"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Tuduhan Ibu


__ADS_3

"Arghhh....!" Mas Elang berteriak sembari melempar yang ada di meja rias. Semua make up yang selalu Aku pakai berhamburan. Aku terhenyak, seketika rasa takut menyelimuti diriku, aku hanya mampu berdiri di balik pintu penghubung kamar kami dan Sya dan menatap Mas Elang resah. Ingin aku hampiri, namun Mas Elang masih dikuasai emosi. Biarkan saja, sebaiknya aku menunggu Mas Elang tenang.



Tiba-tiba Ibu datang sebelum aku menghampiri Mas Elang. Ibu kaget dan ternganga melihat kondisi kamar yang berantakan. Sebelum mendekati Mas Elang, Ibu sempat menatapku tajam seraya memberi kode jempol ke bawah. Aku tahu maksud Ibu, Ibu senang jika aku kena marah Mas Elang. Tapi kemarahan Mas Elang, aku belum tahu karena apa.



"El, ada apa ini. Kenapa kamu marah?" Ibu bertanya begitu perhatian seraya mengusap bahu Mas Elang.


"Sertifikat tanah PerkaSya Restoran hilang, Ma. Dan PerkaSya Restoran saat ini statusnya sedang dijaminkan di bank," ungkap Mas Elang menahan amarah yang masih ada.


"Apa....?" Aku dan Ibu sama terhenyaknya. Benarkah apa yang diungkapkan Mas Elang, kenapa sertifikat tanah PerkaSya Restoran bisa hilang? Siapa yang sudah berani masuk tanpa sepengetahuan ke kamar kami. Sedangkan aku saja tidak pernah berani membuka lemari penyimpanan barang penting Mas Elang?



Aku menghampiri Mas Elang yang kini terduduk di tepi ranjang dan berniat memberi kekuatan.


"Mas....!" sapaku. Mas Elang tidak menyahut, dia nampak stress dan kalut. Kedua tangannya meremat kepala sehingga sebagian rambutnya terangkat.


"Kamu ini Nada, bisanya cuma duduk diam dan keluyuran. Bisa saja sertifikat PerkaSya Restoran itu hilang karena keteledoran istrimu, saat dia pergi mana tahu ada maling masuk dan dia sedang tidak berada di rumah," tuding Ibu ke arahku membuat aku emosi seketika.



"Bu... mana pernah Nada keluyuran tanpa sepengetahuan Mas Elang. Saat Mas Elang keluar kota, Nada hanya sekali keluar rumah dan itu berdua bersama Sya. Dan kami diantar Pak Udin, Supir yang ditugaskan Mas Elang. Kalo Ibu tidak percaya tanyakan saja Bi Narti, apakah Nada sering keluyuran?" tandasku membela diri.


__ADS_1


"Tuh lihat, istrimu itu pandai ngeles. Padahal tanpa sepengetahuan Mama, pasti dia itu keluyuran. Narti sama Udin pasti sudah kena sogok olehnya, sehingga nanti pas ditanya mereka pasti ngakunya, Non Nada cuma pergi sekali," sanggah Ibu semakin kejam saja menuding aku.



"Tidak Bu, yang Ibu katakan semua fitnah. Nada memang pergi, tapi itu cuma sekali dan itu dengan Sya," tegasku.



"Kalian bisa diam tidak, aku lagi pusing. Kalau kalian tidak bisa bantu, jangan bertengkar disini. Keluar semua!" Mas Elang berteriak dan marah lalu mengusir kami. Aku bangkit dan melangkah pelan.



"Bisa jadi ada musuh dalam selimut di rumah ini El, musuhnya siapa lagi kalau bukan yang selalu berselimut tiap malam bersamamu!" Belum sampai langkahku menuju pintu penghubung kamar kami dan Sya, Ibu bicara ketus dan menuding langsung ke arahku. Aku memutar kembali tubuhku dan menghampiri Ibu.



"Apa maksud Ibu, musuh dalam selimut? Nada tidak mungkin melakukan itu Bu, Mas Elang suami Nada, dan Nada tidak mungkin mengkhianati Mas Elang. Kenapa Ibu tega banget tuduh Nada seperti itu? Sejak Nada tinggal disini, apakah pernah Mas Elang kehilangan barang?" sangkalku membela diri.




