"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Perubahan Sikap Ibu


__ADS_3

POV 1(Nada)


Mobil yang disupiri Pak Udin sampai di depan rumah, Usep sigap membuka gerbang, kemudian mobil masuk dan terparkir dengan baik. Aku dan Mbak Vera turun duluan, kemudian Pak Udin membantu menurunkan Ibu, dan mendudukkan kembali ke kursi roda. Roda di dorong Mbak Vera masuk ke dalam rumah.


Setelah mengantar Ibu ke muka kamar, aku berpamitan. "Nada ke kamar dulu, ya, Bu," ijinku seraya mengusap bahu Ibu. Tatapan wajahku sendu, karena suasana hatiku masih terbawa emosi dengan semua kata-kata Mbak Sonia tadi di taman kota.



"Nada!" Ibu menyebut namaku lalu menatapku dalam, seperti ada rasa bersalah dalam tatapan matanya. Namun Ibu tidak mau mengungkapkan isi hatinya, Ibu masih nampak ragu untuk merangkul atau sekedar berbasa-basi denganku.



"Bu, Nada ke atas dulu, ya," pamitku lagi dengan perasaan sedih yang hampir tidak tertahan, apalagi kalau Ibu membahas kembali ucapan Mbak Sonia di taman tadi.


Aku menuju tangga dengan langkah sedikit gontai, dadaku terasa sesak, omongan Mbak Sonia tadi di taman terngiang-ngiang jelas. Wanita ranjang, maniak ****, terdengar sangat menyakitkan lebih menyakitkan dari omongan yang biasa Ibu lontarkan.


Tiba di ranjang aku menjatuhkan diri dan menangis karena air mataku sudah tidak tertahan. Aku merasa malu ketika Mbak Sonia mengata-ngatai aku seperti tadi yang sempat didengar oleh beberapa orang yang lewat di taman tadi.



Betapa dahsyat kebencian yang ditorehkan Ibu, sehingga orang lain ikut mencemoohku, Mbak Sonia maupun Mayang, belum lagi orang lain yang menjadi teman-teman arisan Ibu tempo hari yang mendengar cemoohan Ibu terhadapku, menjadi momok besar dalam kehidupan sosialisasiku di luar nanti jika aku melakukan aktifitas di luar, dan kebetulan bertemu mereka.



Aku menangis menumpahkan rasa sedih dan kecewaku sampai aku sangat lelah dan ngantuk. Beberapa menit kemudian isak tangis itu reda seiring terlelapnya aku dalam tidur.



Aku terbangun saat Sya datang dan menggoyang-goyang tubuhku. Sejenak aku merenung dan kembali teringat kejadian di taman tadi. Ingin aku tepis, tapi masih tetap membayangiku.



"Bunda, kenapa?" tanya Sya heran seraya memegangi tanganku. Aku kucek mataku yang masih suram, air mata sisa tangisku rupanya menjadi kotoran yang melekat di ujung mataku menjadi gumpalan yang mengering.



"Jam berapa ini, Sya?"

__ADS_1


"Ini sudah sore Bunda, Bunda belum makan siang. Tadi mau Sya bangunkan tapi kata Bi Ijah jangan, karena Bunda tidurnya sangat lelap," terangnya sambil melihat ke arahku.


"Bunda, Sya kangen Papa. Apakah Papa tidak menghubungi Bunda?" tanya Sya ingat Papanya. Jangankan Sya aku juga rindu Mas Elang, dalam keadaan begini aku ingin menyandarkan bahuku di bahu Mas Elang dan bercerita.



"Bunda belum tahu Sya, karena sejak tadi Bunda tidak memegang Hp." Aku memberikan alasan, dan benar sekali sejak pagi tadi aku tidak megang Hp, saat ke taman saja lupa bawa Hp. Aku segera mencari Hpku yang ternyata berada di meja kecil kamar kami.



"Batrenya habis," gumanku. "Hp Bundanya harus dicas dulu, batrenya kosong," ucapku seraya mengacungkan Hp memperlihatkan pada Sya. Sya mengangguk dan nampak kecewa.



Saat aku bangkit, tubuhku terasa lemas. Wajar saja karena aku belum makan siang dan baru bangun tidur.


"Bunda ke kamar mandi dulu ya, muka Bunda banyak kotoran," ucapku seraya menunjuk ke arah. muka yang memang banyak beleknya.


"Iya, Bunda," sahutnya.



"Non Nada, ayo Non makan dulu. Siang tadi Bi Ijah mau bangunkan Non, tapi tidak jadi karena Non Nada tidur sangat lelap." Bi Narti menyambutku dengan ramah.


"Iya, Bi, kebetulan saya sudah lapar," sahutku seraya mengambil sedikit nasi ditambah sayur dan ikan. Semoga saja makan nasi kali ini tidak akan mual.


