
"Mas Elang....!" kejutku seraya terbangun. Aku bergeliat, ke kiri dan ke kanan melenturkan semua otot-ototku yang masih menegang.
"Nak... bangun... hari makin siang, ini sudah jam dua siang, waktu Lohor sebentar lagi habis."
"Bapak....!" aku dibuat terkejut saat aku sadari rupanya yang membangunkanku bukan Mas Elang melainkan Bapak.
"Kamu kenapa, Nak? Kamu pikir yang bangunkan kamu adalah Nak Elang, suamimu? Sejak tadi kamu mengigau memanggil suamimu, itu makanya Bapak membangunkanmu," ujar Bapak membuat aku merasa malu.
"Rupanya aku bermimpi, tadi seakan nyata kalau yang bangunkanku adalah Mas Elang," batinku.
"Ada apa sebetulnya dengan suamimu, apa kalian ada masalah?" tanya Bapak heran.
"Kalian bertengkar?" Aku menggeleng, aku sungguh tidak ingin menceritakan masalahku kepada Bapak, aku sungguh malu dan tidak mau membebani pikiran Bapak.
"Pak, apakah rumah ini semuanya Mas Elang yang biayai?" tanyaku mengalihkan pertanyaan Bapak tadi. "Iya... semua suamimu yang membiayai, dan suamimu juga yang kirim dan bayar tukang untuk merenovasi rumah ini." Bapak menjawab seraya menatap jauh ke depan sana.
"Bapak malu sama suami kamu, dia begitu baik dan perhatian sama Bapak dan adikmu. Bahkan dia selalu mengirim uang tiap bulan ke rekening Bapak. Uang jajan Nadli juga, Nak Elang memberinya setiap bulan," tutur Bapak terharu.
"Benarkah, Pak?" Aku mencoba meyakinkan, padahal aku memang percaya bahwa Mas Elang melakukan itu.
"Benar. Suamimu sungguh baik. Dia tidak saja mencintaimu, namun juga menyayangi Bapak dan adikmu. Maka, Bapak mohon jika ada masalah dengan suamimu, selesaikan baik-baik jangan bertengkar berlama-lama," peringat Bapak.
"Ini bukan masalah selesaikan secara baik-baik Pak, namun masalah hati dan perasaan Nada yang dikhianati. Apakah masih bisa dibicarakan secara baik-baik? Apakah Bapak masih akan bilang, bicarakan baik-baik?" Tentu saja jawaban ini aku tumpahkan di dalam hatiku, rasanya aku tidak sanggup untuk jujur sama Bapak.
"Kenapa kamu melamun, Nak? Benar, kalian bertengkar?" tebak Bapak lagi yang tidak mampu aku jawab. Aku berjingkat dengan alasan akan melaksanakan sholat Dzuhur.
"Nada ke kamar mandi dulu, Nada mau sholat, Pak." Bapak menatapku penuh tanda tanya dan membuang nafas kasar, raut wajahnya penuh kekhawatiran.
"Kak Nada... kapan datang? Kakak sombong, hampir setahun Kakak tidak pernah datang, mentang-mentang sudah menikah." Nadli adik cowokku tiba-tiba merangkulku ketika aku selesai melaksanakan sholat Dzuhur.
"Nadli....!" teriakku senang. Adikku satu-satunya ini adalah teman berantem saat aku masih belum menikah. Dia kadang bikin kesal, namun dia adalah sosok adik yang melindungi. Dulu saat aku pernah terluka karena terjatuh dari sepeda, Nadli membantuku dan menggendongnya sampai rumah.
Betapa kuatnya tenaga Nadli saat itu, padahal dia saat itu masih kelas satu SMP dan aku baru lulus SMA. Perbedaan usia kamipun cukup jauh, 6 tahun. Saat itu kami mainannya main sepeda dan balapan sepeda. Dan yang selalu menang justru Nadli. Betapa aku sayang sama adikku ini, semoga dia kelak menjadi orang yang sukses. Sejenak aku mengenang kenangan manis bersama Nadli di masa lalu.
"Kak... ih melamun. Kenapa sih Kak Nada tidak datang sama Kak Elang dan anaknya yang menggemaskan itu kaya aku?" kejutnya membuatku benar-benar tersadar dari lamunanku.
