
Apa yang harus aku perbuat lagi di hadapan ibu, sementara Mas Elang memintaku untuk selalu mengalah dan tidak meninggikan bicaraku di hadapan ibu, walaupun ibu menyakiti atau menghinaku? Mas Elang merasa kecewa jika ada yang mengasari atau meninggikan suaranya di hadapan ibu, terutama jika aku yang melakukan itu.
Mas Elang saat itu masuk ke kamar Sya saat berhasil membujukku untuk membukanya. Dia menghampiriku dan duduk di tepi ranjang, sementara aku berbaring membelakanginya. Mas Elang berusaha membujukku dan mengusap bahuku.
"Aku tidak mau kejadian seperti tadi terulang lagi, kamu meninggikan intonasi suara kamu pada Mama di hadapanku. Aku sayang sama kamu, tapi aku lebih sayang sama Mama. Jadi, aku tidak mau sesalah apapun Mama sama kamu, di hadapanku jangan berani berkata kasar pada Mama. Dia Mamaku, aku akan kecewa perempuan yang telah berjasa melahirkan aku kedunia, dibentak atau dikasari sama orang lain, termasuk sama kamu," ucap Mas Elang saat itu.
Aku hanya bisa menahan tangis saat Mas Elang berkata seperti itu, tangis yang ditahan sehingga dadaku sesak dan sedu sedan itu tidak tertahankan, lolos begitu saja.
"Sekasar apapun hinaan ibu pada Nada di depan orang-orang, Nada harus diam saja, Mas? Menerima begitu saja hinaan ibu dan ditelan bulat-bulat? Baiklah, akan Nada ikuti kemauan kamu Mas. Dan kita lihat sampai dimana Nada akan bisa bertahan menjadi istri kamu," balasku sambil mencucurkan air mata.
"Jadi, kamu ada rencana meninggalkan aku, begitu?"
"Jika memang Mas Elang menginginkan Nada pergi, maka sekarang juga Nada akan pergi!"
"Kamu salah paham Nada, tidak begitu maksudku. Kamu belum paham sifat Mama, sekarang aku mampu menghormati bapak kamu dan menyayanginya, terus kenapa kamu nggak? Coba kamu rasakan gimana kecewanya seorang anak melihat ibunya dikasari di depannya, apa kamu sama merasa kecewa atau tidak? Pasti sakit hati sama kayak aku," tekan Mas Elang.
"Nada tidak pernah kasar sama ibu, Mas. Nada hanya membela diri, karena ibu yang terus-terusan menekan dan menuduh Nada. Apa salah jika Nada membela diri?" balasku sengit.
"Aku tahu, tapi coba sedikit... saja menahan egomu. Walaupun sekeras apapun Mama bicara dan menghinamu jika kamu sama sekali tidak melawannya maka Mama akan diam sendiri. Aku tahu sifat Mama, Mama bisa sangat sayang sama seseorang jika orang itu nurut sama Mama. Aku jamin kamu akan sangat Mama sayang. Aku tahu sikap Mama berubah seperti itu, itu hanya pelampiasan semata atas kekecewaannya terhadap Mayang."
__ADS_1
Aku hanya diam mendengarkan semua ucapan Mas Elang, yang semuanya hanya menambah rasa sakit hatiku saja. Mas Elang sungguh tidak mengerti aku. Sekarang aku disuruh diam saja jika ibu menghinaku sekasar apapun. Lantas dimana pembelaan Mas Elang terhadap aku, yang dihina saat Mas Elang seakan sengaja memperlihatkan hubungan ranjang kami yang diketahui ibu? Dan ibu dengan entengnya mencemooh aku di depan teman-teman arisannya.
Aku kadang jadi bingung dengan Mas Elang, dulu merasa tidak senang jika ibu mencemooh aku di depan orang-orang. Dan kini Mas Elang malah tidak senang saat aku membela diri di hadapan ibu karena tuduhannya tidak benar.
"Sudah aku katakan, di hadapanku aku tidak mau kamu berkata keras atau meninggi pada Mama. Aku anaknya, sekarang aku bisa menyayangi orang tuamu. Coba kamu juga sayangi Mama dengan menahan egomu. Itu saja. Aku sudah pusing dengan tingkah kalian yang tidak pernah mau akur, ditambah lagi sertifikat tanah Perkasya Restoran yang hilang. Dengan kalian saling debat dan membela diri, sakit kepala aku. Coba patuhi sekali ini saja kata suamimu ini Nada Irama!" cetus Mas Elang penuh penekanan.
