
"Mbak Marisa!" pekikku senang. Mbak Marisa menghampiri meja makan, lalu duduk tanpa dipersilahkan sembari menyimpan sebuah keresek besar di bawah kulkas.
"Bawa apa sih Mbak, kayaknya berat banget?" ucapku sembari melihat keresek yang Mbak Marisa simpan di bawah kulkas.
"Hanya sedikit buah-buahan buat kamu dan Uwa," jawabnya sambil mendudukan pantatnya di kursi makan.
"Nah, kalau ini bolu red velvet sama bolu pandan, bagus tuh buat cemilan kamu kalau kamu lagi lapar," ujar Mbak Marisa sambil menyodorkan satu keresek berisikan dua buah bolu.
"Makasih banyak, ya, Mbak," ujarku.
Mbak Marisa kembali duduk dengan santai di kursi tamu sembari matanya melihat meja makan. Perutnya yang semakin buncit, tidak membuatnya terganggu dalam bergerak. Masih lincah dan sangat ceria. Aku merasa iri dengan Mbak Marisa, sejak bulan pertama kehamilan, seakan tidak merasakan mual muntah yang berat.
B"Apa kabar, Sya? Ponakan tante mau sekolah, ya?"
"Kabar, Sya baik Tante. Sebentar lagi, Sya berangkat sekolah bareng Pak Udin," jawab Sya sambil meminum air putihnya.
"Kak Elangnya mana? Kok tidak diantar Kak Elang, Nad?"
"Mas Elang, tadi pagi berangkat keluar kota, sepertinya buru-buru. Pamitan sama Sya juga tidak, karena Sya masih tidur," jawabku. Mbak Marisa manggut-manggut.
"Bi Nartiiii, saya pengen makan dong!" seru Mbak Marisa memanggil Bi Narti manja. Mbak Marisa sudah akrab juga dengan Bi Narti, jadi kalau minta tolong tidak segan-segan seperti bukan ke ART orang lain.
"Siap Non, bibi laksanakan," ujar Bi Narti seraya mengambilkan piring dan sendok buat Mbak Marisa yang semakin cantik diusia kehamilan delapan bulan ini.
"Makasih, Bi," ucap Mbak Marisa sambil mulai menyantap makanan yang disiapkan Bi Narti tadi. Mbak Marisa sarapan pagi dengan lahapnya, sesekali aku menatapnya kagum. Tidak ada gurat kesedihan atau merana setelah pernikahannya, dia selalu ceria dan nampak bahagia.
"Bunda, Sya sarapannya sudah," lapor Sya seraya berdiri dari kursi. Aku ikut berdiri dan kebetulan sarapanku sudah selesai, untuk mengantar kepergian Sya ke sekolah.
"Ayo, kayaknya Pak Udin sudah siap, tuh." Dan benar saja Pak Udin siap dan menghampiri Sya.
"Kemon, Den ganteng!" ajak Pak Udin sambil meraih tangan mungil Sya.
__ADS_1
"Pak Udin, titip Sya, ya!" ujarku.
"Siap, Non," angguknya sopan. Pak Udin menuntun Sya menuju mobil dan mengantarnya ke sekolah. Setelah mengantar Sya di depan pintu, aku kembali menuju Mbak Marisa.
Mbak Marisa menyudahi makannya saat aku tiba di meja makan.
"Ayo, ngobrolnya kita di ruang tamu saja, Mbak!" ajakku sembari menenteng satu gelas jus lemon. Mbak Marisa setuju dan mengikutiku. Sebelum ke ruang tamu, kami berbelok dulu ke kamar Ibu.
"Uwa ... Marisa datang," ujar Mbak Marisa seraya menghampiri Ibu dan menyalami tangan kiri Ibu yang tidak stroke.
"Mar, tumben kamu jenguk Uwa. Bawa apa kamu Mar?" Ibu langsung bertanya meskipun agak perlahan, maklum sedang mengalami sakit.
"Marisa bawa buah-buahan dan bolu red velvet sama bolu pandan. Kalau Uwa mau, nanti biar Bi Narti ambilkan," ujarw Mbak Marisa. Ibuw diam tidak membalas.
"Ok, deh, Wa, kalau begitu Marisa ke ruang tamu dulu ya mau ngobrol-ngobrol dulu sama Nada. Kalau Uwa mau ikutan nimbrung, boleh saja. Uwa tinggal minta antar Mbak Vera," ujar Mbak Marisa santai.
Kami beranjak meski tidak ada jawaban dari Ibu. "Ada bisnis apa Kak Elang ke luar kota?" Mbak Marisa tiba-tiba menanyakan kepergian Mas Elang.
"Nada kurang tahu, Mbak. Mungkin saja restorannya yang diperluas itu," jawabku tidak yakin.
"Anu, Mbak, Nada merasa heran saja dengan Mbak Marisa, makan apa saja masuk tanpa mual muntah, dan lagi Mbak Marisa selalu ceria dan bahagia," ujarku seraya menunduk.
"Alhamdulillah, aku makan tidak ada yang dicegah dan tidak mual muntah, terus suami dan mertua aku tidak banyak menekan, jadi itulah kunci keceriaan aku saat hamil ini," tutur Mbak Marisa membuat aku menunduk sedih.
"Kamu kenapa, Nad? Aku tahu yang kamu rasakan, barusan aku bicara seperti ini tidak nyadar kalau kamu sedih. Aku minta maaf ya!" seru Mbak Marisa seraya merangkulku.
