"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Harus Mandiri


__ADS_3

POV 1(Nada)


"Sayang ... sore ini aku harus ke RS. Mama ingin aku selalu berada di sampingnya. Tidak sampai nginap kok, kalau malam sehabis Mama tidur, aku pulang," ijin Mas Elang tempo hari. Aku tidak keberatan, sebab Mas Elang memang benar-benar menunggui ibunya. Keadaan ini berlangsung sudah hampir seminggu dan ini minggu kedua. Keadaan ibu yang masih ngedrop dan perlu perhatian Dokter secara intens, mengharuskan ibu masih dirawat inap di RS.


Minggu pertama, Ibu sudah mulai kelihatan ada perubahan baik, yaitu bicaranya tidak pelo lagi. Sudah sedikit jelas namun belum normal.



"Iya, Mas. Salam, ya, buat Ibu," ucapku seraya mengecup tangannya. Mas Elang membalas dengan mengecup keningku seraya mengusap kepalaku.


"Baik-baik di rumah ya, titip Sya. Kalau ada apa-apa minta tolong Bi Narti atau Bi Ijah," pesannya sembari beranjak. Aku melepas kepergian Mas Elang dengan lambaian tangan sampai mobil itu pergi.


Aku kembali ke atas menemui Sya yang sedang bermain puzzle. Aneh sekali, Sya yang kata Bi Ijah atau Bi Narti rewel selalu ingin ikut jika Mas Elang pergi, kini tidak terbukti. Buktinya baru saja Mas Elang pergi, tapi Sya tidak rewel atau mau ikut. Mungkin karena ada aku di rumah?



"Kalau ada Non Nada, jelas Den Sya tidak akan rewel sama Den Elang. Beda ketika Non Nada tidak berada di rumah, Den Sya hampir rewel dan selalu meminta ikut ke Papanya. Bibi saja sampai keder membujuknya, Non." Cerita Bi Ijah tempo, hari, menceritakan sikap Sya saat tidak ada aku di rumah. "Non Nada salah satu contoh sosok ibu sambung yang diterima dengan baik oleh Den Sya," sambung Bi Ijah saat itu.



Waktu kian bergulir. Mas Elang datang menemuiku dan berbicara. Mas Elang meminta ijin untuk membawa ibu pulang ke rumah ini. Ibu ingin berobat dan tinggal bersama Mas Elang, seperti yang pernah Ibu minta dulu saat pertama kali sakit. Kali ini aku tidak keberatan sama sekali, justru aku berpikir inilah saatnya aku berbakti seperti apa yang sering bapak katakan tempo hari.



"Kenapa harus minta ijin sama Nada, Mas. Mas Elang 'kan anaknya, punya tanggungjawab besar dalam mengurus ibu," ucapku setuju. Mas Elang nampak bahagia mendengar kesediaanku.



Hari ini Ibu sudah boleh pulang. Tensi darah ibu sudah mulai normal. Dokter membolehkan pulang dengan syarat pola makan dijaga. Ibu tidak boleh makan-makanan berlemak dan mengandung kolesterol. Juga emosi Ibu tidak boleh meledak-ledak. Aku berharap sakitnya Ibu bisa merubah sikap Ibu. Emosi Ibu hanya bisa dikendalikan oleh Ibu sendiri. Dan semoga saja kali ini Ibu mampu menjaga emosinya dengan baik.



Aku menyambut kepulangan Ibu dengan suka cita. Mas Elang mengangkat tubuh Ibu menaiki kursi roda dan mendorongnya, kemudian membawa Ibu ke kamar yang telah disiapkan. Sungguh kebahagiaan yang tidak terkira melihat Mas Elang begitu bela dan berbakti sama ibu. Itu salah satu alasan aku begitu tertarik dengan Mas Elang.


__ADS_1


Mas Elang menyewa seorang Perawat khusus, yang disewa dari sebuah yayasan yang mengurusi kaum jompo yang tidak bisa hidup normal. Maksudnya orang tua yang sakit yang tidak bisa mandi atau buang kotoran sendiri. Segala biaya semua ditanggung Mas Elang. Aku tidak pernah merasa iri, justru ini adalah kewajiban seorang anak laki-laki terhadap Ibunya.



Meskipun bukan Mas Elang yang merawat Ibu secara langsung, namun binar bahagia terlihat jelas di matanya. Ibu senang bisa tinggal di rumah Mas Elang dan dirawat di sini. Dengan tinggal di sini aku berharap keadaan Ibu semakin sehat dan sembuh seperti sedia kala.



