
Terhempas. Begitulah yang aku rasakan sekarang. Mas Elang seakan tidak lagi menghargai perasaanku. Dia seenaknya menyakiti perasaanku. Tidakkah sedikit saja Mas Elang memahami aku?
Aku berlari menuju kamar Sya, dan meneruskan ratapanku disana. Pintu penghubung dan pintu kamar Sya sengaja aku kunci supaya Mas Elang tidak masuk.
Seminggu kemudian. Setelah mengantar Sya pergi sekolah, Mas Elang tiba-tiba menyampaikan kabar bahwa dia akan ada pekerjaan di luar kota selama seminggu. Setelah tadi menerima telpon yang sepertinya penting, dia menyampaikan kabar itu. Sekilas aku mendengar nama Kak Bintang disebut, mungkin saja pekerjaan di luar kota ini adalah kerja sama dengan Kak Bintang.
"Sayang....!" Mas Elang masih memanggilku sayang setelah apa yang dia lakukan waktu itu. Dia menghampiriku lalu mengajakku ke kamar. Aku mengikutinya dengan perasaan campur aduk.
"Aku, akan keluar kota selama seminggu. Aku titip Sya. Tugas menjaga Sya aku limpahkan sama kamu. Sebetulnya Mas ingin mengajak kalian. Namun ... Sya sekolah dan itu tidak bisa. Jadi... Mas mohon jaga Sya," ucapnya penuh permohonan. Sementara aku hanya diam saja mendengar Mas Elang ngomong.
"Aku titip ini, kamu bisa pakai sesuka hati kamu. Kalau kamu ingin pergi mengajak Sya jalan-jalan, hubungi aku dulu. Selama seminggu aku menyiapkan Supir untuk kalian. Mang Udin akan mengantar Sya pulang pergi sekolah ataupun kalian jika ingin pergi," papar Mas Elang seraya memberikan sebuah kartu ATM.
Baru pertama kali ini aku diberikan kepercayaan dari Mas Elang berupa harta, kartu ATM yang isinya mungkin begitu besar menurut ukuranku. Dan aku ragu mengambilnya.
"Ambillah sayang... itu buatmu, pakailah. Selama ini aku tidak pernah memberimu apa-apa," katanya sambil meraih tanganku dan memberikan kartu ATM itu ke tanganku.
"Sayang... tataplah aku. Aku minta maaf atas perlakuanku waktu itu. Aku sungguh mencintai kamu," ucapnya memohon lalu meraih pinggangku untuk lebih dekat dengannya.
Aku berusaha menepis, lagipula ini masih pagi dan Mas Elang memberi sinyal meminta sesuatu yang biasa dia minta yang tidak sanggup aku tolak. Kalaupun aku tolak, Mas Elang pasti balik marah.
"Nada... aku mencintaimu. Ayolah mendekat. Selama seminggu aku tidak bisa menyentuhmu. Jadi... tolong layani aku pagi ini. Jam 12 siang nanti aku harus segera berangkat, aku ditunggu seseorang," ucap Mas Elang memohon, deru nafasnya kian memburu. Lalu tanpa mampu aku tepis dia perlahan mencium wajahku, diabsennya satu persatu. Ciuman terakhir dia labuhkan di bibirku penuh kelembutan. Akupun akhirnya terbawa perasaan dan permainannya yang lembut.
Mas Elang membawaku ke ranjang. Perlakuannya kali ini begitu lembut dan romantis sehingga aku terbuai. Dan permintaannya kali ini tidak mampu aku tolak, ya aku kembali lemah. Tidak bisa tegas menolak permintaan Mas Elang yang sikapnya kadang berubah-ubah dan belum bisa aku pahami.
__ADS_1
Pertautan kami kali ini tidak didasari emosi atau rasa marah lagi seperti seminggu yang lalu. Mas Elang kembali membuatku menjadi seorang istri yang dibutuhkan. Dia berkali-kali minta maaf atas perlakuan kasarnya tempo hari.
"Sebetulnya aku ingin ajak kalian pergi dan menemaniku sambil bekerja. Tapi... Sya sekolah," ucapnya lagi seraya memelukku erat dan melabuhkan ciuman-ciuman kecil di tengkukku.