"Apa tadi bilang?" tanyaku benar-benar tidak ngeh apa yang Nadli tanyakan tadi.
"Kakak ini benar-benar melamun, pasti Kakak lagi melamunkan Kak Elang, ya?" tebaknya.
"Tidak... Kakak lagi melamunkan masa lalu kita yang indah. Sudah ah, Kakak mau ke dapur mau masak buat kita." Aku berjingkat meninggalkan Nadli yang bengong.
__ADS_1
"Tidak usah Kak, yang masak itu kan Bapak. Aku juga kadang bantuin Bapak masak. Tapi Bapak selalu melarang, padahal aku juga ingin kayak Bapak pintar masak," cerita Nadli.
Aku terhenyak mendengar cerita Nadli. Kasihan juga Bapak, sejak Ibu meninggal 4 tahun lalu, Bapak selalu terlihat murung, mungkin Bapak kesepian ditinggal Ibu yang begitu dicintainya. Sekarang Bapak apa-apa sendiri, bahkan aku mengijinkan Bapak menikah lagi supaya Bapak ada yang menemani dan mengurus. Namun Bapak selalu menolaknya, alasannya Bapak hanya ingin setia sama Ibu. Aku sangat terharu mendengarnya.
Malam menjelang, setelah sholat Isya dan makan malam bersama, aku segera masuk kamar. Alasanku sudah ngantuk. Padahal aku kepikiran Mas Elang. Sampai tiba waktu malam, Mas Elang sama sekali tidak ada mencariku. Menelpon atau sekedar berkirim pesan via WA juga tidak ada, aku menjadi sangat sedih.
"Mas Elang tega, tidak menyusul atau mengirimkan pesan WA. Ternyata Mas Elang masih mencintai Mbak Mayang," rintihku dalam hati, bersamaan dengan runtuhnya air mataku.
Tiba-tiba saat aku sedang merintih karena memikirkan Mas Elang, di luar kamar sayup-sayup terdengar suara beberapa orang berisik. "Siapa ya, seperti suara Mas Elang?"
Semakin dekat semakin jelas suara itu, dan benar saja itu suara Mas Elang yang sedang berbicara dengan Bapak. Saat ku intip dari celah pintu, entah apa yang diberikan Mas Elang, sekantong kresek besar diberikan pada Bapak yang disambut baik juga oleh Bapak.
Suara Sya juga seketika mendadak heboh. Nadli yang sejatinya suka sama anak kecil dan pernah bertemu Sya saat menikah, langsung akrab dan nempel sama adikku. Aku kembali ke ranjang, duduk merenung apa yang seharusnya aku lakukan. Tiba-tiba pintu kamarku diketuk dan suara Sya nyaring memanggilku.
"Assalamu'alaikum, Bunda....!" ucapnya seraya mengangkat handle pintu, yang terlihat bergerak ke bawah pertanda pintu ingin dibuka. Pintupun terbuka dan orang pertama yang aku lihat adalah Mas Elang yang justru malas aku lihat.
"Bunda....!" teriaknya sambil menyerobot masuk dan menubruk tubuhku yang duduk di ranjang.
"Sya....!" balasku seraya membalas rangkulan Sya. Bocah imut menggemaskan itu menciumiku penuh kerinduan.
"Bunda... kenapa Bunda pergi duluan ke rumah Kakek. Kata Papa, Bunda sudah rindu Kakek sehingga Bunda pergi duluan." Aku mengangguk saja membenarkan ucapan Sya. Saat aku berdebat dengan Sya, Mas Elang duduk di sampingku lalu tidak segan merangkul pinggangku. Di hadapan Sya, Mas Elang sengaja memperlihatkan kehangatannya. Dan aku tidak bisa mencegah.
"Sya, ini sudah malam. Tadi Om Nadli minta Sya temanin bobo lho. Sya sudah janji bukan mau bobo sama Om Nadli?" ucap Mas Elang memaksa Sya mengingat janjinya kepada Nadli. Sya seolah baru mengingatnya, lalu melepaskan rangkulannya di leherku.
"Ayo Sya, cepat! Om Nadli sudah menunggu!" ucap Mas Elang setengah mengusir. Sya turun dari pangkuanku dan berlari keluar pintu menuju ke kamar Nadli, adikku.
