"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Mayang Datang


__ADS_3

POV Nada


Mas Elang pergi dengan raut wajah yang kecewa. Aku tidak mengantarkannya sampai depan atau memberi ciuman takzim ditangannya ketika pergi. Rasa kesalku yang masih ada mengalahkan segala rasa hormatku.


Aku duduk termenung memikirkan apa yang aku perbuat pada Mas Elang. Sikap datarku tadi saat mengembalikan kartu ATM pemberiannya, membuat Mas Elang kecewa. Ingin meminta penjelasan dariku, namun Mas Elang dikejar waktu, sehingga dia pergi dengan rasa yang kecewa.


Jam 10 malam tiba, Sya sudah terlelap 15 menit yang lalu setelah sempat rewel karena tidak mendapati Mas Elang. Tiba-tiba Vidio Call WA ku berbunyi. Rupanya Mas Elang yang menghubungiku. Aku menjauh dari kamar Sya menuju kamar kami. Aku tidak ingin bunyi HPku mengganggu tidurnya Sya yang baru dimulai 15 menit yang lalu.


Sengaja tidak aku gubris panggilan VC itu, aku rasanya malas karena rasa kesalku masih ada, kesal dengan sikap Mas Elang yang tidak pernah meraba perasaanku yang selalu kecewa dengan perlakuan sinis dan hinaan ibu. Mas Elang tidak bisa membuat ibu berhenti menghinaku atau mencemoohku.


Sepertinya Mas Elang memang tidak ingin mengasari ibu dengan cara apapun. Akupun tidak berharap Mas Elang kasar, namun setidaknya Mas Elang bisa membela sedikit saja harga diriku di hadapan ibu. Mas Elang tidak bisa tegas terhadap ibu.


Sejenak bunyi VC itu berhenti, namun dua menit kemudian berbunyi lagi. Dengan malas aku angkat VC itu tanpa memperlihatkan wajahku.


"Assalamu'alaikum... sayang... belum tidur? Sya sudah bobo?"


"Sudah...." jawabku pendek.


"Kenapa wajah cantiknya tidak diperlihatkan? Kamu masih kesal ya? Maafin Mas ya! Ayolah perlihatkan wajahnya, Mas kangen nih," cecarnya memintaku memperlihatkan wajahku.


"Nada sudah ngantuk Mas. Jadi Nada tidak memperlihatkan wajah Nada," jawabku malas.


"Kenapa... kamu masih marah sama Mas? Terus kenapa tadi kartu ATMnya kamu kembalikan, itu kan buat kamu?"


"Nada tidak membutuhkannya, mungkin Mas Elang lebih membutuhkan. Lagipula Nada hanya orang lain yang sewaktu-waktu bisa Mas Elang buang jika sudah bosan."


"Nada... kok bicaranya seperti itu? Perlihatkan wajah kamu, SEKARANG!" perintah Mas Elang meninggi. Aku tersentak dengan perubahan suara Mas Elang yang meninggi.


"Nada....!" panggilnya setelah menunggu lama respon dariku.


"Aku tahu kamu masih kesal, tapi jangan bersikap seperti anak kecil begini dong. Aku pergi keluar kota untuk menyelesaikan masalah yang menimpa PerkaSya Restoran, tapi kamu malah bersikap tidak peduli. Harusnya kamu kasih support dong, bukannya membuat kepalaku tambah pusing," ujarnya kesal.


"Nada hanya berbicara fakta Mas, jika Mas Elang sudan bosan sama Nada, Mas bisa saja meninggalkan Nada."


"Apa yang merasuki otakmu sehingga kamu bisa berbicara sembarangan seperti itu? Ucapanmu seolah-olah kamu siap untuk meninggalkan aku. Ingat ya, tidak akan aku biarkan kamu meninggalkan aku, kecual kematian!" tegas Mas Elang seraya menutup VCnya dengan marah.


"Deggg!!" jantungku tiba-tiba berdebar lebih kencang setelah mendengar apa yang diucapkan Mas Elang barusan.


Tidak berapa lama kemudian, notif WAku berbunyi dan pesan itu dari Mas Elang.


"Kalau kamu masih sayang Sya, aku mohon titip Sya sampai aku kembali," pesannya seraya mengatupkan kedua tangan tanda permohonan.

__ADS_1


Setelah menerima pesan WA dari Mas Elang, aku duduk termenung memikirkan semua yang terjadi hari ini, termasuk isi percakapan kami via Vc.


"Huffff.... hahhhh....!" aku menarik nafas dalam, kemudian membuang segala gundah yang saat ini aku rasakan.


"Maafkan Nada Mas, karena telah membuatmu tidak nyaman. Semoga urusannya diberi kelancaran," gumanku merasa menyesal.


