
Sore itu badanku seperti ada yang nguyek-nguyek, rupanya Mas Elang membangunkan tidurku. Rasanya aku nyenyak tidur siang ini. Sejak hamil, aku sering banyak tidur siang. Apakah ini tidak berpengaruh buruk bagi kehamilanku? Masalahnya rasa kantuk itu benar-benar tidak bisa ditahan, terlebih Mas Elang saja tidak rewel dan melarang.
Kalau aku harus mengingat kebaikannya, jelas dia banyak baiknya, walau wataknya sedikit keras, kadang aku mikirnya dia punya kepribadian ganda. Saat rasa takut kehilangan aku, sudah dipastikan Mas Elang akan bersikap lembut dan berusaha merayuku. Namun di kesempatan lain kadang nampak keras. Trauma masa lalu jadi alasannya, terkesan mengekangku dan melarang ini itu untuk tidak banyak melakukan aktifitas di luar, tidak lain Mas Elang takut kisah pahitnya terulang kembali dalam rumah tangganya.
"Sayang ... bangun dong ... katanya mau jalan-jalan sore. Tapi jangan ke Danau Cinta ya, kita ke Taman Bahagia saja," ucapnya merubah tujuan jalan-jalan sorenya.
Aku masih malas-malasan untuk bangun, entah kenapa, aku masih pengen memeluk bantal.
"Sayang, ayo bangun!" perintahnya setengah memaksa.
Akhirnya aku bangun dengan mata masih merem. "Ayo ... dong! Jangan jadi pemalas baby girl!" gertaknya membuat aku terpaksa bangun.
"Baby girl ....?" aku bertanya heran. "Memang Mas Elang yakin, bayi dalam kandungan Nada perempuan? Terus jika bukan perempuan, Mas tidak akan sayang, gitu?"
"Tidak, dong. Tetap sayang," sangkalnya sambil mencubit hidungku sehingga aku benar-benar bangun.
"Ayo, jangan malas dan banyak alasan. Kita jalan-jalan sore!" gertaknya lagi. Aku langsung bangkit dan menuju kamar mandi.
"Jangan lama-lama, Sayang!" peringatnya. Tidak butuh lama, 10 menit kemudian aku sudah keluar kamar mandi, hanya sikat gigi dan cuci muka saja. Segera mengganti baju dengan baju santai namun tetap sopan dan elegan. Lalu duduk di depan cermin memoles muka yang kusam karena habis bangun tidur.
"Kamu sudah sangat cantik, Sayang. Ini hanya jalan-jalan sore bukan ke pesta atau mall." Mas Elang melingkarkan tangannya di leherku, menenggelamkan wajahnya sejajar dengan wajahku lalu mencium pipi kiriku gemas, membuat bulu kudukku meremang.
"Mas, Nada belum selesai!" cegahku menghentikan sikap usilnya. Tuh 'kan, Mas Elang sekarang lagi mode romantis dan lembut. Padahal kemarin-kemarin masih mode tegas dan kerasnya. Pasti ada maunya.
"Kamu sudah cantik, masih didempul," komplennya lagi.
"Ini juga buat kebaikan Mas Elang, bukankah Mas Elang selalu bilang 'pantaskan dirimu agar saat jalan sama aku, kamu pantas dan tidak dipermalukan orang lain' , itu 'kan yang selalu Mas Elang bilang?" ujarku menirukan kata-kata Mas Elang tempo hari.
"Iya, tapi ini 'kan hanya jalan sore dan di dalam rumah. Sekarang kamu malah sering dandan di dalam rumah," komplennya lagi membuat aku sebal.
__ADS_1
"Mas, Nada cuma pakai *sunblock* saja, kok," sergahku. Mas Elang tidak berkata-kata lagi, mungkin bosan untuk melanjutkan aksi protesnya lagi. Akhirnya aku siap dengan segala make up tipisku yang tadi sempat diprotes Mas Elang.
Aku berdiri dan bergaya centil mirip anak ABG jaman sekarang, memutar tubuh di depan cermin sehingga rok payungku ikut memutar.
"Keppp .... !" Mas Elang berhasil menangkap tubuhku sempurna tepat di hadapannya.
"Beginilah kalau mendapatkan istri ABG," ujarnya mempererat rangkulannya seraya menatap tajam tepat di kornea mataku.
"Kamu cantik, Sayang. Membuat aku ingin menerkammu. Ayo lakukan sekarang, Mas sudah tidak kuat!" permintaan mendesak di saat kami akan siap pergi.
"Mas, kita 'kan mau pergi, masa Mas Elang ngajak begitu. Nada sudah rapi dan siap pergi. Apalagi Sya sudah menunggu dari tadi, nanti kita kemalaman ke Danau Cintanya," sergahku menahan dada bidang Mas Elang yang nyosor ingin menciumku.
"Ahhh ...!" pekikku sesaat sebelum Mas Elang melabuhkan ciuman di bibirku. Ciuman itu ditahannya lama, seakan takut aku melepasnya.