"Baik Mas akan Nada coba. Tapi kalau Mas Sakti bisa menghentikan ibu supaya tidak bicara kasar atau menghina Nada lagi, maka Nada janji Nada tidak akan keras dan meninggi bicara pada ibu," balasku menekan seraya berlalu dan membuka pintu kamar Sya dan membantingnya.
"Brakkk....!" suara pintu itu menggelagar sampai terdengar ke bawah. Rasa kecewaku akan sikap Mas Elang mengalahkan rasa takutku terhadapnya. Aku tahu aku salah, harusnya aku patuh sama Mas Elang. Namun, aku juga tidak mau ibu selalu menghina dan mencemooh aku terus.
"Nada....!" teriakan protes Mas Elang tidak aku gubris. Aku pergi ke taman belakang rumah lalu mengunci pintu belakang dari luar, berharap siapapun tidak bisa membuka pintu itu termasuk Mas Elang. Aku menangis di sana, rasanya tidak ada yang bisa membela aku termasuk Mas Elang. Pada siapa aku mengadu saat diri ini dihina ibu?
Sore harinya, sekitar pukul 4. Mas Elang baru pulang dari menjemput Sya. Aku yang mendengar suara mobil Mas Elang sudah berada di depan rumah, segera menyelinap keluar lagi ke taman belakang. Kebetulan ibu sudah tidak ada di rumah ini, jadi aku leluasa keluar masuk dapur dan belakang rumah.
"Sayang, bukalah... Sya sudah pulang. Dia mencarimu. Ayo... buka. Aku mau minta maaf sama kamu tentang tadi," bujuknya memaksa. Dan aku masih tidak peduli.
"Nada... tolonglah buka, ayolah... jangan begini. Sya mencarimu dan kami masih membutuhkanmu!" bujuk Mas Elang lagi sedikit ditekan. Dengan terpaksa aku buka kunci pintu itu, walau sudah sangat hati-hati membukanya, namun bunyi kunci masih menimbulkan suara.
"Trek....!" dan beberapa detik kemudian pintu itu terbuka.
__ADS_1
Mas Elang muncul dan menghampiriku yang terduduk di bangku panjang di taman belakang. Dengan mata bengkak dan hidung yang memerah, menandakan bahwa aku sejak tadi masih menangis.
Aku membuang muka saat Mas Elang ingin menatapku, dan menepis tangan Mas Elang yang meraih jemariku.
"Ayolah masuk, Sya menunggu! Aku tidak ingin Sya melihat kamu seperti ini," bujuknya lagi.
"Tentang hal tadi, aku minta maaf tidak membelamu di depan ibu. Tapi percayalah, aku selalu mencintai kamu. Kamu tahu kan aku sedang kalut dan ada masalah besar yang terjadi, jadi aku mohon jangan terlalu kamu pikirkan sikap aku tadi."
"Memang pada dasarnya Mas Elang tidak akan pernah membela Nada, Nada hanya orang lain yang kebetulan Mas nikahi, yang sewaktu-waktu bisa Mas buang kapan saja. Jadi, tidak perlu berbuat apa-apa buat Nada, sekalipun dihina orang lain," ucapku sembari melengos dan berlari ke dalam dapur.
Mas Elang menyusul lalu meraih tanganku dan menariknya. "Ayolah... Sya menunggumu. Aku mohon demi Sya lupakan sejenak hal tadi." Tanpa menyahut, aku beranjak dan berlari kecil menuju tangga dan menaikinya. Di depan pintu kamar, Sya menyambutku dan menghambur ke arahku. Aku sungguh tidak bisa membiarkan Sya walaupun hatiku sedang kecewa oleh Mas Elang. Dibalik pintu l, Mas Elang melihat interaksiku bersama Sya yang terlihat akrab.
"Kenapa mata Bunda bengkak dan hidungnya merah?" celoteh Sya penasaran. Bersamaan dengan itu bel berbunyi tanda ada orang bertamu.
"Assalamu'alaikum....!" Dan suara salam itu tidak asing. Tidak salah lagi. Senyumkupun mengembang.
__ADS_1