Batinku menjerit, tiba-tiba aliran darahku naik ke ubun-ubun dan tinjuku sudah bulat ingin saja lepas kendali. Namun air mata, lebih dulu menguasai dan tidak bisa dibendung.



"Bisa saja Ibu yang melakukan ini. Bisa saja Ibu musuh dalam selimut itu. Bisa saja Ibu bersekongkol bersama Mbak Sonia. Bukankah selama Mas Elang keluar kota, Ibu dan Mbak Sonia nginap di rumah ini. Bisa saja salah satu diantara kalian yang menjadi musuh dalam selimut itu," serangku bertubi-tubi saking tidak kuat menahan sesak di dada karena tuduhan Ibu, sambil bercucuran air mata.

__ADS_1



"Nada... apa kamu bilang, tidak mungkin Ibu melakukan itu!" Mas Elang bangkit dan menimpali perdebatan kami, Mas Elang membela Ibu yang tidak mungkin menjadi musuh dalam selimut bagi Mas Elang.



"Iya Mas Ibu tidak mungkin menjadi musuh dalam selimut pada anaknya sendiri, iya kan? Dan Nada, menurut Mas Elang apakah mungkin menjadi musuh dalam selimut yang ingin menghancurkan suami sendiri? Nada tidak sama dengan mantan istri Mas Elang yang terdahulu, jadi jangan samakan Nada dengan dia," ucapku berlinang air mata membela diri sendiri di hadapan Mas Elang karena disudutkan Ibu. Walaupun sejatinya Mas Elang memang tidak menuding atau mencurigaiku sebagai musuh dalam selimut. Namun aku terlanjur emosi atas tuduhan Ibu yang menyudutkanku terus-terusan. Aku berjingkat dan berlari menuju kamr Sya lalu menguncinya.



"Nada... dengarkan aku, bukan begitu maksudku!" teriak Mas Elang yang tidak mampu menghentikan langkahku menuju kamar Sya.



Di dalam kamar Sya, aku menangis sejadi-jadinya. Atas tuduhan Ibu, aku benar-benar merasa sakit hati. Dan aku kecewa dengan sikap Mas Elang yang seolah-olah membiarkan Ibu seenaknya menuding aku tidak benar.



Aku harus membongkar siapa sebenarnya musuh dalam selimut di rumah ini. Apakah Ibu atau Mbak Sonia, kecurigaanku mengarah pada Mbak Sonia. Sebab saat Mbak Sonia bertemu dan bertatap muka langsung dengan Mbak Marisa, dia begitu gusar dan takut saat itu. Bisa jadi benar apa yang dikatakan Mbak Marisa, bahwa Mbak Sonia bersekongkol dengan Mbak Mayang.



Tangisku reda, aku segera membenahi dandananku yang kusut, aku segera merogoh HPku di dalam tas lalu aku berusaha mengirim pesan WA pada Mbak Marisa tentang kejadian hari ini.


POV Elang


Aku tidak bermaksud membela Mama atas tuduhan balik Nada terhadap Mama, aku percaya Mama maupun Nada istriku tidak mungkin melakukan pengkhianatan. Aku hanya tidak ingin Nada berkata meninggi terhadap Mama di hadapanku, bagaimanapun Mama adalah Ibuku, Ibu kandungku.

__ADS_1


Walau aku akui Mama memang tidak pernah suka pada Nada, namun aku tidak bisa berkata kasar atau keras terhadap Mama. Dan mungkin sikap ini sedikitnya membuat Nada kecewa. Aku tahu, namun sudah aku katakan, aku tidak mau kasar sama Mama walaupun Mama membenci Nada.


Nada berlari ke kamar Sya, aku tidak khawatir. Asal dia tidak lari dari hidupku. Biarlah nanti aku membujuknya kembali saat rasa kalutku sedikit mereda. Sekarang yang harus aku lakukan menyelidiki siapa sebenarnya yang mencuri sertifikat tanah PerkaSya Restoran? Aku lagi-lagi harus meminta bantuan Mas Bintang. Sahabat sekaligus kakak tingkat yang selalu membantu saat suka dan dukaku.


__ADS_2