
Malam tiba, suasana sedang sepi dan Dina kebetulan pergi angkringan. Sementara Bi Nurmi sudah pulang ke rumahnya. Aku membuka kembali Hpku yang sudah seminggu sengaja tidak aku buka demi menghindari Mas Elang.
Saat kubuka, pesan WA bermunculan silih berganti. Dari Mbak Marisa, Mas Elang bahkan dari orang yang sama sekali tidak aku sangka, ibu. Ibu yang jarang sekali kirim pesan WA, tiba-tiba namanya muncul sebagai pengirim pesan. Aku buka dulu dari Mas Elang, karena aku rasa WA dari Ibu hanya seputar umpatan terhadapku.
"Sayang... apa kabar? Aku selalu menunggu kehadiranmu di sisiku. Kepergianmu membawa kesedihan di hatiku, juga Sya. Hari ini Sya kena musibah. Sekarang sedang ditangani Dokter."
Aku cukup terhenyak dengan pesan WA dari Mas Elang tersebut. Sya kena musibah? Tapi kenapa Mas Elang tadi tidak memberitahu bahwa Sya kena musibah? Sya kena musibah saat aku tidak ada di sampingnya. Aku benar-benar merasa bersalah. Tangisku pecah kembali mengingat akan Sya. "*Sya... maafkan Bunda. Bunda salah* *telah egois pergi meninggalkan Sya*." Dan penyesalan kini mendera.
Ku baca kembali pesan Mas Elang yang lainnya, isinya kurang lebih sama menanyakan aku di mana dan kapan pulang.
Lalu pesan WA dari Mbak Marisa, yang isinya kurang lebih sama dengan isi WA Mas Elang, menanyakan keberadaanku dan kapan aku akan pulang.
Terakhir aku baca WA dari ibu yang isinya kurang lebih seperti ini.
"Nada... di mana kamu? Cepatlah kembali, Elang selalu memikirkanmu dan dia berubah padaku. Pulanglah, kembalikan rasa hormat Elang padaku."
Isi pesan WA ibu seperti sebuah perintah, tandas dan ketus, tidak ada bujuk rayu untuk mengajak aku pulang atau beramah tamah pada seorang menantu. Aku sadar, aku memang bukan menantu pilihannya. Sehingga mau apa saja yang aku lakukan masih dianggap nggak baik.
__ADS_1
Saat ini ingin rasanya aku menghubungi salah satu dari mereka, namun aku bingung harus bagaimana. Namun ada salah satu yang menarik perhatianku yaitu menelpon Mbak Marisa. Aku coba menghubunginya, namun belum sampai aku telpon tiba-tiba pesan WA masuk, rupanya pesan WA dari Mbak Marisa.
[Assalamu'alaikum... Nada... apakabar? Kebetulan WA kamu on. Kapan kamu kembali? Pulanglah, Sya menantikanmu. Setelah mengalami kecelakaan akibat dibawa paksa Mayang."]
"Mbak Mayang...? Bukankah Mbak Mayang ditahan Polisi waktu itu? Kenapa sekarang masih berkeliaran?" Pertanyaan-pertanyaan itu tiba-tiba berkeliaran dalam kepala.
Pesan WA dari Mbak Marisa tidak segera aku balas, yang ada dalam pikiranku hanyalah bisa menyusul Mas Elang pulang dan segera bertemu Sya memberinya semangat. Secepat mungkin aku memesan tiket via on-line. Sayangnya aku dapat jam terbang pada jam 9 pagi.
Pagi menjelang, aku sudah bersiap dengan sedikit barang bawaanku. Tante Mirna juga Om Zainal heran melihat aku sudah siap dengan tas sandangku.
"Nada mau pulang Tante menyusul Mas Elang. Tapi... Nada mohon jangan bilang Mas Elang kalau Nada akan pulang, biarlah ini jadi kejutan buat Mas Elang," ucapku diakhiri sebuah permohonan. Tante Mirna menatapku dalam, mencari sebuah kesungguhan.
"Tapi... kamu sendirian, dan Elang berpesan jika kamu akan pulang maka harus beri tahu dia."
"Tidak perlu Tante, biar ini jadi surprise buat Mas Elang. Jadi, Nada harap Tante atau Om jangan kasih tahu Mas Elang, Nada mohon!" ucapku memohon. Tante Mirna dan Om Zainal akhirnya mengalah dengan permohonanku.
__ADS_1
"Baiklah... jika itu memang keputusanmu. Tapi alangkah baiknya kamu sarapan dulu!" Ajakan sarapan pagi tidak aku sia-siakan, lagipula jam keberangkatan aku masih lama. Kamipun sarapan pagi bersama sambil sesekali diselingi canda.
"Nada pamit dulu yan Tante, Om. Terimakasih banyak atas segalanya," ucapku sambil memeluk Tante Mirna. Sungguh ini moment yang mengharukan bagiku yang selalu merepotkan keluarga Tante Mirna.
"Biar Om kamu antar ke bandara...."
"Tidak perlu, Nada sudah pesan grab kok," selaku seraya bersiap dan tanpa perlu menunggu lama, grab yang aku pesan datang.
Aku segera berpamitan pada pada Tante Mirna dan Om Zainal sebab grab menuju bandara sudah tiba.
"Hati-hati Nad, Tante dan semua disini terutama anak-anak pasti akan sangat merindukanmu," ucap Tante Mirna seraya memelukku erat dan isakan tangis. mm
Aku pergi dengan tatapan mata sendu kedua orang yang tua yang sudah berbuat baik selama aku sini.
__ADS_1
"Terimakasih Om, Tante, Assalamualaikum!" Grabpun membawaku menuju bandara Adisutjipto, Yogyakarta.