"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "

"Aku Lelah, Aku Ingin Menyerah "
Saat Mas Elang Pergi


__ADS_3

"Bundaaa... Papa kemana....?" rengek Sya dan tangisnya seketika pecah.


"Papa ada kerjaan di luar kota, sayang...! Sya doakan Papa ya supaya Papa selamat dan lancar pekerjaannya, dan pulang dengan keadaan selamat juga," bujukku mendiamkan Sya yang menangis. Tidak lama dari itu VC WAku berbunyi, Mas Elang memanggil seakan tahu Sya tengah merindukannya.


Sya langsung merebut Hpku setelah tahu yang nelpon adalah Papanya.


"Papa... kenapa Papa tidak jemput Sya, kenapa Papa tinggalin Sya?" rengeknya masih disertai tangis.


"Assalamu'alaikum, sayang... ! Biasanya Sya ucap salam, kenapa sekarang tidak?" peringat Mas Elang. Sya tidak membalas dia diam dan merengut.


"Sya... ucapkan salam sama Papa!" peringatku. Sya menatapku la



"Assalamu'alaikum... Papa....!" ucap Sya memberi salam dan menatap wajah Mas Elang dengan raut sedih.



"Sayang... kenapa sedih begitu? Tadi Papa tidak sempat pamit sama Sya, sebab Papa buru-buru dan sudah ditunggu orang. Sya sabar ya tunggu Papa pulang. Sekarang, Sya sekolah diantar jemput dulu pak Supir. Ok, Sya!" Mas Elang mencoba memberi pengertian pada Sya.



"Sya tidak mau diantar jemput pak Supir!" ucap Sya marah.


"Sayang... mohon mengerti, anak Papa kan baik dan ganteng. Masa Sya marah sama Papa."


"Sya tidak mau diantar jemput pak Supir," ucap Sya sekali lagi.


"Kalau begitu, untuk sementara Sya diantar jemput Supir tapi Bunda ikut. Sya mau, tidak?" Mas Elang memberikan penawaran lain. Sya nampak berpikir.


"Sya mau, tidak?" ulang Mas Elang.


"Mau....!" jawab Sya disertai anggukan. Akhirnya bocah imut tampan menggemaskan itu bisa dibujuk.


"Sya... Hpnya tolong kasih Bunda sebentar!" titah Mas Elang. Sya patuh dan menyodorkan HPku ke tanganku.


"Iya Mas....!" sahutku.

__ADS_1


"Sayang... aku titip Sya, besok sampai Jumat tolong temani Sya ke sekolah. Tapi kamu seperti biasa, tidak usah ditunggu. Kamu hanya antar dan jemput kembali. Pak Udin sudah aku beritahu," ucap Mas Elang berpesan.


"Iya Mas....!" sahutku.


"Aku tutup ya, nanti aku telpon lagi malam hari." Mas Elang langsung menutupnya tanpa mengucapkan salam. Mungkin sedang buru-buru.


"Sya... kamu sudah pulang sayang....?" Tiba-tiba Ibu datang menghampiri dari arah dapur bersama Mbak Sonia.



"Nenek....!" Sya menghambur ke pelukan Ibu dan merangkulnya. Walau kurang mendekatkan diri dengan Sya, namun Sya selalu menyambut Neneknya dengan gembira dan terlihat ingin bermanja-manja. Namun, Ibu memang tidak pernah mengerti keinginan Sya, Ibu juga kurang suka jika bercengkrama dengan Sya. Cukup tegur sapa saja, setidaknya begitulah yang aku lihat selama ini interaksi Ibu dan Sya.



"Sya... papamu pergi keluar kota, apakah Sya tidak ingin ikut?"


"Sya, pengen ikut Ne. Tapi Papa keburu pergi," celoteh Sya manja.


"Ya sudah lain kali saja Sya ikut, kali ini pasti Bundamu itu yang melarang kamu ikut. Sehingga papamu tidak mengajakmu!" ucap Ibu memberi pengaruh pada Sya. Aku terbelalak seketika.


"Ya ampun Ibu....!" tegurku seraya meraih Sya dari rengkuhan Ibu.


Sya menatap mataku, lalu perlahan menuju tangga. Anak ini untungnya patuh, kalau tidak, aku takut dia mendengar ucapan Ibu yang tidak-tidak. Sebab yang aku tahu, Ibu sangat berani bicara yang kurang pantas di depan Sya dan tanpa kontrol.


Setelah Sya masuk kamarnya yang aku awasi dari bawah, kini aku kembali menghadapkan tubuhku pada Ibu dan Mbak Sonia. Walau dalam hatiku sedikit ciut, namun aku membulatkan tekad akan aku lawan kesewenang-wenangan Ibu ataupun Mbak Sonia kesayangan Ibu.



"Hebat banget ya sudah pandai mengendalikan Sya, padahal aku yakin kamu itu sama sekali tidak tulus. Yang aku tahu tujuan kamu menjadi istri Elang hanyalah ingin menikmati hartanya, iya kan?" tuding Ibu tidak kira-kira bohongnya.