Mas Elang berdiri dan langsung menutup pintu lalu menguncinya. Aku terbelalak tidak suka. Aku menjauh dari ranjang menuju jendela dan menatap keluar dari celah gorden yang sedikit tersingkap.
"Buat apa Mas menyusul Nada?" tanyaku datar. Mas Elang melangkahkan kakinya menuju ke arahku, aku memasang kuda-kuda untuk mengantisipasi jika saja Mas Elang melakukan hal pemaksaan seperti merangkul pinggangku seperti tadi di depan Sya.
Namun rupanya aku kalah cepat, Mas Elang sudah mengunci tubuhku dari belakang seraya menenggelamkan kepalanya di pundakku. Aku tidak bisa bergerak bebas.
"Mas, lepaskan! Nada mau melangkah," tepisku berusaha melepaskan diri, namun sia-sia. Mas Elang justru memutar tubuhku dan secepat kilat mencium bibirku. Tengkukku ditahannya agar aku tidak bisa berontak. Ciuman itu begitu lembut namun bergelora. Jantungku saja tiba-tiba berdebar kencang.
__ADS_1
Saat ruang oksigen semakin berkurang, Mas Elang melepas pagutannya. Tubuhku dihimpitnya sehingga aku tidak bisa keluar dari kungkungannya.
"Mas, lepaskan Nada. Setelah Mas Elang bersenang-senang keluar kota bersama Mbak Mayang apakah itu masih kurang? Silahkan kejar Mbak Mayang, jika memang Mas Elang menghendakinya. Namun, Mas harus ceraikan dulu Nada." Mas Elang langsung membungkam kembali bibirku dengan bibirnya.
"Jangan keras-keras bicaranya nanti didengar Bapak atau Nadli," bisiknya, di depan bibirku. Hembusan nafas itu begitu wangi dan segar menyerbu langsung ke dalam hidungku.
"Kamu itu sedang cemburu, tapi cemburu buta!" tudingnya seraya menatap lekat mataku tepat di bola mataku. Deru nafasnya kian terasa.
"Aku bisa jelaskan kenapa foto aku dan Mayang itu ada dan kenapa bisa sampai di WAmu."
"Ini bukti skenario penjebakan yang akan dibuat Mayang. Dan anehnya Mayang bisa tahu Mas keluar kota. Ini jelas ada yang bersekongkol dengan Mayang," lanjut Mas Elang seraya memberikan HPnya padaku.
Mas Elang membawaku duduk di ranjang dengan tangan yang mencengkram kuat, dia seakan ketakutan aku lari darinya.
Mas Elang membuka HPnya karena melihat aku yang sama sekali tidak peduli.
"Ini semua hasil CCTV dan rekaman langsung anak buahnya Mas Bintang. Saat Mas tiba di hotel yang dijanjikan Mas Bintang, Mayang juga berada disana. Dia ingin menjebak Mas masuk dalam perangkapnya, namun gagal karena keburu terlacak oleh orang-orang Mas Bintang," tuturnya sungguh-sungguh.
Satu persatu bukti yang terekam oleh CCTV maupun yang berhasil direkam oleh anak buahnya Mas Bintang, kini terpampang nyata di depan mataku. Rupanya ini rencana Mbak Mayang, dan Mbak Mayang berhasil menguntit Mas Elang atas informasi dari seseorang.
"Bagaimana, cukup jelas kan apa yang dilihat di rekaman CCTV itu?" Mas Elang tersenyum menyeringai seraya meraih kembali HPnya dari tatapanku. Aku merinding ketakutan melihat Mas Elang menyeringai.
"Mas senang lihat kamu cemburu, itu artinya kamu mencintai aku," ucapnya seraya merangkul pinggangku dan meraih tubuhku lalu dibaringkan diatas kasur. Aku terbaring dalam kepasrahan walaupun jantungku berdebar-debar.
"Kamu harus membayarnya malam ini. Akibat cemburu yang tidak pada tempatnya." Mas Elang semakin menyeramkan lalu dengan cepat turun dari ranjang dan mematikan lampu.
"Trekkk,"
__ADS_1
Dan dari situlah dimulai petualangan baru antara Mas Elang dan aku.