Sejak VC dua hari yang lalu itu, Mas Elang belum memberi kabar lagi atau sekedar menanyakan kabar Sya. Hapenya saja tidak aktif saat Sya ingin berbicara dengan Mas Elang.


...----------------...


Siang itu, Sya pulang dari sekolah. Selama Mas Elang tidak ada, Sya diantar jemput oleh Pak Udin, Supir yang khusus ditugaskan saat Mas Elang pergi keluar kota.



Kini, Sya sudah duduk di bangku SD. Seragam sekolahnyapun berubah menjaga putih merah. Namun tidak merubah kegantengannya.



Saat aku mengganti baju Sya, tiba-tiba dari arah depan rumah terdengar suara keributan. Aku heran dan sedikit panik, lantas aku menyuruh Sya tetap di kamar.


"Sya, jangan kemana-mana ya, sampai Bunda kembali," peringatku sebelum aku turun dari tangga.




"Bi... Bi Narti....?" Bi Narti menghampiri.


"Rekam apapun yang orang di depan sana lakukan jika dia berhasil masuk ke rumah ini," perintahku cepat.


"Sya... keluarlah... ini Mama Sya....!" teriaknya, yang kini sudah berada di dalam rumah.


"Mbak Mayang... ada apa Mbak kemari?" kejutku yang disertai panik. Sementara Bi Narti sudah siap dengan HP ditangannya sesuai perintahku.


"Sya.... keluarlah... ini Mama....!" Mbak Mayang berteriak seraya merangsek menuju tangga. Aku berusaha menghalanginya serta berdoa dalam hati supaya Sya tidak keluar kamar.



"Mbak Mayang, apa yang Mbak lakukan? Jangan naik tangga itu!" cegahku geram. Tiba-tiba Sya keluar saat aku berusaha menarik Mbak Mayang untuk menghalangi Mbak Mayang menemui Sya.


__ADS_1


"Jangan halangi aku menemui anakku, kamu bukan siapa-siapa Sya. Tapi aku Ibu kandungnya," teriaknya melotot.


"Tapi, tidak dengan cara memaksa seperti ini Mabk. Tolong hentikan!" ucapku berusaha mencegah namun Mbak Mayang tidak peduli.


"Sya....!" Mbak Mayang berteriak seraya menyikutku yang berusaha menghalaunya. Aku terhuyung mengenai pagar tangga dan pelipisku membentur tepat pada pagar tangga, lalu terpelanting ke bawah dasar tangga.



"Awww....!" jeritku seraya memegangi pelipis yang sudah berdarah. Sementara itu Mbak Mayang berhasil membawa Sya dengan bantuan dua orang pria tinggi besar yang entah kapan datangnya, dan kini sudah berada di dalam dan berhasil membawa Sya keluar rumah.



"Usep... Usep.... cegah mereka!" teriakku sambil meringis. "Bi Narti... arahkan rekaman itu kedepan, cepat!" Bi Narti yang ingin membantuku dengan cepat merekam kepergian Mbak Mayang bersama dua pria tinggi besar.



"Bunda... Bunda....!" Masih terdengar jelas suara teriakan Sya memanggilku meminta pertolongan. Namun apalah dayaku yang tidak mampu melindunginya.



Setengah jam kemudian, setelah Sya dibawa pergi oleh Mbak Mayang, Mas Elang tiba di rumah. Aku sedikit terkejut, seandainya Mas Elang sudah diberitahu Bi Narti atau Usep tentang kejadian tadi, tidak akan secepat ini Mas Elang sampai. Bisa jadi saat Mas Elang diberi kabar Mas Elang sedang dalam perjalanan kesini.



Keadaan Mas Elang sangat kusut dan kalut. Aku yang masih diobati Bi Narti segera bangkit dan menghampiri Mas Elang, walau rasa sakit di pelipis dan bokongku masih terasa nyeri.



"Mas... Nada mohon maaf... Nada tidak bisa mencegah mereka untuk tidak membawa Sya. Nada sudah berusaha Mas!" ucapku bersimpuh di kaki Mas Elang diiringi tangis.



Mas Elang bangkit dan menepis tanganku yang bersimpuh. Rambutnya dijambak dengan prustasi.


"Kalian semua tidak becus melindungi Sya. Kalian tidak bisa diandalkan!" Pekik Mas Elang marah.


"Dan kamu, aku tidak mau tahu cari Sya. bagaimanapun caranya!" tunjuknya padaku dengan raut sangat marah. Aku merasa takut melihat Mas Elang seperti itu. Aku bangkit lalu keluar dari rumah itu dengan membawa HP yang sejak tadi aku pegang selama kejadian Mbak Mayang datang ke rumah ini.



Mas Elang menatapku penuh amarah.

__ADS_1


__ADS_2