"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Sya Kembali


__ADS_3

Mbak Mayang menatapku tidak suka, dia tersenyum sinis dengan gaya duduknya yang sangat angkuh. Dadanya membusung dengan kaki kanan menumpang di kaki kiri.


"Mayang, apa yang kamu lakukan seharian ini? Dan, dimana anak kecil itu?" Tuan Zul bertanya dengan nada penuh penekanan.


"Apa... anak kecil? Maksudmu apa sayang?" Mbak Mayang berpura-pura terkejut, lantas dia berdiri seraya ingin merangkul manja tubuh Tuan Zul.


"Stop...! Aku tidak sudi disentuh tubuh yang sudah kau kotori dengan kekerasan!" tunjuknya pada Mbak Mayang. Mbak Mayang menjauh dan kembali duduk.


"Berterus teranglah, maka aku akan mengampunimu!" tegas Tuan Zul tinggi.


"Apa yang harus aku ungkapkan, terus terang apa?" Mbak Mayang masih pura-pura tidak merasa bersalah dan terus melakukan penyangkalan.


"Nona, kemarikan HPmu!" Tuan Zul meminta HPku dengan sorot mata yang tajam. Aku mengangkat tubuhku dan memberikan HPku pada Tuan Zul.


"Lihat ini, apa yang kamu lakukan?" Tuan Zul memperlihatkan bukti rekaman vidio yang baru tadi siang kejadian di rumah Mas Elang.


"Hahhhh....!" Mbak Mayang berpekik saat melihat vidio yang diperlihatkan Tuan Zul. Dia seakan tidak percaya.


"Jadi, selama ini kamu melakukan pemaksaan atas hakmu sebagai ibu?"


"Sayang... semua bisa aku jelaskan. Itu semua karena Elang mantan suamiku yang terlalu egois dan menghalang-halangiku untuk bertemu Sya, anakku," tuduhnya pada Mas Elang.


"Selama ini aku kurang baik bagaimana bersikap, namun dia selalu kasar setiap kali aku akan menemui anak kandungku," tegas Mbak Mayang masih memberikan alasan.



"Dan juga bisa jadi perempuan di depan kita ini menghasut mantan suamiku supaya dia tidak memberikan anakku dengan sukarela," tuduh Mbak Mayang.



Aku langsung terbelalak mendengar tudingan Mbak Mayang baru saja yang jelas-jelas tidak benar.


"Tidak... Mbak Mayang berbohong. Bukankah setiap kali Mbak Mayang menampakkan batang hidungnya di depan kami, Mbak Mayang selalu mencari keributan?" sangkalku disertai fakta baru.


Tuan Zul yang mendengar pengakuanku tentang Mbak Mayang nampak mengerutkan kening. Dia seakan geram.


"Mayang, katakan yang sejujurnya!" pekik Tuan Zul sudah mulai menampakan kekesalannya. Mbak Mayang meringis ketakutan, namun dia belum mau berkata apa-apa.

__ADS_1



"Iya... aku melakukan itu. Tapi itu semua karena aku benci mantan suamiku yang tidak pernah mau mempertemukan aku bersama Sya, anakku," ucapnya setelah beberapa menit diam.



"Katakan dimana anak itu, bawa segera kemari!" titah Tuan Zul marah.


"Perintahkan orang-orangmu yang tadi membawa anak itu, agar membawanya kemari. Kalau tidak, maka kamu akan tahu akibatnya!" ancam Tuan Zul benar-benar emosi. Mba Mayang nampak takut lalu segera mengutak-atik HPna, dan menelepon seseorang untuk membawa Sya ke kediaman Tuan Zul.


Tidak lama dari itu, tiba-tiba Tuan Zul mendapatkan telpon dari seseorang. Tuan Zul menjauh dari kami. Dia berdiri terpaku di dekat jendela gedung tinggi itu dengan tatapan yang jauh. Dengan serius Tuan Zul mendengarkan orang yang berbicara di telpon. Beberapa saat kemudian Tuan Zul mengakhiri telponnya. Wajahnya nampak sangat marah dengan muka yang memerah lalu menatap Mbak Mayang seram. Tuan Zul mendekat ke arah Mbak Mayang.



"Apalagi yang kamu lakukan, di depan ada Polisi yang mencarimu?"


"Apa....?" Mbak Mayang seketika terkejut dengan wajah memerah.


"Apa yang kamu lakukan dengan menjaminkan sertifikat tanah mantan suamimu, apakah uang dariku selama ini kurang?"



"Tidak Mas, aku... aku hanya ingin menghancurkan mantan suamiku sehancur-hancurnya," ungkapnya terbata dengan wajah pias.


"Deggg...." jantungku seketika berdegup sangat kencang, demi mendengar pengakuan Mbak Mayang barusan.