Berjalannya waktu, usia kandunganku kini menginjak usia 5 minggu, masih muda dan rentan. Melihat kesibukan Mas Elang dengan pekerjaan dan memperhatikan Ibu, aku berusaha untuk tidak manja. Namun, entah kenapa baru di usia kehamilan dua bulan ini, aku merasakan mual dan muntah hebat, sehingga badanku lemas dan tidak bertenaga. Mas Elang yang aku harapkan perhatiannya, hampir tidak pernah tahu apa yang aku rasakan.



Pagi-pagi saat aku mengalami mual, dan muntah, Mas Elang tertidur nyenyak setelah sholat Subuh sampai tiba waktunya mengantar Sya sekolah. Jadi, bisa dikatakan dia tidak tahu aku mengalami hal itu.



"Huek ... huek ...." sekitar lima belas menit bahkan lebih aku mengalami muntah, badanku saja lemas tidak berdaya. Setelahnya aku keluar dari kamar mandi, berjalan dengan tangan meraba dinding. Sungguh keadaan yang sangat menyedihkan, ketika aku ingin dimanja tapi aku dipaksa harus mandiri mengurus diri sendiri. Hanya bantuan para ARTku saja yang aku andalkan kini, tanpa mereka mungkin saja aku sudah terkapar tidak berdaya.



Ingin aku mencoba membangunkan Mas Elang yang semalaman nungguin ibu. Namun tubuh dan dengkuran lelah itu menyurutkan aku untuk membangunkan Mas Elang. Aku tidak tega membangunkannya. Terpaksa aku menghubungi Bi Narti untuk ke kamar.



"Non, Non Nada ... !" Bi Narti membantu mengangkat tubuhku ke atas ranjang yang di situ ada Mas Elang tidur.


"Non, apakah Den Elang dibangunkan saja. Ini sudah parah Non. Non Nada tidak mau makan, tiap makanan masuk, keluar lagi. Bisa-bisa Non Nada kekurangan cairan dan janin yang dikandung kekurangan gizi," ucap Bi Narti seolah menakutiku. Aku menjadi sangat khawatir lalu dengan memberanikan diri ku bangunkan Mas Elang.



"Mas, Mas Elang, bangun ....!" ucapku lemah sembari menggoyang tubuh Mas Elang yang lelah. Mas Elang bergerak, namun tubuhnya semakin tenggelam di bawah selimut.



"Biarkan saja Bi, saya minta tolong bawa saya ke Bidan Dina. Saya sudah lemas dan tidak bertenaga," titahku.

__ADS_1


"Baik Non, saya minta bantuan Usep saja untuk memapah Non Nada," ucap Bi Narti seraya pergi menuruni tangga.


Usep dan Bi Narti datang dan segera memapahku, menuruni tangga dan membawaku ke klinik di mana Bidan Dina bekerja.


"Bi Narti saya harus ikut, tidak?" tanya Usep ragu.


"Usep, tidak perlu," ucapku lemas. Usep patuh, dia kembali menuju pos seraya memesankan grab untukku.


"Sep, sudah belum?" Bi Narti bertanya.


"Sebentar lagi sampai, Bi," jawab Usep. Tidak berapa lama grab yang dipesan Usep datang, dan berhenti tepat di depan gerbang rumah Mas Elang. Supir grab turun dan ingin membantu memapah aku, namun Bi Narti dan Usep sudah cukup memapah aku yang lemas ke dalam mobil.


Tidak berapa lama setelah di dalam grab, Pak Supir melajukan grabnya menuju alamat yang dituliskan Usep di pesanan grab onlinenya.


"Klinik Sejati, ya?" Supir itu bertanya.


"Betul, Pak," sahut Bi Narti.


Klinik Sejati jaraknya tidak jauh, butuh 15 menit untuk sampai di sana. Grab berhenti tepat di depan Klinik Sejati. Pak Supir turun dan membukakan pintu penumpang. Sesaat setelah pintu terbuka, aku seakan mengenali sosok Supir grab itu.



"Pak Darma!" pekikku. Aku mengenali Pak Darma. Dan Supir grab ini benar-benar Pak Darma.


"Neng Nada, ya?" Pak Darma mencoba meyakinkan. Setelah merasa yakin, Pak Darma tidak ragu-ragu lagi untuk membantuku. Memapahku dan membawa ke dalam klinik.


Untuk kesekian kali aku selalu dipertemukan dengan Pak Darma. Supir Grab yang selalu ada saat aku dalam kesulitan.


"Terimakasih Pak!" ucapku. Setelah itu aku langsung ditangani pihak klinik dan diteruskan ke bagian kandungan, di mana Bidan Dina yang menangani ibu hamil.


Jangan lupa mampir juga di karya Novel Author lainnya.



Dijebak Nikah Paksa

__ADS_1


Jangan Sebut Aku Pelakor



__ADS_2