"Wanita remahan rengginang ini ingin coba masuk dalam kehidupan Elang, bela-belain jadi pemuas ranjang saja dia sudah girang. Mana mau Elang bikin dia hamil, hanya remahan rengginang! Tidak bakal melahirkan bibit unggul seperti Sya, cucuku," cibir Ibu ketus seakan ingin menyakiti hatiku sesakit-sakitnya.



Sakit... hatiku, sangat sakit seketika mendengar Ibu bicara seperti itu. Ingin rasanya aku menangis saat itu juga, mataku berkaca-kaca. Namun Aku menahannya supaya jangan keluar dan menarik nafasku dalam. Seketika aku beristighfar dalam hati. "*Ya Allah, kuatkan aku*!" batinku meminta.

__ADS_1



"Memalukan, tadi saja di depan kita dia mau saja diajak bercumbu dengan Elang. Kelas rendahan, padahal dirinya sudah Elang permalukan. Elang itu tidak benar-benar mencintaimu, itu makanya dia sengaja mempertontonkan perbuatan mesum kalian. Betapa rendahnya dirimu, kan, Nada?"



"Mana ada Elang itu mau mengangkat martabat perempuan licik ini, kecuali untuk merendahkan dia. Dasar sampah, murahan." Lanjut Ibu cepat semakin menjadi-jadi menghinaku. Rupanya cara Mas Elang tadi untuk mencoba membuat Ibu dan Mbak Sonia cemburu, sangat ampuh. Namun sekarang jadi bumerang bagiku, aku dihina habis-habisan. Aku merasa tidak kuat, pertahanan air mataku seakan mau jebol saja.



"Cukup Bu, jangan hina terus Nada. Nada tidak serendah pikiran picik Ibu. Ibu itu hanya benci Nada dan masih terobsesi menantu yang kekayaannya standar dengan Ibu, itu makanya Ibu selalu menganggap rendah Nada. Padahal Ibu tahu, menantu yang mau Ibu pilihkan belum tentu kelakuannya baik. Lihat saja nanti Bu, akan Ibu terima balasan yang setimpal karena telah menghina Nada. Sekarang Ibu boleh ngomong apa saja tentang Nada, tapi suatu saat Ibu akan mendapatkan balasan dari apa yang Ibu ucapkan barusan," ucapku berteriak dan bercucuran air mata. Pertahananku jebol, aku tidak kuat menahan air mataku.



"Heleh... malah menyumpahi. Kamu berani sumpahi aku, tidak mempan. Sonia itu tetap calon mantu yang paling baik. Punya attitude, pintar, berkelas dan kelakuan baik. Tidak sepertimu, sudah rendahan, murahan lagi." Sekali lagi Ibu menghinaku tanpa ampun.



Aku menatap Ibu tajam, air mataku masih bercucuran. Sumpah, aku sudah tidak kuat melawan lagi, rasanya lututku lemas.



"Kalau benar Elang mencintai kamu, apa buktinya? Dia saja tidak pernah berani memberimu harta atau uang atas namamu, beda saat sama Mayang, saking sayang dan cintanya, Mayang dikasih harta atas nama Mayang," tandas Ibu sambil memainkan bibirnya seakan muak melihatku.



"Ibu bangga dengan Mbak Mayang, tapi buktinya dia bisa menipu Mas Elang dan meninggalkan Mas Elang. Aku, walaupun aku tidak diberi kepercayaan harta atas namaku tapi aku masih diberi makan. Lagian, sudah ku bilang berkali-kali di hadapan Ibu bahwa aku ini tidak gila harta seperti mantan menantu Ibu itu. Tapi, kenapa Ibu selalu bilang bahwa aku menikah dengan Mas Elang karena hartanya. Lantas harta Mas Elang yang mana yang sudah aku habiskan? Jawab, Bu?" balasku menatap nyalang ke arah Ibu.



Ibu tidak menjawab, dia seolah geram melihat aku masih bisa menjawab dan membela diri. Maunya mungkin aku diam dan menangis saja. Sementara itu dadaku makin sesak, aku. tidak tahan lagi untuk berkat-kata. Perlahan aku menuju tangga dan berjalan pelan menaikinya seraya memegangi dadaku yang sesak.



"Nada... berani kau bicara di hadapanku ber aku-aku, dasar tidak sopan! Tidak punya attitude!" hardik Ibu lagi berteriak. Ibu geram denganku yang bicara dengan menyebut namaku dengan "aku". Ibu memang sudah biasa mendengar aku menyebut namaku sendiri dibanding " aku", jika sudah begitu Ibu menganggap aku ini sudah kurang ajar padanya.


__ADS_1


"Tidak sopan, orang tua bicara kamu pergi. Dasar remahan rengginang!" Ibu menghardik lagi ketika aku sudah berada di atas. Aku menatap tajam ke arah Ibu dengan sisa air mata yang masih mengalir.


__ADS_2