"Sya, kemana, Bi? Tadi masih di kamar saat saya tinggal mandi."


"Di depan, Non, bersama Bi Ijah. Tadi mendengar yang jualan es cingcau, Den Sya mau, dan minta antar Bi Ijah. Padahal es krim di dalam kulkas masih ada."


"Biar sajalah, Bi, sekali-kali jajan di luar."


"Iya, Non."


"Bi, saya mau kasih Ibu es krim, apakah boleh?"


"Boleh, Non. Kasih saja, tidak apa-apa. Es krim, kan mengandung susu, jadi baik untuk Nyonyah yang sedang sakit stroke."

__ADS_1


"Kira-kira berapa lama lagi ya, Ibu bakal sembuh?"


"Bisa cepat, bisa juga lama, Non. Tergantung keyakinan Nyonya, sama ikhtiar kita yang sehat mengupayakan Nyonya untuk sehat. Seminggu yang lalu Dokter bilang, Nyonya mengalami perkembangan yang bagus. Diawali dengan bicara yang lancar, tidak pelo lagi. Serta asupan makanan yang masuk ke dalam tubuh Nyonya tidak banyak kandungan minyak, atau garam, dan yang paling penting emosi Nyonya harus dijaga," ujar Bi Narti panjang.


"Iya, Bi. Sekarang Ibu sudah nampak lebih baik dari segi emosi. Mudah-mudahan Ibu cepat sembuh dari penyakitnya."


"Aamiinnnn," Bi Narti mengamini ucapanku.


"Baiklah, Bi. Sekarang saya mau bawa es krim ini ke kamar Ibu," ujarku sambil berlalu.


"Ok, Non. Selamat berjuang mendapatkan hati Nyonya. Non Nada memang perempuan sekaligus menantu yang baik untuk Nyonya. Tidak rugi Nyonya mendapat menantu secantik dan sebaik Non Nada. Sukses, Non," celoteh Bi Narti meski tidak didengar siapapun.


Tiba di kamar, aku mendapati Ibu tengah sendirian. Mbak Vera entah di mana. "Bu!" Ibu nampak kaget saat aku sapa, mungkin saja Ibu sedang termenung tadi. Seketika aku melihat wajah Ibu yang sembab, sepertinya Ibu sedang menangis.



"Bu, Ibu menangis? Mbak Vera mana? Ini, Nada ambilkan es krim buat Ibu. Pasti segar kalau disantap sore-sore." Aku duduk di ranjang menghadap Ibu yang sedang duduk di kursi roda dengan arah menghadap ranjang. Jadi posisi kami sekarang, saling berhadapan.



Aku tahu, mungkin saja dalam posisi berdua seperti ini, banyak kesempatan untuk aku membalaskan dendamku atas perlakuannya dahulu sebelum sakit, terlebih ucapan Sonia tadi mengundang kembali rasa sakit hati yang ditorehkan Ibu, kini seakan berdarah lagi. Namun, aku manusia biasa dan sekarang sedang hamil, aku berusaha berada di zona nyaman. Aku tidak mau membelenggu diriku dengan dendam dan rasa sakit hati yang berkepanjangan. Mungkin saat inilah aku harus mulai mendekatkan diri dengan Ibu, supaya Ibu nyaman dekat denganku.



"Bu, es krimnya dimakan ya!" ujarku seraya memperlihatkan mangkok yang berisi es krim vanilla dan stroberi. Ibu tidak menyahut, dia malah menatapku dalam. Dalam sudut matanya keluar embun-embun yang siap jatuh karena sebentar lagi bulirnya akan jatuh.



"Kenapa, Ibu menangis?" tanyaku heran.


"Aku, a-aku minta maaf .... " ucap Ibu terputus seraya mengangkat kedua tangannya, namun tangan yang kanan belum bisa diangkat berhubung stroke.


"Sudah, Bu, jangan dipikirkan. Sekarang Ibu jangan menangis lagi. Semua kesalahan Ibu, akan Nada buang jauh perlahan-lahan. Maafkan Nada juga Bu, jika selama Nada menjadi menantu Ibu, Nada belum bisa menjadi menantu yang baik," ucapku tulus. Mendengar itu, Ibu malah semakin keras menangis. Entah tangisan penyesalan atau apa, yang jelas aku melihat kali ini Ibu seperti menangis karena sebuah penyesalan.



Untuk meredam tangis dan kesedihannya, aku bujuk Ibu untuk makan es krim. Lama dibujuk akhirnya tangis Ibu reda. Tapi Ibu tidak ingin disuapi aku, dia ingin sendiri dengan menggunakan tangan kirinya. Kata Ibu sih biar tidak tergantung terus dengan tangan kanan. Aku tersenyum lega melihat Ibu ada perubahan sikap hari ini.

__ADS_1


__ADS_2