Seketika aku menangis tidak tertahan. Rasa sakit yang dirasakan ketika Ibu sering mencemooh dan menghina aku kini kembali menyeruak seperti luka yang terkena jeruk nipis, perih sekali.
"Nangislah selagi kamu masih berat di dada kamu, kalau sudah ditangiskan akan plong," bujuk Mbak Marisa berusaha membuat aku tenang. Mbak Marisa mengusap-usap bahuku dengan memberikan kekuatan.
__ADS_1
"Kalau belum puas, nangislah."
Selama kurang lebih sepuluh menit aku menangis, dan baru reda dan sedikit tenang. Dadaku terasa plong, benar kata Mbak Marisa. Aku mendongak. sembari mengusap pelan air mataku.
"Aku harap semua perlakuan Uwa Sri bisa kamu maafkan, kamu coba berdamai dan anggap saja angin lalu, maka kamu akan merasa lega. Coba deh, kamu lakukan di kamar saat sepi kamu hembuskan nafas dalam-dalam, lalu keluarkan. Dan lakukan itu selama tiga kali berturut-turut. Kamu niatkan saja untuk menghilangkan semua perasaan benci, dendam, kesal, juga sakit hati. Terus deh kamu lakukan dengan hati yang lapang," tutur Mbak Marisa panjang lebar.
Apa yang Mbak Marisa katakan barusan, sedikit membuatku lega dan bertekad akan berusaha lebih menguasai diriku sendiri supaya tidak sakit hati lagi oleh omongan Ibu yang menyakitkan. Apalagi sejak sakit, Ibu memang tidak lagi terdengar mengata-ngataiku.
"Sejak Ibu sakit, Nada sudah bertekad tidak akan sakit hati lagi kalau Ibu ngomong yang tidak-tidak tentang Nada," ucapku.
"Bagus itu Nad, kamu sudah ada tekad seperti itu. Lama-lama kamu akan plong dan terbiasa. Uwa juga, aku rasa bisa berubah jika kamu terus memperlihatkan perasaan kasih sayang dan cinta. Siapapun, jika sudah dipupuk kasih sayang dan cinta terus menerus, maka Insya Allah akan membuahkan cinta dalam diri orang tersebut, lihat saja nanti Uwa juga akan berubah, Nad," ucap Mbak Marisa semakin membuat lega perasaanku.
"Iya, Mbak, Nada merasa sedikit lega setelah mendengar penuturan Mbak Marisa. Nada juga tidak ada dendam sama sekali sama Ibu."
"Bagus itu, Nad. Sekarang tinggal siapkan saja hati dan mental kamu, terlebih kamu saat ini lagi hamil muda. Jadi pikiran yang sedih itu singkirkan," ujar Mbak Marisa lagi tidak bosannya memberiku motivasi.
"Kira-kira masih ada lagi, tidak, beban pikiran kamu dengan hal lain maksudnya?" Aku mengangguk. "Pasti ini kaitannya dengan Kak Elang, kan?" Aku mengangguk lagi pelan dengan mata yang berkaca-kaca.
"Mas Elang kadang kalau mendengar nama Mbak Mayang disebut dia selalu marah, apakah dia trauma dan belum *move on* dari Mbak Mayang? Ini yang selalu menjadi pikiran Nada. Namun setelahnya, Mas Elang selalu bilang mencintai aku."
"Itu benar, Nad. Kak Elang memang ada rasa trauma. Namun bukan berarti Kak Elang belum *moveon* dari Mayang. Kalau menurut aku wajar sih punya trauma, karena kejadiannya kayaknya sangat membekas di benak Kak Elang. Untuk menghindari traumanya, ya itu tadi harus menghindari yang namanya Mayang baik nama ataupun orangnya." Aku manggut-manggut mencoba memahami perkataan Mbak Marisa yang banyak benarnya.
"Masalah mencintai kamu, aku rasa itu benar. Dan saat ini yang dia cintai hanya kamu. Mayang sudah masa lalu yang sudah Kak Elang buang jauh-jauh. Dia terlalu menyakitkan untuk diingat namanya sekalipun, jadi seperti yang aku katakan tadi, wajar Kak Elang punya trauma, tapi bukan berarti dia belum move on dari Mayang. Buktinya dia bisa menikahi kamu dan menghamili kamu, wakwakwakwak," ujarw Mbak Marisa diakhiri gelak tawa. Aku ikut tergelak dengan ucapan Mbak Marisa yang terakhir.
"Jadi, mulai sekarang kamu tidak usah ragu dengan cinta Kak Elang. Kak Elang itu tipe setia, dia memang sedikit keras orangnya, tujuannya hanya ingin pasangannya tetap tidak berpaling dari Kak Elang. Pokoknya kalau kita patuh dan memahami watak Kak Elang maka dijamin Kak Elang akan bahagiakan orang itu mati-matian. Dan kepada kamu, aku rasa Kak Elang punya cara sendiri untuk mencintai kamu. Dan dia benar-benar mencintaimu seperti yang pernah dia bilang sama aku sebulan sebelum kalian nmenikah," ungkap Mbak Marisa mengakhiri obrolan kami kali ini.
Kedatangan Mbak Marisa kali ini membuat aku sedikit banyak merasakan kedamaian dalam dada. Aku akan berusaha membuat diriku senyaman mungkin dan berada di zona aman.
__ADS_1
.