"Papa, Bunda, ayokkk ....!" teriakan Sya, membuyarkan gelora hasrat yang membara Mas Elang. Aku bersyukur, sebab Sya keburu berteriak, namun tidak masuk kamar karena pintu kamar kami tutup.
"Aduhhh ... sakit Mas!" ringisku menahan perut bawahku yang terasa keram.
"Kenapa, Sayang?" Mas Elang nampak cemas.
"Keram," sahutku memejamkan mata. Namun perlahan-lahan rasa sakitnya menghilang, kata Dokter Gilang tempo hari, ini tidak akan apa-apa, dan keram pada kehamilan usia dua bulan biasa terjadi pada kehamilan usia muda.
"Bagaimana, sudah mendingan?" Mas Elang masih cemas. Aku mengangguk seraya memoles kembali bibirku yang berantakan akibat ulah Mas Elang.
"Ayo dong, jangan buat suamimu ingin menahan kamu di kamar, dan aku buat Sya dijagain Bi Ijah," ancamannya membuat aku benar-benar takut.
"Ayo, Sya!" teriakku pada bocah tampan menggemaskan itu.
"Ayo, Bunda!" sahut Sya seraya meraih tanganku. Mas Elang menatap interaksi kami sambil tersenyum, lelaki dewasa yang kadang bikin hati cenat cenut dengan banyak pertanyaan ini berjalan di belakang kami, menggiring kami menuruni tangga.
__ADS_1
"Sya, kita pamit dulu pada Nene," ajakku pada Sya. Mas Elang tersenyum menyetujui ajakanku, sembari meraih lenganku romantis membawaku pada ibu. Rupanya ibu sedang tertidur sore. Terpaksa kami pergi tanpa pamit langsung padanya.
"Mbak, jika Mama saya mencari, katakan kami pergi sebentar. Bilang, kami tadi mau pamit namun Mama tidur," pesan Mas Elang pada Perawat Mama, sambil berjalan kembali menyusulku dan Sya.
"Kami semua sudah siap di dalam mobil, mobil melaju saat gerbang rumah terbuka lebar.
"Terimakasih, Pak Nanang," teriak Mas Elang. Walaupun seorang Bos, namun Mas Elang selalu mengutamakan adab. Itu yang aku salut dari suamiku si pria dewasa ini.
Sungguh aneh aku ini dan aneh juga dengan sikap Mas Elang, kemarin aku merajuk dengan sikap Mas Elang yang seakan tidak perhatian padaku. Namun kini aku kembali dibuat senang dengan sikapnya yang manis. Sungguh pasang surut cinta dalam rumah tanggaku tidak bisa ditebak. Kemarahan namun penuh dengan cinta.
Mobil menuju Danau Cinta. Namun pada jarak 1 kilo meter, Mas Elang membelokkan Pajiranya ke arah kiri, jelas ini arah menuju Taman Bahagia. Aku terbelalak tanda protes.
"Mas, ini bukan arah ke Danau Cinta 'kan? Tadi tujuan kita mau Danau Cinta, tapi kenapa berubah?" tanyaku protes. Mas Elang menatapku sekilas lalu fokus kembali ke kemudi.
"Tidak., Sayang. 'Kan Mas sudah bilang tadi, kita nggak jadi ke Danau Cinta melainkan ke Taman Bahagia," jelasnya membuat aku hilang semangat. Selalu saja begitu, membuat keputusan tapi tidak kompromi.
"Mas Elang tadi di rumah bukan minta persetujuan Nada, tapi bertanya, dan Nada tidak menyetujui kita ke Taman Bahagia. Mas Elang ambil keputusan sendiri. Kok gitu sih Mas? Nada 'kan belum pernah ke Danau Cinta," ujarku protes dan rasanya saat protes ingin menangis.
"Sudah ... aku minta maaf. Mas tidak mau ke Danau Cinta, sebab .... " kata-kata Mas Elang tertahan. Aku menatap heran Mas Elang dengan tatapan sayu dan sedih.
"Kenapa Mas, apa alasannya? Apakah ada kenangan yang tidak ingin Mas Elang kenang? Kenapa Mas nggak bilang dan kasih penjelasan dari awal sejak di rumah? Kalau kayak gini alangkah baiknya kita tidak jadi pergi," protesku kecewa. Sya yang berada di belakang kami, menatap kami silih berganti.
"Ya, sudah Mas minta maaf," ucapnya membuat aku diam dan kecewa. Aku penasaran dan alasan apa yang membuat Mas Elang tidak mau ke Danau Cinta. Seharusnya Mas Elang memberi penjelasan saat di rumah, ini malah membuat aku kecewa di tengah jalan. Aku merajuk namun hanya bisa diam.
Kalau ke Taman Bahagia, aku sudah tidak asing lagi. Malah taman inilah tempat aku dulu pergi dan merajuk dari rumah, saat Mas Elang sempat mengusirku karena marah. Aku semakin kesal jika mengingat kejadian ini beberapa bulan yang lalu.
__ADS_1