perlahan Nada buka penutup mata dan matanya. Nada mengucek matanya sekejap untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retinanya. Masih silau. Namun lama kelamaan, seketika Nada nampak ternganga melihat pemandangan di depannya.



Lampu hias yang berkelap-kelip menyambutnya. Nada terbelalak saat matanya menuju sebuah tulisan yang dihiasi lampu-lampu kelip-kelip. Di sana tertulis jelas "*Nada Homestay* *n Cafe*". Lagi-lagi rasa tidak percaya menggelayuti Nada. Benarkah yang barusan terlihat oleh matanya? Elang memberikan sebuah homestay atas namanya? Masih teka-teki dan Nada belum mau berspekulasi terlalu dini. Dia cukup menyimpan tanya dengan perasaan terkejut. Maka kejutan apa lagi yang akan Elang tunjukkan untuknya?



Sementara itu, di sebrang jalan tempat di mana Elang sedang melangsungkan launching *homestay*. Bintang Negara pun sedang melakukan hal yang sama. Launching *homestay n cafe*. Namun dia tidak dihadiri sang Istri. Terpaksa dia gunting sendiri pitanya, sementara sang istri, Citra, menyaksikan via life streaming. *Citra Homestay n* *Cafe* terpampang jelas di atas gapura pintu masuknya.



Citra terharu atas kado ulang tahunnya kali ini. Tidak disangka kepergian suaminya memberi kabar bahagia buatnya yang jauh di sana." Terimakasih, Mas, hadiah ulang tahunnya," seru Citra dari sambungan Vidio Call. Bintang dan Rafa memberi ciuman jauh yang mesra bagi bidadarinya.



Dan malam itu merupakan sebuah kebahagiaan buat Nada maupun Citra, istrinya Bintang Negara.



Acara buka tirai dan pemotongan pita telah selesai dilakukan. Kini Nada diberikan kesempatan untuk membuka pintu *homestay* yang tidak biasanya. Elang tiba-tiba memberikan sesuatu ke tangan Nada. Sebuah kartu mirip ATM disodorkan Elang. Nada terperanjat, bukankah ini kartu yang dulu jatuh saat dirinya membuka kado dari Elang dua bulan yang lalu? Kartu itu jatuh saat Nada membeberkan Lingeri pemberian Elang. Nada heran dan tidak mengenali kartu jenis apa itu.



Kartu itu Elang serahkan pada Nada sembari memberi sedikit aba-aba untuk Nada gunakan sebagai kunci pembuka pintu *homestay*. Nada baru ingat kartu tersebut adalah kunci yang seperti di hotel-hotel berbintang. Dia pernah melihat kartu seperti itu merupakan kunci pintu yang dilengkapi kode untuk membuka pintu.



"Ayo, bukalah, Sayang. Ikuti seperti apa yang aku bilang tadi." Nada maju sedikit mendekati pintu dan memasukkan kartu itu ke dalam selebar kartu. Dan saat bunyi klik terdengar, saat itu juga pintu *homestay* terbuka lebar.



Nada terharu ketika melihat isi dari *homestay* tersebut. Semua sudah lengkap, *Homestay* dengan dua kamar dan satu kamar mandi itu dilengkapi dengan peralatan dapur yang sudah lengkap. Ada minibar dan pantrynya. Gaya klasik modern mendominasi *homestay* ini. Nada benar-benar terharu. Namun dia belum percaya bahwa *homestay* ini diperuntukkan buatnya atau bagaimana?



"Lihat-lihatlah dulu, Sayang. Puaskan dulu matamu untuk menikmati *homestay* ini. Ini semua kuhadaihkan untukmu. Sertifikat dan nama sudah atas namamu. Semoga kamu senang menerimanya."

__ADS_1



Mendengar itu, Nada langsung menghambur ke dalam pelukan Elang dan menangis sejadinya.


__ADS_2