"Aku tahu kamu masih marah, makanya kamu sekarang banyak diam. Tapi harus kamu tahu, aku ini sangat mencintai kamu. Jadi aku mohon, jangan sekali-sekali kamu tinggalkan aku. Aku mohon," ucapnya lagi-lagi memohon.
Siang menjelang, kami telah sama-sama membersihkan diri. Ketika itu, tiba-tiba terdengar suara berisik yang sudah bisa ku tebak siapa. Ibu dan Mbak Sonia berjalan beriringan masuk ke dalam rumah dengan wajah yang suaranya. Hatiku jadi ciut akan ditinggalkan Mas Elang. Apalagi kalau Ibu dan Mbak Sonia akan menginap.
"Ayo turun....!" ajak Mas Elang seraya membawa kopernya. Aku mengikuti dari belakang. Saat di dasar tangga, Ibu menghampiri dengan heran.
"Elang ada kerjaan luar kota Ma, tadinya Elang mau bawa Nada sama Sya, tapi Sya sekolah jadi tidak bisa bawa mereka," ujar Mas Elang beralasan.
"Kenapa tidak ajak saja Sonia, kan sama saja bisa nemanin kamu di luar kota," harap Ibu.
"Sonia bukan istri Elang Ma," sangkal Mas Elang.
Ibu dan Mbak Sonia menatap kesal pada Mas Elang, lalu beralih menatapku dengan sinis. Aku tambah semakin ciut detik-detik kepergian Mas Elang ke luar kota.
Mas Elang meraih dan menatapku lekat, tangannya dia simpan tepat di pinggangku. Aku merasa risih karena di situ masih ada Ibu dan Mbak Sonia. Tapi lagi-lagi Mas Elang seakan sengaja ingin memperlihatkan keromantisan kami di hadapan Ibu dan Sonia. Aku kali ini tidak menolak, justru aku ingin memperlihatkannya. pada mereka keromantisan kami.
__ADS_1
"Sayang... Mas pergi dulu ya, jaga diri baik-baik. Dan Mas titip Sya," ucapnya sembari menatap wajahku lekat dan semakin mengeratkan pelukannya di pinggangku. Lalu tanpa aku sadari sebelumnya Mas Elang dengan cepat mencium dan \*\*\*\*\*\*\* bibirku di depan Ibu dan Sonia.
"Sayang, ayolah balas ciumanku, biar Ibu dan Sonia semakin cemburu," bisik Mas Elang sejenak. Dan entah mengapa aku mengikuti permaian Mas Elang.
Dan kami berciuman lagi disaksikan Ibu dan Mbak Sonia yang melongo tidak percaya.
"Mas, jangan lama-lama ya. Nada dan Sya pasti akan selalu merindukanmu," ucapku manja sebelum kami saling melepaskan pelukan kami.
"Kalian... sungguh tidak tahu diri...!" hardik Ibu melotot dan berteriak.
"Ma, Elang pamit. Jangan sekali-kali berani menyentuh Nada!" peringat Mas Elang kepada Ibu dan Mbak Sonia.
Mas Elang menaiki mobilnya dan menyalakan mesin mobil, lalu perlahan mobil Pajira warna biru metalik itu keluar dari halaman rumah. Aku melambaikan tangan saat mobil mulai meninggalkan gerbang.
"Hati-hati Mas... !" teriakku.
Aku tertegun sejenak setelah beberapa menit kepergian Mas Elang, sepertinya ada yang hilang dalam hidupku. Kelakuan kami tadi yang mempertontonkan adegan ciuman di hadapan Ibu dan Sonia, siap-siap akan jadi bahan cibiran Ibu. Lagi dan lagi ini ulah Mas Elang yang akan menuai hinaan padaku. Tapi kali ini aku sepakat dengan Mas Elang, entah mengapa.
Aku harus kuat mental menghadapi dua Nenek sihir di rumah ini. Setelah Mas Elang pergi aku yakin Ibu dan Mbak Sonia akan semena-mena terhadapku. "*Ya Allah... beri aku kekuatan*," harapku.
Jam 13.30 Sya pulang sekolah, namun dia merajuk setelah dia tidak dijemput dan tidak mendapati Mas Elang di rumah.
Bagaimana kelanjutannya? Tunggu di episode selanjutnya...
__ADS_1