"Apa maksudmu, kamu dendam dan masih mencintai mantan suamimu?" tekan Tuan Zul.


"Tidak Mas, bukan itu maksudku," sangkal Mbak Mayang dengan wajah yang kini menunduk.


"Lantas apa tujuanmu?" Tuan Zul meremas jemari Mbak Mayang, aku sontak sangat kaget dan takut. Takut terjadi kekejaman terhadap Mbak Mayang.


Tiba-tiba tubuh Mbak Mayang merosot dan bersimpuh. "Aku minta maaf Mas, aku minta maaf. Aku salah, dan aku memang melakukan itu hanya untuk menghancurkan mantan suamiku. Tidak ada maksud lain. Tolong percaya padaku, aku mencintaimu. Aku hanya ingin merebut Sya, karena aku merasa kesepian," ungkap Mbak Mayang diiringi tangis.


"Kesepian....?"


"Iya, aku kesepian karena kamu tidak bisa memberikan aku anak," ucapnya sembari terisak. Sejenak Tuan Zul diam. Dia menatap Mbak Mayang antara amarah dan rasa kecewa. Entah kecewa karena apa. Namun raut wajahnya kini berubah, rasa penyesalan terlihat disana.

__ADS_1


Tuan Zul mengangkat tubuh Mbak Mayang, dan bersamaan dengan itu pintu ruangan Tuan Zul terdengar bunyi klik entah kode apa, lalu terbuka otomatis. Dan di sana diperlihatkan Sya dengan dua orang pengawal yang saat siang tadi mengambil paksa Sya dari rumah.



"Bundaa....!" Sya berontak dari cengkraman tangan si pengawal, lalu berlari ke arahku dan memelukku erat.


"Sya....!" aku memeluk Sya diiringi isak tangis.


Mbak Mayang melihat keberadaan kami dengan tatapan yang muak dan kecewa. Aku tidak bisa menebak apa sebenarnya yang dipikirkan Mbak Mayang. Yang jelas setelah aku bertemu dengan Sya, aku harus segera keluar dari kediaman Tuan Zul ini lalu membawa Sya ke rumah kembali.



"Sayang... akhirnya kita berjumpa lagi," ucapku seraya mencium kening Sya. Aku segera menghentikan aksi melowku bersama Sya, aku pangku dengan segenap kekuatan tenagaku yang tersisa lalu berdiri dan menatap Tuan Zul. Namun sebelumnya aku berbicara sedikit pada Sya, aku tidak tahu apakah ini benar atau tidak, yang jelas aku tidak ingin Mbak Mayang berprasangka buruk terhadapku.



"Sya... di depan sana adalah Ibu kandung Sya. Beliau Mama Mayang, Sya pamit dan cium tangan ya!" titahku lembut. Sya menggeleng dan memegang bajuku dengan kuat, seakan takut jika aku mendekat lagi dengan Mbak Mayang.



"Tidak... Sya ingin pulang... Sya ingin ketemu Papa!" pekiknya seraya menangis. Aku segera mengusap-usap punggung Sya menenangkannya.



"Tuan Zul, Mbak Mayang dengan berat hati, ijinkan saya bersama dengan Sya undur diri dari sini. Saya sangat berterimakasih atas kerjasama dan bantuan Tuan Zul," ucapku meminta ijin. Tuan Zul menatap kami sejenak lalu melangkah mendekati kami. Aku sedikit takut dan berdebar.



"Pergilah... namun sebelumnya, aku ingin menyentuh kepala anak ini," ucapnya seraya mendekat. Mbak Mayang hanya menatap penuh keheranan melihat tingkah suaminya. Tuan Zul mengusap lembut kepala Sya yang masih terisak, ada kasih sayang terasa dalam usapan itu.



"Pergilah....!" ulangnya untuk yang kedua kali. Aku menatap hormat pada Tuan Zul dan mengangguk. Sebelum membalikkan badan aku sengaja menyapa Mbak Mayang.


"Mbak, kami pamit," ucapku dan menatap sekilas ke arah Mbak Mayang yang sedikitpun tidak bergeming. Aku membalikkan badan dan keluar perlahan menuju pintu yang terbuka otomatis. Perlahan kaki melangkah menuju tangga diantar seorang pria berbadan tinggi besar.


Bersamaan dengan itu beberapa orang Polisi memasuki ruangan Tuan Zul. Aku sejenak berpikir, mungkinkah Mbak Mayang ditangkap Polisi untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya karena mencuri sertifikat PerkaSya Restoran? Aku tidak ingin berspekulasi, biarlah itu menjadi urusan Mbak Mayang dan Polisi.

__ADS_1


__ADS_2